Monday, May 26, 2014

Caṇḍi Simangambat - Mandailing Natal, Sumatera Utara

Caṇḍi Simangambat - Mandailing Natal, Sumatera Utara 

 

Terletak di Desa Simangambat, Kecamatan Siabu, Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara
Caṇḍi Simangambat merupakan caṇḍi yang unik, Hal tersebut karena caṇḍi ini memiliki arsitektur yang berbeda dengan caṇḍi-caṇḍi pada umumnya di Sumatera Utara. Selain dari sisi arsitektur, keunikan Caṇḍi Simangambat dapat dilihat dari material yang digunakannya, yaitu bata dan batu yang keduanya digunakan pada satu bangunan yang sama. 
Mengingat keunikan serta arti pentingnya sebagai data penulisan sejarah kebudayaan Sumatera pada khususnya, maka diperlukan pendalaman-pendalaman yang salah satunya terletak pada aspek penelitian. Penelitian yang telah dilakukan di Caṇḍi Simangambat telah dimulai pada tahun 2008--2010 (Soedewo, 2008--2010), di samping penelitian-penelitian yang telah dilakukan oleh sarjana-sarjana Belanda pada masa lalu, seperti Schnitger, Bosch, dan Bronson.
 
Pada awal kegiatan berlangsung, Caṇḍi Simangambat hanya terdiri dari sebuah gundukan tanah yang terdapat pada area kebun pinang, bahkan pohon pinang juga tumbuh pada gundukan tanah tersebut. Di sekitar gundukan tanah yang diduga caṇḍi tersebut terdapat sebaran fragmen batu dan bata, baik polos ataupun berelief. Setelah dilakukan ekskavasi, erutama yang dilakukan pada tahun 2009 (Soedewo, 2009), telah berhasil menampakungkapkan struktur bata dan batu yang membentuk Caṇḍi Simangambat.

Bagian atap caṇḍi
Beberapa temuan batu yang dipahat sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah objek yang menyerupai hiasan pada kemuncak bangunan telah ditemukan di Caṇḍi Simangambat. Hiasan kemuncak bangunan pada umumnya diletakkan pada bagian atap caṇḍi. Terdapat empat jenis batu kemuncak bangunan yang ditemukan di Caṇḍi Simangambat. Salah satunya mempunyai motif hias ratna. Kemuncak berbentuk ratna ini mempunyai ukuran yang lebih besar apabila dibandingkan dengan hiasan kemuncak lain yang ditemukan. Selain batu kemuncak bangunan, tidak terdapat lagi indikasi sisa-sisa atap bangunan yang dapat diidentififkasi


Bagian badan caṇḍi
Bagian badan Caṇḍi Simangambat diduga sangat kompleks dengan indikasi temuan beberapa batu dan bata yang berelief. Adapun beberapa batu berelief yang kemungkinan posisinya berada pada bagian badan caṇḍi adalah relief ghana, dan relief arca yang juga ditemukan oleh Schnitger dalam penelitiannya yang lalu. Selain itu juga terdapat hiasan bermotif pita. Adapun relief yang ditemukan oleh Schnitger berupa relief kepala seorang wanita yang di atasnya terdapat motif pita dan ghana pada ujung panil. 

Terdapat juga beberapa hiasan sulur-suluran baik yang bermaterial batu maupun bata. Jumlah hiasan bermotif sulur-suluran berupa batu lebih banyak ditemukan apabila dibandingkan dengan yang bermaterial bata. Temuan menarik yang lain adalah batu bermotif kepala kālā yang berjumlah dua buah. Kālā merupakan sebuah relief bermotif kepala raksasa, yang biasanya terdapat di atas ambang pintu masuk candi atau relung-relung candi. Masing-masing kepala kālā tersebut mempunyai detil yang berbeda, baik dari segi ukuran maupun motifnya. 

Satu jenis kepala kālā yang dimaksud pernah ditemukan oleh Schnitger dalam penelitiannya, akan tetapi kondisinya saat ini cukup aus. Motif hias kepala kālā, selain ditempatkan di atas pintu masuk, juga diletakkan di atas relung yang berbentuk pintu semu pada dinding caṇḍi. Dengan demikian, temuan dua jenis kepala kālā yang berbeda tersebut sekaligus mengindikasikan Caṇḍi Simangambat kemungkinan besar mempunyai relung yang berbentuk pintu semu. Relung pada beberapa caṇḍi di Jawa pada umumnya diisi dengan relief arca. Dugaan tersebut diperkuat dengan temuan batu yang berelief lidah api dan pilar. Motif hias lidah api pada umumnya digunakan sebagai bingkai relung pintu semu pada caṇḍi-caṇḍi di Jawa.

Satu hal lagi yang berkaitan dengan elemen arsitektur yang nantinya turut menentukan karakter sebuah bangunan caṇḍi adalah adanya perbingkaian. Perbingkaian atau profil biasanya diletakkan pada bagian kaki dan badan caṇḍi. 

Walaupun bagian badan Caṇḍi Simangambat telah hilang, akan tetapi perbingkaian yang terletak pada badan caṇḍi dapat diketahui melalui temuan fragmen batu atau bata yang mengandung pahatan perbingkaian. Sampai dengan penelitian yang dilakukan pada tahun 2010, telah ditemukan beberapa batu dan bata berprofil di caṇḍi ini. Elemen perbingkaian tersebut adalah bidang sisi rata (patta), sisi genta (padma), dan sisi setengah lingkaran (kumuda). Bingkai sisi setengah lingkaran yang terdapat pada Caṇḍi Simangambat tidak hanya bermaterialkan batu saja, akan tetapi ditemukan juga bata yang berprofil setengah lingkaran.


Bagian kaki caṇḍi
Dilihat dari prosentase antar bagiannya, bagian kaki Caṇḍi Simangambat lebih utuh apabila dibandingkan dengan bagian badan ataupun atap caṇḍi yang memang sudah hilang. Walaupun demikian, bagian kaki caṇḍi telah mengalami distorsi bentuk disebabkan karena tingkat kerusakannya. Bagian kaki caṇḍi sisi selatan telah melesak, dan hal tersebut menyebabkan peregangan pada struktur bata dan batu pada caṇḍi tersebut.
Penelitian yang dilakukan pada tahun 2009 dan 2010 berhasil ditampakkan seluruh bagian kaki caṇḍi. Pondasi caṇḍi terdiri dari struktur bata yang disusun horisontal. Bagian pondasi ini tidak diperkuat dengan adanya batu di bawah lapisan bata.

Pada sisi timur terdapat struktur bata yang menjorok yang kemungkinan merupakan pintu caṇḍi tersebut. Pada bagian pangkal struktur pintu caṇḍi tersebut terdapat temuan makara yang berbeda dengan makara yang terdapat di daerah Padang Lawas. Adapun sisa tangga sudah tidak terlihat lagi.






Teknik konstruksi bangunan Caṇḍi Simangambat
Caṇḍi Simangambat dibangun dengan menggunakan material batu dan bata. Pada umumnya bata yang ditemukan di Caṇḍi Simangambat memiliki guratan-guratan pada sisinya. Hal ini kemungkinan digunakan sebagai pengikat antarbata. 


Selain terdapat guratan-guratan pada sisi bata, juga terdapat beberapa bata bertakik yang kemungkinan besar merupakan metode penguncian antarbata atau antara bata dengan batu. Terdapat beberapa model bata bertakik yang terdapat di Caṇḍi Simangambat yang meliputi bidang takikan horisontal dan vertikal. Selain bata, material batu juga dibuat bertakik untuk mengunci antara batu yang satu dengan batu yang lain atau batu dengan bata. 

Model batu bertakik lebih bervariasi dan lebih kompleks apabila dibandingkan dengan bata bertakik. Hal tersebut kemungkinan disebabkan karena material batu lebih besar dan lebih berat dalam hal ukurannya dibandingkan dengan material bata, sehingga diperlukan sebuah model kuncian yang lebih kompleks agar batu tidak mudah lepas atau longgar. Selain itu terdapat pula batu yang tidak bertakik. Batu semacam ini kemungkinan mengandalkan berat batu itu sendiri sebagai penahan agar tidak lepas dari konstruksi. Selain itu, pembangunan Caṇḍi Simangambat juga melibatkan isian berupa batu berukuran kerikil-kerakal

Konstruksi bata disusun secara berselang antara bata yang disusun melintang dan membujur. Hal ini juga dilakukan sebagai pengikat agar bata tidak lepas antara satu dengan yang lain.

Berdasarkan pada pemaparan tentang arsitektur dan struktur bangunan Caṇḍi Simangambat, terdapat beberapa kemiripan dengan candi-candi di Jawa yang berkembang antara abad ke 8—10 Masehi. Adapun kemiripan tersebut terletak pada:
1. Bagian kaki caṇḍi polos, tidak dihias dengan adanya perbingkaian
2. Mempunyai gabungan bingkai yang terdiri atas: bingkai setengah lingkaran (kumuda), sisi genta (padma), rata (patta), perbingkaian tersebut biasanya profil klasik sebuah caṇḍi. Walaupun demikian, Caṇḍi Simangambat memiliki satu keunikan dibandingkan dengan caṇḍi-caṇḍi yang terdapat di Jawa ataupun caṇḍi-caṇḍi yang terdapat di Sumatera. Keunikan tersebut adalah digunakannya dua macam material yaitu bata dan batu dalam satu konstruksi caṇḍi.


Sumber : http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/132610154165.pdf

No comments:

Post a Comment