Tuesday, May 27, 2014

Revitalisasi Seni Tradisi Melalui Opera Batak

Revitalisasi Seni Tradisi Melalui Opera Batak


Oleh: Thompson Hs**

HISTORIOGRAFI  teater atau seni pertunjukan di Indonesia belum mencatat Opera Batak dalam wilayah teater tradisi ataupun teater modern. Dalam catatan Kasim Ahmad dalam salah satu bukunya, pernah terlihat foto pertunjukan lakon cerita Opera Batak disinggung sebagai teater bangsawan.

Kalau tak salah itu foto penampilan “Sigale-gale” pada pertemuan teater di Jakarta pada tahun 1975. Teater Bangsawan adalah teater tradisi dari rumpun Melayu di Malaysia, Singapura, dan Sumatera yang awalnya dikenal melalui grup Pushi Indera Bangsawan of Penang (pendiri Mamak Pushi) tahun 1885. Di Sumatera Utara varian teater bangsawan dipelihara dan dihidupkan oleh para sultan sampai zaman revolusi dengan model teater tradisi lainnya seperti makyong yang dikenal secara umum berasal dari Thailand Selatan. Pada zaman perkebunan di Deli ada satu grup teater bangsawan bernama Indian Ratu. Teater Bangsawan tidak disambut dengan baik di Pulau Jawa (idiom hanya diadopsi kemudian oleh Teater Stambul yang dirintis oleh seorang Turki bernama Jaafar) – (Tommy F. Awuy, Ed. 1999 : 212-213).
thomson
Thompson HS

Ada banyak bentuk teater tradisi yang bisa dikenali karena bentuk dan pemeranan di dalam lakon ceritanya sudah terpola serta dihidupkan sesuai dengan karakter tradisi yang sudah berlaku sampai sekian generasi, setidaknya minimal tiga generasi. Pemahaman kita juga tentang tradisi terkait dengan posisi tradisionalnya melalui berbagai kegiatan upacara, ritual maupun adat. Dari posisi tradisonal itulah teater atau seni pertunjukan tradisi muncul dan hidup bersama masyarakatnya pada masa lampau. Di wilayah Batak ada sejumlah teater tradisi yang ditemukan. Di antaranya seperti upacara Horja Bius, hoda-hoda, dan tortor Sigale-gale (Toba); ncibal, ndilo wari udan/gundala-gundala (Karo), huda-huda dan marsapu-sapu (Simalungun). Teater tradisi tersebut sudah hidup dan berlangsung sebelum pengaruh dari luar datang. Sementara apa yang disebut sebagai Opera Batak baru dikenal pada tahun 1920-an. Tentu saja Opera Batak ada kaitan dengan pengaruh istilah opera itu sendiri yang sama sekali tidak ada ditemukan dalam bahasa arkaif Batak.
revitalisasi seni
Sebutan Opera Batak kemudian merupakan sebuah label dan perkembangan penting ketika masyarakat Batak berusaha mempertahankan tradisi-tradisi yang sudah berlangsung lama, sementara pengaruh dari luar melalui kehadiran kolonial dan misi agama hampir tak bisa lagi dibendung.

Sebagai sebuah label Opera Batak dimaksudkan sebagai Opera Gaya Batak . Kemunculannya tidak jarang dikaitkan dengan seorang tokoh bernama Tilhang Gultom (1896-1970) . Tokoh ini mewariskan sejumlah karya, antara lain: 360 lagu, 12 tumba dan 24 judul lakon cerita. Pada zaman Tilhang Gultom grup-grup Opera Batak bermunculan sampai 30-an grup. Di antaranya cukup terkenal seperti grup Serindo adalah Serada, Tiurma Opera, Dos Roha, dan Rompemas. Tahun 1985 Serindo dan grup Opera Batak lainnya mulai tenggelam karena masalah regenerasi, pengelolaan grup, dan pertarungan media tontonan (televisi, teater modern, dan filem). Serindo dipesankan Tilhang Gultom menjelang akhir hidupnya agar diteruskan. Pewaris pengelola grup Serindo yang terakhir adalah Gustafa Gultom dan Zulkaidah Harahap ( Bisa lihat lagi: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0712/18/Sosok/4075370.htm).
revitalisasi seni2
Opera Batak direvitalisasi pada tahun 2002 atas inisiatif dan program Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jakarta. Saya diminta terlibat dalam program ini karena memiliki sejumlah data tentang Opera Batak.

Segmen yang disentuh ATL dalam program revitalisasi adalah sifat dialog-dialog dalam pertunjukan Opera Batak yang terkenal dengan perkembangannya di atas panggung. Juga dengan kandungan teks yang mengandung unsur-unsur tradisi, seperti model-model kalimat berpantun (umpasa). Pada zamannya Opera Batak tidak mengenal naskah hafalan seperti yang terjadi dalam Teater Modern, sehingga banyak orang mengira Opera Batak itu adalah teater tradisi.
.
Bisa jadi dramaturgi dalam Opera Batak adalah sebuah tradisi. Berikut pola yang biasa dalam pengadeganan Opera Batak.
a. Ropol (domisol) untuk buka layar terdepan
b. Penampilan Tari/Lagu/musik (minimal 3 repertoar) (layar tengah buka)
c. Tutup layar/buka layar babak pembuka lakon cerita (disertai dengan prolog)
d. Lagu/musik
e. Lakon cerita (lanjutan )
f. Situasi urutan berikutnya dapat diatur secara variatif dan spontan
g. Penutup dengan lagu/tari/musik (tutup layar).

Demikian dengan elemen-elemen yang digunakan di dalamnya mencakup perangkat tradisi-tradisi yang sudah ada. Di antaranya musik (ansamble musik tradisional; Batak (Toba), Melayu, Jawa; lagu-lagu), tarian (Lima Puak Batak, Melayu), lakon cerita (bersumber dari folklor, silsilah, mitiko-historis, sosial, dll) dengan pola pertunjukan pendukung (pencak silat, layar, aksi saweran) yang selalu berlangsung di tempat terbuka (outdoor) dalam suasana kerakyatan.
opera batak-thomson
Tradisi penggunaan elemen-eleman dalam dramaturgi Opera Batak berlangsung tidak sinkron. Bahkan pada perkembangannya Opera Batak boleh disebut pertunjukan variatif (variety show).

Potensi-potensi tradisi di dalamnya diakomodir dan dieksplor untuk kepentingan hiburan dan edukasi tersendiri. Sementara seni tradisi secara murni tinggal bersifat instrumental dan nilai-nilai moral dicoba diangkat kembali melalui lakon-lakon cerita yang diciptakan secara lisan atau “setengah tertulis”. Pengaruh-pengaruh dari luar juga dapat ditampung dalam Opera Batak, termasuk nada musikal diatonis yang berlangsung dan berkembang dari instrumen yang sebelumnya tidak penting dalam tradisi lama. Contoh kecil dari fungsi seruling yang tidak ditemukan dalam upacara-upacara, dalam Opera Batak menjadi media keberlangsungan dan pengembangan nada diatonis itu di samping mempertahankan pola pentatonik yang sudah digunakan dalam alat-alat musik tradisi. Demikian dengan pola tari yang dikembangkan karena kebutuhan kreatif dan konteks sosial-politik Batak. Salah satu tarian yang sangat terkenal dalam tradisi Opera Batak adalah Tari Lima Puak. Tari itu merupakan medley tari yang merepresentasikan Lima Puak penting Batak dengan mengawalinya dari rangkaian dan pola tari Toba ke Simalungun ke Mandailing ke Karo dan berakhir dengan Pakpak. Potensi seni tradisi dari Non-Batak pada pertunjukan-pertunjukan Opera Batak terdahulu tidak jarang juga diangkat dalam pertunjukan. Misalnya tari serampang 12 dan lagu-lagu dari daerah lain, meskipun iringan musikalnya menggunakan ensambel uning-uningan .

Revitalisasi Seni Tradisi
Asumsi saya dari sudut pandang Historiografi Teater Indonesia, Opera Batak itu masuk dalam periode zaman transisi. Sederhananya kita bisa sebut kalau Opera Batak itu merupakan teater transisi. Tentu saja ada banyak lagi bentuk-bentuk teater transisi di Indonesia yang terlanjur dimasukkan ke dalam kategori teater tradisi. Di antaranya Ketoprak, Ludruk, Lenong. Biasanya karakter teater transisi itu menurut saya terkait dengan pertarungan situasi sosial-kultural, tak jarang dikategorikan sebagai teater rakyat, belum memiliki displin pemeranan yang kondusif (karena pengaruh teks dan tradisi lisan), gampang terkait terhadap hegemoni politik serta memiliki kemungkinan untuk terus berubah.
revitalisasi seni1
Beberapa hal itu kita cermati sejak Opera Batak digali kembali sejak 2002. Sejak tahun 2002 revitalisasi Opera Batak menghasilkan satu grup percontohan bernama Grup Opera Silindung. Grup inilah pemicu apresiasi sampai 2004 untuk membangkitkan Opera Batak sebelum operasional pengembangan Revitalisasi Opera Batak ditangani kehadiran PLOt pada tahun 2005. Target revitalisasi Opera Batak sesungguhnya sudah harus selesai pada tahun 2012 (sepuluh tahun dari 2002). Namun dalam kehadiran dan operasional PLOt, Opera Batak itu ternyata tidak cukup sekedar direvitalisasi. Opera Batak perlu diperkenalkan lebih luas, dimanfaatkan, dan dimodifikasi. Opera Batak melalui PLOt menjadi media penggali potensi-potensi tradisi dengan proses kreatif yang lebih baru untuk sebuah produksi dan pelatihan, termasuk kompromi bahasa untuk memperkenal potensi-potensi tradisi serta isu-isu kemasyarakatan untuk dikenal oleh penonton yang tidak terbatas. Tahun 2013 lalu PLOt melaksanakan visi Opera Batak itu dengan pertunjukan di dua kota di Jerman (Koeln dan Wuppertal). Tahun 2015 dipersiapkan kembali untuk tampil di Book Fair di Frankfurt (Jerman) dan negara lainnya di Eropa.
****
Menurut WJS Poerwadarminta, 1986 : 687: sebagai sandiwara dengan nyanyi dan musik. Menurut Kamus Inggris (Tim Yoshiko : 234): sebagai sandiwara yang diiringi dengan musik. . Menurut Sejarah (Karl Edmund Prier, SJ, 1993) : Berasal dari Florence, Italia Utara pada zaman Musik Barok (abad ke-16) dan mulai dikembangkan seorang kesatria, Giovanni Bardi pada tahun 1570 melalui Akademi “La Camerata”.

Di Venesia, Claudio Monteverdi terkenal dengan karya operanya berjudul Orfeo. Perkembangan bentuk (di Italia) opera barok, opera rohani, opera buffa (jenaka), opera seria (seriosa), opera pasticcio (plesteran)(di Perancis) opera balet oleh Jean Philippe Rameau (1683 – 1764), (di Inggris) “opera topeng” (ingat prototipe filem berjudul: the phantom of the opera). . (di Jerman dan Austria) dikenal dengan sebutan “aria” atau lagu berbait dan menirukan resitatif Italia dan lagu koor yang cukup sederhana. Masa jaya opera di Hamburg tercatat pada 1686 – 1710 dan gedung opera ditutup tahun 1738.

Di tempat-tempat lain juga banyak tertarik mengadopsi istilah opera untuk gaya pertunjukan yang mengangkat aspek tradisinya. Misalnya Opera Melayu dan Opera Cina. Kalau tak salah label Opera Van Java muncul mulai tahun 2005 untuk mewarnai program di televisi.

Berawal di tanah kurang subur Sitamiang, Onan Runggu (Samosir) sebagai kelompok pengembala kerbau (salah satu Tilhang Gultom, anak kelima dari Raja Sarumbosi Gultom) dengan 3 orang parhasapi (cikal bakal sebutan Tilhang Parhasapi, 1925). Penampilan berawal di rumah-rumah sebelum undangan dari luar daerah (dimainkan oleh 12 anggota dan dukungan KK. Gari Gultom, bapatua Tilhang). Unsur musik berkembang dari kecapi, serunai, dan garantung (gamelan Batak Toba). Sebagai grup Tilhang, Opera Batak mulai dikenal pada 1928 -1930. Perubahan nama grup masih dilakukan Tilhang sampai 1937, al: Tilhang Batak Hindia Toneel, Ria TOR, dan Tilhang Toneel Gezelschaap (Lihat: Drs. EK. Siahaan, 1981 : 10). Zaman Jepang grup
Tilhang bernama Sandiwara Asia Timur Raya (40 anggota). Zaman Kemerdekaan nama grup berubah menjadi Panca Ragam Tilhang dan Serindo.

Sebelum tahun 2002 masih bisa ditemukan rekaman kaset audio untuk lagu-lagu Opera Batak dan jejak gaya berlakon Opera Batak yang ditiru oleh para pemain “pakter tuak”. Beberapa kaset lagu Opera Batak saya temukan dan beli di sebuah toko di Porsea pada tahun 1999 setelah mendapat kopian salah satu dari dua seri buku Rainer Carle yang berjudul: OPERA BATAK das wandertheater der Toba-Batak in Nord-Sumatra. Dua seri buku ini saya pesan dan beli di kota Koeln, Jerman pada November 2013 ketika kesempatan pentas dengan tim Opera Batak PLOt. Buku diterbitkan oleh Dietrich Reimer Verlag – Berlin – Hamburg.

Dalam teater tradisi memang lakon-lakon atau teksnya dikenal longgar (tanpa naskah baku) dan pengembangan dialog diserahkan kepada pemain. Sifat itu dapat ditemukan dalam Opera Batak, di samping pengaruh tradisi penggunaan buka-tutup layar yang digunakan dalam Teater Bangsawan.
Di Batak (terutama Batak Toba) ada dua jenis ensamble tradisi gendang dalam upacara, ritual, dan adat. Keduanya adalah gondang sabangunan dan gondang uning-uningan. Di dalam Opera Batak gondang uning-uningan digunakan sebagai pengiring lagu dan tari, di samping pengisi repertoar khusus untuk memperkaya variasi dan pemicu suasana. (gr)

*Dipersiapkan untuk Sarasehan Panggung Publik Sumatera III di Padangpanjang, 27 – 29 Maret 2014.

**Direktur Artistik Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) Pematangsiantar.


Sumber:
http://www.gapuranews.com/?p=1014

No comments:

Post a Comment