Tuesday, April 24, 2012

SEJARAH SUKU KARO


SEJARAH SUKU KARO


by Ngajarsa Sinuraya Bre Bangun on Friday, 17 June 2011 at 03:51

MIGERASI:>>>>>Pada pra- sejarah terjadi perpindahan bangsa- bangsa  termasuk di Asia  yang khusus ke Indonesia  datang dari  ASia Selatan  dan Tenggara . Percampuran  darah terjadi  antar  bangsa- bangsa tersebut  dengan penduduk  yang telah bermukim  sebelumnya  di Nusantara  ini merupakan  nenek moyang kita  dan pada umumnya  yang mendiami  pesisir  sebagai orang  bahari. Menurut Versi Karo : Leluhur  hidup  dari menangkap ikan , bertani,berburu,berdagang , mengarungi samudra luas. Hal ini  diseritakan  bersambung hampir setiap malam  di lantai  lumbung padi  yang dinamakan  " Jambur "  dari purbakala  hingga menjelang  tahun 1940  di daerah yang  penduduknya  suku Karo . Cerita yang bersambung  yang mengenai seluk beluk  asal muasal  suku Karo , kebudayaan, bahasa dan  adat istiadat  serta perjuangan  hidupnya  basanya di namakan " Turi- turin  atau Terombo Karo ". Setiap cerita ditayangkan  melalui lagu merdu pada malam hari dini hari selama tujuh malam.Aku dulu pernah  menmdengarkan  cerita bersambung  itu  sebelum  memasuki bangku sekolah . Karena sudah  di lalui puluhan tahun, bisa jadi ada kelupaan  dalam menguraikan  inti sarinya, terutama  pencocokan daerah kejadian  saat dipergunakan  pengetahuan umum geografi  dan sejarah  dunia  atau nasional  dalam keadaan tertentu  menurut suasana hikayatnya. Pada pokok hikayat  di uraikan  bahwa  nenek moyang  itu datang ke pesisir  Indonesia  umumnya dan  Sumatera khususnya  yang menurut logat mereka  "... reh ku pertibi enda  si la ertepi  enda... "  dari dua  " negeri   nini pemena  "  yaitu leluhur Pemula, datang dari  dari  dari negeri yang disebut  " YUNA ( YUNAN )  ialah  dari Cina Selatan dan Asia  Tenggtara  serta  " BARAT " yakni  Asia Selatan ( India , Pakistan, Banglades, dan lain- lain ). Yang datang dari  negeri " Yuna " itu  masih tergolong  " animisme "   atau  " agama pemena " , sedanmgkan yang berasal dari  " Barat "   sudah   ber agama Budha . Suku- suku bangsa pesisir  yang saling  bercampur darah  ( perkawinan )  sesamanya  inilah  merupakan nenek moyang  suku  Karo  setelah kelak  masuk  ke daerah  pedalaman ( Pembauran ).    PEMUKIMAN DATARAN TINGGI  KARO  .Leluhur kita yang  yang bermukim disepanjang  pesisir Sumatera  berkembang  memeluk  kepercayaan  yang beraneka  ragam yaitu  animisme , Budha , Hindu,danlain lain, sebelum maupun sesudah  berdiri  Negara Nasional I, ( Kedatuan Sriwijaya )  dan  Negara Nasional II , ( Keprabuan  Majapahit ),  anatra abat VII- XVI . Kerja nenek moyang kita  selaku kaum  bahari dan pedagang ,, maqka sudah jelas  mereka pun  bergaullah  dengan orang asing  yang memeluk pelbagai agama ; termasuk  Muslim  , sehingga kian lama   makin banyaklah  agama  yang dianut  penduduk.Perbedaan agama pun tak dapat dihindahkan  . Yang dalam turi- turi  Karo  diceritakan  bahwa dalam  satu keluarga mungkin terdapat dua atau beberapa kepercayaan yang berlainan  satu dengan yang lainnya. Begitu juga bangsa asing yang memeluk pelbagai macam agama datang ke Indonesia  umtuk berdagang sambil menyiarkan agamanya masing- masing  selain  membawa ke agama  juga  mengenai   kebudayaan mempengaruhi  tata kehidupan pendududk. Demikian lah seorang  pedagang   Venesia benama Marcopola pada tahun 1292 telah menyaksikan m,berkembang pesat  penyiaran agama Islam  didaerah Aceh yaitu  Samudra Pasai dan Peureulak. Pada tahun 1345, menurtut Ibnu Batulah ,sudah mapan benar agama Islam  sebagai anutan  penduduk Di Samudra Pasai , yang keterangannya ini  diperkuat puloa oleh musyapir Cina bernama  Ceng Ho, yang berkunjung ke daerah  tersebut tahun  1405.       
Menurut versi karo,; pada masa- masa itulah terjadai perubahan tata kemasyrakatan yaitu kaum yang tak hendak memeluk agama Islam membentuk kelompok - kelompok . Lalau berpindah ke daerah pedalaman  meninggalkan  sanak keluarga  yang telah  mayoritas beragama Islam. Kemudian agama  Isalam meluas berkembang sepanjang pesisir; terutama dalam pemerintahan Sultan Iskandar Muda  ( 1607 - 1636 )., maka terjadilah apa yang dinamakan " Mburo Bicok Pertibin ", yaitu mengadakan pengungsian secara  besar- besaran  dengan bertekad untuk tidak akan kembali lagi ke negeri asal buat selama- lamanya. Diceritakan pada  masa itu   hutan raya di daerah pedalaman belum dihuni  oleh manusia . Bahasa  " kita "     ialah cakap melawi -- , yang kemudian  berubah seperti yang sekarang ini. Perubahan bahasa  terjadi akibat peroses pembauran melalui puak- puak   dan saling mempengaruhi satu dengan lainnya dalam kehidupan adalah logis. Sebagian mereka yang masuk kepedalaman   dari arah pantai Timur maupun dari arah pantai Barat, pulau Sumatera. Mereka yang tertinggal adalah sudah memeluk agana Islam dan hijrah tidak hendak memeluk Islam .Perjalanan memasuki  rimba hutan  belantara itu, sangat sukar, perlu ada peminpin atau Panglimanya. Mereka masuk dan  beranggapan bahwa ditempat yang dituju itu religinya  / kepercayannya  itu akan aman dilanjutkan sebagai warisan  newnek moyangnya.Diketahui  dalam hikayat bahwa  pemeluk Islam  , selalu mangadakan pendekatan dengan saudara- saudaranya   yang kini  berada di wilayah   pegunungan  dan bergaul saling berkunjung , akhirnya , kaum yang tadinya mempertahankan kebiasaan memuja religi nenek moyangnya  itu pelan- pelan  di tinggal mereka dan mereka memeluk Islam. Atau diam- diam status quo, sementara menimbang- nimbang mana  patut dilanjutkan dan mana  patut diterima, atau ditolak.Selanjutnya perjalanan yang  sedemikian jauhnya yang disebut ke - dataran tinggi dinyatakan sebagi " taneh tumpah  darah "  yang baru kemudian di berikan nama " TANAH  KARO SI MALEM ; PERTIBI PERTENDIN MERGA  SI LIMA; SI ENGGO KA REH IBAS  DESA SI WALUH  NARI "Tanah Karo Si Malem  artinya : peryataan bahwa tanah tumpah darah yang baru itu nnyaman, hidup atau mati, akan dipertahankan selamanya. Pertibi Pertendin Merga Silma artinya: Dibata yang telah menetapkan daerah ini untuk pemukiman kaum yang LIMA MERGA terdiri dari  : Karo- Karo , Ginting, Sembiring, Tarigan , Perangin- angin.. Sienggo ka reh ibas desa siwaluh nari artinya: untuk jangka waktu yang lama  tak henti- hentinya datang rombongan pengungsi dari segala penjurui mata angin( delapan  penjuru ) kedataran tinggi.  Sehingga menjadi buah bibir setiap ada rombongnan  terlihat  datang dari pesisir , terucaplah  kata- kata, enggo ka reh... enggo kalakreh enggo kalakreh...( Kareh ) kemudian berubah sebutannya kalak reh, kareh ... kare,  Karo , menjadi ... KARO, yang artinya  kalak= orang . reh = datang,Karo = orang datang. Artinya menjadi; orang yang datang sengaja mengungsi  untuk mempertahankan religinya/ kepercayaaannya . Mewreka datang dan mengharukan, sebab perjalan mereka itupun jauh, lebih kita terharu, KALAK  AROE =  KARO  Mereka itu melanglang, berani, harus keras hati, mandiri, budi luhur tyetapi suka bermusyawarah dan mau menerima tidak kaku. terlihat dalam perkembangannya Merga Karo- Karo, Perangin- mangin , Sembiring sebelum berangkat meninggalkan leluhurnya di " Barat " tempo dulu sudah memiliki Indentitas berupa Merga dan  BERUPA MERGA DAn cabang  Merga , seperti Merga Ginting  dan Merga Tarigan  bersasal dari YUna ( Wilayah Selatan ; bahkan ada hubungan atas serangan Mongolia dari utara  Jengis Khan  dsb ) Jatidiri berupa " Merga " telah disandang turun temurun. Oleh karena itu sekalipun kelompok itu tiba, mendapat kemudahan untuk mengelompokkannya sesuai Merga yang disebutkan orang  yang baru deatang. Di Suku Karo hanya ada  LIMA MARGA, dan cabang tiap marga, sekalipun hal itu tdak terlalu banyak, tidak mencapai  ratusan jumlahnya keseluruhannya dari cabang Merga Silima  hanya  75. merga jadinya.Meneliti sejarah maka pemukiman  orang Karo di dataran tinggi diperkirakan pengungsian awal sekitar tahun1350-an dan terbanyak tatkala pemerintahan Sultan Iskandar Muda tahun 1660-an  sehingga disimpulkan bahwa sudah ada orang Karo tahun 1300-an.Orang Karo yang datang dengan rombongan tepo dulu ke  hutan rimba raya tidaklah besar, sekalipun persyaratannya  bherangkat "KUH SANGKEP SITELU "  yaitu Kalimbubu,Senina, Anak Beru . Contohnya dalam ceriitra  bahwa rombongan  K ARO mergana , berangkat dari LINGGA RAJA menuju  dataran tinggi, sampailah di puncak " Deleng Penolihen " yaitu pegunungan antara " Tiga Lingga - Tiga Binanga" terpaksa di tunda perjalannya. Sekalipun jumlah rombongan sebelas, tetapi tertinggal anak beru-nya Prangin- angin mergana. Terpaksa di jemput lagi kearah asal atau memberi ganti nya sebagai  " anak beru ". Terpenuhilah syarat tadi , tiba mereka disuatu lokasi dan mendirikan " KUTA LINGGA   PAYUNG ". Sejak itu nama bukit barisan diantara  Karo - Dairi disebutkan oleh  orang Karo " Deleng Kuh Sangkep ".Setiap orang Karo mesti dapat dimasukkan dalam salah satu diantara lima marga   tersebut diatas, sebab barang siapa yang yang tak hendak memakai indentitas demikian, tidak akan diakui sebagai " Kalak Karo " yang dinamakan  '; nasap tapak nini" misalnya, banyak dahulu terjadi  orang yang "tercela ahlaknya "  di desanya lalu merantau kenegeri lain tanpa mejunjujng tinggi merganyas atau menggantinya, orang yang memeluk agama Islam dengan menghilangkan indentitasnya itu seraya mengaku orang Melayu  kampung atau " kalak Maya- Maya" terutama di mKaro Jahe " dan lain- lain . Tetapi sebaLIKNYA SETELAH TERBENTUK SUKU KARO DAHULU ADA ORANG DARI SUKU   SEKALI PUN YANG OLEH SESUAtu SEBAB MISALNYA, MENGADAKAN PERKAWINAN DENGAN ORANG KARO BISA DITERIMA  BERMERGA ATAU MEMILIKI BERU PADA SALAH SATU MERGA DI Antara yang lima .tersebut.
" Merga " ialah indentitas  pria yang diturunkan terhadap putranya dan dinamakan  " beru "   kepada putrinya misalnya  Ginting putranya  bermerga Ginting serta putrinya  " beru Ginting ". Beru adalah indentitas wanita yang diturunkan terhadap putra - putrinya umpamanya , beru Karo, diturunkan kepada putra putrinya dengan sebutan bere- bere  Karo.. Semua indentistas tersebut merupakan  lambang suci yang dalam bahasa Karo dinamakan :"  Tanda Kemuliaan "    yang untuk menghitung" berapa tingkat keturunan telah berlangsung merga atau ab marega yang bersangkutan hingga dirinya sendiri sejak dari nenek moyang yang dahulu berangkat dari negeri asalnya " yaitu( Barat ) bagi keturunan Karo-  Karo , Perangin- angindan Sembiring, sedangkan  " Yuna " untuk Ginting serta Tarigan. Hitungan jumlah tingkat keturunan itu dinamakan " Beligan  Kesunduten Nini  Adi  " yang dahulu turun temurun diceritakan sehingga tahulah sesorang akan asal usul dan  nenek moyangnya Putra - Putri yang seketurunan pantang mengadakan  kawin  mawin sesamanya, sebab indetitasnya akan sama buat  selama- lamanya, kendatipun dengan memakai " Sub Merga "  yaitu "nama khusus "  yang diciptakan berdasarkan keluarga tertentu dalam suatu    desa  dan/atau  sesuatu peristiwa  dahulu yang merupakan aliran darah khas pula , namun harus tunduk kepada pokok merga , Merga Silima. Jadi orang Karo  terbentukl dari bermacam- macam suku atau puak bangsa yang oleh pengaruh lingkungan daerahnya membentuk watak, adat istiadat dan masyrakatnya yang tertentu yang  membuat punyai perasamaan serta perbedaaan dengan suku- suku bangsa Indonesia  lainnya, namun bersifat " mandiri " dalam arti sejak dahulu  bebas merdeka mengatur pemerintahannnya. Akan tetapi karena Tanah karo merupakan  daerah pedalaman yang tak akan dapat berswasembada dalam segala hal akan kebutuhan hidupnya, maka terpaksa jugalah mereka mengadakan hubungan dengan  "suku "  atau  "  bangsa lain  "   lain terutama bahan makanan seperti garam  yang bdisebut " Sira :Mereka langsung menyebarkan pendudukinya keluar batas  dataran tinggi karo  yang berguna  sebagai  daerah pengubung dan penyangga seranbgan dari luar yang menurut logat mereka  dinamakan " Negeri Perlanja Sira  Ras Pulu Dagang "., yang kini daerah- daerah tersebut ialah  Aceh Tenggara , Dairi, Tapanuli Utara,, Simalungun demikian sekelumit ceritanya  maka nama  pegunungan yang puncak- puncaknya antara lain gunung Snabung- Sibayak dinamakan orang  Karo deleng Merga silima. Sibar em lebe   aron sisangana cio cio bas saponta enda, bujur ras mejuah - juah ita kerina 

  aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

Share
  •  
  • Sri Malem Ginting Manik likes this.

    • Ngajarsa Sinuraya Bre Bangun Sri Malem Gintings @ Bujur ibas responndu e bagepe rikut rasc jempoldue nangdangi pesan sebagai persinget nginget nginget silupana sinipeseh manbanta kerina enda
      17 June at 08:38 · 1 person

    • Ngajarsa Sinuraya Bre Bangun Betro Tarigan terima ksih atas jempolnya terhadap komen pesan yang disampaikan ini
      17 June at 16:20


No comments:

Post a Comment