• Jangan Musnahkan Tusam Tapanuli

      
    Tusam atau Pinus merkusii Jungh et de Vries merupakan marga Pinus yang unik,
    satu-satunya yang menyebar ke sebelah selatan khatulistiwa atau yang sebaran alamnya terdapat di daerah tropik. Itu sebabnya Dr F Junghuhn orang pertama yang menemukannya di Dolok Suwanon, Sipagimbar/Sipirok, Tapanuli Selatan terheran-heran dan menamakannya Pinus Sumatrana pada tahun 1841.

    Akhirnya nama ilmiah atau botanis dari tusam menjadi Pinus merkusii Jungh et de Vries untuk mengabadikan nama Gubernur Jendral Merkus, taxonom de Vries dan penemunya Junghuhn sendiri. Ternyata tusam secara alami ditemukan di Sumatera (terpisah di Aceh, Tapanuli dan Kerinci), di Filipina, Kamboja, Vietnam, Laos, Thailand dan Birma. Di Tapanuli tusam alami tersebar soliter atau berkelompok di beberapa lokasi pegunungan antara lain di Habinsaran, Sialogo, Sipahutar, Dolok Tusam, Dolok Saut, Dolok Pardumahan, Dolok Sipirok, Dolok Sibualbuali, Dolok Suwanon, Roncitan, Padang Mandailing, dan di “Suaka Margasatwa Barumun” (lokasi ini perlu disurvey).

    Tanah Longsor di kaki gunung secara alami diduga penyebab utama penyebaran tusam, di Tapanuli dan Kerinci. Dia Aceh, penyebaran alaminya banyak dibantu oleh kebakaran lahan secara periodik yang dilakukan penduduk untuk mendapatkan rumput muda sebagai pakan dalam peternakan liar dan berburu rusa. Kebakaran tegakan tusam di sekitar Dolok Tusam dapat terjadi disebabkan petir di siang hari tanpa hujan yang disebut dengan “ronggur balu”. Peristiwa seperti itu yang kemungkinan besar menghasilkan hamparan hutan tusam yang luas di Dolok Tusam. Ada perbedaan antara tusam yang menyebar di kepulauan (Sumatera dan Filipina) bila dibandingkan dengan yang berada di daratan Asia. Tusam asal kepulauan habitusnya lebih besar dan tinggi, tidak mempunyai “grass stage” atau masa tumbuh semai seperti rumput selama 2-3 tahun yang umum terjadi untuk asal Asia Tenggara.
    Kegunaan tusam cukup banyak antara lain untuk papan/tiang, vinir/kayu lapis, kaso, mebel, kotak, tangkai korek api, pulp, tiang listrik, papan wol kayu, pulp/kertas dan penghasil gondorukem.

    Penduduk di sekitar hutan tusam menggunakannya untuk bahan bangunan rumah dan mereka sengaja menanamnya untuk investasi. Tukang balak sewaktu pulang dari hutan sering membawa anakan untuk ditanam di kebun atau dekat rumah dengan harapan kelak dapat memanfaatkannya. Pemerintah Belanda menanamnya dalam skala besar-besaran di Aek Nauli Kabupaten Simalungun. Pada tahun 1928-1930 tertanam lebih dari 6000 Ha tusam untuk fungsi tata air dan pabrik kertas dengan biaya anggaran daerah.

    Areal seluas itu terkenal di dunia sebagai hamparan tanaman konifer terluas di daerah tropik. Secara ekonomis dan teknis tentu tusam atau marga Pinus tidak asing lagi bagi Belanda sebab merupakan jenis primadona di Eropa dan Amerika Utara. Selain itu Aek Nauli terkenal sebagai lokasi pertama praktek menggunakan mikoriza pada persemaian tusam oleh Dr Roeloffs pada tahun 1924. Dengan pengalaman teknik budidaya dan manfaat yang besar tersebut wajar dalam kegiatan Inpres reboisasi dan penghijauan di seluruh Indonesia pada tahun 1970-an menggunakan tusam sebagai jenis utama. Hasilnya pun tidak mengecewakan dengan terbangunnya hutan tanaman tusam yang menempati urutan kedua terluas di Indonesia setelah tanaman jati.


    PERMASALAHAN
    Pengembangan tanaman tusam secara luas di Indonesia termasuk di Aek Nauli masih mengandalkan bibit asal Aceh. Hutan tanaman tusam di Indonesia umumnya berasal dari Aceh sedangkan asal Tapanuli dan Kerinci belum dikembangkan karena teknik budidayanya terutama dalam hal perbenihan belum dikuasai. Padahal secara visual masyarakat berpendapat adanya keunggulan asal Tapanuli dengan sifat pohon yang lebih lurus, warna kayu lebih putih dan kadar getah/resinnya lebih sedikit bila dibandingkan dengan asal Aceh. Harga kayu untuk pohon yang lurus atau “asli Tapanuli” di Tapanuli Utara jauh lebih mahal atau hampir dua kali dari pada kayu yang dianggap berasal dari Aceh.
    Timbul kesangsian bahwa pohon yang lurus tidak selamanya adalah asli Tapanuli disebabkan luasnya hutan tanaman pinus yang sudah merupakan campuran dari asal Aceh dan Tapanuli. Sampai saat ini dalam pemenuhan bibit tusam untuk Gerhan di Tapanuli masih menggunakan bibit asal Aceh. Di pihak lain sudah cukup luas hutan alam tusam asli Tapanuli yang ditebangi dan penanaman kembali areal bekas tebangan tidak menggunakan yang asli Tapanuli maka diduga lama kelamaan asal Tapanuli akan punah. Kepunahan secara fisik atau karena tercemar dengan adanya kemungkinan kawin silang antara tusam Tapanuli dan Aceh,tampaknya kurang diperhatikan Dinas Kehutanan selama ini.

    Kepunahan karena ditebang, baik yang di hutan alam ataupun di hutan adat/milik sulit dibendung dengan adanya penerbitan IPKTM yang tampaknya kurang tertib. Sudah puluhan ha areal tusam asli Tapanuli (Sipahutar, Garoga, sekitar Sarulla) dibalak dan kayunya dijual ke luar Tapanuli Utara. Saat ini sedang dalam persiapan untuk menebang blok Dolok Tusam sebaran alami asli Tapanuli yang terluas dan homogen. Dengan kata lain kalau tidak dilakukan pengamanan dan penanaman kembali jenis asli Tapanuli maka kepunahannya tinggal menunggu waktu. Penebangan pohon di hutan lindung yang makin marak dari bisnis kayu tusam ini akan berdampak negatif pada lingkungan hidup.


    TINDAK LANJUT
    Mengingat masih banyak aspek positif dari tusam asli Tapanuli yang belum diketahui terutama dalam pengembangannya untuk hutan tanaman maka dianggap penting untuk melakukan konservasi secara in situ (di hutan alam) dan secara ex situ atau di luar habitatnya. Penelitian tentang sifat dasar kayu dan produksi getah/resin dari pohon yang lurus dan bengkok baik asli Tapanuli maupun asal Aceh merupakan langkah kedua.

    Langkah selanjutnya adalah penelitian tentang teknologi perbenihan serta budidayanya dalam rangka memperoleh persyarakat tumbuh dan kuantitifikasi pertumbuhannya di berbagai lokasi di Indonesia. Pemetaan kesesuaian tempat tumbuh dan rencana umum pengembangannya yang dikaitkan dengan industri serta pemasaran hasil perlu direncanakan secara Regional dan Nasional. Penanaman asli Tapanuli dengan mengumpulkan anakan dari permudaan alaminya perlu ditingkatkan sekaligus mengurangi luas tanaman tusam asal Aceh.

    Kiranya kekayaan potensi tusam asli Tapanuli yang kritis jangan sampai punah atau nanti hanya tercatat dalam literatur dan tidak dikenal orang Tapanuli. Penanamannya untuk pohon terang dalam rangka perayaan Natal tampaknya seirama dengan kebiasaan pemakaian pinus untuk pohon Natal di Eropa sebagai asal penyebaran iman Kristiani, merupakan aspek positif tersendiri dalam pelestarian tusam asli Tapanuli. Informasi yang tidak kalah pentingnya mengatakan bahwa tanaman kemenyan lebih tinggi hasilnya bila bercampur dengan tusam perlu dibuktikan. Mudah-mudahan hamparan lahan tidur di Tapanuli terutama di sekitar Danau Toba dapat hijau kembali dengan tusam asli Tapanuli yang multiguna.


    Penulis : Rusli MS Harahap , pemerhati Lingkungan Hidup