• Begu Ganjang dan Irrasionalitas Warga Pedesaan Tapanuli Utara


    Masa kecil di pedesaan Tapanuli Utara, di sekolah minggu, di rumah, di sekolah, guru sekolah minggu, orang tua dan guru-guru selalu mengajarkan bahkan lebih cenderung mengindoktrinasi bahwa “Begu itu tidak ada! Begu pendek, maupun begu ganjang”. Entah hanya sebagai alasan mendevaluasi rasa takut anak-anak atau memang ada dasar teologisnya, saat itu tidaklah terlalu penting.
    Sepertinya hasil indoktrinasi itu dapat berhasil, sebab anak-anak terutama di kampung kami waktu itu, tidak ada anak-anak yang takut pergi bermain ke kampung sebelah walau malam hari. Jika tidak terlalu berani, paling tidak ketakutan anak-anak waktu itu sangat rasional. Takut digigit ular, atau diganggu orang “jahat”, itu saja.

    Kondisi itu ternyata tidak lagi berlaku saat ini. Entah karena indoktrinasi atau pengajaran soal tentang ketiadaan hantu yang sudah melemah, atau karena kuatnya pengaruh tontonan di televisi yang secara vulgar menayangkan dunia yang penuh hantu, ketakutan terhadap hantu semakin kuat dan semakin irrasional. Sebut saja salah satu tayangan di televisi swasta “Memburu Makhluk Halus”, sepertinya berhasil melakukan indoktinasi baru, bahwa hantu ada di sekitar kita, bisa dilihat paling tidak orang-orang tertentu, bahkan bisa diusir dan dimasukkan ke dalam botol.

    Pembicaraan di kedai-kedai, di pesta-pesta bahkan di halaman gereja, Begu Ganjang sudah menjadi topik yang menarik perhatian banyak orang. Setiap orang berpartisipasi menambah bumbu tentang keberadaan Begu Ganjang dan kesaktiannya. Begu ganjang, walau hingga saat ini belum ada yang bisa mengidentifikasi sepanjang apa ukurannya, tetapi berhasil menjadi momok dengan gambaran sebagai makhluk halus yang sangat tinggi, setinggi pohon kelapa, pasti lebih tinggi dari rumah dan akan sangkut jika melewati tiang listrik.

    Begu Ganjang, dapat dipelihara dengan cara pemeliharaan yang juga tidak pasti tetapi selalu dikaitkan dengan “tumbal”. Bagi si pemelihara, Begu Ganjang dapat disuruh melakukan apa saja yang menjadi kehendaknya. Membuat orang takut, sakit bahkan membunuh manusia.Bisa dibayangkan, bagaimana suasana perkampungan nun jauh di Tapanuli Utara sana ketika otak-otak warganya sudah dipenuhi momok Begu Ganjang.

    Jika ada warga yang sakit atau meninggal, pasti dikaitkan dengan ulah si Begu Ganjang dan tentu semua akan melirik kepada keluarga yang dituduh sebagai induk semangnya. Tanpa berupaya mencari tahu apa penyebab sakit atau penyebab meninggal, warga sudah lebih mudah mendapat jawab dengan menghilangkan rasionalitasnya. Penyebab pastilah Begu Ganjang, titik.

    Celakanya, baik aparat pemerintahan desa, aparat kesehatan di desa, bahkan pekerja gereja justru tidak memberi atensi terhadap isu yang berkembang di sekitarnya. Jika, ada upaya baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama antara institusi di desa itu, tentu kejadian sakit dan meninggal tidak perlu menjadi sesuatu yang tidak bisa dipahami. Perlu penjelasan kepada warga untuk memahami secara rasional, sakitnya seseorang atau matinya seseorang. Petugas kesehatan, penegak hukum, aparat desa, pekerja gereja, di sekitar desa, sudah kehilangan fungsinya memberi pendidikan penyadaran bagi warga masyarakat dan warga gerejanya.

    Atau, kemungkinan para pihak tersebut juga sudah menjadi bagian dari ketakutan terhadap Begu Ganjang itu sendiri. Tentu perlu penelitian yang lebih mendalam.
    Para ahli sosiologi, ketika berhadapan dengan kasus seperti ini, selalu mengaitkannya dengan kondisi sosial, ekonomi, budaya dan politik masyarakatnya. Kesulitan ekonomi warga desa, diidentifikasi menjadi salah satu faktor penyubur penyimpangan keyakinan dan pandangan masyarakat. Belum lagi ditambah potensi-potensi konflik lama yang tersimpan dan tak pernah diselesaikan secara tuntas, bisa jadi sebagai faktor pendorong mudahnya menyulut emosi warga, hingga berujung amuk dan terjerumus ke dalam situasi kaos.

    Warga Tapanuli Utara yang dikenal sudah lama menjadi masyarakat agamis sejak 150 tahun lalu menerima kepercayaan baru yaitu Kristen, ternyata tidak mampu juga membentengi dirinya dalam menentukan sikap iman dan kepercayaan terhadap “Begu Ganjang”. Berbagai kasus yang pemicunya isu Begu Ganjang terjadi di berbagai desa di Tapanuli Utara, bahkan di Kabupaten lain yang berdekatan. Gambaran kejadian hampir sama. Mengarahkan tuduhan kepada satu atau dua keluarga sebagai pemelihara, yang akhirnya sah untuk dihakimi.

    Baru-baru ini di Muara, Kabupaten Tapanuli Utara, 3 nyawa meregang setekah mereka dibakar di dalam rumahnya oleh puluhan warga yang mengamuk. Seolah melawan momok yang mereka takuti itu, warga beramai-ramai menyiksa, merusak bahkan membakar rumah Kel. Simare-mare yang dituduh sebagai pemelihara Begu Ganjang. Tidak terlalu lama kemuadian, hanya hitungan hari, warga di Sipoholon, Kabupaten Tapanuli Utara melakukan tindakan yang sama. Kel. Manalu menjadi sasaran amuk, setelah salah seorang warga ditemui sakit dan diduga akibat ulah Begu Ganjang.

    Sebagai orang yang pernah hidup di suasana pedesaan di Tapanuli Utara, saya melihat bahwa isu Begu Ganjang bisa dihapuskan jika semua pihak melakukan tugasnya dengan baik. Polisi, Jaksa, Kehakiman melakukan penyadaran hukum kepada masyarakat, larangan melakukan “main hakim sendiri”. Mempersiapkan warga mengenali “orang-orang” yang berkemampuan memprovokasi warga dengan isu Begu Ganjang. Melakukan penyelidikan dan penyidikan yang lengkap terhadap kasus Begu Ganjang.

    Setiap korban yang dituduh sakit, atau meninggal akibat ulah Begu Ganjang, harus di otopsi dan pihak kesehatan harus memberi gambaran lengkap terhadap sebab musabab penyakit dan kematian yang terjadi. Kepada aparatus desa dan pekerja gereja diminta untuk aktif melakukan sosialisasi dan penyadaran dengan menggunakan bahan yang ditemukan para aparatur hukum dan kesehatan untuk menepis dan memperdebatkan keberadaan begu ganjang. Jika hal ini dilakukan, niscaya warga tidak terlalu mudah terprovokasi, hingga harus menjerumuskan dirinya menjadi pembunuh yang kelihatannya lebih kejam dari Begu Ganjang yang mereka benci itu.


    Sumber: