Monday, April 30, 2012

Enceng Gondok Di Danau Toba ; Mencemari Lingkungan Atau Bermanfaat [2]


Enceng Gondok Di Danau Toba ; Mencemari Lingkungan Atau Bermanfaat [2]


Hotline Tapanuli FM - Hotline Tapanuli FM
Oleh: Ir. F.Prihatin Malau (*
Ingul Senter PedesaanTapanuli- Benar, bila sudah pada tahap mengganggu lingkungan ekosistem dapat dikatakan mengkhawatirkan maka perlu diubah kekhawatiran itu menjadi harapan dan sekaligus mengembalikan posisi ekosistem yang sebenarnya.
Perlu diingat ekosistem itu bukan saja bicara tumbuhan dan hewan tetapi juga manusia sebagai satu komponen penting dalam ekosisten tersebut. D

ari ketiga jenis makhluk hidup yang ada dalam ekosistem itu, manusia adalah faktor penentu dalam interaksi makhluk hidup itu sehingga tidak terbantahkan lagi apa yang dikatakan Tuhan bahwa manusia itu adalah pemimpin di permukaan bumi ini.

Tanaman enceng gondok di perairan Danau Toba, tidak dapat lepas dari kearifan lokal yang ada yakni hadir karena interaksi manusia (masyarakat) yang ada dalam komunitas itu.

Kehidupan masyarakat di sekitar Danau Toba sebagai petani dan nelayan sangat erat interaksinya dengan alam. Tanaman enceng gondok tumbuh subur merupakan ekses dari bercocok tanam di tepi Danau Toba, sisa-sisa mikroba dari pupuk, tanah masuk ke dalam Danau Toba maka tumbuh subur tanaman enceng gondok.

Hal itu wajar dan tidak menjadi masalah bila jumlahnya seimbang dengan komunitas makluk hidup lainnya.

Dari kearifan lokal ini, enceng gondok yang dinilai sudah mengganggu lingkungan ekosistem Danau Toba dapat diatasi dengan mengubah kekhawatiran itu menjadi harapan.

Contoh kecil budaya atau kearifan lokal yang ada bagi masyarakat Batak adalah menganyam (bahasa daerah: mangaletek) sudah merupakan budaya atau kearifan lokal sejak dahulu karena kegiatan menganyam telah dikenal baik masyarakat Batak.

Tanaman enceng gondok dapat dimanfaatkan sebagai bahan utama dalam kegiatan anyam-mengayam yang sudah menjadi kearifan lokal bagi para ibu-ibu rumah tangga di tano Batak. Bedanya dahulu bahan utama adalah daun pandan yang diambil dari alam dan kini enceng gondok juga diambil dari alam.

Bila kegiatan ini dilakukan maka enceng gondok yang dinilai sudah bermasalah dapat dimanfaatkan dan mampu mengubah "sampah" enceng gondok menjadi barang bernilai dan menghasilkan uang bagi masyarakat yang melakukannya disamping dari aspek lingkungan ingin membantu membersihkan perairan Danau Toba dari enceng gondok otomatis terlaksana.

Apa bisa enceng gondok di perairan Danau Toba dapat dijadikan sebagai bahan baku untuk anyam-mengayam? Jawabnya bisa. Menurut H. Komar D. Atmaja (60) praktisi dan ahli kerajinan berbahan baku enceng gondok menilai enceng gondok Toba yang tumbuh di sepanjang tepi Danau Toba lebih baik mutunya sebagai bahan baku industri kerajinan bila dibandingkan dengan enceng gondok yang tumbuh di daerah Aceh dan Jawa.

Haji Komar sudah 20 tahun menggeluti kerajinan mengatakan berbagai macam produk dapat dihasilkan dari bahan baku enceng gondok seperti barang-barang rumah tangga, berbagai macam asesoris dan yang lainnya.

Disamping itu tanaman enceng gondok juga dapat dijadikan pupuk kompos dan masih banyak lagi apabila kita (Anda) kreatif..Bagaimana mengubah kekhawatiran itu menjadi harapan yang bernilai lebih.

Bila kreatifitas sudah di depan maka enceng gondok di perairan Danau Toba yang dinilai mencemari lingkungan ekosistem akan berubah menjadi tidak mencemari lingkungan lagi dan bermanfaat.  [selesai]

(* Penulis adalah pemerhati masalah lingkungan, sudah bermukim dua belas tahun di tepi Danau Toba

Hotline Tapanuli FM -

No comments:

Post a Comment