Monday, April 30, 2012

Wanita Jerman dan Danau Toba


Wanita Jerman dan Danau Toba


Wednesday, 12 October 2011 00:33 

WASPADA ONLINE
Danau Toba yang terletak di daerah Sumatera Utara merupakan salah satu objek wisata terkenal di Indonesia. Sebagai danau yang terbesar di kawasan Asia Tenggara, Danau Toba juga punya sejarah yang keberadaannya berasal dari letusan gunung merapi ratusan atau mungkin ribuan tahun silam.

Namun, sekarang keberadaanya menuntut perawatan yang lebih serius lagi agar air dan lingkungan di sekltar danau tetap lestari. Demikian pula promosi untuk  menarik wisatawan domestik dan asing juga tidak bisa diabaikan. Seorang wanita asal Jerman bernama Annette Horchman yang sudah lama bermukim di Pulau Samosir ikut peduli dalam melestarikan dan juga mempromosikan Danau Toba.

Wanita yang sudah ditabalkan marga Siallagan itu mengaku ikut dalam kepanitiaan pada acara Art Camp Internasional yang akan diselenggarakan di Samosir selama tiga hari akhir Desember mendatang. Apa alasan dia bersedia ambil bagian dari acara kemah seni (Samosir Art Camp Internasional) itu berikut adalah wawancara wartawan Waspada, Aidi Yursal dengan Ms Annette Horcman.

Danau Toba merupakan objek wisata terkenal yang bukan hanya di Indonesia tetapi untuk tingkat dunia. Apa yang dapat Anda komentari tentang keberadaan danau tersebut?

Keberadaan dan keindahan Danau Toba yang berada di Indonesia, tepatnya di Sumatera Utara, dan bukan di Eropa, itulah alasan saya harus rela meninggalkan kampung halaman saya di Benua Eropa, terpatnya di Jerman.
Sudah berapa lama Anda berada kawasan Danau Toba?

Dari hitungan awal, saya itu sudah berada di kawasan Danau Toba, tepatnya di Samosir selama 17 tahun. Kurun hampir dua dekade itu jelas sudah banyak saya tahu mengenai lingkungan Danau Toba itu sendiri, serta masyarakat yang berada di kawasan sekitar.

Kalau begitu Anda itu sudah begitu akrab dengan etnis dari suku Batak?
Sebenarnya saya itu tidak perlu lagi ragu-ragu menyebutkan bahwa saya itu sudah bagian dari orang Batak. Penganugerahan marga Siallagan dari masyarakat Tapanuli membuktikan saya itu sudah menjadi boru Siallagan.

Apakah Anda sudah biasa menempelkan marga Siallagan di nama anda?
Ya, tentu. Saya bukan hanya menempelkan nama marga Siallagan di belakang nama saya, Annette Horcman Siallagan, tetapi saya selain sudah fasih berbahasa Indonesia, saya sudah hampir setiap saat berbicara dengan menggunakan bahasa Batak. Jadi tidak salah apabila ada teman-teman dari turis atau wisatawan asing, terutama asal Jerman sendiri mempertanyakan, apakah saya itu orang Batak atau orang asing asal Jerman.

Setahu saya bahwa pada akhir Desember 2011 nanti akan digelar acara Kemah Seni atau disebut International Semosir Art Camp di Samosir. Apa tujuan dari Art Camp itu?
Ya benar. Acara itu akan digelar di Samosir pada akhir tahun ini. Tujuan dari acara Art Camp (Kemah Seni) itu pada intinya adalah menyadarkan orang atau masyarakat lokal atau pindahan (pendatang) yang berada di Samosir agar turut memberi kepedulian atau perhatian terhadap Daerah Kabupaten (Pulau) Somosir yang berada di kawsasan Danau Toba.

Acara ini terbilang baru digelar di Sumatera Utara bahkan di Indonesia barangkali?

Memang benar. Acara ini terbilang baru karena pagelaran seni diadakan pada acara perkemahan internasional. Yang jelas, notabenenya dari Samosir Art Camp adalah bahwa kita ingin mencoba menghindari sampah sebanyak mungkin selama berlangsung acara itu, dan juga ingin mencoba menyadarkan orang agar sadar lingkungan. Untuk itu event ini hendaknya bermanfaat bagi masyarakat setempat dan masyarakat pendatang dan sekaligus untuk keindahan Danau Toba. Dan sebaliknya hendaknya bukan diperuntukkan untuk peserta atau turis-turis yang datang pada acara itu.

Sudah berapa kali acara seperti ini di gelar di Samosir?

Kalau untuk di Danau Toba, Parapat, acara seperti itu tercatat sudah kelima kali, namun khusus untuk di Samosir baru pertama kali digelar. Jadi selama ini di Samosir belum pernah ada, dan inilah pertama kali digelar. Dan saya sendiri juga belum pernah tangani. Namun, kegiatan untuk lingkungan saya sudah beberapa kali lakukan.
Apa keistimewaan yang bisa disaksikan pada acara Art Camp di Samosir itu?

Kami akan menggelar acara itu dengan melibatkan rumah warga sebagai pemondokan para peserta, serta mendirikan kemah khusus. Demikian pula peralatan makan peserta yang jumlahnya diperkirakan seribuan orang, akan menggunakan daun pisang pengganti makanan siap saji yang dikemas plastik. Air minum pun demikian pula, tidak boleh dari kemasan plastik tetapi akan kami gunakan gelas atau tempat minum yang bisa diisi ulang.
Apa alasan panitia menetapkan konsep seperti itu?

Ya, kita tidak mau acara itu akan dijadikan sebagai tempat produk sampah yang sulit dibasmi, karena bila hal itu terjadi, akibatnya permukaan Danau Toba akan turut dicemari oleh plastik bekas kemasan air minum atau plastik kemasan makanan. Kalau itu terjadi, ini berarti kita sendiri tidak konsekuen dengan tujuan dan harapan semula, bahwa permukaan Danau Toba mesti bebas sampah dan lingkungan sekitar juga demikian.

Apakah ada dana yang dikeluarkan untuk kegiatan lingkungan itu?

Sebenarnya belum ada. Tetapi karena kita hanya semacam volunteer atau relawan, dengan itu kita mengajak kawan-kawan atau turis-turis yang berkunjung ke Samosir serta anak sekolah di sana agar terlibat atau dilibatkan untuk itu. Hal semacam itu sudah beberapa kali dilakukan.

Apakah ada menghubungi pemerintah Jerman dalam persiapan acara Art Camp di Samosir yang akan digelar pada Desember mendatang?

Belum ada. Begitupun, kita mungkin akan hubungi organisasi-organisasi lain seperti Lion Club dan Rotary Club yang juga ikut orang Jerman di dalamnya. Saya pernah ketemu. Dan bagaimanapun mereka akan tertarik juga, apalagi untuk memperbaiki kualitas air Danau Toba.

Apa mungkin ada hubungan orang asing dengan masalah kualitas air Danau Toba?

Sangat besar kemungkinannya. Apalagi tahun ini masyarakat internasional, termasuk juga orang asing dan tanpa kecuali warga Indonesia, lebih mengabdikan diri pada kualitas air sedunia. Begitupun saya belum berpikir ke arah itu.

Anda pengusaha di Samosir?

Saya (kita) di sana ada usaha hotel dan cottage. Jadi kita sangat senang ada kegiatan seperti itu, karena ini bukan event pemkab Samosir dalam menyelenggarakan Art Camp itu tetapi adalah event private atau swasta .
Apa ada semacam kritikan tidak langsung kepada pemkab nantinya?

Sebenarnya bukan itu yang kita maksud. Jadi kita mungkin bisa beri pencontohan untuk event yang lebih besar pada masa yang akan datang. Karena kita selalu kritik pemkab bahwa ada beberapa event yang digelar pemkab hanya terlaksana dengan kurang promosi. Jadi pesertanya yang makan sama pejabat. Kalau alat perlengkapan selalu kurang karena juga akibat promosi kurang, dan mungkin juga akibat masyarakat tidak terlalu libatkan ke dalam. Dan itu suatu kritik terhadap event yang diadakan selama ini Pemkab Samosir.

Apa tanggapan Anda mengenai Pesta Danau Toba?

Saya rasa pesta Danau Toba itu kurang menarik. Kurangnya adalah karena tidak  melibatkan masyarakat setempat. Karena yang banyak terlibat sebagai performance (pertunjukan) adalah orang luar. Seperti tahun lalu, hampir dua hari penuh dengan pertunjukkan drum band. Drum band itu sendiri didatangkan dari Lampung dan Aceh sehingga terkesan menghabis-habiskan biaya. Sementara klub drum band dari Samosir ataupun Parapat tidak ada ditampilkan. Jadi event itu jelas terkesan diperuntukkan bagi orang lain, bukan untuk kita di Danau Toba. Semestinya event itu melibatkan orang di Danau Toba. Bahkan saat berlangsung pesta Danau Toba, kita di Pulau Samosir pernah mengalami kesusahan alat transportasi ke sana.


Sumber:

No comments:

Post a Comment