• Musik Gondang Memerlukan Perhatian


    Jika diibaratkan sebagai manusia, Viky Sianipar melihat musik gondang saat ini tengah bernegosiasi dengan malaikat maut di ruang ICU rumah sakit. Tubuhnya terbaring lemah, hidupnya bergantung dengan alat-alat. Musik gondang sekarat. Perlu perhatian serius!

    Seperti nasib budaya tradisional lainnya, eksistensi musik gondang saat ini berada di ujung tanduk. Tak banyak yang perduli, bahkan orang Batak sendiri. “Orang batak sendiri sekarang nggak terlalu peduli dengan budayanya,” kata Pengajar Etnomusikologi IKJ Tarsan Simamora kepada Jurnal Nasional, Jumat (25/4).

    Menengok ke belakang hampir punahnya musik gondang tak terlepas dari propaganda penjajah untuk memecah orang Batak. Musik gondang digunakan dalam upacara agama untuk menyampaikan doa manusia ke dunia atas. Ketika musik dimainkan, pemain sarune dan pemain taganing dianggap sebagai menifestasi Batara Guru. “Musik gondang dipergunakan untuk berkomunikasi dengan dunia atas dan rupanya tranformasi pemain musik ini terjadi untuk memudahkan hubungan dengan dunia atas,” tutur Viky.

    Kemudian, lanjut dia, masuknya agama Kristen ke Tanah Batak mengubah kebudayaan masyarakat di sana. Bahkan gereja menganggap musik gondang yang identik dengan pemujaan roh nenek moyang sebagai bentuk penyembahan terhadap berhala.

    Pada awal abad ke-20 Nommensen minta pemerintah kolonial Belanda untuk melarang upacara bius dan musik gondang. Larangan ini bertahan hampir empat puluh tahun sampai pada tahun 1938. “Itu merupakan pukulan telak bagi perkembangan musik gondang,” ujar Viky.

    Viky juga mencoba menelaah kondisi sosial ekonomi masyarakat Batak saat itu, yang hidup dibalut kemiskinan. Jadi boro-boro memikirkan kebudayaan, kata Viky, mereka sudah terlalu sibuk memikirkan keluarganya mau makan apa.

    Kondisi tersebut semakin diperparah dengan keadaan kaum muda yang tergilas oleh gelombang budaya Barat yang masuk ke Indonesia. Para generasi MTV ini lebih bangga mempelajari musik dari luar negeri. Musik tradisional seperti gondang ditingal karena dianggap kampungan. “Mereka berusaha meniru Amerika, padahal di Amerika mereka juga tidak dianggap,” kata pemilik Viky Sianipar Music Center tersebut.

    Jarangnya musik gondang dipakai dalam upacara-upacara adat Batak, seperti penikahan juga menjadi fakta yang membuktikan minimnya kepedulian masyarakat terhadap kelestarian musik gondang. “Mereka malah lebh sering memakai organ tunggal, hanya satu dua yang menggunakan musik gondang,” tukas Jeffar Lumban Gaol.

    Musik tradisional yang seharusnya diletakkan sebagai aset berharga, malah dibiarkan menguap begitu saja. Sehingga bukan suatu hal yang mustahil bila kemudian keberadaan musik gondang menguap tergerus zaman. “Padahal di world music, gondang memiliki lapak yang spesial,” ungkap Jeffar.


    Sumber:
    http://www.bengkelmusik.com/forum/archive/index.php/t-3008.html