Friday, April 6, 2012

Penelusuran dari Arkeologi

Penelusuran dari Arkeologi

Medan, Kompas – Penelusuran silsilah musik di Sumatera Utara bisa dilakukan lewat jalur arkeologi melalui ikonografi atau literatur. Alat musik taganing dari Batak Toba, misalnya, lewat arkeologi bisa ditelusuri keberadaannya sejak zaman prasejarah.
  Saat ini keberadaan taganing di dunia mirip di tiga tempat, yakni taganing di Sumatera Utara sendiri, gendang hsaing waing dari Myanmar, dan gendang entenga dari Uganda. Ketiganya merupakan drum yang dilaraskan menjadi melodi.

”Silsilah gendang itu bisa dicari sejak terjadi migrasi manusia di Dongson, Vietnam, Asia Tenggara,” tutur Ben Pasaribu dalam seminar arkeologi, etnomusikologi, antropologi, linguistik, dan pendidikan multikultural yang diselenggarakan Balai Arkeologi Medan bekerja sama dengan Komunitas Pemberdayaan Pendidikan Seni Pertunjukan Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Medan, Sabtu (26/7).

Hadir sebagai pembicara adalah Lucas P Koestoro dari Balai Arkeologi Medan, dosen etnomusikologi USU dari Unimed Prof Mauly Purba, ahli linguistik USU Prof Robert Sibarani, dan musikus Ben Pasaribu.

Ben mengatakan, musik menjadi menarik dengan tidak melihat suaranya, tetapi melihat sejarahnya dari hal-hal yang tak mengeluarkan suara.

Menurut Robert Sibarani, ungkapan dan bahasa di seputar Danau Toba dekat dengan Tagalog. Namun, dalam kajian Robert, bahasa Batak Toba justru dekat dengan bahasa sebuah suku di Thailand dengan pendekatan leksikostatistik. (WSI)


“Penelusuran dari Arkeologi” Kompas Senin, 28 Juli 2008 | 00:15 WIB 3 Dec 2011 1:38 MT http://nasional.kompas.com/read/2008/07/28/0015293/penelusuran.dari.arkeologi
https://batakcommunitycolorado.wordpress.com/2012/01/08/penelusuran-dari-arkeologi/

No comments:

Post a Comment