Monday, October 6, 2014

Dari “Piso Surit” ke “Nasonang Do Hita Nadua”.


Oleh P. HASUDUNGAN SIRAIT

TERUS ia memanggil-manggil. Namun, sia-sia belaka:  sang kekasih tak kunjung datang; entah di mana gerangan. Memanggil dan  memanggil lagi tak jemu-jemu. Kepiluan  membilur jelas dalam suara lirihnya; pun dalam gerak tarian sendunya. Tapi, asanya masih  tersisa: ia, si burung penyanyi-penari piso surit, tetap akan menanti pulangnya sang kekasih hilang.
Djaga Depari
Komponis Karo Djaga Depari merekam  ekspresi masygul burung piso surit untuk memetaforakan sang dara gundah bukan kepalang dirasuk rindu dendam pada  kekasih yang tak kunjung pulang.  Perkisahan ia bangun,  liriknya seperti berikut:

PISO SURIT


Piso surit, Piso surit
Terdilo dilo, terpingko pingko
Lalap la jumpa ras atena ngena 

Ija kel kena tengahna gundari
Siangna menda turang atena wari
Entabeh nari nge mata kena tertunduh
Kami nimaisa turang tangis teriluh

Enggo enggo me dagena
Mulih me gelah kena
Bage me nindu rupa agi kakana

Tengah kesain keri lengetna
Remang mekapal turang seh kel bergehna
Tekuak manuk ibabo geligar
Enggo me selpat turang kite-kite ku lepar

Piso surit...


Terjemahan bebasnya oleh Simson Ginting, seorang diplomat yang juga pemerhati musik Karo:

PISO SURIT

Piso surit,  Piso surit
Memanggil-manggil dan mengiba
Tiada jua pernah bersua si idaman hati

Entah di mana dikau kini
Pagi segera menjelang
Engkau terlelap dalam tidur
Dan kami menanti dalam kesenduan

Ya, sudah sudahi sajalah
Pulang sajalah abang
Sepertinya itulah yang kau ucapkan

Di tengah lengangnya desa  
Kabut tebal membuat badan menggigil
Kokok ayam sudah bersahutan
Putuslah sudah titian ke seberang

Piso surit...


Lirik lagu yang keterkenalannya jauh melampaui barisan gunung dan lembah Karo ini dilaras dengan  merampakkan isi pesan, bentuk, dan efek bunyi. Melodinya sendiri indah, bersaput tebal irama  tradisional Karo. Bertempo agak lambat, komposisi ini lazimnya dimainkan dengan iringan serunai dan gendang kecil karo yang khas.

Lagu “Piso Surit kembali mengemuka setelah album Viky Sianipar, Toba Dream, yang diproduksi tahun 2002 beredar. “Piso Surit” yang menjadi salah satu nomor dalam album ini  muncul di MTV dengan klip video yang eksotik. Berlatar hutan, Mega Sihombing tampak bernyanyi dengan gerakan laksana burung terbang gemulai di antara pohon-pohon besar. Viky berpiano di sana. Penampakan agak absurd ini  tentu saja simbolik, sesuatu yang tak asing dalam sajian MTV.
Viky Sianipar

Lagu “Piso Surit” memasyarakat lintas Tanah Karo sejak tahun 1950an.  Saking populer lagu ini, sutradara Bachtiar Siagian pun memfilmkannya tahun 1960 dengan judul serupa. Ilustrasi musiknya kala itu ditangani musisi terkemuka Iskandar, ayah penyanyi Diah Iskandar.  Naskahnya ditulis sendiri oleh Bachtiar, berihwal jatuh cintanya seorang mahasiswi yang sedang meriset budaya pada seorang sais sado di Tanah Karo. Sais itu mencuri hatinya antara lain dengan mengajarkan tembang “Piso Surit. Jadiankah mereka? Ternyata tidak. Relasi mereka berantakan karena sais yang tak kuasa menahan nafsu melakukansexual harassment.  Tentu saja lagu “Piso Surit” menjadi terkenal di seluruh Indonesia sesudah  karya layar lebar ini beredar. Sebelumnya, tahun 1957,  Bachtiar, sutradara andalan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra)   membuat film “Turang. Skenarionya juga ditulis Bachtiar, film ini perkisahan gerilyawan Republiken di Tanah Karo (J.B. Kristanto, Katalog Film Indonesia 1926-2005, Penerbit Nalar, 2005).

Tembang “Piso Surit” hanya salah satu dari karya Djaga Depari yang termashyur. Dikenal sebagai penentu standar musik Karo pada periode 1950an dan 1960an, pejuang kemerdekaan ini mencipta “Sora Mido-ido”, “Erkata Bedil”, “Sinulih Karaben”, “Pinta-pinta”,  ”Terang Bulan” (pembukanya: Endekan kami, lagu si terang bulan turang lamigogo), “Famili Teksi”, “Andiko Alena”, “Tanah Karo Simalem”, “Sitengen-tengen”,“Erkadiola”,  “Rudang Mejile”, serta yang lain. Tak pelak lagi, ia merupakan komponis Karo terbesar. 

Taralamsyah Saragih dan istri
Setelah Djaga Depari, penggubah lagu Karo yang paling menonjol adalah Raynold Surbakti atau Reno Surbakti.  Di tahun 1970an Reno mencuat terutama karena lagu “Bunga Rampe”. Saking populernya lagu ini Reno mendramakannya dengan judul serupa. Hasilnya? Kasetnya meledak, diputar di stasiun-stasiun radio. Produktif, komponis yang memang menggeluti drama ini antara lain melahirkan tembang “Kacang Koro” dan “Kai Berita”.
Kalau Karo punya Djaga Depari dan Reno Surbakti, Simalungun punya Taralamsyah Saragih. Lewat Taralamsyah-lah kidung populer Simalungun yang tak banyak itu  menjangkau telinga publik luas lintas kabupaten. “Parsirangan” (lebih dikenal dengan “Tadingma Ham Boto”) dan “Eta Mangalap Boru”, misalnya.  Ada yang menyebut di sampul dalam kaset bahwa dendang “Pos Ni Uhur”, seperti halnya “SermaDengan Dengan”, ciptaan Taralamsyah juga (yang lazim penciptanya disebut NN saja). Kebenarannya? Entahlah, yang pasti sejauh ini belum ada klaim atau disklaim tegas.
Taralamsyah merupakan putra raja Raya, Tuan Sumayan Saragih, dan cucu penguasa Raya tersohor yang pernah bersekutu dengan Si Singamangaraja XII waktu melawan Belanda, Tuan Rondahaim Saragih. Sejak kecil, menurut Mansen Purba,  ia sudah mendalami musik, terutama musik tradisional Simalungun. Ia telah menotasikan sejumlah besar komposisi gonrang (gendang)  dengan memanfaatkan klarinet. Selain mencipta lagu, dia juga mengaransir. Sayang, hampir seluruh karyanya hangus tatkala kediaman orangtuanya dibakar kaum “progresif”  saat Revolusi Sosial merebak di Sumatera Timur tahun 1946. Kemampuan penulis buku Irama Simalungun dan periset musik rakyat Jambi ini bisa dilihat dalam catatan-catatan yang ia berikan kepada Arlin Dietrich Jansen, peneliti dan pengajar di Universitas Nommensen  Pematangsiantar, 1974-1975. Taralamsyah  merupakan salah satu narasumber utama  Arlin waktu menyusun buku Gonrang Simalungun (terbit dalam bahasa Indonesia tahun 2003). 

Seperti halnya Karo dan Simalungun, Pakpak juga memiliki komponis andalan. Dia adalah Daulat Padang. Salah satu karyanya adalah “Cikala Le Pongpong”. Lagu ceria bertempo cepat yang sangat khas Pakpak (unsur gendangnya mencuat)  ini ada juga dalam album Viky Sianipar, Toba Dream. Di tangan Viky “Cikala Le Pongpong” menjadi garapan musik yang apik kendati segera mengingatkan kita pada satu nomor musisi Jepang Kitaro, “Matsuri”. Permainan perkusinya segaya.

Sesuai dengan populasinya yang lebih besar dibandingkan dengan puak Batak lain, Batak Toba, tentu memiliki  sejumlah komponis lokal yang karyanya dikenal luas. Gubahan mereka telah menjadi sumber inspirasi bagi banyak musisi dan penyanyi khususnya orang Toba sendiri.  

Potret realitas
Perintis musik rakyat populer di lingkungan Batak Toba adalah Tilhang Oberlin Gultom (1896-1970). Lahir di Sitamiang, Samosir, pemimpin kelompok Tilhang Parhasapi ini memelopori apa yang ia sebut sebagai “opera Batak”. Mengadopsi konsep opera Italia, opera Bataknya yang kemudian ia namai Panca Ragam Tilhang mengombinasikan lakon dan nyanyian. Kalau dalam opera Italia dialog dilantunkan, dalam opera Batak tak sepenuhnya demikian. Dialog seperti dalam teater saja, namun sesekali tokoh dalam cerita mengungkapkan isi hatinya lewat tembang. Sesi bernyanyi tersendiri, yaitu waktu jedah pergantian babak, biasanya diselingi dengan lawakan.  

Tilhang mencipta sendiri sebagian besar lagu untuk keperluan operanya dengan mencoba sebisanya  membendung terjangan dahsyat arus deras musik pop Barat.  Ciptaannya kemudian dikenal sebagai lagu opera. Tak kurang dari 360 lagu karyanya (di samping 12 tari tumba dan 28 lakon drama). Lagu opera ini bercengkok sendiri dan lazimnya dibawakan dengan iringan seruling, kecapi, serunai dan gendang (gondang). Selain syair yang senyawa dengan melodi, kekuatan ciptaan Tilhang adalah temanya yang berentang luas karena merupakan rekaman realitas kontemporer kehidupan keseharian masyarakat. Simaklah “Sinanggartullo”, “Supir Motor”, “Jamilah”, “Si Doli Pargitar”, “Juji”, “Janji Palsu”, “Doli Parminum”, “Oli-oli Tumba”, “Panca-panca”, “Di Pangungsian”, “Huhophop Do Ho”, “Poltak Bulan Tula”, “Si Bunga Jambu”, atau “Hatasopisik”. Betapa ruang jelajah yang luas.  

Tahun 1954 Tilhang meninggalkan operanya di Sumatera karena seniman berjulukan  “mester” ini terpilih menjadi anggota Dewan Pertimbangan RRI di Jakarta. Tahun 1955 ia pulang dan nama Panca Ragam Tilhang pun ia ubah menjadi Opera Batak Tilhang Serindo. Nama ini resmi dipakai sejak 1956. Serindo adalah akronim dari Seni Ragam Indonesia, nama pemberian Presiden Sukarno.  

Tahun 1970 Tilhang meninggal. Kepemimpinan di Serindo diteruskan oleh keponakannya, Gustafa Gultom. Tahun 1971 kelompok ini beroleh  Piagam Anugrah dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Serindo sendiri kemudian surut seiring dengan zaman yang berubah. Bioskop keliling alias layar tancap, pajak hiburan dan pajak ini-itu yang membebani menjadi sandungan bagi kelompok pengelana atau trubadur yang senantiasa bergerak mengikuti angin musim panen.   

Pengaruh Tilhang besar. Namun, dunia musik Batak Toba paling banyak dipengaruhi bukan oleh Tilhang Gultom, melainkan Nahum Situmorang. Hingga saat ini Nahum (1908-1969) masih komponis Batak terbesar. Lagu-lagu ciptaannya awet, seperti tak lekang di makan zaman; alhasil menjadi klasik.  

Kalau Tilhang bertolak dari musik tradisi, Nahum  dari musik Barat modern. Merupakan anak dari  zamannya, ia menggunakan ragam irama yang lagi ‘in’ saat itu. Antara lain cha-chatango, calypso, rumba, waltz, mars, bolero, slow rock, bossanova, blues, keroncong, hawaian beat, stambulan, soul, dan foxtrot.     Umumnya karyanya kuat baik dilihat dari segi tema (spektrumnya juga sangat luas), lirik, dan musikalitas. Tak kurang dari 125 lagu yang ia hasilkan. Di antaranya adalah “Anakhonhi do Hasangapon di Ahu”, “Da Natiniptip Sanggar”, “Denggan ni Lagumi”, “Ala Dao”, “Dijou Ahu Mulak tu Rura Silindung”, “Huandung ma Damang”, “Ketabo-ketabo”, “Lissoi”, “Parsorion ni Parmitu”, “Marhappy-happy Tung Soboi”, “O Tao Toba”, “Pulo Samosir”, “Rura Silindung”, “Unte Malau”, “Satongkin do”, “Sitogol”, “Marombus-ombus”, “Situmorang Nabonggal”, “Mariam Tomong”, “Bulan Parinsan”, dan “Nasonang do Hita Nadua”.  
Nahum Situmorang
Nahum hampir berpaling sepenuhnya dari andung (ratapan), ragam lagu khas Batak yang menjadi mainstream, sebelumnya—kalau meminjam istilah penyair Pujangga Baru Amir Hamzah: andung ini seni bersedih-sedih—dan mencemplungkan diri sepenuhnya ke telaga pop modern yang bertepi sangat luas. Ciptaannya ada juga andung, yakni “Huandung ma Damang. Bedanya, karya ini, lain dari yang bermunculan dalam jumlah berlimpah sejak 1980an, sangat puitik dan kendati tetap sendu tak sampai terjebak dalam kemelankolisan (anak muda sekarang bilang: kemeloan). Lagu “Huandung ma Damang” berikut menggunakan bahasa Batak Toba halus (maninggoring).  

HUANDUNG MA DAMANG
(Bait kedua dan ketiga):

Nga sungkot so na ginjang ahu, da ponjot so na boloni
Aut binaen ni ginjanghu ahu, da boi do paunduhonki
Aut binahen ni bolonhu ahu, da boi do pajorbingonki
Nunga pinaginjang ni na dangol ahu, pinabolon ni na hansit i
Ei, ei, ei, ei, ei... 

Naso barani pulut do ahu, maniop si rumantosi
Manang maniop siudoron, manimbung silumallan i
Asa adong i damang, di si mangarudok
Da dalan haroburanhi, tu toru ni situmandok i  
Ei, ei, ei, ei, ei... 


Lahir di Sipirok, 14 Februari 1908, selulus dari HIS Tarutung tahun 1924 Nahum melanjut ke sekolah guru (Kweekschool) di Jalan Gunung Sahari, Jakarta. Seperti disebut dalam buku Nahum’s Songs (1994), begitu Nahum usai kenaikan ke kelas tiga, sekolah mereka dipindah ke Lembang. Jadi lulus dari Kweekschool, Lembang, tahun 1928, dia. Tahun itu juga ia menjadi guru di sebuah HIS swasta di Sibolga. Tahun 1932  pindah ke Tarutung untuk menjadi guru di HIS partikelir yang didirikan abangnya, Guru Sopar. Di sana ia bekerja hingga kedatangan Jepang tahun 1942. Kota yang satu ke kota yang lain yang menjadi peranjakannya terekam dalam ciptaannya, dengan pelbagai sudut pandang.
Kaset Opera Serindo, grup opera yang didirikan oleh Tilhang Gultom
Di masa Nippon Nahum membuka restoran di samping menjadi pemusik untuk Jepang. Lantas pada 1945-1949 berdagang emas-permata. Pindah ke Medan tahun 1949 ia menjadi  broker mobil merangkap pencipta lagu-penyanyi. Penggal 1950-1960 merupakan masa produktifnya sebagai pencipta lagu. Pada 17 Agustus 1969 seniman yang tetap membujang ini menerima Anugerah Seni dari pemerintah. Dua bulan berselang ajalnya tiba sesudah tubuhnya digerogoti penyakit hampir tiga tahun.

Setelah Nahum, Sidik Sitompul  (S. Dis) bisa kita sebut pencipta lagu Batak Toba modern paling terkemuka. Ciptaan kakek penyanyi Christine Panjaitan ini banyak yang menjadi abadi. Sebut saja, misalnya,  “O, Tano Batak”, “Aek Sarulla”, “Luat Pahae”, “Eme ni Simbolon”, “O Doli”, “Borhatma Dainang”, “Anju Ahu”, “Dung Sirang pe Ho sian Ahu”, “Boasama ia Dung Botari” (pembukanya: Adong huida sada bunga), “Indada Piga”, “O Pio”,  atau  “Sigulempong”.  S. Dis seperti halnya Nahum berlatar belakang guru.

Seorang komponis berbakat muncul setelah Nahum dan S. Dis. Dia adalah Ismail Hutajulu, seorang trompetis. Karyanya dibawakan oleh pelbagai penyanyi termasuk Parisma ’71 dan Trio Golden Heart, dengan hamparan tema yang juga luas. Merupakan seorang pemotret realitas yang jeli, ia dengan lagu ciptaannya antara lain  “Mangoli Ahu”, “Hutongos Surathu tu Ho”, “Manginditi”, “Tarsunggul Ahu”, “Nang tu Ho Hudokdo Dinajolo”, “Baju Kurung”, ”Tarundduk Ahu”,  “Gabe Mekkel Nama Ahu”, “Marnipi Ahu Ito”, “Baringin Sabatolang”, “Boan Sai Boan”, “Sai Anjuma Ahu Ale Hasian”,  “Udan Haba-haba”, “Partiga Bawang”, “Tibu do ahu ro” (intronya: Unang be sai holan namarsak ho, unang be sai tarilu-ilu ho, marsogot haduan mulak do ahu....),  “Modomma Ho Uncok”, “Unang Sai Tangis Ho Butet”, “Marboru Sunda”dan  “Silangmi”.

Ismail Hutajulu pernah beperkara sampai ke Mahkamah Agung karena merasa hak ciptanya dilanggar. Ceritanya, Lolypop Records mengeluarkan album lagu Batak Christine Panjaitan. Di album itu pencipta lagu “Alatipang” dan “Tillo-tillo” disebut NN (nomen nescio; orang Toba menyebut: naso niboto). Mengklaim kedua lagu itu ciptaannya tahun 1942, ia maju ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan untuk menuntut kompensasi.  Klaimnya dibenarkan, tapi kompensasi yang ia tuntut sebagian saja diluluskan. Lolypop banding ke  Pengadilan Tinggi   DKI Jakarta (1988). Hasilnya tetap sama. Lantas perusahaan rekaman ini mengajukan kasasi. Tak percuma: putusan pengadilan negeri dan pengadilan tinggi tadi dibatalkan (1996). Mahkamah Agung menyatakan klaim Ismail Hutajulu tak bisa dibuktikan. 
Firman Marpaung komponis berikutnya yang perlu disebut setelah Ismail Hutajulu. Beberapa karya abang penyanyi-pencipta lagu Tigor Gypsi Marpaung ini pernah menjadi hits, yaitu “Denggan ni Lagumi” (beda dengan ciptaan Nahum, pembuka lagu ini adalah Denggan ni lagumi do mambahen, tarpangan rohakki/Dohot ulini rupami, lambokni hatami), “Ikkon Porsanon”, “Lupa do ho”, “Boasama Gabusanmu”, dan “Putus Sikkola”. Dua yang terakhir ini dipopulerkan oleh Eddy Silitonga.

Era Nahum Situmorang hingga Firman Marpaung boleh kita sebut periode rintisan lagu-lagu Batak Toba modern populer. Dalam angkatan ini termasuk Esau  Simanungkalit (“Madekdek ma Gambiri”), Romulus Tobing, ayah Gordon Tobing (“Arga do Bona ni Pinasa”), Gordon Tobing (“Molo Margitar Ahu Ito”),  Muliater Simanungkalit (“Tao na Tio”), Edward Purba (“Di Tonga Borngin i”),  Yan Sinambela (“Dekke Jahir”), Harizon Siagian (“Ito Nabasa”), dan Godman Ambarita, abang Iran Ambarita dari Trio Amsisi (“Bunga Nabontar”, “Anakboru Nagasaon”, dan  “Uju Mangolu”).
Setelah mereka, sejak tahun 1970an muncul Dakka Hutagalung, Star  Pangaribuan (“Imbar ni Boru Jawa”), Bunthora Situmorang dan Jack Marpaung (keduanya, bersama Hilman Padang,  personil Trio Lasidos), Tigor Gypsi  Marpaung, Iran Ambarita, Togar Tampubolon (“Poda”, “Manduda Baion”, dan “Boru Panggoaran”), Soaloon Simatupang (“Anak Naburju” dan  “Pasondukbolon Naburju”) dan yang lain. Dari mereka Dakka Hutagalung-lah yang terdepan. Dilihat dari segi keragamanan tema, kekuatan lirik dan musikalitas, anggota  Trio Golden Heart (bersama Star Pangaribuan dan Ronald Tobing) ini dekat Nahum, S. Dis, dan Ismail Hutajulu. Karyanya antara lain “Didia Rongkaphi”, “Ndang Turpukta Hamoraon”, “Anakhonhu”, “Boasa”, “Tarduru”, “Tatapma”, “Sipata”, dan “Sapata”. Selain lagu Batak ia juga  menciptakan tembang berbahasa Indonesia.

Reno Surbakti

Khazanah lagu Batak begitu kaya akhirnya berkat komponis Djaga Depari, Reno Surbakti, Daulat Padang, Taralamsyah Saragih, Tilhang Gultom, Nahum Situmorang dan yang lain. Penyanyi macam Ramona Purba, Tio Fanta Pinem, Ros Siadari,  Hutauruk Sisters, Eddy Silitonga, Diana Nasution, Victor Hutabarat, Rita Butar-Butar, Denada Tambunan (ia setengah Batak), atau Joy Tobing termasuk yang pernah mengeksplorasinya. Juga biduan bukan Batak seperti Titik Sandora, Emilia Contessa, Nurafni Octavia, Ade Manuhutu, Koes Hendratmo, dan Broery Pesolima.
Tak syak lagi khazanah yang sangat kaya ini—dari “Piso Surit” hingga “Nasonang Do Hita Nadua”—telah mempertebal musikalitas orang Batak selama ini sehingga memuncul ucapan stereotip  “bukan Batak kalau tak bisa menyanyi”. Kelimpahan lagu dan keanekaan tema serta garapan musiknya menjadi bagian dari atmosfer yang mendukung lahirnya Batak the singing men

(Tulisan ini termuat pada majalah TATAP No 4, Desember 2007-Januari 2008. Jika ingin mendapatkan bundel majalah ini, hubungi Sapardi di 021 480 1514 atau 0878 201 05091, atau faks ke 021 480 0429)   


No comments:

Post a Comment