Thursday, October 9, 2014

Inspirasi Dari Desa Perbesi di Tanah Karo



Inspirasi Dari Desa Perbesi di Tanah Karo
Edi Ginting - Jakarta
Di Provinsi Sumatera Utara, ada sebuah desa yang bernama Perbesi. Desa ini berjarak sekitar 100 kilometer dari Medan, ibukota Sumatera Utara. Butuh waktu sekitar tiga jam untuk mencapainya dari Medan.
http://kolomkita.viva.co.id/upload/c1.jpg
Tergantung kemujuran Anda, kondisi jalan sedang mulus atau seperti kubangan. Yang pasti, sejak keluar dari Kota Medan, jalan akan terus berliku-liku dan menanjak di perbukitan Bukit Barisan. Pemandangan alam pegunungan yang indah dan hijau setidaknya menjadi obat lamanya perjalanan menuju Perbesi.
Perbesi berada dalam wilayah Kabupaten Karo, tepatnya Kecamatan Tigabinanga. Jarak dari Kabanjahe, ibukota Tanah Karo, sekitar 20 kilometer. Desa ini berada di sebuah lembah yang dikelilingi oleh perbukitan yang hampir seluruhnya telah menjadi areal tanaman milik penduduk.
Bukit yang paling tepat untuk menatap seluruh panorama Desa Perbesi adalah dari sebuah bukit yang dikenal dengan sebutan Urok Ndoholi. Dari bukit ini, Anda juga bisa menikmati pemandangan sebagian alam Tanah Karo. Pemandangannya sungguh indah, karena lembah-lembah, perkebunan penduduk, jalan yang meliuk-liuk dan sejumlah desa, terlihat jelas dari atas Urok Ndoholi. Pemandangan yang memanjakan mata ini, semakin nikmati oleh angin sepoi-sepoi yang terasa lembut menerpa kulit. Begitu juga suara hembusan angin yang semakin membuat sejuk hati. Dari Urok Ndoholi juga, Anda bisa menatap Gunung Sinabung yang terlihat sangat utuh hingga ke puncaknya.
http://kolomkita.viva.co.id/upload/c2.jpg
http://kolomkita.viva.co.id/upload/c3.jpg
http://kolomkita.viva.co.id/upload/c4.jpg
http://kolomkita.viva.co.id/upload/c8.jpg
http://kolomkita.viva.co.id/upload/c9.jpg

http://kolomkita.viva.co.id/upload/c10.jpgSama seperti desa-desa lain di Tanah Karo, hampir seluruh penduduk Perbesi berasal dari suku Karo. Walau berupa desa, namun Perbesi cukup tersohor di kalangan orang Karo. Desa ini sering disebut-sebut dalam lirik lagu Karo. Banyaknya penduduk Perbesi yang merantau, juga turut andil dalam mempopulerkan desa yang bertepikan sungai Lau Biang dan sungai Lau Rahu ini.
Untuk golongan sebuah desa, penduduk Perbesi termasuk terbanyak di Tanah Karo. Data pasti tidak saya punya. Mungkin sekitar seribuan kepala keluarga. Banyak kalangan berpendapat, bila ada pemekaran kecamatan di Tanah Karo, maka perbesi layak jadi ibukota kecamatan. Karena sudah terlalu besar, Perbesi dibagi-bagi menjadi beberapa kesain, yang mirip dengan istilah dusun di provinsi lain. Ada kesain Muham, Depari, Brahmana, Rumah Tengah, dan Rumah Jahe.
Mayoritas penduduk Perbesi adalah bertani. Areal perkebunan mereka mulai dari pinggir desa, sampai ke atas bukit yang harus ditempuh dalam waktu berjam-jam. Biasanya, setiap areal perkebunan atau ladang, memiliki nama-nama. Ada yang bernama Kutajahe, Sampaharu, Napa, Mondul, dan sebagainya.
Sama seperti orang Karo pada umumnya, mereka berangkat ke ladang pada pagi hari dan pulang ketika matahari hampir terbenam. Situasi ini membuat desa selalu terlihat lengang pada siang hari. Keramaian mulai terasa pada malam hari, saat para bapak melepas lelah di sejumlah warung kopi sambil menunggu sang istri menyiapkan makan malam.
Beragam komoditas pertanian menjadi andalan masyarakat desa ini. Jagung dan coklat adalah tanaman utama. Sebagian masyarakatnya ada juga yang bercocok tanam kacang tanah, cabai, jeruk, kelapa, dan kemiri. Beberapa orang juga memelihara sapi disela-sela kesibukan bercocok tanam. Tanaman buah-buahan lain juga berlimpah di Perbesi. Seperti buah durian, sawo, pepaya, jambu, pisang, dan sebagainya. Bagi penggemar buah-buahan, rasa lapar mereka akan terpuaskan saat berada di Perbesi.
http://kolomkita.viva.co.id/upload/c11.jpg
http://kolomkita.viva.co.id/upload/c12.jpg
http://kolomkita.viva.co.id/upload/c13.jpg
http://kolomkita.viva.co.id/upload/c14.jpg
http://kolomkita.viva.co.id/upload/c15.jpg
Saya tidak pernah bosan untuk berkunjung ke desa ini. Perbesi menjadi tempat pelarian ketika saya sudah begitu penat menyaksikan hiruk-pikuk Jakarta. Di perbesi, saya bisa menemukan banyak hal yang membuat saya segar kembali. Banyak inspirasi yang berdatangan di dalam alam pikiran saya, ketika menghirup udara segar desa ini. Udara yang sangat jauh dari polusi asap kendaraan bermotor, pabrik, ataupun polusi panggung sandiwara penghuni kota yang tak pernah habis.
Saya akan memperlihatkan beberapa koleksi foto milik saya tentang Desa Perbesi. Nah, ini dia:
http://kolomkita.viva.co.id/upload/c16.jpg
http://kolomkita.viva.co.id/upload/c17.jpg
http://kolomkita.viva.co.id/upload/c18.jpg


- See more at: http://kolomkita.viva.co.id/baca/artikel/15/3402/inspirasi_dari_desa_perbesi_di_tanah_karo?gclid=CjwKEAjwwdOhBRCG0fPrlfO1gGUSJAC1FmHXRSVcx9ftK6PA2Swrfy1evklvyi4I34_S0dIG0yUo5xoCG7Hw_wcB#xtor=SEC-14-GOO-[]-[]-[]-[_cat:viva.co.id]

No comments:

Post a Comment