Thursday, October 23, 2014

Dakka Hutagalung Ingin Terus Berkarya Di tengah Kesederhanaan

28 May 2013

Dakka Hutagalung Ingin Terus Berkarya Di tengah Kesederhanaan



  • JAKARTA-PM
    Luncurkan Album Tribute to Damang da Inang
Karya-karya lagu hasil gubahannya, begitu fenomenal. Tidak hanya sarat penuh makna, namun mampu bertahan hingga puluhan tahun dan senantiasa menggetarkan kalbu saat mendengarnya. Kalau tidak percaya cobalah sesekali datang ke kafe-kafe Batak atau ke pesta-pesta Batak yang ada, maka lagu-lagu seperti “Didia Rongkap Hi, Anakkonku dan Inang,” masih kerap terdengar.
Itu belum termasuk ratusan lagu lainnya yang banyak dirilis ulang maupun lagu-lagu baru yang kini juga sangat banyak dinyanyikan. Makanya tidak heran, hampir rata-rata semua penyanyi batak yang ada, nyaris tidak ada seorang pun yang tidak pernah pernah membawakan lagu Dakka Hutagalung.
Namun begitu, pria 65 tahunan ini tetap rendah hati. Padahal ia seorang komposer lagu-lagu Batak terbesar yang pernah ada. Kehidupan glamour juga nyaris tidak terlihat dalam kehidupannya saat ini. Seperti yang terlihat saat koran ini berbincang dengannya akhir pekan kemarin, untuk datang ke studio musik saja, ia terpaksa menggunakan kendaraan umum. Itu belum termasuk tempat tinggal yang ada juga masih mengontrak.
“Namun saya mensyukuri semua apa adanya. Karena jika aku ada hingga saat ini dan masih diberi kemampuan untuk berbuat yang terbaik, itu tentu sebuah anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepadaku dan keluarga,” ujarnya kepada koran ini sembari tersenyum.
Apa yang ia kemukakan tentu bukan tanpa sebab. Karena baru-baru ini saja, Dakka kembali meluncurkan album “Tribute to Damang Da Inang.” Album tersebut berisi 12 karya gubahannya, dimana di dalamnya ia juga kembali ikut bernyanyi bersama sejumlah artis Batak kenamaan lain. Di antaranya, Amigos Band, Rizma Simbolon, Style Voice, Ruth Sihotang dan Maria Pasaribu.
“Album ini sebagai ucapan syukur dan ungkapan kasih dan terimakasih pada ayah-bunda, karena mereka kita ada atas perkenan Tuhan. Dan seperti apa atau bagaimana pun mereka adanya, kita harus tetap mengasihi orang tua kita. Baik itu bodoh, miskin atau seperti apapun, sebab dari saat mengandung sampai menyusui, darah ibu lah menghidupi kita,” katanya menuturkan awal kisah mengapa dirinya sampai menciptakan lagu “Inong (Ibu)”.
Selain itu sebagai andalan lainnya, dalam album ini Dakka juga menyanyikan lagu “O Bapa”. Dari judulnya, lagu ini terbilang unik. Karena meski ditujukan sebagai wujud kecintaannya kepada sang ayah, namun ia tidak memakai kata “Amang”. Alasannya sangat sederhana. “Karena dari dulu, tidak ada seorang pun orang Batak yang memanggil ayahnya dengan sebutan Amang, tapi Bapa. Coba kita perhatikan baik-baik. Jadi itulah kekuatan sebuah lagu, kita menciptakannya bukan hanya sekadar, tapi harus benar-benar memerhatikan semua aspek yang ada. Sehingga nuansa dan pesan yang diinginkan, sampai kepada pendengar,” katanya.
Menurutnya, lagu “O Bapa” berkisah tentang sosok seorang ayah yang ideal bagi orang Batak. Dalam lagu tersebut lewat syair-syair nan syahdu, tergambar jelas figur seorang ayah yang sangat luarbiasa, yang amarahnya cuma desah nafas panjang dan yang selalu tersenyum terhadap kenakalan putra putrinya.
“Seorang ayah yang manghapogani (mengutamakan dengan segera) kebutuhan anak-anaknya. Dan yang senantiasa mengajarkan kerendahan hati, memberi contoh baik, itu bapa yang ideal bagi saya. Dan semoga kelak bapa-bapa orang Batak akan begitu, mencintai, mendidik hal yang baik, mengutamakan keluarga di banding kesenangan pribadi,” katanya.
Selain itu kedua lagu tersebut, dalam album kali ini juga terdapat sejumlah karya fenomenal lainnya. Itu semua ia lahirkan semata-mata karena kecintaan terhadap kedua orangtua dan terutama ingin menyampaikan pesan pada seluruh orang batak, seperti apa sebenarnya sosok orangtua yang baik bagi anak-anaknya.
“Jadi tidak hanya pesan sembarang pesan. Namun bagaimana pesan tersebut kita kemas dengan baik, sehingga benar-benar sampai kepada semua orang. Dan sebagai seorang seniman, tangggungjawab kita untuk dapat melakukannya dengan baik. Kita memang butuh materi, namun Anakkonhi do Hamoraon di Au (Anak-anakku-lah kekayaan bagiku),” ujarnya yang berjanji tidak akan pernah berhenti berkarya hingga batas akhir dimana Tuhan memberikan nafas kehidupan. (gir)

Sumber: http://www.posmetro-medan.com/?p=9804

No comments:

Post a Comment