Kamis, 08 Maret 2012

ASAL MULA NAMA PORTIBI


ASAL MULA NAMA PORTIBI

Kerajaan Portibi di tanah Batak merupakan kerajaan kuno yang sangat unik.Keunikannya terletak di berbagai segi. Keunikan itu misalnya dalam defenisi namakerajaan tersebut; Portibi. Portibi dalam bahasa Batak artinya dunia atau bumi. Jadi bilakita artikan Kerajaan Portibi secara leterleks maka berarti kerajaan dunia.Portibi adalahnama sebuah daerah yang menjadi nama sebuah kecamatan di Daerah Tingkat II KabupatenTapanuli Selatan. Berada di jantung wilayah Padang Lawas. Dulunya merupakan bagiandari wilayah Padang Bolak. Sebegitu hebatkah kerajaan ini dahulu sehingga disebut sebagaikerajaan dunia. Atau apakah kerajaan ini dulunya merupakan pusat dunia, misalnya dalam bidang tertentu seperti Tibet, yang menjadi pusat meditasi Buddha yang terletak di pegunungan Himalaya tersebut. Keunikan kedua adalah bahwa nama Portibi merupakansebuah kata dalam bahasa Batak yang akarnya tidak diragukan lagi berasal dari bahasasansekerta atawa Hindu.Portibi merupakan pelafalan Batak atas kata Pertiwi atau di India dikenal dengannama Pritwi.

Nama Pritvi ini sekarang dipakai menjadi nama sebuah rudal India. Dalamsejaran Hindu dikenal juga Dinasti Pertiwi yang dikenal dengan nama Pritvi Raj. Diduga,intrusi orang-orang Hindu secara organisasi kemiliteran terjadi hanya di daerah ini di tanahBatak.Untuk diketahui bahwa hubungan budaya dan ekonomi antara Batak dan India sudah berlangsung sejak dahulu kala. Namun itu lebih kepada hubungan person to person. Orang-orang India tidak datang bersama pasukan militer atau sebagai penjajah sebagaimanadatangnya orang Eropa paska abad pertengahan. Namun, satu-satunya kontak, atau palingtidak daerah jajahan atawa vassal kerajaan yang pernah dibuat orang Hindu secara langsungadalah di sekitar kerajaan Portibi ini. Kerajaan Hindu tersebut diduga didirikan oleh RajaRajendra Cola yang menjadi raja Tamil, yang Hindu Siwa, di India Selatan yang menjajahSri Langka.

Argumentasi mengenai kedatangan orang Hindu tersebut diduga berdasarkankepentingan ekonomi dalam perebutan sumber emas yang menjadi komoditas berharga saatitu. Kerajaan Portibi yang sekarang itu, terletak di tanah Batak Selatan yang sangat dikenalsejak zaman kuno sebagai tanah emas karena di wilayah ini sangat mudah didapati emasdengan hanya menyiramkan air ke tanahnya. Orang-orang Hindu tersebut mendarat melalu pelabuhan Natal yang sejak zaman kuno sudah disinggahi oleh Bangsa Phonesia (Funisia),sebelum zaman Romawi dan Yunani untuk membeli produk-produk emas. Di zamantersebut tanah Batak Selatan melalui pintu pelabuhan Natalnya dikenal dengan istilah"Ophir El Dorado".

Berbeda dengan Barus yang menjadi pintu masuk ke Tanah Batak darisisi Barat yang lebih dikenal dengan produk al-Kafur al-Fansuri nya yang banyak disinggahi oleh pembeli dari berbagai penjuru dunia. Produk tersebut bahkan mendapatminat yang sangat tinggi pada era dan oleh King Solomon alias Nabi Sulayman, saat dia  ingin memikat hati Ratu Balqis. Barus dan Natal merupakan daerah yang sangat diminatiuntuk didatangi dengan produk-produk langkanya yang terdapat dalam jumlah yang besar.Bahkan tanah Batak sangat dikenal juga sebagai tanah yang paling disukai oleh 'tuhan'karena hanya di inilah tumbuh sebuah pohon yang sangat disukainya dan dipakai untuk  berkomunikasi dengan 'tuhan' tersebut oleh pemujanya; yakni kemenyan yang bermututinggi.Tidak diketahui secara pasti apakah Rajendra Cola bermaksud mendirikan kuil nya ditanah Batak ini karena posisinya sebagai ' pusat tanah tuhan' atau bukan.

Namun sejauh buku sejarah menduga bahwa argumentasi yang paling logis adalah untuk menguasai arus perdagangan dengan menjajah sumber utamanya.Ekspedisi pasukan Rajendra Cola dimulailebih kurang tahun 1100M atau ada yang bilang tahun 1025M, dengan menyisir pantai Natal, terus masuk ke daerah-daerah sekitar sungai Barumun, Padang Lawas yang sekarangdikenal dengan Portibi dan beberapa wilayah di sekitar Sungai Batang Angkola di Angkolasetelah menguasai Sri Langka. Di sekitar daerah tersebut mereka mendirikan kerajaannyadimana sebelumnya telah eksis masyarakat tambang Batak dengan pendatang dari berbagai penjuru dunia terutama dari masyarakat Hindu.

Mereka mendirikan koloni lengkap dengan Candi yang sekarang dikenal denganBiara Sipamutung, sebuah Hindu Temple Complex yang diperkirakan jauh lebih besar darikomplek candi hindu Prambanan di Pulau Jawa.Pendirian kerajaan tersebut yang lengkapdengan sistem pemerintahannya sendiri semakin mengundang banyak penambang emasdari India untuk bermukim dan menjadi penambang. Sampai sekarang di daerah Portibi,masih terdapat Candi Bahal I, III dan III. Masih di daerah yang dinamakan Bahal tersebutterdapat sebuah candi terletak di pinggir sungai Batang Pane, sekitar 300 meter dari candiBahal I. Candi-candi juga terdapat pada desa Bara, Aloban, Rondaman Lombang, SabaSitahul-tahul dan lain sebagainya. (Lihat: Djamaluddin Siregar, Pertentangan Kaum Adatdan Agama di Kecamatan Portibi dan Kontribusi Pesantren dalam Mencari Solusi, Thesisdi Program Paska Sarjana IAIN Sumatera Utara, 2005, hal. 14)

Terdapat juga bendungankuno raksasa yang terdapat di desa Aloban (rura Sitobu). Bendungan ini berukuran panjanghempangan sekitar 150 meter, lebar di bawah sekitar 15 m, sedang di atasnya masih tersisasekitar 7 meter. Berhubungan dengan bendungan tersebut terdapat juga bendungan ukuransedang di Sihaborgoan. Kedua bendungan tersebut tidak lagi diketahui oleh masyarakatsejarahnya karena diperkirakan seumur dengan candi-candi tersebut. Diduga bendunganyang dibangun masyarakat tambang Batak tersebut dihancurkan oleh Rajendra Cola saatakan menjajah wilayah tersebut. Perusakan tersebut ditujukan untuk memonopoli sistem pertambangan.Diduga masyarakat tambang Batak dengan penambang imigran khususnyadari India telah membuka daerah tambang di berbagai wilayah sekitar Portibi seperti,Gunung Tua, Batang Onan, Pijorkoling dan lain sebagainya.

Semua bekas peninggalantambang kuno tersebut, menjadi 'kampung hantu' yang terabaikan sekarang ini.Lalu mengapa Kerajaan Rajendra Cola tersebut menghilang begitu saja. Bagaimana ceritanya?.Sebenarnya ada dua kemungkinan dari informasi di atas.Pertama, Kerajaan Portibi telahlama eksis di Daerah tersebut yang menjadi Kerajaan Batak dari marga Siregar danHarahap. Namun ekspedisi Rajendra Cola ke Sumatera telah menjajah daerah tersebut untuk memonopoli emas. Namun kekuatan pribumi Portibi berhasil mengusir eksistensi KerajaanRajendra Cola tersebut yang dikenal banyak orang dengan Kerajaan Aru Sipamutung danmengembalikan kedaulatan Batak atas kerajaan tersebut sampai sekarang.

Hipotesa keduaadalah Rajendra Cola datang hanya untuk menyerang Sumatera dan tidak sempatmembangun pemerintahannya di daerah Batak. Sehingga eksistensi mereka hanya temporer dan tidak sempat mendirikan kerajaan baru yang permanen. Peristiwa penyerangan tersebutdisebutkan dalam transkrip Tanjore dari Bangsa Tamil dalam pemerintahan Rajendra Cola,dimana nama "Ilamuridesam yang sangat murka terlibat dalam perang" disebutkanmenyerang beberapa wilayah di Sumatera sebagai daerah target-target penggempuranmereka pada tahun 1025. (K. A. Nilakanta Sastri, History of Srivijaya (Madras: Universityof Madras, 1949), pp. 80, 81).

Diduga kuat Rajendra Cola mengamuk karena perilakuKerajaan Sriwijaya yang mewajibkan setiap pedagang yang melewati selat Malaka harusmembayar pajak yang cukup tinggi. Sehingga, hal tersebut memaksa Rajendra Cola untuk mengirim ekspedisi militer menghancurkan Sriwijaya yang berimbas kepada penyerangansumber-sumber tambang dan industri di kerajaan-kerajaan Batak.Terlepas dari ceritasejarah tersebut, Kerajaan Portibi telah menambah perbendaharaan peradaban Batak sebagai sebuah kerajaan marga Siregar dan Harahap yang menjadi daerah kaya akibatsumber tambang alam yang sangat kaya raya. Penemuan bendungan raksasan yangdihancurkan oleh Rajendra Cola tersebut, telah memperkaya sejarah arsitektur bangsaBatak.

Heroisme bangsa Batak dalam menghadapi gempuran penjajah Rajendra Cola masihterdapaat dalam turi-turian rakyat di Kerajaan Portibi. Turi-turian tersebut mengisahkansekilas mengenai semangat patriotisme Batak dipimpin oleh Tongku Malim Lemleman danOmpu Jalak Maribu kontra pasukan marinir Rajendra Cola. Diduga saat itu sebagain besar masyarakat Portibi telah mengenal Islam sebelum abad ke-10 M, kata Malim sendirimerupakan istilah kuno paska kedatangan Islam yang mengacu kepada tetua adat atau yangmengerti adat dan ajaran agama. Sisingamangaraja XII juga dikenal dengan gelarnya Malim Bosar.

Orang-orang Islam Portibi, yang telah memeluk Islam sejak sebelum abadke-10 tersebut, bersama sebagain kecil masyarakat yang masih dipengaruhi teologi Batak Hindu, menyatu menjadi golongan adat yang kemudian berhadapan dengan golongan Batak  puritan dalam perang Padri di abad ke-19 M. Dikatakan armada laut Rajendra Colamendarat di Situngir-tungir, suatu tempat di Sungai Batang Pane (Sungai Barumun), dekatdengan desa Sibatu Loting dan Bahal. Namun satu hal yang sangat disayangkan belum ada penelitian lebih lanjut mengenai pembahasan turi-turian ini baik dari departemen pendidikan, kebudayaan maupun otoritas terkait lainnya.

Menurut Jamaluddin Siregar,akibat dari kontak kultural antara masyarakat Batak dan Hindu ini terciptalah budaya danadat Batak yang mempunyai spesifikasi dan karakteristik yang berbeda dengan budayaBatak umumnya. Dia beranggapan bahwa adat dan Budaya masyarakat di Kerajaan Portibisebegitu uniknya sehingga menjadi kesatuan budaya dan adat yang berdiri sendiri atau paling tidak menjadi sebuah suk-kultur yang tipikal. Sampai sekarang, masyarakat Portibimerupakan masyarakat di tanah Batak yang paling memuliakan dan mempraktekkanhampir semua ajaran yang termaktub di Pustaha Tumbaga Holing.

Beda dengan masyarakatBatak lainnya yang telah memodifikasinya sesuai dengan tuntutan zaman dan daerahnya.Tumbaga Holing sendiri disinyalir berasal dari kata tumbaga yakni tembaga dan holingyang berarti keling. Keling adalah panggilan kuno untuk orang India. Seperti istilahCoromandel yang berarti "keling country"Hal itu dikuatkan dengan penemuan prasastiBatak Purba (kuno) yang sudah diterjemahkan oleh Dr. Goris, Direktur Museum Bali padatahun 1978, yang bertarikhs 1253. (Lihat: Harahap, Horja Adat Istiadat Dalihan Natolu,(Jakarta: Parsadaan Marga Harahap Dohot anak Boruna, 1993) h. 11.)

Berbeda dengan kerajaan-kerajaan Batak kuno lainnya, Kerajaan Portibi merupakan kerajaan yang sudah maju dengan sistem bendungan, irigasi dan persawahan selain tambang emas. Kerajaan initelah dilengkapi dengan sistem pertahanan yang kuat dengan benteng-benteng yang terbuatdari batu berukit. tidak seperti di tempat lain di tanah Batak yang hanya terbuat dari batugunung yang belum diolah.Diduga, kerajaan Portibi sangat erat kaitannya, atau paling tidak, merupakan sekutu dan aliansi kerajaan Batak lainnya, yakni Kerajaan Pane yangsangat masyhur di dunia Cina dan Arab kuno sebagai pintu masuk ke Sumatera dari arahTimur. Pelabuhan Kerajaan Pane, di sekitar wilayah Tanjung Balai sekarang, merupakanalternarif untuk mendapatkan kapur barus, kemenyan dan emas dari pedalam Sumaterayang dibawa dari daerah pedalaman dan pantai Barat melalui darat ke pantai Timur.


Sumber: