Senin, 12 Maret 2012

Asal Mula Orang Batak


Asal Mula Orang Batak

Dari manakah asal mula orang Batak? Kembali: tak seorang pun dapat memastikan. Tapi dari beberapa referensi yang diperoleh, setidaknya ada 3 wilayah yg paling mendekati kebenaran, yaitu: (1) Afrika Utara / Mesir, (2) India, dan (3) Myanmar. Ketiga kemungkinan tersebut masing-masing memiliki argumentasi sendiri.

1. Mesir

A. Kapur Barus (Kamper)
Pada masanya, kamper adalah salah satu produk unggulan dan satu-satunya hanya ada di tanah Batak, khususnya di daerah Barus --sebuah kota kecil yang berada di pantai barat Sumatera. Dari bukti-bukti yang ada, pada zaman Mesir purba, raja-raja Mesir (Firaun) bila hendak mengawetkan mayat (mumi), banyak menggunakan kamper sebagai bahan pengawet. Diperkirakan, mereka datang ke tanah Batak sekitar 5000 tahun yang lalu.

B. Kubur-batu (Sarkofagus)
Bila kita pergi ke Pulau Samosir di Danau Toba, di sana kita akan menemui sarkofagus yang merupakan peninggalan zaman megalitik. Sarkofagus biasanya dibuat untuk menghormati orang-orang terpandang yang meninggal. Tradisi ini diduga awalnya datang dari kebudayaan Mesir kuno.

C. Meja Batu
Di tempat yang sama, tepatnya di Desa Sialagan, Pulau Samosir, kita juga dapat menemui peninggalan kuno berupa seperangkat meja dan kursi yang terbuat dari batu. Masyarakat Batak kuno bila hendak mengadakan rapat, biasanya menggunakan perangkat itu di bawah pohon beringin yang rindang. Hal yang sama juga bisa kita temui pada kebudayaan Mesir kuno. Bahkan, ucapan khas Batak setiap kali mereka menyelesaikan upacara, "horas!" (selamat), diduga berasal dari ucapan yang sama di Mesir. Yaitu sebuah ucapan selamat kepada dewa mereka, Homerus.

2. India

A. Prasasti Lobu Tua, Barus.
Prasasti ini bertarikh abad XI. Dari prasasti ini kita mengetahui, bahwa di daerah Barus sudah ada pemukiman orang-orang Tamil pada masa itu. Mereka datang ke sana untuk berdagang, terutama membeli kapur barus serta hasil hutan lainnya. Sebagian di antara mereka ada yang menetap, lalu menikah dengan penduduk setempat, sebelum kemudian menyebar hingga ke daerah Toba dan Karo di pedalaman. Dari merekalah diperkirakan kebudayaan Hindu masuk ke tanah Batak. Istilah 'Debata' bagi orang Batak untuk menyebut Tuhan dalam bahasa religi nenek moyang mereka, konon juga berasal dari bahasa Sansekerta (Dewata).

B. Candi Portibi, Padang Lawas, Tapanuli Selatan
Bangunan kompleks candi yang terbuat dari batu bata (tanah liat) ini bercorak Hindu dan diperkirakan dibangun oleh orang India pada abad XI. Mereka diduga masuk ke pedalaman Tapanuli melalui pelabuhan Air Bangis atau Pariaman di Sumatera Barat. Bila temuan ini dianggap benar, berarti orang-orang India yang beragama Hindu sudah lebih dulu masuk ke tanah Batak bila dibandingkan dengan Raja Batak yang diperkirakan hidup pada abad XIV. Sekedar catatan, Raja Batak adalah orang pertama yang dianggap oleh masyarakat Batak umumnya sebagai leluhur mereka yang turun dari langit ke Pusuk Buhit di Pulau Samosir. Dia pulalah kemudian yang dikenal menurunkan marga-marga, sebagaimana yang banyak kita temui pada masyarakat Batak sekarang.

3. Myanmar

Suku Karen
Suku Karen adalah kelompok suku yang mendiami daerah perbatasan antara Myanmar dan Thailand. Mereka umumnya tinggal di daerah pegunungan selama ribuan tahun lamanya secara eksklusif tanpa dipengaruhi oleh kebudayaan luar (highlander). Dari beberapa bentuk fisik (mongoloid), pakaian (ulos / selendang) dan tradisi (yang suka tinggal di daerah pegunungan mengisolir diri), bisa dikatakan banyak persamaannya dengan masyarakat Batak pada umumnya.

Karena sesuatu sebab, sebagian di antara mereka kemudian banyak meninggalkan kampung halamannya untuk mencari penghidupan baru. Kepergian mereka tentu tidak sekaligus, melainkan bergelombang dan menyebar ke berbagai daerah yang ada di Asia Tenggara. Di Philipina, misalnya, kita menemui suku Igorot, tinggal di daerah Batac, Provinsi Ilocos, yang secara bahasa kebetulan banyak persamaannya dengan bahasa Batak. Bahkan, Presiden Philipina, Ferdinand Marcos, pada dekade '70-an ketika berkunjung ke Sumatera Utara pernah menyatakan bahwa dirinya adalah bagian dari masyarakat Batak.

Sementara di Indonesia, kita menemukan 3 suku yang secara kebudayaan relatif banyak persamaannya, masing-masing: (a) Suku Batak di Sumatera Utara, (b) Suku Ranau di Sumatera Selatan, dan (c) Suku Toraja di Sulawesi Selatan. Kebetulan ketiganya sama-sama suka tinggal di daerah pegunungan. Selain itu, dalam tulisan, suku Batak dan Ranau juga banyak persamaan --khususnya tulisan yang mirip dengan huruf paku. Sedangkan dengan suku Toraja, suku Batak lebih banyak lagi persamaannya; baik dalam hal ulos (selendang), rumah adat (tongkonan / gorga), warna kegemaran (hitam dan merah), serta penghargaan terhadap kerbau sebagai binatang sakral dalam penyelenggaraan adat. Nah, dari beberapa uraian di atas, dari manakah sebenarnya orang Batak berasal? Kembali lagi: tidak ada yang dapat memastikan. Yang ada adalah kemungkinan-kemungkinan yang diduga memiliki kebenaran.


_______________________________________________ Hindu Dharma Mailling List [HDNet] http://mx1.itb.ac.id/mailman/listinfo/hindu-dharma http://www.mail-archive.com/hindu-dharma@itb.ac.id/


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar