Tuesday, May 1, 2012

Fajar di Pucuk Daun Teh


Fajar di Pucuk Daun Teh


by. Tikwan Raya Siregar
Nikmatkah teh yang Anda seruput hari ini? Kami yakin, setiap orang punya pilihan dan cara menikmati teh. Tapi kali ini kami mengajak Anda menikmati teh dengan cara yang jauh berbeda. Mari langsung ke kebunnya, dan menikmati panoramanya! Nun di Simalungun, sebuah perkebunan teh tua masih bertahan hingga sekarang. Dari Siantar, hanya dibutuhkan waktu 15 menit untuk mencapainya. Jalanan mulus. Bahkan ada bus-bus reguler yang selalu melewati sisi perkebunan bila pengunjung tidak membawa kendaraan pribadi. Tidak keliru bila dalam benak Anda sudah terbayang wisata Puncak Jawa Barat.

Perkebunan teh Marjandi memang menawarkan panorama yang hampir kembar dengan Puncak. Pemandangan yang luas, udara sejuk, dan bukit-bukit yang “rapi” karena selalu dipangkas. Bedanya, di sekitar perkebunan teh Marjandi, banyak berkeliaran babi, dan belum dipenuhi vila-vila. Di sini hanya ada perkampungan-perkampungan kecil yang terjepit di antara bukit dan himpitan kebun teh. Perkebunan teh ini sudah berusia puluhan tahun dan mulai ditanam pihak kolonial pada tahun 1926. Sejak itu, praktis belum ada replanting. PTPN IV, pengelolanya sekarang, hanya melakukan pemangkasan untuk memicu daun muda. Dengan pemangkasan yang teratur dan kegiatan petik, perkebunan selalu tampil segar dan menyuguhkan pemandangan yang fantastik. Karena usianya tua dan selalu dipangkas, pohon-pohon teh Marjandi lebih mirip tanaman bonsai. Ukurannya pendek, tapi batang dan akarnya besar.

Jutaan “bonsai” ini ditanam berbaris dan menghasilkan produk teh yang mungkin saja Anda minum hari ini. Tidak ada waktu yang paling tepat menikmati panorama teh selain menyaksikan fajar selepas kokok ayam berbunyi. Semburat merah yang pertama muncul bagai lukisan tangan, yang kemudian disusul bola matahari di balik bukit teh. Rasanya kita menyaksikan detik-detik keajaiban tanpa halangan sehelai pun kecuali pucuk-pucuk daun teh yang membentuk garis cakrawala. Angin berhembus dingin sekali, dan kami harus merapatkan jaket. Tapi ketika sinar matahari sudah menyiram hamparan permukaan teh, cuaca cukup menyenangkan. Butir-butir embun di daun teh menampakkan kilauan indah sebelum akhirnya menguap ke langit. Ketika pagi sudah terang, anak-anak tampak bergerombol di jalan tanah. Mereka menuju sekolah.

Para Pemangkas Bukit Musriani, Garsia dan Poniyem, berjalan beriringan di atas jalan tanah yang mulus. Hari masih pukul 07.00 WIB. Perempuan-perempuan itu menyuapkan nasi ke mulutnya masing-masing sambil berceloteh. Mereka memang selalu sarapan sambil berjalan untuk menghemat waktu. Di punggung mereka, tampak keranjang besar dari anyaman bambu bertengger. Perempuan-perempuan itu harus membungkuk sedikit saat berjalan untuk mengurangi beban yang ditimbulkan keranjang tersebut. “Kami memang bekerja sejak pukul 07.00 WIB,” aku Poniyem, seorang pemetik teh yang sudah cukup tua. Poniyem dan kawan-kawan adalah para pemetik teh yang bekerja sejak tahun 1980-an. Mereka kini memetik pucuk daun teh dengan menggunakan gunting pangkas. Melihat para pekerja itu di sela-sela tanaman teh, mereka seperti pasukan pemangkas bukit saja.

Setiap hari Poniyem harus memastikan berbagai perlengkapan memetik. Sebab memetik daun teh bukan sembarang pekerjaan yang bisa dilakukan dengan gampang. Dalam keranjang teh di punggung mereka, mesti tersedia teklek alat bantu mencapai pucuk daun teh yang tinggi, gunting, caping untuk melindungi kepala dari sengatan matahari langsung, sepatu boot, makan siang, plastik, dan keranjang. Sebelum memasuki kebun teh, para pekerja berkumpul melakukan persiapan. Mereka menutup separuh tubuh bagian bawahnya dengan plastik agar pakaian tak basah atau mencegah sentuhan dengan ulat atau binatang gatal. Kadang ada juga ular teh yang tidak terlalu berbahaya.

Sebagian mereka menutup bagian kepala dengan kain. Setelah seragam pemetik lengkap, mereka pun turun kebun hingga pukul 11.00 WIB. Usai memetik, para pekerja yang sebagian besar perempuan itu berkumpul di lokasi penimbangan. “Kami diupah Rp 10.000 per hari. Target hasil petikan yang dibebankan 26 kg per hari. Bila mampu melewati target, diberi upah tambahan Rp 70 per kg,” terang Poniyem. Untuk memburu penghasilan tambahan, beberapa pemetik melanjutkan kerja setelah jeda timbang. “Tapi hasil panen teh sekarang tidak sebagus dulu lagi. Tanaman kurang terurus dan tidak dipupuk. Kalau dulu kami bisa petik sampai 50 kg per hari, sekarang 20 kg saja susah,” kata Poniyem, wanita asal Kebumen ini. Perkebunan teh akhir-akhir ini dikabarkan kurang menguntungkan.

Selain kebun Marjandi, ada kebun teh lain yang panoramanya juga bagus, yakni kebun Sidamanik. Di sini tanaman teh lebih terawat, namun arealnya lebih sempit. Jarak antara Marjandi dan Sidamanik tidak jauh, dan masih sama-sama milik PTPN IV. Ada desas-desus bahwa perkebunan tersebut akan diganti jadi perkebunan sawit. Bila hal ini terjadi, sebuah spot keindahan di Sumut akan hilang. Jadi, sebelum hal itu terjadi, tidakkah sebaiknya Anda berkunjung?


No comments:

Post a Comment