Friday, May 18, 2012

Nommensen berperan masuknya Belanda ke Tanah Batak

 Saturday, 27 June 2009 11:13
Nommensen berperan masuknya Belanda ke Tanah Batak

MEDAN - Berdasarkan laporan Zendeling RMG (Rheinische Missiongeselschaft) diketahui Nommensen memiliki peran dalam penaklukan Tanah Batak menjadi wilayah yang dikuasai pemerintah Kolonial Belanda.

Staf Pengajar Universitas Hawaii Manoa USA, Uli Kozok, di Medan, tadi pagi, mengatakan, dalam buku laporan tahunan Zending RMG tahun 1907 disebutkan, pada awal tahun 1878 Nommensen berulang kali meminta pemerintah kolonial Belanda agar selekasnya menaklukkan Silindung menjadi bagian dari wilayah Hindia Belanda.

Pemerintah Belanda akhirnya mengabulkan permintaan Nommensen sehingga terbentuk koalisi Zending. Pemerintah kolonial Belanda sangat sukses, karena kedua belah pihak memiliki musuh yang sama yakni Singamangaraja XII yang dicap sebagai "musuh bebuyutan" pemerintah Belanda dan zending Kristen.

Bersama-sama mereka berangkat untuk mematahkan perjuangan Singamangaraja. Kolonial Belanda dibekali persenjataan, organisasi dan ilmu pengetahuan peperangan modern, sementara pihak zending dibekali pengetahuan adat-istiadat dan bahasa Batak Toba.

Berkat pengetahuan bahasa dan budaya, pihak zending sangat sukses meyakinkan ratusan raja di Tanah Batak agar menyerah.

Perang Batak atau dikenal dengan perang Singamangaraja XII berakhir pada tahun 1907 dengan tewasnya "tokoh spritual" dan untuk selanjutnya penjajahan di tanah Batak dimulai oleh pemerintah kolonial Belanda, jelasnya.

Sementara menurut sejarawan Universitas Negeri Medan (Unimed), Dr Phil Ichwan Azhari, ada pihak yang melihat kontroversi dalam Perang Toba I yang terjadi tahun 1878, yaitu adanya peran para penginjil dalam menaklukkan Tanah Batak dan hubungan Singamangaraja XII dengan zending.

Hubungan Singamangaraja XII dengan zending menjadi persoalan peka karena sebagian besar orang Batak memeluk agama Kristen dan menganggap LI Nommensen sebagai apostel atau rasul orang Batak, sedangkan Singamangaraja XII diangkat sebagai Pahlawan Nasional oleh pemerintah pada 9 November 1961, ujarnya.

"Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana kalau kedua pahlawan yang dua-duanya dianggap sakral oleh orang Batak itu ternyata saling bermusuhan," katanya.

Selanjutnya, pada tahun 1982 Dr WB Sidjabat menulis buku berjudul "Ahu Sisingamangaraja: Arti Historis, Politis, Ekonomis dan Religius" dimana Sisingamangaraja XII berusaha keras meluruskan dilema itu dengan "mendamaikan" kedua tokoh sakral tersebut.

Dengan sangat jelas ia memperlihatkan sikap pro zending, pro Singamangaraja dan anti Belanda, jelasnya.

Dalam bukunya itu Sidjabat menggambarkan Belanda sebagai orang yang cerdik, memiliki tangan kotor hendak memanfaatkan Nommensen menggunakan tindakan keganasan, mengadakan kegiatan ganas yang tujuannya didorong oleh keserakahan ekonomi dan militer.

Terhadap peran Nommensen dan penginjil RMG lainnya, Sidjabat menyebut kehadiran Nommensen bukan dalam rangka penjajahan namun melakukan berbagai usaha untuk mengelakkan pertumpahan darah.

"Dalam bukunya itu berulang kali disebutkan bahwa Nommensen bersedia menempuh jalan damai dan sangat tidak menyetujui tindakan kekerasan yang digunakan Belanda serta merasa sangat sedih melihat kampung-kampung Batak dibakar Belanda," katanya.


Sumber:
http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=28205:-nommensen-berperan-masuknya-belanda-ke-tanah-batak&catid=14:medan&Itemid=27

No comments:

Post a Comment