Tuesday, May 1, 2012

Pariwisata Danau Toba Menangis


Pariwisata Danau Toba Menangis


Danau Toba, salah satu danau terluas di dunia sejak dulu kala sudah dikenal masyarakat internasional sebagai salah satu obyek wisata alam di Sumatera Utara, kini terpaksa menangis lagi. Kenapa harus menangis? 

Waspada/Hasuna Damanik
Tanjung Unta, salah satu obyek wisata di Kab. Simalungun yang sejak dahulu kala sudah terkenal hingga ke mancanegara dan selalu menjadi tujuan kunjungan wisatawan karena daerah itu cukup indah, menawan berakses langsung dengan Danau Toba. Namun, 10 tahun terakhir keberadaan daerah pariwisata ini bagai terlupakan.
WASPADA Online
Danau Toba, salah satu danau terluas di dunia sejak dulu kala sudah dikenal masyarakat internasional sebagai salah satu obyek wisata alam di Sumatera Utara, kini terpaksa menangis lagi. Kenapa harus menangis?

Kalau 10 tahun terakhir ‘menangis’ akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan, kini justru ‘menagis lagi’ karena danau nan indah tidak masuk dalam lima tujuan utama kunjungan pariwisata Indonesia.

Sangat disayangkan, padahal Danau Toba yang memiliki pemandangan begitu indah, menawan dan mempesona dikelilingi setidaknya tujuh daerah tingkat II, antara lain Kabupaten  Simalungun, Karo, Dairi, Tapanuli Utara, Samosir, Tobasa dan Humbang Hasundutan.

Ketujuh daerah tingkat II di Sumut ini berakses langsung dengan Danau Toba. Dimana masyarakatnya banyak yang mencari nafkah dan menghidupi kebutuhan keluarganya dari hasil kunjungan wisatawan.

Kegagalan Sumut masuk dalam lima besar tujuan utama pariwisata Indonesia berdampak merugikan perekonomian masyarakat, terutama bagi masyarakat yang berdomisili di daerah kawasan obyek wisata. Bukan hanya masyarakat disekitar Danau Toba saja, tentu masyarakat seperti di Berastagi, Kab.Tanah Karo, Kab. Nias, kota Medan yang juga menyimpan berbagai obyek wisata sejarah akan kehilangan inkam dari sektor pariwisata ini.

Kalangan pelaku pariwisata di Parapat, Kab. Simalungun sungguh merasa kecewa berat terhadap Pemprovsu dan Pemkab Simalungun c/q Dinas Pariwisata Kab. Simalungun karena tidak mampu mengembalikan citra pariwisata Danau Toba, Parapat sebagai daerah tujuan kunjungan wisata Indonesia.

Padahal sebelumnya, Pemkab Simalungun dengan segala optimismenya telah menyurakan kepada masyarakat, bahwa Danau Toba (Sumut) akan kembali masuk dalam kunjungan pariwisata nasional dan akan dipromosikan hingga keluar negeri.

"Kegagalan masuknya Sumut dalam lima tujuan utama kunjungan pariwisata merupakan kegagalan pemerintah membangun sektor pariwisata," tukas M Adil Saragih, aktivis SCW (Simalungun Coruption Watch) kepada Waspada, kemarin.

Menurutnya, sektor pariwisata Danau Toba, yang dikelilingi tujuh daerah tingkat II termasuk Kab. Simalungun sebenarnya punya potensi yang tidak kalah menariknya dari lima daerah yang telah ditetapkan Menteri Pariwisata RI, Jerro Wacik, menjadi tujuan utama kunjungan pariwisata nasional. Kelima daerah tersebut masing-masing Bali, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Sumatera barat dan Sulawesi Selatan. "Kegagalan ini jelas musibah bagi Sumut," tambahnya.

Lebih lanjut dikatakan Adil, untuk membangun sektor pariwisata dibutuhkan berbagai promosi didunia internasional. Jangan harap keindahan Danau Toba bisa dikenal masyarakat internasioanal tanpa ada promosi.

Dengan promosi, masyarakat di mancanegara dapat mengetahui dan mengenal daerah tujuan wisata yang akan dikunjunginya. " Jika promosi ini diabaikan, maka jangan harap Danau Toba bisa jaya seperti dua puluh tahun silam," terang Adil.(a15)


Sumber:

No comments:

Post a Comment