Tuesday, May 1, 2012

Taman Eden 100


Taman Eden 100


by riginoto on September 20th, 2011 at 12:02 pm 
Dalam perjalanan kami mengelilingi daerah Danau Toba di Sumatera Utara, kami sempat singgah disuatu tempat yang mengundang keingin tahuan kami. Namanya sangat menggelitik. Siapakah diantara kita yang tidak pernah mendengar nama TamanEden? Bukankah disanalah hikayat Adam dan Hawa dikisahkan, manusia pertama yang mengawali kehidupan manusia dunia? Namun apa maksudnya jika dituliskan Taman Eden 100? Nah angka seratus ini yang merangsang kami ngobrol lebih lanjut dengan penggagas lokasi Agrowisata Rohani ini, bapak L Sirait. Mengenai Taman Eden, secara bergurau saya mengatakan kepada seprang anak saya yang pendeta itu, jika ia berkotbah,

sampaikanlah jika kita tidak sanggup memenuhi persyaratan untuk sampai ke sorga kekal kelak, masih ada tempat alternatif bagi kita pergi, yaitu ke taman Eden ini. Taman ini kami jumpai ketika kami bertolak menuju kota wisata rohani Tarutung. Ia terletak diantara kota Prapat dan Balige.
Tetapi mengenai 100, kami terpaksa harus memasukinya halamannya. Dipintu tempat kami masuk, kami telah disambut sang pemilik yang berpakaian lengkap jas dan dasi [ini mungkin karena hari Minggu, sebab mayoritas penduduk pergi beribadah ke gereja] dengan ramah bak ‘manusia pertama’ di taman Eden. Secara sepintas kami melihat pepohonan di sekitarnya dengan papan berwarna biru disetiap pohon tersebut. Nah disitulah kami memulai percakapan kami.  Tempat unik apakah ini? Apakah kami akan menemukan sebuah kategori baru dalam hal tempat wisata?  Menjawab pertanyaan kami, bapak Sirait ini mulai menjelaskan bahwa ditamannya yang luasnya 30 hektar, yang terletak didaerah yang klimatnya sejuk ini terdapat 100 jenis pohon. Semuanya terdiri dari pohon buah-buahan! Wow, dapatkah Anda menyebutkan 100 nama buah-buahan?

Saya langsung teringat ayat-ayat Alkitab yang mengatakan “Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu. Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya” Sungguh luar biasa ide pencipta Taman Eden 100 ini. Dibalik nama ini terkandung kerinduan untuk turut melestarikan bumi yang sudah dikotori dengan carut marut perusakan alam ini!
Kemudian, dari manakah ke seratus pohon itu berasal? Menanam semua itu sendiri tidak murah bukan?

 Jawabnya : “Gotong Royong”. Ia seolah ingin mengungkap sebuah nilai, dimana kita manusia bersama-sama dipanggil untuk membangun dunia seperti itu. Setiap pengunjung yang berminat dapat menanam pohon buah ditempat itu. Ia dapat menentukan jenis pohon buah tertentu yang ingin di tanamnya, menitipkan uang atau menitipkan bibit pohon tersebut.  Jika pohon itu sudah berbuah, maka pemiliknya dapat datang disana dan memetik hasilnya. Hak ini juga diberikan kepada keluarganya, anaknya dan cucunya. Keluarga Sirait beserta beberapa dari 10 anak-anaknyalah yang berkomitmen akan memelihara sampai pohon ini menghasilkan buahnya. Kami sempat melihat sebuah pohon jeruk dihadapan kami yang lebat dengan buah, tanaman pribadi Sirait. Sayang buahnya belum lagi masak. Nah disetiap pohon yang di sumbangkan dituliskan jenis pohon buah apa, tanggal kapan pohon itu ditanam, siapa pemiliknya dan darimana asalnya mereka. Saya langsung berpikir bagaimanakah saya dapat merubah angka 100 menjadi 101. Pohon buah apakah yang belum ada disana? Saya juga mengusulkan agar dibuatkan buku kecil berisikan daftar nama buah yang telah ada disana, supaya saya dapat dengan mudah mencari jenis buah baru yang belum ada disana.

Sesuai dengan nama kategorinya, tempat agrowisata rohani ini juga menyediakan fasilitas untuk melakukan acara rohani seperti camp, retreat. Lokasi ini dipilih juga karena disitu ada air terjun 7 tingkat yang dapat dinikmati untuk mandi, berenang dan santai melepaskan ketegangan sehari-hari. Dari bukit yang cukup tinggi ini, kita dapat pula mengagumi panorama alam indah Danau Toba nan luas itu beserta pulau Samosir-nya. Bagi penggemar panjat tebingpun tersedia fasilitasnya. Beberapa binatang hutan seperti kijang, kera dan monyet juga melengkapi area khusus ini.  Konon kabarnya ada pula harimau Sumatera asli dan beruang yang tinggal di habitatnya sekitar 2 – 10 km dari lokasi dimana kami berdiri!

Akhirnya, buat kami sebagai wisatawan nusantara, tempat rekreasi yang dikemas secara unik dan berani tampil beda ini, yang tidak sekedar meniru apa yang ada ditempat lain dan hampir tidak pernah dijumpai ditempat lain, selain memberikan kesan dan pengalaman bermakna tersendiri dalam benak kami, ia mampu memberikan insiprasi. Inilah sebuah contoh spiritual marketing yang ditargetkan mengisi kebutuhan spiritual pengunjungnya. Pengunjung mampu diingatkan sebagai manusia untuk bersama-sama berpartisipasi memelihara bumi yang kita diami agar kita senantiasa diberkati dengan hidup yang berkelimpahan dengan damai sejahtera.


Sumber;

No comments:

Post a Comment