Senin, 05 Maret 2012

Mitos Raja Adityawarman: Kerajaan Jawa Tak Pernah Taklukkan Sumatra


Mitos Raja Adityawarman: Kerajaan Jawa Tak Pernah Taklukkan Sumatra
Penulis: Nirwansyah Putra
Bahan, data dan foto: Sri Mahyuni, Nirwan


* * *

Sejarahwan, Prof Uli Kozok, mengungkapkan versi baru soal sejarah Indonesia. Raja Adityawarman bukanlah “wakil” dari Majapahit di tanah Sumatra. Ekspedisi Pamalayu yang dilakukan kerajaan Majapahit pun bukan dalam rangka Sumatra, melainkan mencari persekutuan dengan kerajaan di Sumatra untuk menghadapi tekanan Kaisar Mongol, Kubilai Khan.

Adalah Prof Uli Kozok, seorang sejarahwan yang mengajar di Universitas Hawaii Manoa, Amerika Serikat, yang mengemukakan versi baru soal sejarah hubungan antara kerajaan di tanah Jawa, terutama Majapahit –yang sering disebut-sebut cikal-bakal Indonesia – , dengan kerajaan di tanah Sumatra. Tesisnya berkisar soal hubungan raja-raja Jawa dengan raja-raja di Sumatra terutama Malayu.

Uli juga memfokuskan pembicaraan soal sosok Raja Adityawarman, yang menurutnya punya peranan dan pengaruh untuk melihat kerangka hubungan itu. Tesis Prof Uli Kozok ini diungkapkan dalam ceramah ilmiah yang bertajuk “Meruntuhkan Mitos Adityawarman: Tokoh Penting dalam Sejarah Jawa-Sumatra di Universitas Negeri Medan” yang diadakan oleh Pussis-Unimed di gedung Lembaga Penelitian Unimed, pada 9 Maret 2010 kemarin.

* * *

Dalam pembelajaran sejarah nasional seperti yang kerap masuk dalam benak siswa maupun mahasiswa di Indonesia, diketahui bahwa Adityawarman dikenal sebagai pendiri kerajaan Malayupura (Pagaruyung) yang ada di Sumatra Barat. Dia adalah anak dari Dara Jingga yang dipersunting oleh Raden Wijaya, Raja dari Majapahit, sebagaimana yang tercacat dalam kitab Pararaton.

Adityawarman dinyatakan dilahirkan dan dibesarkan di istana Kerajaan Majapahit dan merupakan saudara sepupu dari Jayanegara, raja kedua dari Majapahit. Sewaktu dewasa, Adityawarman ditugasi oleh Raja Majapahit menjadi utusan duta besar perdamaian ke Cina selama dua kali yakni pada tahun 1325 dan 1332, sebagaimana yang tercatat dalam kronik dinasti Yuan, terutama untuk mendamaikan perselisihan Majapahit dengan bangsa Mongol.

Pada masa pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi (adik Jayanegara) di Majapahit, sebagaimana yang dicacat pada prasati Blitar (1330) atau juga pada prasasti Manjustri tahun 1343 masehi, Adityawarman diangkat sebagai Wreddamantri atau perdana menteri.

Pada tahun 1347, Adityawarman ditugasi sebagai bawahan raja Majapahit untuk wilayah Swarnnabhumi (Sumatra) untuk menjalankan misi penaklukan Sumatra bagian Utara yakni kerajaan Silo di Simalungun. Kerajaan Silo saat itu dikuasai oleh Indrawarman, desersi tentara Singasari yang menolak kedaulatan Majapahit.

Selanjutnya pada tahun 1347, Adityawarman disebut mendirikan kerajaan Malayupura seperti yang terpahat pada arca Amoghapasa dan prasasti Kuburajo di Pagaruyung yang beraksara Sansekerta.  Dalam prasati itu, Aditywarman dikenal berasal dari keluarga Indra serta menjadi raja di Kanakamedini (Swarnadwipa) atau Sumatra. Sedangkan dalam prasasti Bukit Gombak, Ia dikenal sebagai putra dari Adwayadwaja.

* * *

Prof Uli Kozok punya versi lain soal ini. Dalam ceramahnya, Uli menunjukkan kelemahan sekaligus dilema yang dihadapi oleh sejarahwan nasional seperti Slamet Muljana dalam menafsirkan dan menuliskan sejarah Malayu (Sumatra) dan Majapahit (Jawa) khususnya tentang tokoh Adityawarman.

Mula-mula, Prof Uli menyitir buku yang ditulis sejarahwan nasional Slamet Muljana, mengenai hal ini. Seperti diketahui Slamet Muljana menulis beberapa buku soal kerajaan-kerajaan di Indonesia, di antaranya Tafsir Sejarah Nagarakretagama (2006), Sriwijaya (2006), Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara (2005), Kuntala, Sriwijaya dan Suwarnabhumi (1981).

Slamet menuliskan, Adityawarman benar-benar tokoh sejarah, karena namanya tercantum pada pelbagai prasasti di Pulau Jawa dan Sumatra serta  dinasti Yuan.  Kitap Pararaton 24, 27 menyatakan bahwa Adityawarman adalah putra Dara Jingga dari Tanah Malayu. Demikian pula bahwa pada tahun  1325 pada Dinasti Yuan dinyatakan bahwa utusan Jawa bernama Seng-kia-lia-yulan berpangkat menteri, datang di istana kaisar. Ironisnya, nama Seng-kia-lia-yulan diidentifikasi dengan Adityawarman. Seharusnya penamaan tersebut adalah sebutan gelar Sang Arya yang banyak digunakan dalam pengaruh Hindu-Budha.

Selanjutnya pada tahun 1332 Adityawarman diutus ke Cina dan pada tahun 1330 nama Adityawarman disebut pada prasasti Blitar atau pada prasati tidak bertarikh (OJO LXXXIV (D38) serta pada tahun 1343 Adityawarman mengeluarkan prasasti Manjusri di Candi Jago.

Slamet Muljana juga mengemukakan, pada tahun 1347 Adityawarman mengeluarkan prasasti di Dharmasraya di mana arcanya ditemukan di Sungai Langsat. Tidak lama kemudian, Adityawarman memindahkan kerajaan itu ke Pagaruyung dan terakhir pada tahun 1375, Adityawarman mengirimkan utusan ke Cina. Adityawarman meningggal dan dimakamkan di Kubur Raja, Lima Kaum Sumatra Barat.

Namun Prof Uli tidak sependapat dengan Slamet. Uli yang juga penulis buku Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah: Naskah Melayu yang Tertua (2006), mengatakan, Adityawarman adalah seorang Melayu (Sumatra) yang dilahirkan dan dibesarkan di Sumatra dan tidak ada hubungan dengan Raden Wijaya, raja Majapahit. Ibunya bukanlah Dara Jingga seperti yang ditulis dalam sejarah nasional selama ini, karena menurutnya, bila Dara Jingga adalah Ibunya, maka setidaknya Adityawarman menjadi raja pada usia 45-50 tahun. Dengan demikian, adalah kemustahilan apalagi untuk mendirikan dan memimpin sebuah kerajaan di Sumatra yang baru dibentuk.

Demikian pula bahwa Adityawarman bukan pendiri kerajaan Malayu. Tetapi kerajaan itu didirikan oleh Akarendrawarman yang namanya banyak disebut pada berbagai prasasti di Minangkabau seperti prasasti PGR 7 yang menyebutnya sebagai Maharajadhiraja. Sementara pada Prasati PGR 8 yang dikeluarkan tahun 1316 dan pada prasasti Bandar Bapahat disebutkan, Adityawarman meneruskan pembangunan raja sebelumnya yakni Akarendrawarman. Jadi, sebelum Adityawarman, telah ada dan berdiri kerajaan Malayu di Sumatra yang didirikan oleh Akarendrawarman dan Adityawarman bercita-cita meneruskan pembangunan pendahulunya itu.

Uli mengemukakan, berdasarkan sumber-sumber primer dan analisis kritis yang dilakukannya terhadap sumber-sumber tersebut, Uli menegaskan, Adityawarman kemungkinan adalah keponakan Akarendrawarman yang lahir antara  tahun 1310 dan 1320 di Sumatra dan tidak pernah diutus ke China sebagai duta besar Majapahit.

Demikian juga bahwa  Adityawarman tidak pernah mendampingi Majapahit untuk menyerang Bali atau Adityawarman ditugasi untuk menaklukkan Sumatra dalam ekspedisi Pamalayu di era Singhasari. Adityawarman sendiri tidak dimakamkan di Makam Kubu Rajo, karena tidak ditemukannya bukti bahwa Kubu Rajo sebagai makam. Kubu Rajo sendiri adalah kubu atau benteng pertahanan.

Ekspedisi Pamalayu menurut Uli adalah persekutuan dalam rangka menjalin kerjasama antara Jawa dan Sumatra. “Jadi bukan dalam rangka penaklukan sebagaimana yang disebut dalam sejarah nasional seperti selama ini,” kata Uli.

Uli menegaskan, Kertanegara -Raja Singhasari- sedang terancam oleh pasukan Kubilai Khan dari Mongol akibat menolak membayar upeti ke Tiongkok. Akibat penolakan tersebut, posisi Singhasari semakin terancam dan takut bila diserang oleh pasukan Mongol. Menurut dia, hubungan antara Jawa dan Sumatra tersebut tidak menunjukkan bawahan dan atasan di mana raja-raja di Sumatra disebut sebagai vasal dari raja Jawa sehingga memungkinkan untuk menyerang kerajaan Jawa ini. Atas dasar itu, Kertanegara yang menyadari bahwa posisisnya kian terancam, maka ia membentuk persekutuan dengan kerajaan Melayu yang dikenal dengan ekspedisi Pamalayu.

Selanjutnya, prasasti Manjusri yang sekarang berada di kompleks candi Jago meriwayatkan, Adityawarman mendirikan arca di Bhumi Jawa. Itu berarti Adityawarman bukan orang yang dilahirkan dan dibesarkan di Majapahit (Jawa). “Tetapi ia lahir dan dibesarkan di Sumatra dan sewaktu muda dikirim ke Majapahit untuk persahabatan Jawa dan Sumatra,” ujar Uli.

Argumentasi Uli yang lain adalah penggunaan istilah Maharaja dan Maharajadiraja telah menegaskan bahwa tidak ada hubungan taklukan antara Jawa dan Sumatra. Maharaja adalah sebutan atau gelar untuk raja, sedang maharajadiraja adalah gelar raja di atas segala raja atau king of the king. Adityawarman sendiri telah menggunakan maharajadiraja sama seperti  Akarendrawarman. Itu menandakan kerajaan tersebut adalah berdaulat penuh yang tidak memiliki hubungan dengan Majapahit.

Catatan selanjutnya, pada tahun 1293, 1299, 1301 kerajaan Malayu mengirimkan utusan ke Tiongkok dan pada tahun 1295, Kaisar Cina menyuruh Siam untuk tidak menyerang Malayu. Ibu negeri Kerajaan Malayu sendiri menurut Uli adalah berpindah-pindah seperti dari Saruaso, Dhamasraya dan Muara Jambi.

* * *

Soal ini, Ichwan Azhari PhD, Kepala Pussis-Unimed mengemukakan, uraian Uli Kozok ini sangat penting terutama untuk meluruskan sejarah nasional Indonesia. Setidaknya, penelitian Uli ini telah mengilhami pentingnya analisis kritis terhadap sumber-sumber primer sejarah Indonesia yang kerap kali tidak didukung oleh sumber primer lainnya.

Ichwan Axhari PhD, Kepala Pussis Unimed (foto: Sri Mahyuni)
Menurut Ichwan, Prof Uli yang merupakan peneliti dan pengajar di Universitas Hawaii Manoa, Amerika Serikat, itu telah melakukan penelitian terbaru terhadap sejarah Adityawarman ini sekaligus memberikan informasi baru dari penelitian tersebut.

Dengan paparan Prof Uli ini, menurut Ichwan, sudah semakin terang tentang sosok Adityawarman yang ternyata lahir dan dibesarkan di Malayu (Sumatra), tidak pernah diutus ke China, tidak menyertai Majapahit dalam penyerangan Bali. “Adityawarman juga bukan pendiri kerajaan Malayu serta yang paling penting adalah bahwa ekspedisi Pamalayu bukan dalam rangka penaklukan Sumatra tetapi justru untuk mencari persahabatan (persekutuan) antara raja-raja Jawa (Singhasari) dan Raja Sumatra. Hal ini justru kebalikan dari yang selama ini diketahui dalam sejarah Nasional kita,” terang Ichwan.

Di sisi lain, Ichwan juga menyayangkan mengapa justru yang melakukan koreksi terhadap sejarah Indonesia paling banyak dilakukan oleh orang luar Indonesia. “Kemana sejarahwan Indonesia?” tanyanya.

Menurut Prof Uli, penulisan sejarah Indonesia selama ini sering memunculkan interpretasi terhadap sumber-sumber primer yang tidak didukung oleh sumber primer lainnya. Akibatnya, narasi sejarah yang timbul adalah penciptaan atas realita sejarah yang mengorbankan kebenaran sejarah. Hal tersebut menjadi faktor munculnya sejarah nasional Indonesia yang kontroversial. Keadaan tersebut tidak saja terjadi pada sejarah modern Indonesia tetapi juga pada sejarah awal Indonesia.

Dalam era desentralisasi saat ini, menurut pengajar di Universitas Hawaii itu, sebaiknya adalah dengan melakukan pendekatan historiografi yang berlandaskan bottom up yakni penulisan sejarah di tingkat lokal dan kemudian dari tingkat lokal tersebut dirumuskan sejarah nasional. Hal ini memang berbeda dengan kondisi selama ini, di mana sejarah nasional cenderung disusun ditingkat nasional yang meniadakan peran daerah.

Menurut Ichwan, dalam upaya penulisan sejarah nasional di Indonesia, para sejarahwan menghadapi dilema bahwa sumber-sumber sejarah tentang Majapahit yang telah diangkat pemerintah sebagai cikal bakal Indonesia, terbatas pada sejumlah prasasti dan dua naskah yaitu Negarakretagama dan Pararaton.

Alumni Universitas Hamburg, Jerman ini juga mengemukakan, informasi yang terkandung dalam sumber-sumber itu kerap kali kontradiktif dan ditulis pada waktu yang berbeda dan ditulis untuk tujuan berbeda pula.  Ironisnya lagi, menurut Ichwan, sejarahwan nasional Indonesia berupaya untuk memadukan sumber yang ada sehingga tercipta sebuah sejarah yang konsisten dan berwawasan nasional sementara interpretasi yang kritis dikorbankan demi “kepastian” sejarah yang dihasilkan.

Sementara itu, Erond Damanik, peneliti Pussis-Unimed, mengemukakan, kehadiran Uli Kozok di Unimed adalah untuk yang keempat kalinya. Pertama, dia sebagai pembicara dalam seminar mengenai Stempel dan Surat Sisingamangaraja. Kehadiran kedua Uli membicarakan tentang Aksara Batak. Selanjutnya, Uli juga berceramah dalam topik tentang Utusan Damai di Kemelut Perang, yakni hubungan Nomensen dengan Belanda di tanah Batak. “Yang terakhir ini adalah tentang Adityawarman,” ujar Erond.

Menurut Erond, pada kehadiran yang keempat ini, Uli dengan berani mengemukakan kecenderungan interpretasi sejarah nasional berdasarkan sumber-sumber historiografi yang kurang didukung oleh sumber-sumber primer itu sendiri. Oleh karena itu, kegiatan seperti ini sangat  perlu dan penting terutama untuk memahami historiografi Indonesia sekaligus pentingya mengedepankan telaah sejarah kritis. “Atas dasar itu, sejarah Indonesia yang kerap berselimut misteri itu dapat dibuka satu per satu,” harap Erond.  (*)


Sumber:
https://tukangngarang.wordpress.com/2010/03/15/mitos-raja-adityawarman-kerajaan-jawa-tak-pernah-taklukkan-sumatra/

________________________________________________________________



Adityawarman, Raja Agung dari Sumatera


Panggung sejarah Sumatera segera mencuat ke permukaan ketika raja Sri Jayanasa menyuruh membuat prasasti Kedukan Bukit, bertarikh 682 M untuk memperingati ekspedisinya yang luar biasa selama dua bulan hingga menguasai atau kembali ke Palembang, yaitu tempat ditemukannya prasasti tersebut.

Di persada Nusantara ini panggung sejarah tertua dimulai di Kutai, Kalimantan Timur. Di sana ditemukan tujuh prasasti beraksara Pallawa dan bahasa Sanskerta, diantaranya menyebutkan nama raja Mulawarman berayah Aswawarman dan berkakek Kudungga. Prasasti ini berasal dari awal abad ke 5 M. Selanjutnya di daerah Bogor, Jawa Barat muncul kerajaan Tarumanegara dengan rajanya bernama Purnawarman. Prasasti Ciaruteun (di Bogor) dan Tugu (di Jakarta) yang beraksara Pallawa dan berbahasa Sanskerta ini berasal dari pertengahan abad ke 5 M. Di abad berikutnya panggung sejarah kosong dan baru abad ke 7 M kerajaan Sriwijaya mengisi panggung sejarah Nusantara.

Kronologi Raja-Raja di Sumatera
Dalam abad ke 8 M, berita Cina menyebutkan bahwa raja Sriwijaya bernama Che-li-to-lo-pamo, kemudian ada lagi raja Lieou-teng-wei-kong. Di abad ke 9 M muncul nama raja Balaputradewa dari Suwarnabhumi (dimaksudkan Sriwijaya) dalam prasasti Nalanda di Benggala (India). Nama Balaputra juga disebut dalam prasasti Ligor di Nakorn Sitammarat di Thailand selatan. Di abad ke 10 M terjadi kekosongan, di abad ke 11 M muncul beberapa raja yang berkuasa di Sumatera, yaitu:
- Cudamaniwarman (1003-1006 M)
- Marawijayatunggawarman (1006-? M)
- Sanggramanwijayotunggawarman (?-1024 M)

Dalam abad ke 12 M tidak ada nama raja Sumatera tetapi dalam abad ke 13 muncul nama raja Tribhuwanawaja Mauliwarmadewa; namanya disebut dalam prasasti Amoghapasa yang mencatat pemberian hadiah arca dari raja Kertanagara di Jawa Timur kepada raja Melayu pada tahun 1286 M. Limapuluh tahun kemudian barulah mencuat nama Adityawarman yang dicatat dalam prasasti Candi Jago di Jawa Timur, tahun 1343 M.

Adityawarman Raja Melayu
Adityawarman belajar di Majapahit karena masih ada hubungan antara Melayu dengan Majapahit (kelanjutan dari Singasari dan sangat mungkin ada hubungan darah dengan keluarga raja Majapahit).

Menurut kitab Pararaton ada dua puteri Melayu dikirim ke Singasari, yaitu Dara Jingga dan Dara Petak. Dara Petak dikawin oleh Raden Wijaya sedangkan Dara Jingga dikawin oleh seorang pangeran Majapahit lalu beranak laki-laki dan menjadi raja di Melayu. Raja inilah yang diduga identik dengan Adityawarman. Dalam prasasti Candi Jago tersebut Adityawarman juga mengaku masih bersaudara dengan raja Tribhuwana (ratu Majapahit).

Di Sumatera Adityawarman mengeluarkan prasastinya di daerah Pagarruyung bertahun 1347 M dan pada prasasti Amoghapasa di Padang Candi (perbatasan Jambi) dengan tahun yang sama. Pada prasasti Kubu Rajo I Adityawarman menyebut nama ayahnya bernama Adwayawarman. Prasasti Kubu Rajo I ini pada tahun 1987 pernah hilang selama enam bulan. Selanjutnya Adityawarman menyebutkan nama adiknya ialah Anggawarman dalam prasasti Suroaso II (tanpa angka tahun, diduga sekitar tahun 1350 M.

Di Kubu Rajo ada dua batu bergambar, satu bergambar bunga matahari (oleh penulis ditafsirkan sebagai lambang angka tahun 1273 Saka atau 1352 M) dan gambar kura-kura (oleh penulis ditafsirkan sebagai lambang angka 1261 Saka atau 1339 M).

Semantara itu ada sekumpulan prasasti dari raja Adityawarman disimpan di Pagarruyung. Di antara prasasti yang penting ialah prasasti Bukit Gombak II berangka tahun 1278 S (dari candrasangkala “wasur muni bhujasthalam”) atau tahun 1356 M. Pada tahun ini ia mendirikan sebuah wihara yang lengkap dengan segala alat yang dibutuhkan orang. Pada prasasti Suroaso I ia ditahbisakan sebagai pengikut ajaran ksetrajna dengan nama Wisesadharani disertai taburan jutaan bunga wangi pada tahun 1297 S (daru Suryasangkala “bhuh karnne nawa darsane”) atau tahun 1375 M. Sesudah tahun ini tidak ditemukan prasasti berangka tahun yang lebih muda.

Pejabat Pemerintahan
Sebuah prasasti yang terpotong di bagian atas dan bagian bawah ditemukan di Ombilin di tepi danau Singkarak. Prasasti ini isinya agak aneh. Adityawarman justeru mengaku bukan orang bangsawan dan bukan orang pandai, melainkan ia bertindak selaku bangsawan. Prasasti ini juga bertulis kara “swahasta likhitam” yang artinya “ditulis dengan tangan sendiri”. Ini janggal karena prasasti dipahat oleh tukang pahat yang bergelar “citralekha”. Mungkin Adityawarman yang membuat konsep prasasti ini.

Pada prasasti Amoghapasa tahun 1347 M disebutkan bahwa ada pejabat bernama Dewa Tuhan Parpatih menjadi pemegang pemerintahan yang terkemuka dari raja Adityawarman. Nama Tuhan Parpatih muncul lagi dalam prasasti Pagarruyung II dengan nama lengkap Tuhar Parpatih Tudang. Prasasti ini juga menyebut seorang maharaja bernama Akarendrawarman; mungkin ia adalah kakak Adityawarman. Nama Tuhan Parpatih yang masyhur ini tetap terpatri dalam tambo-tambo Minangkabau dengan sebutan Tuhan Parpatih Nan Sebatang dan seolah-olah menjadi cikal bakal masyarakat Minang.

Raja Agung
Wilayah kekuasaan Adityawarman meliputi Riau daratan dan Sumatera Barat, khususnya di daerah Kabupaten Tanah Datar di sekitar kota Batusangkar. Prasastinya tersebar di Danau Singkarak di selatan hingga ke Lubuklayang di dekat kota Lubuksikaping, sekitar 50 km, sebelah utara Bukittinggi. Adapula yang berpendapat bahwa candi-candi di daerah Padang Lawas di Kecamatan Gunung Tua, Kabupaten Tapanuli Selatan juga merupakan peninggalan jaman Adityawarman dengan alasan bahwa latar belakang keagamaannya sama dengan Adityawarman.

Adityawarman menjalin kerjasama dengan Ratu Tribhuwanatunggadewi di Majapahit dan bekerja sama dengan Mahapatih Gajah Mada. Ketika ada ekspedisi ke Bali pada tahun 1343 M Adityawarman juga membantu Gajah Mada. Kedua tokoh besar ini sama-sama beragama Budha dan menjalin aliansi politik untuk menangkal pengaruh dari utara (Cina) karena Cina selalu berambisi menguasai daerah selatan sejak ekspedisinya ke Jawa pada akhir abad ke 14 M. Di Sumatera Adityawarman mengembangkan ajaran agama Buddha Mahayana dan menokohkan diri dengan pembuatan patung Bhairawa (sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta).

Wihara dan sarana pemujaan agama serta peringatan-peringatan keagamaan dilakukannya dan direkam dalam prasastinya yang berjumlah 20 prasasti. Ia juga menobatkan putra-putranya sebagai raja muda. Ananggawarman disebut dalam prasasti Suroaso II dan Bijayendrawarman dalam prasasti Lubuklayang. Sementara itu pemerintahan sehari-hari ditangani oleh perdana menteri Tuhan Parpatih.

Akhir Masa Adityawarman
Pemerintahan seorang raja berkaitan dengan kepercayaan atau agama yang dianutnya. Secara evolusi agama Islam mulai masuk ke daerah Barus (utara Sibolga) pada abad ke 7 M. Perlahan tapi pasti agama ini makin berkembang pada abad ke 13 M. Islamisasi sudah merata di wilayah Aceh. Pada abad ke 14 M pengaruh agama Islam terus menggeser ke selatan melalui Samudera Pasai memasuki Sumatera Utara, Riau dan terus ke Sumatera Barat yang bersamaan dengan arus Islamisasi dari utara yang melalui pantai barat Sumatera. Tanpa terjadi perang yang berarti, generasi sesudah Adityawarman telah berganti agama dan kebudayaan, yaitu Islam.

Dengan demikian Adityawarman sebagai raja agung hanya berkuasa selama 32 tahun, dari 1343 hingga 1375 M sesuai dengan keterangan prasasti batu yang sampai kepada kita. Sebagai penelitia dan pecinta sejarah, kehadiran Adityawarman dalam panggung sejarah Sumatera sangat berkesan dalam anggapan kami.

Sejarah masa lalu adalah sejarah kita bersama yang tidak boleh dicoret atau dibuang karena berlainan agama. Apa pun keadaannya, Adityawarman adalah juga salah satu nenek moyang bangsa Indonesia yang harus kita hargai karena ia adalah pahlawan besar yang mempertahankan dan menangkal pengaruh Cina ke Sumatera pada zamannya.

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1991. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara II. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.