Rabu, 07 Maret 2012

MATANARI PAKPAK PEGAGAN


MATANARI PAKPAK PEGAGAN

Batak Pakpak-Dairi

Suku Batak Pakpak berasal dari keturunan imigran bangsa atau suku dari India Selatan (kerajaan Colamandala) yang pernah menyerang dan menahlukkan kerajaan Sriwijaya (di Palembang) hingga raja Sri Sangramawijaya Tunggawarman tertawan (1025 M). Kerajaan Sriwijaya ini akhirnya runtuh tahun tahun 1337 M, yang menyebabkan terjadi penyebaran manusia sehingga terbentuk suku Pakpak suak Pegagan sekitar 600 tahun yang silam. Diduga manusia pendatang (imigran) pertama yang masuk ke tanah Pakpak, Karo dan Gayo (Alas) adalah sama nenek-moyangnya, karena kata menyebutkan air (kebutuhan utama manusia) adalah hampir sama. Air bahasa pakpak adalah Lae, bahasa Karo adalah Lau dan bahasa Gayo (Alas) adalah Lawe. Kemiripan kata-kata dalam bahasa Pakpak dengan bahasa Karo adalah relatip besar. Jika di Tanah Karo terkenal Marga Silima, di Tanah Pakpak terkenal Pakpak Lima Suak (sama-sama kata lima).

Batak Pakpak-Dairi terdiri dari lima (5) suak yang menempati wilayah (hak wilayat) masing-masing, yakni:

1. Pakpak suak Boang, di daerah Boang, Singkil, Sbullusalam, daerah Aceh dan sekitarnya.2. Pakpak suak Klassan, di derah Parlilitan, Pakkat dan sekitarnya, misalnya marga di daerah Urang julu (disebut: daerah Sionem Koden) adalah Simbuyak-mbuyak (tidak berketurunan), Turuten, Pinayungen, Maharaja, Tinambunen, Tumangger dan Anak Ampun (artinya anak bungsu, sering disebut Nahampun) dan didaerah pakat marga Meka dan lain lain,3. Pakpak suak Simsim, didaerah kecamatan Kerajaan, Salak dan sekitarnya, misalnya marga Kabeaken, Brutu (Sinaga..?), Padang (Situmorang..?), Padang Batanghari (keturunan Parrube Haji¡­?), Sitakar, Tinendung, dan lain lain.4. Pakpak suak Keppas, misalnya keturunan si Naga Jambe yang mulanya berasal dari daerah Sicikeh-cikeh dan kemudian berkembang didaerah Sidikalang yakni ada 7 marga yaitu, Raja Udjung, Raja Angkat, Raja Bintang, Raja Capah, Raja Gajah Manik, Raja Kudadiri dan Raja Sinamo.5. Pakpak Pegagan, di daerah Pegagan (meliputi daerah Balna Sibabeng-kabeng, Lae Rias, Lae Pondom, Sumbul, Juma Rambah, Kuta Manik, Kuta Usang dan sekitarnya, hanya ada tiga (3) marga, yaitu (1) Raja Matanari, (2) Raja Manik, dan (3) Raja Lingga.

Marga (Raja) Matanari, Manik dan Lingga adalah keturunan Papak Suak Pegagan (disebut si Raja Gagan ataupun si Raja Api). Si Raja Api adalah salah seorang dari Pitu (7) Guru Pakpak Sindalanen (yakni keturunan Perbuahaji) . yang cukup terkenal ilmu kebatinannya (dukun yang disegani , ditakuti dan tempat belajar atau berguru ilmu kebatinan) diketahui melalui legenda yang cukup terkenal di daerah Pakpak, Karo Simalem dan mungkin juga di Gayo ..? (Alas). Apabila Pitu Guru Pakpak Sindelanan bersatu, maka dianggap sudah lengkaplah ilmu kebatinan yang dipelajari orang pada zaman dahulu, yakni meliputi:

1. Raja Api (Raja Gagan) di daerah Pakpak Suak Pegagan, adalah dukun (datu) yang mempunyai ilmu kebatinan Aliran Ilmu Tenaga Dalam, yang menyerupai tenaga Api (misalnya disebut: Gayung Api, apabila kena pukulanya akan terbakar atau gosong, Tinju Marulak, yakni justru orang yang memukulnya yang mengalami efek pukulan, dan lain lain), Ilmu kebatinan yang dikuasai dan dikembangkan si Raja Api dan keturunnya berkaitan dengan pembelaan diri, berkelahi, dan berperang melawan musuh.2. Raja Angin di daerah Pakpak Suak Keppas, adalah dukun yang mempunyai ilmu kebatinan sperti tenaga angin. Kalau angin kuat berhembus (topan) dapat merobohkan yang kuat dan besar. Kalau angin berhembus lambat, tidak akan terasa dan tidak dapat dilihat, tetapi mereka ada. Jadi dapat tiba-tiba si Dukun (yang mempunyai ilmu ini) tiba-tiba ada di depan mata kita.3. Raja Tawar pergi ke Tanah Karo Simalem, adalah dukun yang mempunyai ilmu kebatinan berkaitan dengan obat-obatan ramuan tradisional. Terbukti di daerah tanah Karo Simalem berkembang ilmu pengobatan Ramuan Tradisional, pengobatan Patah Tulang, luka terbakar dan lain lain, yang kadang kala lebih hebat dari pengobatan ilmu medis (kedokteran).4. Raja Lae atau Lau atau Lawe yang pergi ke daerah Tanah Karo Simalem atau daerah Gayo-Alas. Lae = lau = lawe berarti air (bahasa suku Toba disebut aek). Raja Lae adalah dukun yang mempunyai ilmu kebatinan yang dapat mendtangkan hujan, mencegah turun hujan di suatu tempat atau mengalihkan hujan dari satu tempat ke tempat lain (disebut Pawang Hujan).5. Raja Aji di daerah Pakpak Suak Simsim sekitar kecamatan Kerajaan, Salak dan sekitarnya. Raja Aji adalah dukun yang mempunyai aliran ilmu Membuat dan Pengobatan penyakit Aji-ajian (Guna-guna, misalnya Aji Turtur, Gadam,Racun, dan lain lain).6. Raja Besi di daerah Pakpak Suak Kellasen, adalah dukun yang mempunyai ilmu kebatinan yang berhubungan alat-alat terbuat dari besi. Misalnya ilmu tahan (kebal) ditikam dengan pisau, kebal digergaji, terhindar dari atau kebal peluru senjata api, dan lain lain.7. Raja Bisa di daerah Pakpak Suak Boang, adalah dukun yang mempunyai ilmu kebatinan yang berhubungan dengan pembuatan dan Pengobatan yang ditimbulkan oleh Bisa, missal bisa ular, kalajengking, lipan, laba-laba, dll

Setelah si Raja Api mempunyai keturunan 3 orang anak laki-laki, maka salah seorang putranya diberi nama Raja Matanari (berasal dari arti Matahari). Si Raja Api menginginkan ilmu/tenaga kebatinan yang dimiliki putranya harus melebihi tenga Api seperti yang telah dimilikinya. Keinginan si Raja Api, putranya harus mempunyai ilmu kebatinan/tenaga dalam menyerupai tenaga (kekuatan) Matahari.

Pada mulanya Pakpak Pegagan (si Raja Api), bapa dan kakeknya adalah manusia Nomade (mendapat makanan dari alam, hanya memanen hasil hutan dan hasil berburu binatang, menangkap ikan dan tinggal berpindah-pindah). Diduga mereka pertama sekali tinggal sekitar hutan Lae Rias dan Lae Pondom, sehingga perkampungan mereka yang pertama diyakini adalah di sekitar Lae Rias di hulu (takal) sungai Lae Patuk, yakni daerah di atas daerah Silalahi. Kuburan si Raja Api dan orangtuanya serta beberapa keturunannya Raja Matanari diduga disekitar hutan Lae Rias, yang menurut Legenda disebut daerah Sembahan (keramat) SIMERGERAHGAH, Simergerahgah adalah mpung si Perbuahaji (yang memperanakkan si Raja Api = Pakpak Pegagan) keturunan orang/suku Imigran dari India yang masuk dari daerah Barus.

Sesuai perkembangan zaman dan kebudayaan, keturunan Pakpak Pegagan tersebut di atas mengalami perubahan dari budaya Nomade menjadi Petani Berpindah-pindah. Mereka berpindah-pindah mencari lahan yang lebih subur, dan setelah agak tandus kemudian ditinggalkan. Sistim pertanian berpindah-pindah ini mengarahkan mereka dan keturunanya bergerak ke arah Balna Sikabeng-kabeng, Kuta Gugung, Kuta Manik, Kuta Raja, Kuta Singa, Kuta Posong, Sumbul Pegagan, Batangari (Batanghari), Juma Rambah, Simanduma, sampai daerah Tigalingga.

Pakpak Suak Pegagan hanya ada tiga (3) marga yaitu Raja Matanari, Raja Manik dan Raja Lingga.

Sesuai dengan perkembangan kebudayaan, zaman dan sejarah akhirnya masing-masing keturunan 3 putra si Raja Api Pakpak suak Pegagan menempati daerah Balna Sikaben-kabeng dan Kuta Gugungserta sekitarnya (keturunan Raja Matanari), daerah Kuta Manik dan Kuta Raja serta sekitarnya (Raja Manik).dan daerah Kuta Singa dan Kuta Posong serta sekitarnya (Raja Lingga). Kuta (kampung) yang lain adalah perkembangan (pertambahan) pada generasi berikutnya.

Apabila ada marga lain mengaku pernah menjadi raja (berkuasa) di daerah pegagan (misalnya disebut Pendeta Abednego putra Djauili Padang Batanghari sampai 8 generasi mpung mereka tinggal di Balna Sikabeng-kabeng) adalah ¡°pernyataan yang salah¡±, karena hanya 3 marga keturunan suku Batak Pakpak suak Pegagan (Lihat :semua Dokumen Budaya Pakpak). Padang Batanghari adalah suku Pakpak Suak Simsim di daerah kecamatan Kerajan dan Salak dan sekitarnya bukan..?

Pendeta Abednego dan orang tuanya Djauili Padang Batanghari mengaku bahwa Pinggan Matio adalah berru dari nenek-moyang (mpung) mereka Paroltep (si Lantak Padang Batanghari) dan keturunannya sampai 8 generasi tinggal di Balna Sikabeng-kabeng; Kemudian terjadi perang (graha) menyebabkan mereka (Padang Batanghari) terusir dan kembali ke kampung asalnya yaitu Sileuh di kecamatan Kerajaan. Adakah marga Manik dan atau Lingga (Pakpak suak Pegagan selain marga Matanari) yang membenarkan pernyatan tersebut di atas¡­..?..........atau marga Pakpak suak Keppas¡­?............ atau marga Pakpak suak Simsim¡­¡­.?, ¡­¡­. Siapakah keturunan saudara si Lantak (si Sebar Padang Batang Batanghari yang di Sileuh¡­?) yang dapat membenarkan pernyataan di atas¡­¡­.? Kami mohon tolonglah dibuktikan segera kebenaran pernyataan itu.

Sekitar generasi ke 6 dan ke 7 keturunan Raja Matanari telah membangun Rumah Adat Pakpak di Balna Sikabeng-kabeng yaitu zaman kehidupan si Raja Onggu (keturunan Raja Silalahisabungan) yang kawin dengan Rumintang berru Matanari (generasi ke-7). Rumah adat ini dibangun oleh ahli pertukangan (arsitek) dari Batak Pakpak dan Toba (terutama dari Silalahi) yang relatip banyak jumlahnya. Pertanyaan¡­¡­.di mana pada zaman tersebut Padang Batanghari¡­.?. Pohon Beringin (jabi-jabi) yang ditanam Pinggan Matio berru Matanari (disebut; eks tongkat Pinggan Matio). diyakini dihuni oleh arwah ( sahala ni = begu ni) si Raja Onggu + Rumintang berru Matanari (karena kematian mereka tidak normal, si Raja Onggu dihukum mati karena menghina suku Pakpak, dan Rumintang mati gantung diri atas kematian suaminya), walaupun kuburan mereka berdua ini ada di Silalahi.

Menurut Ir Ramses Silalahi (di Jakarta) via SMS dan beberapa Sihaloho dari Pematang Siantar (menurut Antony Matanari), menyatakan bahwa ada di Silencer marga Matanari ( mungkinkah¡­.? si Umar Matanari, si Arden Matanari, dkk) mengaku ada talian darah dengan Pendeta Abednego putra Djauili Padang Batanghari), adalah bukti yang mendukung pernyataan Pendeta Abednego dan orang tuanya Djauili Padang Batanghari, yakni bahwa marga Padang Batanghari pernah tinggal di Balna Sikabeng-kabeng, yang kemudian karena terjadi perang, mereka sebagian terusir dan kembali ke Sileuh, sedangkan sebahagian lagi tertawan dan kemudian merobah marganya menjadi marga Matanari. Tidak masuk akal sehat (logika) ceritra atau pendapat tersebut di atas bukan..?. Tawanan (Padang Batanghari) merobah marga menjadi marga Matanari supaya tidak terusir atau dibunuh musuh (penyerang), adalah alasan yang tidak logis. Apakah tujuan perang tersebut untuk menambah orang bermarga Matanari¡­?. Selayaknya, jika tawanan tidak dibunuh penyerang maka kemudian mereka akan melarikan diri atau pindah ke daerah lain.

Kenapa Padang Batanghari (yang terusir) harus kembali ke Sileuh¡­?, di zaman itu masih banyak lahan kosong di daerah Pegagan bukan¡­?, atau kenapa tidak pergi ke Silalahi (kuta anak berru¡­?) jika benar Pinggan Matio adalah berru Padang Batanghari¡­?. Atau ke daerah wilayah Pakpak Suak Keppas (sekitar Sidikalang) yang masih jauh lebih dekat dari Sileuh,,.? Berapa orang (keluarga) yang terusir dan kembali ke Sileuh¡­?., dan berapa orang (keluarga) yang tertawan yang merobah marga menjadi Matanari (siapa namanya)¡­?. Tidak logis keluarga Padang Batanghari (suami + istri + anak-anak) yang terusir dari Balna Sikabeng-kabeng kembali ke Sileuh karena jarak ini relatip jauh dan sangat luas lahan kosong yang harus dilewati pada zaman itu bukan¡­?.

Jika benar si Umar Matanari dan Arden Matanari, dkk mengaku adalah keturunan Padang Batanghari (menjadi marga Matanari), maka mereka telah membeberkan aibnya sendiri bukan¡­.?. Akibat pernyataan mereka, kami Matanari dapat mengikuti apa keinginan mereka yang sebenarnya. Mungkinkah,,¡­¡­? mereka adalah keturunan orang pendatang menjadi anak angkat keturunan Raja Matanari:? Mpung kami keturunan Raja Matanari sangat merindukan marga Matanari banyak jumlahnya, demikian juga kami sekarang. Ada semboyan mpung kami keturunan Raja Matanari, ¡°sedangkan batang pohon pisang ni gana (kita pahat berbentuk) manusia agar ada teman, apalagi dia manusia¡±. Semboyan inilah yang menyebabkan tanah wilayat raja Matanari mudah (gampang) diberikannya kepada orang pendatang, yang umumnya adalah suku Batak Toba.

Kejadian mengakui anak angkat menjadi keturunannya, adalah hal yang umum (biasa) terjadi pada marga-marga lain (tidak hanya pada marga Matanari). Akan tetapi, walaupun posisi anak angkat, selama ini mereka tetap kami hargai dan memasukkan mereka dalam Trombo Matanari sebagai keturunan ompung kami, kecuali mereka mau meminta nama mereka dihapus dari Trombo Matanari, dengan tanpa rasa menyesal akan kami kabulkan. Bagi kami anak kandung dan anak angkat sama harkat kemanusiaannya, sehingga tidak pernah kami beda-bedakan.

Menurut kami Matanari, lebih gentelemenlah si Umar Matanari dan si Arden Matanari, dkk mengganti marganya dan kembali ke si Leuh (kecamatan Kerajaan) serta membawa tulang-belulang orangtuanya bukan¡­?. Agar mereka kembali menjadi marga Padang Batanghari. Kasihan mereka bukan¡­?, marganyapun sudah dijual (ganti) menjadi Matanari hanya demi dapat tinggal di kampung kita¡­?. Bakune mo ke kaltu¡­.?. Mella kami mendokken, sedaroh mo kita, oda i bedaken kami anak kandung dekket anak angkat..Tapi mella i dokken ke, ke oda marga Matanari be, bagi Matanari oda lot masalah kaltu, tadingken ke saja mo kuta ntai asa sloh bai nene ulang pailailaken mendahi Pagang Batanghari, laos mo ke mi Sileuh, mi kuta ni Padang Batanghari. Njuah-njuah kita karina. ( Artinya, bagaimana kalian ini kawan¡­?. Kalau kami menganggap, kita tetap satu kesatuan, tidak kami bedakan anak kandung dengan anak angkat. Akan tetapi kalau kalian katakan, bahwa kalian bukan Matanari, bagi kami Matanari bukan masalah, tinggalkan sajalah kampung kita itu, pergilah ke Sileuh, ke kampung marga Padang Batanghari¡­.. Salam buat kita semua).

Raja Matanari, selain mempunyai keturunan anak laki-laki yang telah mencapai sekitar 18-19 generasi sampai sekarang, juga mempunyai putri (berru). Keturunan sebagian anak perempuan (berru) kemungkinan sudah melebihi 19 generasi. Laju generasi marga Matanari adalah relatip terlambat dan jumlahnya relatip sedikit sekali. Mungkin hal ini terjadi akibat mpung kami keturunan Raja Matanari banyak yang mengikuti aliran ilmu hitam (animisme). Beberapa generasi keturunan Raja Matanari hanya mempunyai satu anak yang berikutnya mempunyai keturunan dan ada tidak berketurunan. Generasi ke-8 keturunan Raja Matanari j hanya 6 (enam) orang yang berketurunan, yang lainnya tidak berketurunan, atau pergi merantau..?. Penyusunan Trombo secara tertulis dimulai sejak sekitar tahun 1970 adalah berdasarkan ceritra dari keturunan masing-masing, siapa-siapa nama mpung mereka. Jadi kalau ada yang tidak berketurunan, ataupun pergi merantau dan tidak kembali ataupun tidak memberi kabar maka nama mpung mereka otomatis tidak tercatat dalam Trombo Matanari.

Masuknya ajaran agama Islam ataupun agama Kristen ke daerah Balna Sikabeng-kabeng dan sekitarnya lebih terlambat dibanding di daerah lain. Orang Pakpak cukup terkenal memakan daging manusia (musuhnya) bahkan tengkorak manusia tersebut digantungkan di Bale (Jambur) sebagai bukti kehebatan penghuni kampung. Jadi dosa kesalahan orang Pakpak (terutama Matanari) pada zaman dahulu dan mungkin sampai sekarang adalah sangat besar. Untuk itu kami mewakili keturunan Raja Matanari, memohon maaf yang sebesarbesarnya, kepada orang-orang yang pernah dirugikan atau teraniaya ataupun kepada keturunannya, terlebih kepada Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang.

Anak perempuan (berru) dari Raja Matanari dan dari keturunannya yang cukup terkenal (tokoh berru) adalah sebagai berikut:

1. Pinggan Matio berru Matanari istri Raja Silalahisabungan (sebagai Upah Raja Silalahisabungan karena telah berhasil mengobati penyakit istri Raja Matanari).2. Ranimbani berru Matanari istri Raja Sihaloho putra Raja Silalahisabungan.3. Adek si Ranimbani berru Matanari istri Raja Bintang4. Adek si Ranimbani berru Matanari istri Raja Maha.5. Rumintang berru Matanari istri si Raja Onggu keturunan Ruma Sondi (Pohon Beringin yang ditanam si Pinggan Matio di Balna Sikabeng-kabeng diyakini masyarakat sebagai tempat keramat, disebut Sembahan si Raja Onggu- Rumintang berru Matanari).6. Siberru Taren berru Matanari istri Raja Manungkun keturunan Batu Raja., yang mendapat tanah Rading Berru di Tamberro.

Kami Matanari mengakui, bahwa sesama kami keturunan Raja Matahari sering berkelahi bahkan berperang, akibatnya ada sebahagian mereka keturunan mpung kami pergi merantau. Mereka sebagian belum kami ketahui kabarnya, apakah mereka tetap marga Matanari atau telah merobah marganya menjadi marga lain juga belum kami ketahui. Mungkinkah keturunan hulubalang Raja Matanari (Paroltep) adalah anak keturunan Raja Matanari menjadi marga lain¡­? Kami sangat merindukan mereka, kami menginginkan marga Matanari lebih besar jumlahnya, makin kuat eksistensinya, sehingga tidak terjadi lagi diperantauan penggantian marga Matanari menjadi marga Sihotang, Karo-Karo, Sinulingga, Sitepu dan lain lain.

Sebahagian keturunan Raja Matanari mengaku dirinya keturunan Oppu Saggapulo putra Oppu Borsak Sihotang Pardabuan Uruk adalah pengaruh ikatan (Pesta) SILIMA TALI di Sumbul Pegagan sekitar tahun 1957. Ikatan dan Pesta Silima Tali diadakan adalah berdasarkan pada kepentingan yang saling menguntungkan antara suku Pakpak suak Pegagan (Matanari, Manik dan Lingga) dengan suku Batak Toba (marga Sihotang). Orang Pakpak suak Pegagan ingin mempermudah segala urusan (kepentingan) yang berkaitan dengan berbagai urusan terutama bidang pemerintahan yang pada zaman tersebut berpusat di Tarutung. Demikian juga Sihotang ingin memperkuat eksistensinya di daerah Pakpak suak Pegagan maupun suak Keppas. Matanari memberikan tanah dan parhutaan kepada marga Sihotang, disebut huta Sihotang dekat Balna Sikabeng-kabeng.

Ikatan (Pesta) Silima Tali terdiri dari 5 unsur yaitu (1) Sihotang, (2) Matanari, (3) Manik, (4) Lingga dan (5) marga-marga Berru-Berre dari 4 margatersebut di atas. Pesta (Ikatan) Silima Tali, menjalin ikrar bahwa 4 marga tersebut di atas dinyatakan Sisada Anak dan Sisada Berru. Pada waktu selanjutnya, pengaruh Pesta (ikatan) Silima Tali menjadi lebih besar pada marga Matanari. Yaitu menyebabkan marga Matanari sebahagian melupakan ikrar sisada anak sisada berru, yakni berubah menjadi mengakui bahwa marga Matanari adalah anak (keturunan) Oppu Saggapulo putra Oppu Borsak Sihotang Pardabuan Uruk Kenyataan ini terjadi tidak lepas dari akibat jumlah keturunan marga Raja Matanari sangat sedikit dan pendidikan masih terbelakang, sebaliknya marga Sihotang jumlah keturunannya banyak dan berpendidikan lebih maju,.

Selain marga Matanari, juga marga Manik dan sebahagian marga Lingga mengaku keturunan marga Sihotang. Hal ini terjadi dengan alas an yang hamper sama dengan yang telah diuraikan diatas (kepentingan yang saling menguntungkan). Demikian halnya, pengaruh marga Sihotang berpengaruh besar sampai pada marga marga Pakpak Kepas (Raja Udjung, Raja Angkat, Raja Bintang, Raja Capah, Raja Gajah Manik, Raja Kudadiri dan Raja Sinamo), ke tanah karo Simalem marga Sitepu dan semua marga Karo-karo umumnya, di daerah Simalungun marga Sitopu, Semua marga-marga tersebut di atas, terutama di daerah perantauan merasa (mengaku) satu dengan marga Sihotang. Sehingga ada beberapa orang menyebutkan istilah ¡° Sihali Mas¡± (singkatan dari: Sihotang, Hasugian, Lingga, Manik, Matanari, Sitepu, Sitopu dan Semua yang termasuk Karo-Karo Mergana), yang artinya adalah Pengali Emas atau Penggali Emas. Harus diakui bahwa marga Sihotang cukup hebat menjalin persaudaraan dalam suku Batak Toba, Pakpak, Karo dan Simalungun. Horas¡­.Njuah-njuah¡­.Mejuah-juah buat yang kami hormati Oppung/ Bapa/ Abang/ Adek/ Anak/ Cucu marga Sihotang di mana pun mereka berada..

Demikian disampaikan untuk diketahui semua halayak, dan dengan demikian diharapkan bahwa:

1. Tidak ada lagi keturunan raja (marga) Padang Batanghari yang mengakupernah tinggal di Balna Sikabeng-kabeng (mulai si Lantak sampai keturunannya generasi ke-8) kemudian terusir dan kembali ke Sileuh akibat perang.2. Marga Matanari dengan Sihotang adalah Sisada Anak Sisada Berru berdasarkan Pesta (ikatan) Silima Tali sekitar tahun 1957 di Sumbul Pegagan, jadi marga Matanari bukanlah keturunan (anak) Oppu Saggapulo putra Oppu Borsak Sihotang Pardabuan Uruk, melainkan Matanari, Manik dan Lingga adalah anak (keturunan) Pakpak Suak Pegagan.

Jikalau ada kata-kata yang kurang berkenan, penulis mohon maaf, dan dengan senang hati dapat menerima semua kritik demi penyempurnaan catatan sejarah penting buat kita yang memerlukannya sekarang dan waktu kelak.

Njuah-Njuah¡­..Mejuah-juah¡­¡­Horas
Salam dan hormat saya
Penulis: Ir. Jawaller Matanari, MS
Putra Pendeta Ds. Josep (mpung Sich Jerry) Matanari. Kuta Gerat Pegagan.
Ketua PERMANA Medan dan Sekitarnya.
Mobile: 081361149346
ABC