Minggu, 04 Maret 2012

TEKA-TEKI SEMBIRING

TEKA-TEKI SEMBIRING


  Dalam kitab konstitusi Dinasti Pardosi, penguasa negeri Barus, disebutkan bahwa sumber dari segala sumber hukum di kerajaan tersebut berasal dari adat Batak, Bugis, Cheti, Islam dan lain-lain.

  Sayangnya dalam kitab konstitusi tersebut tidak disebutkan apa dan siapa bangsa Cheti tersebut. Walau dapat dimengerti, melalui penjelasan pasal-pasalnya, bahwa orang Cheti itu adalah orang Keling atau Bangsa Tamil.

  Herannya adalah, tidak ada definisi khusus mengenai orang Tamil dan bagaimana kondisi mereka dalam sistem sosial kerajaan. Tidak seperti Kerajaan Aceh, yang mengasimilasikan orang Tamil (India) dan Batak dalam sistem sosial masyarakat

  Di Bawah pemerintahan Alauddin al-Kahhar (1530-1552) di Aceh dilakukan pembagain klasifikasi rakyat atau strata sosial menurut suku dan asal usulnya.

  Orang-orang Mante-Batak atau penduduk Batak pribumi asli dinamakan dengan sukee lhee reutoih (suku tiga ratus), orang-orang India dimasukkan ke dalam kaom imeum peuet (kaum imam empat). Sedang para imigran dinamakan kaum tok batee (kaum yang mencukupi batu). Terakhir sekali dibentuklah kaom ja sandang (kaum penyandang).

  Para imigran Hindu, yang memang terdiri dari empat kasta, tadinya tergolong dalam kaum empat yang berdiam di tanah Abee, Lam Leuot, Montasiek dan Lam Nga. Mereka akhirnya menganut agama Islam dengan pemimpin kelompok yang bergelar imeum (imam).

  Namun, di tanah Batak, tidak ada klasifikasi secara resmi seperti tersebut di atas. Diyakini orang-orang Tamil, berasimilasi secara sukarela dengan adat Dalihan Na Tolu yang menjadi sistem budaya, sosial dan adat Bangsa Batak.

  Prof. Van Ronkel beranggapan bahwa kata-kata seperti gudang, kuli, suasa, kodi, kolam, peti, niaga, bedil dan tembaga, berasal dari bahasa Tamil (Het Tamil Element in Het Maleisch oleh Van Ronkel, Tijdschr. No. 45 Tahun 1902). Perlu kita ingat bahwa kitab adat Batak disebut Kitab Tumbaga Holing. Tumbaga adalah Tembaga yang berasal dari bahasa Tamil dan Holing adalah Keling atau sebutan untuk Tamil.

Begitu juga dengan kata-kata yang dipakai setiap hari seperti marapulai, pualam, cemeti, jodoh, gundu, badai, kolam, belenggu, dahaga, kanji, mahligai (ingat makam mahligai di Barus!), talam (nama kue), onde-onde, apam dan serabi. Melihat dari variasi bahasanya dapatlan kita simpulkan bahwa orang Tamil di tanah Batak berprofesi sebagai orang ‘biasa’ atau pedagang.

  Beberapa ahli berpendapat bahwa orang Batak Karo, khususnya marga Sembiring, merupakan orang yang paling banyak mendapat pengaruh dari budaya Tamil ini. Bahkan ada yang mengatakan bahwa Sembiring merupakan keturunan Tamil.

  Lucunya, Guru Patimpus putera Si Raja Hita yang merupakan putera dari Sisingamangaraja alias Mahkuta alias Manghuntal disebutkan juga bermarga Sembiring. Namun penabalan marga dalam sejarah sering membingungkan, karena penyusunan dan stratifikasi marga baru dilakukan pada zaman Belanda.

  Memang ada yang berpendapat bahwa sebenarnya Tarombo dalam masyarakat Batak merupakan kiasan dari konstelasi politik kuno di tanah Batak. Misalnya nama Sariburaja dalam salah satu tarombo Batak, sebenarnya bukanlah nama orang tapi nama sebuah kerajaan yang pernah berkuasa meliputi tanah Batak dan semua Sumatera yakni Sriwijaya.

  Maka begitu juga nama marga Sinambela. Apakah ini nama orang atau hanya gelar saja, saat itu, yang ditujukan kepada seseorang yang mempunyai kharisma dan kebiasaan mulia yang selalu membela mereka yang teraniaya seperti apa yang ditunjukkan oleh Manghuntal selama hidupnya. Dia melunasi utang para korban rentenir, memerdekakan budak dan lain sebagainya. Sinambela berarti orang yang selalu membela dari anarki kemungkaran dan kemaksiatan.

  Merujuk dari kenyataan ini patut dipertanyakan penyusunan marga dan Tarombo yang dilakukan berdasarkan inisiatif beberapa pegawai Belanda di zaman penjajahan. Revaluasi dan riset kembali sangat dibutuhkan untuk melihat sisi-sisi sejarah yang digelapkan dengan sistem pohon geneologis yang disandarkan kepada anggapan bahwa seakan-akan itu sudah baku berdasarkan informasi Belanda. Bisa saja 80 persen marga dan Tarombo tersebut sudah mendekati kebenaran namun terdapat beberapa kelainan yang patut dipertanyakan. Oleh karena itulah banyak ahli sejarah Batak menempatkan Tarombo sebagai sumber pembanding saja setelah sumber utama dalam penulisan sejarah.

  Kembali ke persoalan Sembiring, banyak nama marga dan sub-marga rumpun Sembiring seperti Pandia, Meliala dan Cholia, berasal dari bahasa Tamil. Begitu juga dengan rumpun Borbor di daerah Toba atau Dairi (Lihat karangan Stein Callenfels dalam Oudh, Tahun 1920 hal. 73)

  Membakar mayat dan menghanyutkannya sebagian dari tulang-tulang di sungai umpamanya, menurut Joustra (Meededeelingen Omtrent en Opmerkingen naar Aanleiding v.h. Pek Oeloeh of het Doodenfest der Marga Sembiring. Tijdschr No. 45 Tahun 1902) adalah kebiasaan marga Sembiring yang mungkin berasal dari Tamil.

  Bila kita membaca berbagai literatur mengenai struktur masyarakat Batak dan kehadiran para imigran dapatlah kita simpulkan bahwa Bangsa Batak merupakan bangsa yang terbuka dengan kebudayaan dan pengaruh dari luar. Walau secara teritorial mereka sangat menutup diri dari hingar-bingar perpolitikan seperti perang dan penjajahan.

  Sistem budaya Batak kuno sangat terbuka dengan masuknya keberagaman budaya asing sehingga orang-orang Bugis, Melayu, Aceh dan lain sebagainya dapat masuk menjadi bagian dari adat Dalihan Na Tolu dengan mudah.

Namun, bukanlah berarti bahwa semua kekayaan peradaban Batak berasal dari para imigran semata. Seperti banyak orang mengatakan bahwa peradaban Batak merupakan dari serapan dari kebudayaan India semata. Justru yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana dan apa yang menjadi perekat yang menyebabkan orang asing datang dan bermukim di tanah Batak dan bahkan menjadi orang Batak dengan marga-marga baru mereka.

  Diyakini, pluralisme yang ada dalam nilai-nilai sosial Batak, telah menjadi faktor utama yang menyebabkan orang-orang asing merasa nyaman menjadi orang Batak. Setidaknya inilah yang terjadi pada sejarah kuno Batak sebelum datangnya orang Eropa yang menghancurkan semua tatanan tersebut.

  Faktor lainnya adalah, perkembangnya ilmu pengetahuan seperti yang termaktub dalam pustaha-pustaha Batak yang mengundang para ilmuwan asing kuno untuk menyerap kebudayan Batak dan dibawa ke negeri masing-masing.

  Peta dunia ala Ptolemy diyakini merupakan serapan dari pemahaman Naga Padoha Batak, saat Ptolemy datang ke tanah Batak di abad ke-2 M. Begitu juga dengan ekspedisi-ekspedisi maritim Fir’aun di tahun 2000 SM ke negeri-negeri jauh untuk menggali ilmu. Yang salah satu diantaranya diyakini berlabuh di negeri Batak.

  Faktor lain tentunya adalah hasil tambang dan perkebunan tanah Batak kuno yang khas dan spesifik yang tidak ditemukan di tempat lain. Sayangnya, peta-peta jalur laut ke tanah Batak selalu dirahasiakan oleh penemunya sehingga tanah Batak menjadi tidak masyhur saat itu. Barulah kedatangan pelaut-pelaut Arab di tahun 8 M membuka tabir dari kemisterian tanah Batak saat itu.

  Namun, konstelasi sosial politik tanah Batak tidak saja terjadi antara Batak dan asing tapi juga antara Batak itu sendiri. Khusunya antara Toba dengan Karo yang pada akhirnya berhubungan dengan marga Sembiring ini.

  Karo adalah sub-suku Batak yang telah memisahkan diri secara identitas sejak tahun 1200-an dengan nama kerajaan Haru Wampu. Orang Karo tinggal di kaki bukit barisan. Orang aseli Karo sebelum adanya asimilasi dengan asing masih tersisa di daerah Siberraya dekat dengan Deli Tua. Mereka ini disebut Karo Sekali karena mereka merupakan orang Karo yang masih aseli. Karo dalam penyebutan bahasa Asahan adalah Haro.

  Di dataran tinggi, terjadilah invasi dari orang Toba dan Dairi. Orang-orang tersebut bermarga Barus, Lingga dan Sitepu yang kemudian menetap di tanah Karo. Namun, bagi orang Karo aseli, mereka ini bukanlah suku Karo yang aseli sehingga mereka disebut dengan istilah Karo-karo.

  Mereka ini membuat perkampungan sampai ke dataran rendah dekat Deli Tua dan Binjai. Marga Tarigan datang dari Dolok dan Simalungun dan juga dari Lehe (Dairi) berjalan menuju Nagasaribu dan Jupar. Satu cabang marganya turun ke pesisir timur, Ale-Deli dekat Pulau Brayan, dan bahkan sampai ke Siak (W.B. Hollman dalam Nota 1932 dalam ‘Adatrechtsbundels”, xxxviii, hal 375 etc.

  J.H. Neuman menduga mereka pindah bergelombang dari dataran tinggi, karena adanya desakan dari orang-orang India Tamil yang datang dari arah Singkil dan Barus yang masuk masuk ke tanah Karo dan juga karena marga Sembiring diusir dari Aceh. (Bijdrage tot de Geschiedenis der Karo Batakstammen”, BKI 1926). Ini berarti bahwa orang Tamil dan Sembiring adalah beda atau kemungkinannya orang Tamil yang terusir tersebut akhirnya menetap di Medan dengan marga Sembiring.

  Sedangkan marga Ginting datang via Tengging lewat pegunungan (Layo Lingga) masuk Tanah Karo. Banyak pula daerah mereka yang diambil oleh komunitas Sembiring. Marga Perangin-angin datang melalui Pinem dan Layo Lingga. Mereka menuju ke utara, ke Kuta Buluh dan ke seberang barat Gunung Sinabung. Juga mereka melintasi pegunungan menuju dataran rendah dekat Binjai. Hanya Perangin-angin Batu Karang yang datang dari arah Siantar, tapi akhirnya mengaku juga datang via Dairi.

Sembiring Kembaren datang melalui Lau Baleng dan via Samperaja (Liang Melas), masuk Bahorok di Langkat. Ada juga yang terus ke tanah Alas. Invasi yang terakhir adalah dari marga-marga Sembiring lainnya yakni Brahmana, Meliala, Depari dan lain-lain yang juga melalui jalan tadi agak ke timur menghulu Sungai Biang dan menuju arah Siberraya.

  Jika ditelusuri cerita dari Perbesi, maka marga-marga Sembiring ini baru masuk Dusun Deli dan Serdang kira-kira 150 tahun yang lalu. Marga-marga ini sangat sedikit dan tidak pernah menjabat Kepala Kampung (Penghulu atau Perbapaan) di Dusun Deli dan Serdang. Jadi hampir semua dari mereka ini datang dari Hulu Sungai Singkel dan hulu sungai-sungai di sebelah pantai Barat Sumatera.


Sumber:
http://tarumon.blogspot.com/2007/01/teka-teki-sembiring.html