Rabu, 06 Juni 2012

Wisata di Kabupaten Padang Lawas Utara

Wisata di Kabupaten Padang Lawas Utara
Candi Portibi, Aset Budaya Milik Sumatera Utara. Candi Portibi terletak di Kabupaten Padang Lawas Utara. Didirikan oleh Raja Rajendra Cola yang menjadi Raja Tamil Hindu  Siwa, di India Selatan yang diperkirakan sudah berusia ribuan tahun. Kerajaan portibi merupakan kerajaan yang sangat unik. Keunikan pertama dari segi namanya yaitu portibi, Portibi dalam bahasa Batak artinya dunia atau bumi. jadi dapat diartikan kerajaan portibi merupakan kerajaan dunia. Keunikan kedua, portibi merupakan pelafalan Batak atas kata Pertiwi atau di India dikenal dengan nama Pritvi. Nama Pritvi ini sekarang dipakai menjadi nama sebuah rudal India. Diduga, intrusi orang-orang Hindu secara organisasi kemiliteran terjadi hanya di daerah ini  di  tanah Batak.



Kedatangan orang Hindu tersebut diduga berdasarkan kepentingan ekonomi dalam perebutan sumber emas yang menjadi komoditas berharga saat itu. Sebab Kerajaan Portibi sangat dikenal sebagai tanah emas karena di wilayah ini sangat mudah didapati emas dengan hanya menyiramkan air ke tanahnya. Bahkan tanah batak juga sangat dikenal sebagai tanah yang paling disukai ‘Tuhan’ karena hanya disinilah tumbuh sebuah pohon yang sangat disukainya yakni kemenyan yang bermutu tinggi. 

Kini candi tersebut terlupakan dari perhatian pemerintah sehingga keadaannya sangat memprihatinkan.Terdapat 3 bangunan candi di perkampungan Bahal dengan bentuk bangunan yang berbeda dan terpisah di beberapa tempat yang tidak terlalu jauh jaraknya. Candi pertama terletak tidak jauh dari di simpang bahal yang bangunannya lebih besar dibandingkan kedua candi yang lain. 

Candi kedua letaknya lebih dekat dengan perkampungan warga Sibatuloting sedangkan candi ketiga bangunannya lebih kecil dibandingkan dengan bangunan candi lainnya yang terletak di pertengahan kebun milik warga. Pemandangan di sekitar candi masih asri dengan hamparan sawah yang menghijau dan juga perkebunan sawit milik warga.Kondisinya tampak kurang terawat dan kian waktu kian terpuruk kelestariannya. Di dalam bangunan candi terdapat ruangan kecil yang menyebarkan aroma tidak sedap akibat kotoran hewan hingga kotoran manusia sedangkan relief di sekitar candi sendiri sudah banyak yang rusak dan hilang. Lingkungan disekitar candi sangat kotor  dipenuhi rumput liar dan ilalang yang sudah tampak meninggi. Di depan bangunan candi terdapat sebuah laboratorium yang bangunannya sudah tidak berdiri kokoh lagi.Dinas kebudayaan sendiri kurang perhatian untuk pelestarian bangunan dan tidak memperhatikan kondisi jalan menuju Candi Portibi. Sehingga membuat wisatawan mancanegara maupun lokal enggan untuk mengunjunginya. 

Salamuddin, seorang warga sekitar berharap agar diadakan perbaikan terhadap candi maupun akses menuju kesana. “Sebaiknya Candi Portibi diperbaiki tanpa menghilangkan nilai sejarahnya dan jalan juga di aspal sehingga memberikan dampak positif untuk warga, khususnya kampung Sibatuloting,” tambah Salamuddi. (Herlina Siregar)


http://akhirmh.blogspot.com/2011/02/wisata-di-padang-lawas-utara.html
_______________________________________________________________________________




Objek wisata Paluta tetap padat
WASPADA ONLINE

GUNUNGTUA  - Pasca 6 Lebaran, pengunjung di objek wisata sejarah Candi Bahal Portibi, Kabupaten Padanglawas Utara masih padat.

  “Masyarakat Padanglawas Utara, Padanglawas dan sekitarnya, yang juga hendak balik masih melakukan perjalanan wisata sejarah di Candi Bahal Portibi,” kata anggota DPRD Padanglawas Utara, Ashar Efendi Hasibuan, pagi ini.

Ashar mengatakan, mudik wisata di Padanglawas Utara biasanya mengunjungi Candi Bahal Portibi.

Pantauan di Jalan lintas Gunungtua-Sibuhuan, Portibi, arus kendaraan mulai terlihat semakin meningkat dan rata-ratanya menyempatkan mengunjungi Candi Bahal Portibi.

Namun hal ini sangat disayangkan, karena pengunjung yang begitu membludak hanya pada saat lebaran saja. Sedangkan untuk hari biasa Candi Bahal Portibi sepi dari pengunjung.

Pengunjung Candi Bahal makin berkurang, sementara banyaknya kutipan disinyalir untuk kepentingan pribadi membuat wisatawan lokal enggan berkunjung.

Manurut pantauan, pengunjung  datang dari berbagai berbagai daerah dan  mayoritas dari Tabagsel mengeluhkan kutipan yang mahal,  padahal tempat parkir hanya di pinggir jalan dan bukan  disediakan oleh pengutipnya.

Besarnya kutipan yang dialaskan sebagai uang parkit  bervariasi, roda empat Rp10 ribu, roda dua Rp3 ribu hingga Rp5 ribu, sedangkan di karcis parkir yang disediakan pengutip tidak menyebutkan besarnya biaya parkir.

Seorang pengunjung asal Padanglawas Habib Hasibuan,  warga Kab. Padanglawas kepada Waspada mengatakan,  jika hanya sekedar uang parkir dalam jumlah yang biasa tidak merasa keberatan, namun hal ini dinilai terlalu berlebihan.

Menurutnya, kutipan  itu  hanya ulah pemuda yang yang mencari keuntungan di lokasi milik pemerintah, karena karcis hanya bertuliskan parkir Candi Portibi yang tidak memakai lambang atau logo pemerintah.

Editor:  SASTROY BANGUN
(dat04/wsp)


Sumber:
http://waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=143068:objek-wisata-paluta-tetap-padat&catid=15:sumut&Itemid=28


__________________________________________________________________________



Paluta, (Analisa). Panorama alam Siholbung yang terletak di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Gunungtua -Padangsidimpuan tepatnya di Desa Siholbung, Kecamatan Padangbolak Julu, Kabupaten Padanglawas Utara (Paluta) sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai objek wisata alam di wilayah Paluta.
Selain berpotensi sebagai objek wisata alam, perbukitan Siholbung juga sangat cocok untuk dikembangkan sebagai areal lokasi terbang layang dan panjat tebing karena terletak pada ketinggian. Di mana pada dinding bukit jarang ditumbuhi tumbuhan karena terdiri dari batu terjal sehingga pepohonan yang yang tumbuh disekitar perbukitan tampak tertata rapi.

Wakil Ketua Forum Kajian Peduli Paluta, Yusmanidar Siregar (26), saat melintas di areal tersebut, mengaku takjub melihat panorama alam siholbung, namun sayang pihak terkait tidak mengembangkan objek wisata alam tersebut untuk berdaya guna,

"Saya sangat takjub melihat pemandangan panorama alam siholbung, namun sayang, hingga saat ini belum ada inisiatif dari instansi maupun pihak terkait dilingkungan pemda Paluta untuk mengembangkan panorama alam ini menjadi sebuah objek wisata yang berdaya guna," katanya kepada Analisa, Sabtu (21/4).

Ia menambahkan, alam di wilayah Padanglawas Utara memiliki potensi pariwisata yang sangat besar dan terbentang di 9 kecamatan yang ada. Kini saatnya pemerintah daerah untuk mengembangkan potensi-potensi alam termasuk panorama alam siholbung.

"Kita akui bahwa untuk mengembangkan sektor pariwisata tidaklah mudah seperti membalikkan telapak tangan saja. Tentunya membutuhkan waktu, data dan juga anggaran yang tidak sedikit. Namun demikian, yang terpenting saat ini adalah bagaimana memberikan pemahaman pariwisata kepada masyarakat, untuk itu kita berharap pihak terkait membuat terobosan terhadap pengembangan objek wisata pariwisata di seluruh Paluta termasuk Panorama alam siholbung," pintanya. (ong)

Sumber:

3 komentar:

  1. Potensi wisata dipaluta ternyata cukup banyak itu saja baru yng ada di siholbung belum lagi kalau kita melihat mengarah arah sipiongot itu mulai dari sungetolang melintasi lereng bukit barisan beberapa desa yng ada didalam hutan trrmasuk kec halongonan. Kalau kita kaji dan duduk bersama. Disan bayak terdapat. Ngarai air terjun bukut batu yng sangat. Bstu pugit. Bahkan ada terowongan yng dipakai jaman belada yng panjanya. 800 m belum lagi tanah udara kesubururan kalau pemerintah stempat bisa memberikan akses srkitar pardoli. Kalau di kekola itu saya yyakin lebih potrnsial dsri pada puncah yg ada di jawabarat baik potensi wisata lebih lebih potensiusaha . Tnaman plawiija . Harapan kepda pemerintah. Kita maksimalkan potensi daerah kembsngkang daerah. Insya aalah putra putra terbaik paluta akan pulang dari rantaunya. (Pedi siregar- desa sitonun) paluta

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga harapan itu dilaksanakan, tetapi perlu juga usaha kita lebih diperbesar untuk menghimbau pemerintah maupun DPRD agar mereka mulai memikirkan itu.

      Hapus
    2. Himbauan itu harus dilakukan secara terus-menerus sampai pemerintah melakukannya.

      Hapus