Kamis, 07 Juni 2012

Petani Kabupaten Tanah Karo Dan Dairi: Menabur Jagung, Menuai Dollar


Petani Kabupaten Tanah Karo Dan Dairi:  Menabur Jagung, Menuai Dollar
Dikutip dari Harian Waspada, 25 Juni 2001

Hamparan hijau membentang luas di tanah perbukitan. Bagai di tengah lautan hijau, ketika melalui jalan kerikil yang berkelok seribu di perkebunan jagung di Kabupaten Tanah Karo dan Dairi.

Puluhan ribu hektare tanaman muda adalah hasil kerja petani ulet dan tekun yang telah menyatu dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di sana. Di dataran tinggi sepanjang kaki gunung Bukit Barisan, tepatnya di Kab. Tanah Karo dan Kabupaten Dairi, ibu-ibu yang menggendong anak dan menjunjung barang bawaan adalah pemandangan yang lazim.

Pemandangan yang demikian menyentuh itu disaksikan langsung Kepala Perwakilan Waspada Banda Aceh, Adnan NS, Sos dan Kepada Koordinator Waspada Aceh Utara, Drs Bustami Saleh sepanjang perjalanan hingga ke perbatasan Provinsi Aceh, baru-baru ini.

Kala itu, ketika pagi menjelang siang, udara lembab dan masih basah ternyata tidak menyurutkan langkah para petani ulet di dua kabupaten yang bertetangga dengan Kabupaten Aceh Tenggara dan Aceh Singkil.

Pemandangan asri di kejauhan terlihat kabut putih tersaput di permukaan kaki gunung dan sisa embun masih menempel di permukaan daun. Udara terasa bersih dan segar. Di dataran yang agak tinggi, terhampar sepanjang mata memandang dengan leluasa ladang jagung dan sayur yang diusahakan di tanah bebukitan yang menanjak dan menurun.

Beberapa petani terlihat sedang sibuk mengurus dan merawat tanaman. Tanaman yang hijau menjanjikan rezeki yang baik bagi pemiliknya. Para petani selalu semangat bekerja, kadang tidak memperdulikan peluh. Tanaman yang tumbuh subur memberikan inspirasi, kegembiraan yang menghilangkan rasa lelah.

Menurut Tempat Karokaro, 49, seorang petani di Desa Lou Mencelo, Kab.Dairi, pertanian adalah sumber kehidupan yang menopang hajat hidup masyarakat di sana. "Umumnya petani di sini mengandalkan jagung sebagai tanaman paling utama, di samping tanaman muda lainnya seperti sayur dan palawija. Demikian pun petani yang tinggal di daerah ini tidak melupakan tanaman keras seperti kelapa," ujarnya dalam kesempatan berbincang dengan penulis.

Disebutkan ayah empat anak tersebut, pilihan jagung sebagai komoditi primadona bagi petani di daerah ini dikarenakan banyak faktor yang mendukung.

Pendapat senada juga diungkapkan sejumlah petani di daerah ini. Kata mereka, tanaman jagung lebih mudah dan efesien cara menanam dan merawatnya. "Selain itu dalam setahun tiga kali panen, hasilnya lebih banyak dan lebih menguntungkan dibandingkan tanaman muda lainnya," ujar seorang rekan Tempat Karokaro.

Puluhan ribu hektare tanaman jagung itu dikuasai para petani setempat yang sebagian berasal dari warga pendatang. Kadar tanahnya yang subur, mengundang para petani di luar daerah untuk menggarap tanah di daerah perbukitan ini memang. Tanahnya yang berwarna hitam kecoklatan mengandung kadar humus yang padat.

Tanah di sini memang sangat cocok untuk tanaman sejenis jagung, palawija dan sayur-sayuran. Maka tidak ayal lagi jika para petani mengandalkan jagung sebagai tanaman utama bagi pendapatan petani setempat.

Untuk mendapatkan hasil produksi yang lebih baik lagi, para petani juga mengutamakan dan memilih bibit unggul. Rata-rata untuk mendapatkan hasil yang baik, bibit jagung yang digunakan petani sebagian besar sejenis jagung pioner 4, pioner 10, pioner 12, c 7 dan Bisi 1.

Pengamatan di lapangan, hasil panen jagung tergolong cukup melimpah. Dari satu hektare areal tanaman jagung dapat menghasilkan 7,5 ton, dengan harga Rp. 1200 per kilo. Satu hektare tanaman jagung mampu mendatangkan uang hingga Rp.9 juta.

Hasil produksi mereka umumnya dipasarkan ke kota-kota besar di Sumatera, seperti Medan. Lalu pedagang besar mendistribusikannya hingga ke pulau Jawa dan manca negara melalui pelabuhan Belawan. Bayangkan saja jika seorang petani memiliki lebih dari tiga hektare tanaman jagung. Berapa dolar yang mampu mereka dapatkan?

Dikisahkan Tempat Karo-karo dan kawan-kawannya, pada musim panen, suasana menjadi sangat sibuk dan meriah. Arus kendaraan seperti truk tanpa henti lalu-lalang mengangkut hasil panen ke Medan. Hasil panen jagung yang demikian melimpah mengundang "toke" dari Medan untuk mengangkut hasil pertanian.

Para petani jagung setempat ibarat menuai dolar dari biji jagung yang mereka taburkan di tanah bebukitan tersebut. Hasil yang demikian melimpah dapat mereka peroleh tiga kali dalam 14 bulan. Musim panen tiba, musim menuai dolar bagi petani di desa tersebut.

Kenyataan seperti ini membuat perasaan miris di hati penulis yang berasal dari "kota gas" di Aceh Utara. Masyarakat Lhokseumawe sebagai ibukota yang dijuluki "petro dolar" saja, tidak banyak yang mangait untung hingga puluhan juta rupiah perbulannya.

Eksplorasi gas yang dilakukan perusahaan multi nasional hanya mendatangkan dolar hasil penjualan gas dari perut bumi Aceh. Ironisnya, dolar-dolar itu hanya mengalir ke pusat, dan bercokol di dalam laci dan peti uang pengusaha/kontraktor di perusahaan itu atau para karyawannya yang hanya segelintir.

Masyarakat pribumi Aceh Utara terpaksa gigit jari dan menghitung di atas meja warung kopi atau pos jaga, tanpa menikmatinya. Fakta berbicara, para pemuda Aceh Utara enggan memegang cangkul dan sering bermimpi duduk di kursi empuk dalam perusahaan raksasa di lingkungan mereka.

Sedangkan pemuda yang berani bergulat sebagai petani di Tanah Karo dan Dairi, pagi-pagi membawa cangkul dan menjinjing parang untuk mengutip dolar dari ladang-ladang jagung mereka.

Dolar-dolar itu, meskipun sudah agak lusuh tapi senantiasa setia dalam dompet dan saku baju petani ulet dan gesit itu. Tak perlu perduli siapa menjadi apa di Jakarta... Drs. Bustami Saleh


Sumber:
http://www.salahketik.com/tanahkaro/Berita-W250601.htm