Wednesday, April 8, 2015

Jaga Kelestarian Budaya dengan Lokakarya

Jaga Kelestarian Budaya dengan Lokakarya

METROSIANTAR.com, TAPSEL – Dalam pelestarian adat budaya agar tidak mudah tergerus kemajuan zaman, Pemkab Tapsel melalui para tokoh adat dan perusahaan yang peduli dengan adat budaya menggelar lokakarya sehari tentang memahami isi karya tulis Haji Chalifah Sutan Tinggi Barani Perkasa Alam (HCSTBPA), Senin (30/3), di Tor Sibohi Nauli Hotel, Sipirok.
Dalam setiap isi karya tulisannya adalah mengenai adat dan budaya masyarakat Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel).
Kegiatan lokakarya tersebut  yang bertujuan memetakan segi-segi khasanah adat dan budaya Tapsel yang ditulis dan didokumentasikan lewat 43 judul sastra yang dikenal di dalam dan luar negeri dibuka secara resmi oleh Bupati Tapsel Syahrul M Pasaribu.
Pada kesempatan itu Syahrul Pasaribu mengatakan, tokoh-tokoh adat perlu mendapatkan perhatian khusus dari berbagai kalangan, termasuk kalangan swasta, yang menjadi pemangku kepentingan dalam pelestarian adat istiadat dan budaya.
“Kami berterimakasih kepada semua pihak hingga  terlaksananya kegiatan lokakarya sastra adat dan budaya HCSTBPA yang merupakan pertama kalinya di Tapanuli Selatan.
Kami berharap melalui kegiatan lokakarya ini, para peserta dapat memberikan masukan dan pandangan terhadap aspek-aspek lain yang mempengaruhi adat dan budaya Tapsel di era globalisasi seperti sekarang ini sehingga dapat tercetus ide dan kreativitas agar beliau terus berkarya menghasilkan karya sastra khusus untuk anak-anak sekolah dasar dan sekolah menengah pertama dan atas,” ungkap Syahrul Pasaribu.
Oppu Sutan Tinggi Barani merupakan figur yang langka, seorang tokoh intelektual yang selama setengah abad mendedikasikan diri pada penelitian dan penulisan khasanah adat dan budaya daerah, sehingga lokakarya tersebut diharapkan dapat menggugah perhatian banyak pihak untuk melestarikan identitas budaya dan nilai-nilai adat Tapsel yang mulai ditinggalkan anak muda saat ini.
“Melalui kegiatan lokakarya ini, tokoh masyarakat adat dan anak muda serta akademisi khususnya di bidang sastra diharapkan semakin giat menggali potensi adat dan budaya Tapsel yang mungkin belum ditulis oleh HCSTBPA dan relevan mengisi kekosongan wacana tulisan adat dan budaya Angkola Mandailing di masa depan,” ujarnya.
Sementara itu, Dosen Fakultas Sastra Universitas Graha Nusantara (UGN) Padangsidimpuan Parlindungan Siregar mengatakan, lokakarya tersebut penting diselenggarakan karena menjadi kesempatan penting khususnya bagi budayawan dan kaum muda untuk menjaga identitas nilai luhur sastra adat dan budaya di Tapsel.
“Masyarakat Tapanuli Selatan memiliki identitas budaya yang kuat yang mudah dikenal di antara suku-suku bangsa di Indonesia.  Sayangnya, khasanah kearifan lokal tersebut sedang mengalami kemerosotan yang mendasar sejalan dengan modernisasi yang meluas pada segala aspek kehidupan dalam beberapa dekade terakhir.  Karya-karya intelektual yang tersusun dan terdokumentasi secara sistematis merupakan jembatan emas revitalisasi fungsi-fungsi pewarisan nilai adat dan budaya” ujar Parlindungan Siregar.
Lokakarya tersebut diikuti oleh akademisi bidang sastra, tokoh adat Tapsel, dan pemerhati sastra ini adalah kegiatan pemetaan terhadap isi dokumentasi HCSTBPA untuk mengetahui aspek-aspek budaya dan adat mana yang telah ditulis dan sebaliknya aspek budaya dan adat mana yang belum ditulis dan perlu perlu segera ditulis oleh kalangan intelektual.
Pemetaan isi dokumentasi dan sastra HCSTBPA juga dapat dilihat sebagai bentuk apresiasi terhadap beliau atas dedikasinya menulis dan mendokumentasikan tradisi lisan adat dan budaya Tapanuli Selatan selama setengah abad. Karya sastra HCSTBPA pada umumnya berupa dokumentasi tradisi lisan yang tercakup dalam praktek adat istiadat sehari-hari.
Karya sastra HCSTBPA banyak dijadikan sebagai rujukan di sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia.  Karya sastra HCSTBPA istimewa tidak hanya karena jumlahnya yang banyak dan beragam, melainkan juga karena jarang sekali penggiat seangkatan dan sesudahnya yang menekuni sastra budaya semacam ini.
Beberapa karya sastra HCSTBPA antara lain, Bahasa Angkola (Pelajaran Adat Tapanuli Selatan) diterbitkan pada 1977 dan Bona-Bona ni Partuturon, Cara-Cara Bertutur Sopan Santun Dalam Hubungan. (ran)

Sumber:
http://www.metrosiantar.com/2015/04/01/184034/jaga-kelestarian-budaya-dengan-lokakarya/


No comments:

Post a Comment