Wednesday, October 8, 2014

Masyarakat Kopi Sipirok Beri Petani Kopi Pelatihan Marketing

Masyarakat Kopi Sipirok Beri Petani Kopi Pelatihan Marketing

Oleh : By Budi Hatees *)
Kelompok sedang mencoba menjual produknya

Robinson (45), petani kopi asal Desa Pahae Aek Sagala, berjalan perlahan menuju sekumpulan orang yang sedang duduk. Ditemani tiga rekannya, satu diantara mereka membawa cangkir berisi kopi yang baru diseduh, Robinson yang  menjadi juru bicara kelompoknya mulai menyusun strategi untuk menjual kopi seduhan yang diberi nama “Kopi Dangdut”.

Bak tim marketing professional,  kelompok itu menciptakan motto “Kopi Dangdut” berbunyi: Sekali  Diminum Lidah Bergoyang.  Itulah keunggulan Kopi Dangdut yang dikomunikasikan Robinson kepada calon konsumen. Selain itu, Robinson juga menuturkan bahan-bahan baku dasar pembuatan kopi, dan khasiat dari minuman yang menyegarkan itu.

Sayangnya, si calon konsumen yang berasal dari kelompok lain, tak bisa diyakinkan untuk membeli Kopi Dangdut. Alasannya, kopi hasil seduhan itu  kurang sedap untuk diminum.  Robinson dan kelompoknya tak jera,  mereka kembali melangkah menemui kelompok-kelompok lain.
MKS dan HM Sampurna Padangsidempun berfoto
dengan petani kopi peserta pelatihan

Begitu terus-menerus, mereka mendatangi enam kelompok hingga Kopi Dangdut akhirnya terjual. Meskipun, dari enam kelompok calon konsumen,  hanya dua kelompok yang bisa diyakinkan untuk membeli Kopi Dangdut.

Adegan itu berlangsung dalam Pelatihan Marketing yang digelar Masyarakat Kopi Sipirok (MKS) dan Ovata Indonesia di Desa Kampung Purbasinomba, Kecamatan Sipirok, Tapanuli Selatan, pada September 2014 lalu. Dihadiri sebanyak 60 petani kopi dari berbagai desa di wilayah Kecamatan Sipirok, pelatihan itu digelar bekerja sama dengan PT HM Sampoerna Kota Padangsidempuan.

Ketua Masyarakat Kopi Sipirok (MKS), Muhammad Yunus Hutasuhut,  mengatakan pelatihan marketing untuk memberdayakan petani kopi di Sipirok agar mereka paham cara menjual hasil budidayanya. Dengan memahami marketing, petani diharapkan punya posisi tawar di hadapan para pedagang pengumpul yang selama ini mengatur tata niaga kopi hasil budidaya.

“Petani bisa menentukan harga kopi. Kalau pengumpul tak bersedia membeli seharga yang ditawarkan petani, petani bisa mencari pembeli lain yang bersedia membeli sesuai harga yang ditawarkan,” katanya.
Erwisyah Siregar dari Ovata Indonesia (kiri), Budi Hutasuhut (tengah), dan Muhmmad Yunus dari Masyarakt Kopi Sipirok

Selain pengetahuan tentang marketing, Yunus mengatakan MKS juga memfasilitiasi petani-petani kopi yang ada di Kecamatan Sipirok, Angkola Timur, Arse, Simangambat, Biru, dan sebagainya agar bisa menghasilkan kopi yang berkualitas. Untuk itu dibutuhkan proses yang benar dari menanam hingga menjadi biji kopi.

“MKS meningkatkan pengetahuan petani kopi tentang memilih bibit unggul, menanam,dan memproses kopi yang lebih baik. Hasil kopi yang berkualitas akan berimbas pada nilai jual kopi itu sendiri,” katanya.

MKS tidak hanya memberikan pemahaman kepada petani kopi tentang budidaya kopi, tapi juga mempromosikan kopi dan membuka pasar bagi mereka agar produksi dan kualitas bisa meningkat.

“MKS juga bekerja mengumpulkan semua elemen, dari petani kopi,petani pembibit kopi, pengusaha, pemerintah, UKM, hingga masyarakat penikmat kopi. Pada akhirnya, MKS berniat mempromosikan kopi Sipirok ke kancah nasional dan internasional,” katanya. / http://suaratabagsel.blogspot.com

*) Budi Hatees, Penulis adalah peneliti di Matakata Institut – lahir dengan nama Budi Hutasuhut, 3 Juni 1972 di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara. Pengajar komunikasi di Fisipol Universitas Bandar Lampung (UBL) ini banyak menulis masalah komunikasi di berbagai media dan jurnal. Tahun 2009, memutuskan berhenti mengajar dan bekerja sebagai Direktur Program untuk MatakaInstitute, lembaga konsultasi komunikasi dan pencitraan yang terlibat dalam program peningkatan citra di lingkungan Divisi Propam Mabes Polri.
Budi Hatees dapat dihubungi lewat Email: budi.hatees@gmail.com.
Redaksi, Pengiriman Berita,
dan Informasi Pemasangan Iklan:
apakabarsidimpuan@gmail.com
http://apakabarsidimpuan.com/2014/10/masyarakat-kopi-sipirok-beri-petani-kopi-pelatihan-marketing/ 

Asal Usul Angkola Coffee

Asal Usul Angkola Coffee


Sejarah Angkola Coffee,

Usaha Angkola Kopi Sipirok berawal dari keyakinan  dan kecintaan sang pemilik usaha “ Bapak Sholi Pohan” terhadap komoditi kopi, sang owner sangat yakin sekali bahwa komoditas kopi dapat meningkatkan ekonomi masyarakat setempat terutama di daerah angkola sipirok.

Owner merupakan seorang sosialis yang pernah bekerja di  lembaga kemanusiaan sejak akhir 2005 hinggi akhir 2012 di provinsi Aceh, dan project terakhir owner adalah “meningkatkan kualitas dan kuantitas kopi Arabica Gayo” di dua daerah, yaitu Bener Meriah dan Aceh Tengah. Di saat melakukan kegiatan kemanusiaan di dataran tinggi Gayo, sang owner melihat prospek yang cerah sekali di komoditi kopi sehingga selain dapat membantu masyarakat, sang owner juga banyak belajar mengenai ilmu kopi baik dari segi cultivation (penanaman kopi) dan juga perdagangan kopi.

Setelah berada kurang lebih 3 tahun tinggal di daerah tanah Gayo, sang owner merasa yakin bahwa ilmu yang di dapat di dataran tinggi Gayo bisa di sampaikan dan di praktekan di daerah Tinggi Angkola Sipirok.

Sang owner merupakan anak dari pasangan Bpk. H. Zulaman Pohan (Alm) dan Ibu Hj. Saria Pardede yang mana kedua orang tuanya asli dari dataran tinggi Angkola Sipirok, keinginan sang owner untuk membuat usaha kopi di karenakan beberapa alasan, yang paling utama adalah sang owner ingin sekali meningkatkan ekonomi masyarakat lokal, dengan pengolahan komodity kopi arabika sampai tahap green bean dan bubuk. Kalau di tarik kembali dari sejarah, berdasarkan buku karangan “William H Ukers (New York, 1922) yang berjudul “All about Coffee” Angkola sipirok adalah salah satu daerah yang memiliki kopi yang terbaik dan termahal di dunia. Namun sangat di sayangkan sekali, berdasarkan survey yang di lakukan sang owner, pada tahun 2012 dan awal 2013, ternyata kopi Arabika Ankola Sipirok di anggap punah dari peredaran oleh buyer kopi di luar negeri (padahal masih banyak), dan yang lebih miris sekali banyak masyarakat setempat/petani menjadi korban “Pembodohan” dengan pencucian otak dari permainan bisnis kotor yang mengatakan bahwa kopi Arabika/ Ateng bukan untuk di konsumsi (minum) tetapi untuk pembuatan “bubuk Misiu dan produk kecantikan Saja” !!!.

Jiwa usaha kopi sang owner tidak datang begitu saja, ower merupakan cucu dari kepala desa angkola sipirok yang bernama “H.Sati Pardede (Alm) yang sejak tahun 1964 sudah berdagang bubuk kopi robusta, yang sampai saat ini masih teruskan oleh kedua orang paman/Tulangnya  yang bernama H. Taris Pardede (Bubuk Kopi Pinabar) dan Saruddin pardede (bubuk kopi pardede) yang saat ini masih menjabat sebagai kepala desa setempat.

Dengan di bukanya usaha baru “UD. Angkola Kopi Sipirok”, Owner berharap dapat meneruskan usaha keluarga di kancah international dengan mengenalkan kembali kopi terbaik didunia yaitu “Arabika Specialty Angkola kopi Sipirok” yang merupakan origin yang sebenarnya kopi Mandhelling.


Sumber:
http://www.angkolacoffee.com/blog/asal-usul-kopi/

Festival Kopi Sipirok 2014

Festival Kopi Sipirok 2014

festival kopi sipirok
Tidak selamanya nama dicatut itu bikin hati gak enak. Buktinya baru-baru ini nama saya tiba-tiba muncul di susunan kepengurusan panitia Festival Kopi Sipirok 2014 sebagai anggota Seksi Hubungan Media.  Tapi, saya gak marah tuh, senang malah…hehe…  Tugas pertama saya adalah mempublikasikan rencana penyelenggaraan festival kepada khalayak ramai. Pertama-tama, saya publikasikan di blog dulu deh.

Tanggal pelaksanaan
30 Juli- 3 Agustus 2014

Lokasi
Alun-alun (alaman bolak), Sipirok*, Tapanuli Selatan

Rangkaian kegiatan
-Pertunjukan musik Sipirok Voice dan grup musik lokal
-Opera Batak /Sitilhang
-Tortor, Sitogol, Ungut-ungut, dan Dikkir
-Kopi Luwak Day
-Traditional Brewing
-Modern Brewing dan Latte Art
-Pemilihan Putra/ Putri Kopi Sipirok
-Lokakarya budi daya kopi unggulan
-Malam minum kopi bersama perantau (penciptaan rekor minum kopi luwak). 

Penciptaan rekor MURI dalam hal menyeduh dan minum kopi luwak liar Sipirok ini rencananya akan diramaikan oleh 3.500 orang peserta pada 2 Agustus 2014.

Peserta 
Kopi Pinabar, Karya Serasi, Angkola Kopi Sipirok, Sipirock Coffee (Penggagas), Kopi Raja, penggiat kuliner dan oleh-oleh khas Sipirok.

*Sipirok adalah kota kecil di jajaran Bukit Barisan yang terhampar di Lembah Sibualbuali, di ketinggian 800-1900 mdpl. Di awal pengembangannya pernah menjadi pusat pemerintahan Keresidenan Tapanuli. Kota Sipirok saat ini sebagai ibu kota kecamatan sekaligus menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Jumlah penduduk Kecamatan Sipirok sesuai dengan sensus penduduk tahun 2012 adalah 30.775 jiwa.

Salah satu sumber penghasilan masyarakat Sipirok adalah KOPI, yang telah dikembangkan sejak tahun 1.700-an. Umumnya adalah jenis kopi Robusta, Liberika dan sedikit Arabika. Belakangan ini banyak dibudidayakan kopi Arabika yang bibitnya diperoleh/dibawa dari Aceh Tenggara (kopi Ateng), yang lebih populer dengan sebutan kopi Sibayar Utang.

Kopi Arabika Sipirok berciri khas fruity, full body, rendah asam, dan gurih. Di masa lalu, bahkan digadang-gadang sebagai “the world’s finest unwashed arabica”. Dalam buku ‘All About Coffee’ William H. Ukers (New York, 1922) mendeskripsikan kopi Sipirok (Angkola) sebagai berikut:

“Formerly a Government coffee; large fat bean, making a dull roast; second only to Mandhelings; it has a heavy body and rich, musty flavor.” 
Hal tersebut semakin menegaskan bahwa kopi Sipirok merupakan kopi premium dan seharusnya memiliki harga tinggi di pasar internasional.

Dari segi demografi, kebanyakan masyarakat Sipirok hidup dari pertanian/perkebunan. Namun ironisnya sawah/ kebun yang dimiliki tidak layak secara skala ekonomi baik dari luas maupun jenis tanamannya. Oleh karena itu, masih perlu difasilitasi dan didukung agar para petani dapat mengembangkan potensi geografisnya yaitu dengan menanam tanaman kopi unggulan, dengan
minimal yang layak secara skala ekonomi. Oleh karena itu, promosi dan pemasaran kopi Sipirok perlu terus menerus digalakkan. Salah satu caranya melalui  acara tahunan : Festival Kopi Sipirok. ***


Sumber:
https://efriritonga.wordpress.com/tag/angkola/

Air Terjun Lae Une, Wisata Lokal yang Tak Kalah Cantik dan Unik dari Pakpak Bharat

Air_Terjun_Lae_Une_2

Air Terjun Lae Une, Wisata Lokal yang Tak Kalah Cantik dan Unik dari Pakpak Bharat

Pulau Sumatera, terutama Sumatera Utara terkenal dengan obyek wisata yang cantik dan keindahan yang benar-benar memanjakan mata siapapun yang mengunjunginya. Salah satunya terdapat di Kabupaten Pakpak Bharat yang wajib sekali untuk sobat traveler sambangi bila tengah berjalan-jalan atau berada di sana. :)

Sebut saja Air Terjun Lae Une. :)
Air_Terjun_Lae_Une_1
Air Terjun Lae Une ini berada di Kecupak, sekitar 7 km dari Kota Salak, Ibu Kota Kabupaten Pakpak Bharat, Sumatera Utara, Sumatera . Jika suatu hari sobat traveler berkunjung ke Salak, jangan lupa untuk singgah ke tempat ini dan sekadar menikmati kecantikan air terjunnya. Air terjun ini cukup terkenal sebagai objek wisata lokal di Kabupaten Pakpak Bharat lho, sobat traveler. Banyak pula penduduk lokal yang mengunjungi Air Terjun Lae Une. Oleh karena itu, Air Terjun Lae Une ini seperti menjadi primadona bagi masyarakat setempat.

Usut punya usut, Kabupaten Pakpak Bharat telah membenahi pembangunan objek wisata Air Terjun Lae Une lho, sobat traveler. Saat ini jalan menuju lokasi telah dibangun, kendaraan roda dua dan empat telah bisa masuk sampai ke tepian sungai. Selain itu, pondok-pondok sederhana tempat beristirahat santai sambil menikmati pemandangan Lae Une telah dibangun. Masih sederhana tapi cukup menyenangkan.
Air_Terjun_Lae_Une_3
Sampai saat ini sobat traveler bebas masuk ke lokasi Lae Une tanpa dikenakan pungutan retribusi. Keindahan Air Terjun Lae Une, walau belum mendapat penataan dan fasilitas yang memadai mampu mengundang kekaguman setiap orang yang melihatnya. Kesejukanya dapat membuat orang betah untuk menikmati panorama di Air Terjun Lae Une ini, bahkan tanpa mandi merupakan sebuah kerugian yang besar apabila berkunjung ke objek wisata ini.
Penasaran kan, sobat traveler? :)

Salam traveler sejati!

Source images:
  • panoramio.com
  • anthonynh.blogspot.com
  • kotawisataindonesia.com
Informasi
Akses menuju ke sana: Kendaraan roda dua atau empat, kendaraan pribadi.
Harga tiket masuk: Gratis.
Estimasi waktu dari pusat kota: 10-15 menit.

 

Sumber:

http://travelmatekamu.com/2014/08/28/air-terjun-lae-une-wisata-lokal-yang-tak-kalah-cantik-dan-unik-dari-pakpak-bharat/

 

 

 

 

Monday, October 6, 2014

Musisi dan Komponis "Na Bonggali" Bernama Nahum Situmorang

Musisi dan Komponis "Na Bonggali" Bernama Nahum Situmorang

Minggu, 23 Maret 2014 | 23:09:17


Sangat tepat jika ayahandanya, Guru Kilian  membuat sosok komponis besar itu  bernama Nahum. Sebab dalam bahasa batak “na hum”  artinya orang yang berani. Kelak dengan keberanian dan kemampuannya, dia mampu menembus ruang hingga melampaui sekat-sekat genre musik dunia. Simak saja sederetan  komposisi musiknya yang beraliran etnik, jazz, rumba bahkan musik keroncong,  yang semuanya disajikan dengan harmoni melodi yang amat menakjubkan. Wajar dan sangat wajar jika kemudian dia menjadi Tarbonggal  (termasyhur, buah pembicaraan). Lirik lagu yang  sarat dengan kedinamisan dan diksi yang memuat makna filosofi yang adi luhung,  mampu  meretas dan memicu kesadaran akan keterbelakangan manusia Batak masa ketika itu. 

Selain darah seni yang mengalir dalam pribadinya, Nahum juga menyadari betapa pentingnya pendidikan untuk  mobilitasnya kelak. Sehingga pada tahun 1928  momen bangkitnya kesadaran berbangsa dan pentingnya persatuan saat itu, dia telah lulus dari sekolah guru Kwekschool di Lembang-Bandung. Setamat dari Lembang, Nahum sempat mengabdi menjadi guru di sekolah Batak Studentfonds di Sibolga, dan  satu tahun kemudian  bersama abangnya Sopar Situmorang, berhasil mendirikan sekolah HIS di Tarutung.

Lelaki perlente yang  gemar mengenakan celana putih itu, gemar nongkrong dan memainkan gitarnya di lapo tuak. Rasanya memang paradoks,  sebab ia bukanlah penikmat bahkan peminum tuak seperti kebanyakan  orang  yang mangkal di kedai tuak. Ia mengidap penyakit alergi  semacam penyakit kulit yang  secara kesehatan tidak baik untuk mengkonsumsi alkohol. Dia hanya memesan lemon minuman kesukaannya. Di kota Medan kesehariannya,  pagi menjelang siang kerap nongkrong di bawah pohon seri yang ada di Jalan Sutomo dekat Jalan Sindoro.  Kemudian menjelang senja,  beranjak ke salah satu kedai tuak sekitar  Jalan Bambu, dan pengagumnya telah menantinya  di tempat itu. Penggemarnya dari berbagai kalangan,  mulai dari aparat pemerintahan, kalangan  militer bahkan rakyat biasa.

Nahum adalah sosok yang kukuh  terkait idialisme dan nasionalisme, namun  adaptif  terhadap lingkungan sosial. Dengan idealisme itu pula Nahum lebih memilih  ranah partekelir  ketimbang mengabdi  untuk bekerja di pihak penjajah. Selain itu, ia sadar betul bahwa lewat kesenian survive ekonomi  belum tentu ia dapatkan, sehingga sembari  nongkrong di kedai tuak dan dan bermain gitar yang menjadi hobbynya,  dia juga mengurusi bisnisnya. Pasang surut bisnis yang dia geluti membuat dia terkadang harus banting stir untuk bisnis yang lain,  misalnya sebagai pedagang permata dari satu kota ke kota lain termasuk pada tahun 1942-1945 membuka restoran Jepang sekaligus sebagai pemusik.

Nahum juga sesekali mengisi acara di RRI Medan. Ketika mengisi acara di RRI  ia memunculkan  grupnya  dengan nama acara “Solu Bolon” bersama rekannya Walter Sirait, Ungkap Situmeang dan Domi Marpaung.  Namun  ketika group Nahum diundang untuk mengisi acara di tempat lain seperti undangan di instansi pemerintah  dia menggunakan nama  “Nahum Band”. Dicatat, ketika itu ada dua grup yang eksis di Kota Medan yakni Grup Nahum dan Dolok Tolong Melodi pimpinan Ismail Hutajulu.  Kedua kelompok musik ini bisa dikatakan kompetitif, sebab kedua grup ini berlomba-lomba untuk menghasilkan karya yang akan disuguhkan ke masyarakat. Puncak masa- masa berkarya  Nahum adalah ketika  lagu ciptannya direkam dalam bentuk piringan hitam di perusahaan negara, Lokananta.

Lagu lagu bertema Kebatakan:
Nahum adalah legenda hidup dalam  penciptaan lagu-lagu Batak di jamannya. Bakatnya yang luar biasa di bidang mencipta lagu ibarat sumur tanpa dasar.  Lirik lagunya sarat makna. Nahum sebagai anak zaman mampu merajut lirik lagu dengan kosa kata yang cukup arkaik namun sarat makna; didaktis, persuasif, filosifis, romantis-melankolis namun tidak cengeng. Untaian diksi lirik lagunya dibingkai dengan balutan estetika dan etika yang sangat  kompleks  sebagai rekaman terhadap realitas geliat kehidupan yang up date dan tidak lapuk dimakan zaman.  Dia begitu terampil memainkan imajinasi yang berempati terhadap realitas kehidupan secara umum.  Sesekali Nahum menyadur notasi lagu dari mancanegara, namun Nahum bukanlah   plagiator sebab jika demikian dia akan mengakui  itu dalam riwayat penciptaanya.

Sebut saja  syair Anakhon Hi do Hamoraan di Au,  dia secara jelimet menggambarkan apa yang menjadi cita-cita kebanyakan keluarga Batak  walaupun syair lagu itu bukan sebagai refresentasi  dirinya sebab dia tidak punya anak bahkan tidak menikah.  Lagu ini amat visioner dan provokatif dalam arti positif, sebab  mampu memicu kesadaran  akan  pentingnya aspek pendidikan untuk menghadapi zaman yang semakin maju. Dan secara filosofi lirik itu menyiratkan jika seorang anak  berpendidikan tinggi tentu akan lebih mudah menggapai  cita-cita; hagabeon, hamoraon dan hasangapon. (kepemilikan; keturunan, kekayaan dan kemuliaan)

Di sisi lain, Nahum juga sebagai pelestari tradisi andung sebagai bagian dari sastra lisan batak.  Pilihan kata yang khas dalam hata ni andung yang sarat dengan ungkapan metafora  disajikan dalam mengungkapkan kegundahan hati dan meratapi parsorion (nasib hidup yang kurang beruntung). Simak saja lagu yang berjudul  'Na hinali Banghudu'.  Lagu ini adalah merupakan sepenggal otobiografi dirinya yang berisi  ratapan yang memilukan sebagai seorang lajang yang meninggal, dalam istilah antropologi Batak dikenal dengan mate di paralang alangan. Dalam  lirik lagu ini dia sangat piawai dalam hal diksi dan metafora dirinya dengan cukup terukur ; songon boniaga so laos (dagangan yang tidak laku),  mate diparalang alangan (tingkatan kematian yang tak diinginkan, mati lajang) di paraung aungan (tempat kematian yang tidak layak, seperti di hutan), songon buruk-buruk ni rere (tikar yang tidak layak digunakan karena sudah sangat buruk)

Ketika kita menyimak lagu, modom ma damang Uccok, secara imajinatif dan empatif dia bisa menggambarkan seorang ibu yang telah ditinggalkan suami dan secara didaktis menggambarkan sang ibu yang harus tetap menumpahkan kasih sayang buat si buah hati, anak laki-lakinya. Pada lagu Boasa saonari ho hutanda, mengisahkan  kegundahan hati karena jatuh hati kepada seorang perempuan, yang mana perempuan tersebut sudah terikat perkawinan dengan laki-laki lain, lagi-lagi seolah olah dia pernah mengalaminya.

Lagu Mar Ombus-ombus (sebagai  panganan  dan oleh-oleh khas dari Siborong-borong),  salah satu bukti bahwa dia juga peka terhadap aspek ekonomi  yang menjadi mata pencaharian masyarakat lokal. Entah motivasi apa ia mencipta lagu itu, apakah karena  penggemar ombus-ombus atau dia punya riwayat percintaan dengan boru Hombing? Entah. Namun yang pasti dari sekitar dua ratusan lagu yang diciptakan Nahum, hampir semua  mampu merekam aspek sosiologi-antropolgis tradisi Batak mulai dari yang bertemakan kecintaan pada alam, kerinduan kampung halaman nasehat, filosofi, sejarah marga dan sisi-sisi kehidupan batak yang unik dan khas. 

Takdir yang diterimanya, hingga ajal menjemput sang maestro guru Nahum tetap melajang.

Nahum telah tiada, namun hingga kini karya-karyanya tetap  melekat di hati sanubari masyarakat Batak. Lewat karya Nahum, banyak pihak yang sudah diuntungkan secara ekonomi dan  sosial budaya. Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk menghargai jasa yang luar biasa itu ? ....Anggo Bangke ku di si Tanomonmu di si udeanku sarihon ma! (namun jasadku di situ kamu kebumikan, pikirkan itu !) Salah satu pesan beliau; tentu buat saya, kamu dan kepada kita semua. Mari kita jawab bersama!! 

(Penulis: adalah Kepala Pusat Dokumentasi dan Pengkajian Kebudayaan Batak Univ. HKBP Nommensen/ r)

Sumber:
http://hariansib.co/mobile/?open=content&id=8760

PLURALITAS MUSIK ETNIK SUMATERA UTARA

PLURALITAS MUSIK ETNIK SUMATERA UTARA

PLURALITAS
MUSIK ETNIK
SUMATERA UTARA

Oleh Poltak Sinaga



Riwayat hidup orang penting atau deskripsi benda-benda bersejarah cenderung menjadi bacaan yang sangat menarik, begitu pula halnya dengan biografi dari para komponis, proses evolusi alat-alat musik dari bentuk yang sangat sederhana hingga modern, serta terjadinya persebaran ragam instrumen musik dunia sejalan dengan ragam aktivitas manusia dengan berbagai misi seperti migrasi antar bangsa, antar pulau dan antar benua, misi perdagangan, penjajahan, imperialisme, kolonialisme, penyebaran ajaran agama dan sebagainya. Semua ini akan menjadi cermin pembentuk persepsi prespektif, dan berkontribusi secara signifikan terhadap perkembangan khasanah pengetahuan musik dalam berbagai aspek yang memberi warna-warni terhadap kepustakaan musik dunia. 

Informasi tentang riwayat komponis dapat memberi penjelasan mengenai karya-karya kreatifnya yang meliputi berbagai fenomena sosiomusikologis yang berangsung dalam kurun waktu tertentu, termasuk perkembangan teknik berkomposisi, pengunaan dan rekayasa alat-alat musik, serta ragam teknik bermain musik yang lebih kompleks. Di sisi lain, tradisi penggunaan musik dalam siklus kehidupan etnik tertentu dapat memberi gambaran karakter eksotis suatu etnik yang merupakan bagian dari siklus kehidupannya. 

Adanya kemiripan penggunaan alat-alat musik, dan repertoar antar enik di kawasan Sumatera Utara menunjukkan sebuah mozaik pluralitas. Beberapa nyanyian dari etnik lain seperti, Biring Manggis (Karo), Selayang Pandang (Melayu), Poco-poco (Ambon) sering digunakan sebagai bagian repertoar pada tradisi musik Batak Toba, dan mereka sangat menikmatinya. Berbagai studi kasus yang menyangkut pluralitas musik etnik Sumatera Utara bisa menjadi lahan studi penelitian untuk memahami keunikan dari kemajemukan tradisi berkesenian.

Wacana ini pernah dikemukakan Ben M Pasaribu (2004) bertajuk “musikalitas + etnisitas = pluralitas”. Dia mendambakan agar lebih digencarkan upaya penelitiah ilmiah menyangkut pluralitas musik di Sumatera Utara. Karena Sumatera Utara sebagai sebuah wacana sosiokultural, menyimpan kekayaan khazanah kesenian dan tradisi musik yang berbeda-beda, tradisi itu muncul dari sebuah proses evolusi kultural yang panjang. Wilayah Sumatera Utara terdiri dari sejumlah etnik yang mencakup; Melayu, Batak Toba, Karo, Simalungun, Mandailing, Angkola, Pakpak-Dairi, Nias, dan Pesisir. Ben juga mengatakan bahwa teori migrasi yang merupakan hasil penelitian dari para antropolog dalam berbagai sajian antropologi budaya, memiliki pertalian dengan teori persebaran instrumen musik. Dia memberi contoh bahwa xylophone (bilah-bilah kayu seperti garantung) dari Asia tenggara ke afrika Timur pada abad 5 SM, pada kurun yang sama instrumen musik petik tube zither (seperti sasando dari Flores) bermigrasi pula sampai ke Madagascar menjadi valiha. 

Sejalan dengan pendapat itu, Triyono Bramantyo (2004) dalam bukunya ”Disseminasi Musik Barat di Timur” mengatakan, bahwa permulaan kontak pertama Indonesia dengan musik Barat dapat ditemukan dalam buku karya Kunst yang berjudul The Cultural Background of Indonesian Music. Dalam buku ini digambarkan tripel flute bambu flores, “bukan Yunani asli, paling tidak dikenal di sana”. Oleh karena itu, “tripel flute bambu Flores dianggap sebagai barang-barang kuno yang didatangkan dari Barat yang mempunyai irama khas” (Kunst, 1949, hal.9). Catatan yang berdasar pada informasi tersebut diambil dari seorang filsuf dan ahli musik Arab yang terkenal pada abad 11 yang bernama Al Farabi, yang membicarakan hal tersebut dalam karya utamanya dan memproduksikannya. Jaap Kunst memperkirakan bahwa “penggambaran ini dan juga alat musik, menunjukkan bahwa pengarang tidak pernah bisa melihat alat musik itu sendiri, karena keduanya tidak begitu akurat. Namun demikian karena Al Farabi memperoleh semua keuntungan dari budaya Yunani kuno, seseorang mungkin mengira bahwa dia mengetahui budaya Yunani atau paling tidak sumber bahasa dan budaya Yunani (Hellenistic) yang hilang beberapa tahun kemudian dimana tripel flute itu disebut-sebut …” (Kuns, ibid, hal. 8-9).

Hal-hal di atas merupakan serba sedikit fenomena kultural yang melingkupi arkeologi dan etnografi di Indonesia termasuk masyarakat Sumatera Utara, yang secara tidak langsung juga akan mengenai perkembangan keragaman musikalnya, yang kurang banyak diminati para etnomusikolog untuk ditelusuri dan bermuara pada kekayaan khazananah musik etnik. 

Untuk lebih merangsang upaya penelitian ke arah pluralitas musik etnik Sumatera Utara Ben M. Pasaribu memberi bahan baku atau sketsa serta sedikit ramuan dan bahan penyedap. Katanya, ketika perkembangan masyarakat menghampiri periode modern, tahapan kesenian dari kehidupan yang menyatu dalam ritual-ritual, mengalami diversifikasi menuju kesenian yang asimilatif dengan kemampuan yang menyerap gagasan-gagasan dari luar komunitasnya. Ketika pada dasawarsa kedua abad ke 20 Tilhang Gultom menggagasi genre seni pentas yang bergaya variety show di Sitamiang, Samosir, kelak kemudian menjadi populer dengan sebutan Opera Batak dengan berbagai varian dan turunan kelompok-kelompok baru. Pada titik kulmilasinya, jenis seni pertunjukan ini menggabungkan musik, tari, akrobat, drama, komedi dan menjadi mesin uang yang penting dalam industri show-biz di tahap awal, serta menghasilkan sejumlah primadona aktor, aktres dan vokalis. Secara artistik, tidak hanya mengeksplorasi instrumen dan teknik musikal Batak, namun mengimitasi bezetting Tonil Bangsawan dan film-film Malaya, menyertakan instrumen saksofon, akordion, piano dan bahkan dalam rekaman yang dibuat Paul B. Pedersen terdengar suara gender dari Jawa (rekaman piringan “Batak Music” dengan program note yang ditulis Toenggoel P.Siagian). Meskipun perkem-bangan zaman menenggelamkan seni pentas yang memiliki kontribusi penting dalam perkembangan sejarah musik yang memiliki pluralitas ini, namun aspek media lain, misalnya melalui sandiwara audio dalam casette dan drama seri di televisi (opera Batak Metropolitan di TVRI Sumut) dan pergelaran vitalisasi (Opera Silindung) sampai di awal millenium ketiga masih menjadi bahan kajian yang menarik.

Dalam dunia musik hiburan, rekaman dan penciptaan lagu-lagu rakyat dengan teks bahasa lokal yang baru, sejak masa awal modern, sejumlah pencipta lagu dan pemusik dari Sumatera Utara telah menorehkan catatan sejarah yang berarti. Diantaranya Lingling Sitepu, Orkes Nataingan Simalungun, Pardolok Tolong Melody, Jaga Depari, Nahum Situmorang, Siddik Sitompul, Ismail Hutajulu, Taralamsyah Saragih, Romulus L.Tobing, Marihot Hutabarat (dengan kelompok Trio Marihot merekam album piringan hitam “Inang Sarge” yang dapat dianggap sebagai album musik jazz pertama di Indonesia) dan sebagainya. Tradisi penciptaan lagu-lagu ini diteruskan oleh Charles Hutagalung, Rinto Harahap, Reynold Panggabean, Rizaldi Siagian, Darma Purba, Hilman Padang, Yoen Tarigan, Lamser Girsang dan banyak lagi pemusik kreatif yang potensial yang telah menyumbangkan karyanya dalam khasanah yang menunjukkan musikalitas yang patut diperhitungkan dan dapat menjadi studi-studi kasus dalam penelitian sosio-musikilogis. 

Pada kategori musik seriosa, klasik maupun yang masuk dalam daftar pencipta lagu nasional, paduan suara dan religious, nama-nama Liberty Manik, Cornel Simanjuntak, Amir Pasaribu, Lily Suahairy, Binsar Sitompul, Nortir Simanungkalit, Alfred Simanjuntak, EL Pohan, Bonar Gultom, Jerry Tarigan, Trisutji Zulham, Ronald Pohan, Achmad Bagi, Termasuk generasi, meskipun tidak seluruhnya relasi kultural yang sepenuhnya dan langsung dengan kehidupan musikal dan latar belakang sosio-kultural, seperti Marusya Nainggolan, Arjuna Hutagalung, Ben M Pasaribu, Irwansyah Harahap, Erucakra Mahameru, Daud Kosasih dan lain-lainnya yang memberi warna dalam perkembangan di Indonesia.
Dalam konteks keragaman musikal yang muncul dari keragaman etnik dan kreativitas personal, fenomena musik di Sumatera Utara, selain sebagai sebuah artistik yang dapat dinikmati melalui pengalaman maupun multimedia, sangat potensial juga menjadi objek kajian dan observasi dari sisi yang lebih akademikal dan akan pula memberi kontribusi yang sangat berarti dalam dunia musikologis.

Paparan tersebut menjadi sebuah rangsangan dan tantangan bagi komunitas etnomusikolog sebagai bahan kajian yang sangat berarti terhadap perkembangan musik etnik di nusantara khususnya Sumatera Utara. Setiap fenomena dari sejumlah fenomena musik dalam paparan itu dapat diidentifikasi dan diformulasikan menjadi sebuah teori baru melalui serangkaian penelitian yang sangat berguna bagai generasi mendatang. Misalnya, dari sejumlah deretan nama seniman dan komponis Sumatera Utara, yang telah banyak berbuat kebajikan dalam perkembangan musik dan kesenian Sumatera Utara tampaknya hingga kini belum masuk dalam kelompok prioritas sebagai studi kasus dalam penelitian musik yang dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan sosiomusikologis, etnomusikologis, linguistik dan filologis, semiotik, historis, psikologis, dan sebagainya. Jika kita melihat apa-apa saja yang sudah dikerjakan oleh para akademisi yang berkecimpung dalam dunia seni pertunjukan di Pulau Jawa khususnya Yogyakarta dan Jawa Tengah, ternyata mereka telah berbuat banyak dalam menyibak berbagai misteri dan fenomena musik yang pernah ada dan berkembang pada masa lalu. 

Di satu sisi “sebuah nama komponis dan penata tari Simalungun” seperti tercecer dalam perjalanan kesenian Sumatera Utara khususnya di kalangan etnik Simalungun. Hidupnya bagai pepatah “habis manis sepah dibuang”. Dia adalah Taralamsyah Saragih (1918-1992) yang telah banyak mencipta dan menggubah lagu-lagu rakyat dan tari daerah Simalungun. Ketika saya mengamati karya musik Taralamsyah Saragih, setiap lagunya tertata dan tertulis rapi dengan penggunaan notasi musik Barat yang lengkap, hal ini mengindikasikan bahwa komponis ini selain memiliki imajinasi musik yang baik, juga memiliki wawasan musik yang luas. Simaklah lagu-lagu gubahan Taralamsyah seperti Serma Dengan-Dengan, Parsirangan, Sitalasari, Inggou Parjalang, Simodak-odak, Ilah Bolon, Poldung Sirotap Padan, dan puluhan lagu lainnya tentu dapat menjadi sebuah studi kasus dalam transkripsi etnomusikologis untuk menemukan skala dan gaya vokal musik etnik Simalungun. Pada masa Orde Lama Taralamsyah telah memperkenalkan keragaman musik dan tari Sumatera Utara ke negeri Cina. Namun pada akhirnya dia dilupakan orang, kemudian berkarya di Provinsi Jambi menginventarisir musik dan tari Jambi, lalu kembali lagi dilupakan. Apakah harus begini?


DAFTAR PUSTAKA

Bramantyo,Triyono. 2004. Disseminasi Musik Barat Di Timur. Yogyakarta : Yayasan Untuk Indonesia.

Edward, Pieter, Johannes Fernandus 2003. Alat Musik Jawa Kuno. Yogyakarta : Yayasan Mahardhika

Parto, Suhardjo, FX. 1996. Musik Seni Barat. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Pasaribu, Ben M. 2004. Musikalitas + Etnisitas = Pluralitas. Medan : Pusat Dokumentasi Kebudayaan Batak Universitas HKBP Nommensen.

Soedarsono, RM. 1999. Metodologi Penelitian Seni Pertunjukan Dan Seni Rupa. Jakarta : MSPI.


Tentang Penulis

Poltak Sinaga lahir di Deli Serdang, 1 Nopember 1961. Guru di SMK Negeri 11 Medan. Menyelesaikan studi S1 Prodi Seni Musik, Jurusan Sendratasik FPBS IKIP Medan Tahun 1996 dengan judul skripsi “Korelasi Penguasaan Organologi Dengan Kemampuan Orkestrasi Musik Pop di Sekolah Menengah Musik Negeri Medan. Gemar mengamati perkembangan dan degradasi berbagai gendre musik lalu menulisnya di media cetak Aktif berpartisipasi dalam pelatihan pembelajaran musik bagi guru-guru SD se Sumatera Utara. Sebagai Sekretaris Bidang Advokasi Asosiasi Pendidik Seni Indonesia (APSI) Sumatera Utara. Menulis buku Seni Musik Untuk Tingkat SD, SMP dan SMA.
e-mail : naga_poltak@yahoo.com


Sumber:
http://musikalitas-musikalitas.blogspot.com/

Dari “Piso Surit” ke “Nasonang Do Hita Nadua”.


Oleh P. HASUDUNGAN SIRAIT

TERUS ia memanggil-manggil. Namun, sia-sia belaka:  sang kekasih tak kunjung datang; entah di mana gerangan. Memanggil dan  memanggil lagi tak jemu-jemu. Kepiluan  membilur jelas dalam suara lirihnya; pun dalam gerak tarian sendunya. Tapi, asanya masih  tersisa: ia, si burung penyanyi-penari piso surit, tetap akan menanti pulangnya sang kekasih hilang.
Djaga Depari
Komponis Karo Djaga Depari merekam  ekspresi masygul burung piso surit untuk memetaforakan sang dara gundah bukan kepalang dirasuk rindu dendam pada  kekasih yang tak kunjung pulang.  Perkisahan ia bangun,  liriknya seperti berikut:

PISO SURIT


Piso surit, Piso surit
Terdilo dilo, terpingko pingko
Lalap la jumpa ras atena ngena 

Ija kel kena tengahna gundari
Siangna menda turang atena wari
Entabeh nari nge mata kena tertunduh
Kami nimaisa turang tangis teriluh

Enggo enggo me dagena
Mulih me gelah kena
Bage me nindu rupa agi kakana

Tengah kesain keri lengetna
Remang mekapal turang seh kel bergehna
Tekuak manuk ibabo geligar
Enggo me selpat turang kite-kite ku lepar

Piso surit...


Terjemahan bebasnya oleh Simson Ginting, seorang diplomat yang juga pemerhati musik Karo:

PISO SURIT

Piso surit,  Piso surit
Memanggil-manggil dan mengiba
Tiada jua pernah bersua si idaman hati

Entah di mana dikau kini
Pagi segera menjelang
Engkau terlelap dalam tidur
Dan kami menanti dalam kesenduan

Ya, sudah sudahi sajalah
Pulang sajalah abang
Sepertinya itulah yang kau ucapkan

Di tengah lengangnya desa  
Kabut tebal membuat badan menggigil
Kokok ayam sudah bersahutan
Putuslah sudah titian ke seberang

Piso surit...


Lirik lagu yang keterkenalannya jauh melampaui barisan gunung dan lembah Karo ini dilaras dengan  merampakkan isi pesan, bentuk, dan efek bunyi. Melodinya sendiri indah, bersaput tebal irama  tradisional Karo. Bertempo agak lambat, komposisi ini lazimnya dimainkan dengan iringan serunai dan gendang kecil karo yang khas.

Lagu “Piso Surit” kembali mengemuka setelah album Viky Sianipar, Toba Dream, yang diproduksi tahun 2002 beredar. “Piso Surit” yang menjadi salah satu nomor dalam album ini  muncul di MTV dengan klip video yang eksotik. Berlatar hutan, Mega Sihombing tampak bernyanyi dengan gerakan laksana burung terbang gemulai di antara pohon-pohon besar. Viky berpiano di sana. Penampakan agak absurd ini  tentu saja simbolik, sesuatu yang tak asing dalam sajian MTV.
Viky Sianipar

Lagu “Piso Surit” memasyarakat lintas Tanah Karo sejak tahun 1950an.  Saking populer lagu ini, sutradara Bachtiar Siagian pun memfilmkannya tahun 1960 dengan judul serupa. Ilustrasi musiknya kala itu ditangani musisi terkemuka Iskandar, ayah penyanyi Diah Iskandar.  Naskahnya ditulis sendiri oleh Bachtiar, berihwal jatuh cintanya seorang mahasiswi yang sedang meriset budaya pada seorang sais sado di Tanah Karo. Sais itu mencuri hatinya antara lain dengan mengajarkan tembang “Piso Surit”. Jadiankah mereka? Ternyata tidak. Relasi mereka berantakan karena sais yang tak kuasa menahan nafsu melakukansexual harassment.  Tentu saja lagu “Piso Surit” menjadi terkenal di seluruh Indonesia sesudah  karya layar lebar ini beredar. Sebelumnya, tahun 1957,  Bachtiar, sutradara andalan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra)   membuat film “Turang”. Skenarionya juga ditulis Bachtiar, film ini perkisahan gerilyawan Republiken di Tanah Karo (J.B. Kristanto, Katalog Film Indonesia 1926-2005, Penerbit Nalar, 2005).

Tembang “Piso Surit” hanya salah satu dari karya Djaga Depari yang termashyur. Dikenal sebagai penentu standar musik Karo pada periode 1950an dan 1960an, pejuang kemerdekaan ini mencipta “Sora Mido-ido”, “Erkata Bedil”, “Sinulih Karaben”, “Pinta-pinta”,  ”Terang Bulan” (pembukanya: Endekan kami, lagu si terang bulan turang lamigogo), “Famili Teksi”, “Andiko Alena”, “Tanah Karo Simalem”, “Sitengen-tengen”,“Erkadiola”,  “Rudang Mejile”, serta yang lain. Tak pelak lagi, ia merupakan komponis Karo terbesar. 

Taralamsyah Saragih dan istri
Setelah Djaga Depari, penggubah lagu Karo yang paling menonjol adalah Raynold Surbakti atau Reno Surbakti.  Di tahun 1970an Reno mencuat terutama karena lagu “Bunga Rampe”. Saking populernya lagu ini Reno mendramakannya dengan judul serupa. Hasilnya? Kasetnya meledak, diputar di stasiun-stasiun radio. Produktif, komponis yang memang menggeluti drama ini antara lain melahirkan tembang “Kacang Koro” dan “Kai Berita”.
Kalau Karo punya Djaga Depari dan Reno Surbakti, Simalungun punya Taralamsyah Saragih. Lewat Taralamsyah-lah kidung populer Simalungun yang tak banyak itu  menjangkau telinga publik luas lintas kabupaten. “Parsirangan” (lebih dikenal dengan “Tadingma Ham Boto”) dan “Eta Mangalap Boru”, misalnya.  Ada yang menyebut di sampul dalam kaset bahwa dendang “Pos Ni Uhur”, seperti halnya “SermaDengan Dengan”, ciptaan Taralamsyah juga (yang lazim penciptanya disebut NN saja). Kebenarannya? Entahlah, yang pasti sejauh ini belum ada klaim atau disklaim tegas.
Taralamsyah merupakan putra raja Raya, Tuan Sumayan Saragih, dan cucu penguasa Raya tersohor yang pernah bersekutu dengan Si Singamangaraja XII waktu melawan Belanda, Tuan Rondahaim Saragih. Sejak kecil, menurut Mansen Purba,  ia sudah mendalami musik, terutama musik tradisional Simalungun. Ia telah menotasikan sejumlah besar komposisi gonrang (gendang)  dengan memanfaatkan klarinet. Selain mencipta lagu, dia juga mengaransir. Sayang, hampir seluruh karyanya hangus tatkala kediaman orangtuanya dibakar kaum “progresif”  saat Revolusi Sosial merebak di Sumatera Timur tahun 1946. Kemampuan penulis buku Irama Simalungun dan periset musik rakyat Jambi ini bisa dilihat dalam catatan-catatan yang ia berikan kepada Arlin Dietrich Jansen, peneliti dan pengajar di Universitas Nommensen  Pematangsiantar, 1974-1975. Taralamsyah  merupakan salah satu narasumber utama  Arlin waktu menyusun buku Gonrang Simalungun (terbit dalam bahasa Indonesia tahun 2003). 

Seperti halnya Karo dan Simalungun, Pakpak juga memiliki komponis andalan. Dia adalah Daulat Padang. Salah satu karyanya adalah “Cikala Le Pongpong”. Lagu ceria bertempo cepat yang sangat khas Pakpak (unsur gendangnya mencuat)  ini ada juga dalam album Viky Sianipar, Toba Dream. Di tangan Viky “Cikala Le Pongpong” menjadi garapan musik yang apik kendati segera mengingatkan kita pada satu nomor musisi Jepang Kitaro, “Matsuri”. Permainan perkusinya segaya.

Sesuai dengan populasinya yang lebih besar dibandingkan dengan puak Batak lain, Batak Toba, tentu memiliki  sejumlah komponis lokal yang karyanya dikenal luas. Gubahan mereka telah menjadi sumber inspirasi bagi banyak musisi dan penyanyi khususnya orang Toba sendiri.  

Potret realitas
Perintis musik rakyat populer di lingkungan Batak Toba adalah Tilhang Oberlin Gultom (1896-1970). Lahir di Sitamiang, Samosir, pemimpin kelompok Tilhang Parhasapi ini memelopori apa yang ia sebut sebagai “opera Batak”. Mengadopsi konsep opera Italia, opera Bataknya yang kemudian ia namai Panca Ragam Tilhang mengombinasikan lakon dan nyanyian. Kalau dalam opera Italia dialog dilantunkan, dalam opera Batak tak sepenuhnya demikian. Dialog seperti dalam teater saja, namun sesekali tokoh dalam cerita mengungkapkan isi hatinya lewat tembang. Sesi bernyanyi tersendiri, yaitu waktu jedah pergantian babak, biasanya diselingi dengan lawakan.  

Tilhang mencipta sendiri sebagian besar lagu untuk keperluan operanya dengan mencoba sebisanya  membendung terjangan dahsyat arus deras musik pop Barat.  Ciptaannya kemudian dikenal sebagai lagu opera. Tak kurang dari 360 lagu karyanya (di samping 12 tari tumba dan 28 lakon drama). Lagu opera ini bercengkok sendiri dan lazimnya dibawakan dengan iringan seruling, kecapi, serunai dan gendang (gondang). Selain syair yang senyawa dengan melodi, kekuatan ciptaan Tilhang adalah temanya yang berentang luas karena merupakan rekaman realitas kontemporer kehidupan keseharian masyarakat. Simaklah “Sinanggartullo”, “Supir Motor”, “Jamilah”, “Si Doli Pargitar”, “Juji”, “Janji Palsu”, “Doli Parminum”, “Oli-oli Tumba”, “Panca-panca”, “Di Pangungsian”, “Huhophop Do Ho”, “Poltak Bulan Tula”, “Si Bunga Jambu”, atau “Hatasopisik”. Betapa ruang jelajah yang luas.  

Tahun 1954 Tilhang meninggalkan operanya di Sumatera karena seniman berjulukan  “mester” ini terpilih menjadi anggota Dewan Pertimbangan RRI di Jakarta. Tahun 1955 ia pulang dan nama Panca Ragam Tilhang pun ia ubah menjadi Opera Batak Tilhang Serindo. Nama ini resmi dipakai sejak 1956. Serindo adalah akronim dari Seni Ragam Indonesia, nama pemberian Presiden Sukarno.  

Tahun 1970 Tilhang meninggal. Kepemimpinan di Serindo diteruskan oleh keponakannya, Gustafa Gultom. Tahun 1971 kelompok ini beroleh  Piagam Anugrah dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Serindo sendiri kemudian surut seiring dengan zaman yang berubah. Bioskop keliling alias layar tancap, pajak hiburan dan pajak ini-itu yang membebani menjadi sandungan bagi kelompok pengelana atau trubadur yang senantiasa bergerak mengikuti angin musim panen.   

Pengaruh Tilhang besar. Namun, dunia musik Batak Toba paling banyak dipengaruhi bukan oleh Tilhang Gultom, melainkan Nahum Situmorang. Hingga saat ini Nahum (1908-1969) masih komponis Batak terbesar. Lagu-lagu ciptaannya awet, seperti tak lekang di makan zaman; alhasil menjadi klasik.  

Kalau Tilhang bertolak dari musik tradisi, Nahum  dari musik Barat modern. Merupakan anak dari  zamannya, ia menggunakan ragam irama yang lagi ‘in’ saat itu. Antara lain cha-cha, tango, calypso, rumba, waltz, mars, bolero, slow rock, bossanova, blues, keroncong, hawaian beat, stambulan, soul, dan foxtrot.     Umumnya karyanya kuat baik dilihat dari segi tema (spektrumnya juga sangat luas), lirik, dan musikalitas. Tak kurang dari 125 lagu yang ia hasilkan. Di antaranya adalah “Anakhonhi do Hasangapon di Ahu”, “Da Natiniptip Sanggar”, “Denggan ni Lagumi”, “Ala Dao”, “Dijou Ahu Mulak tu Rura Silindung”, “Huandung ma Damang”, “Ketabo-ketabo”, “Lissoi”, “Parsorion ni Parmitu”, “Marhappy-happy Tung Soboi”, “O Tao Toba”, “Pulo Samosir”, “Rura Silindung”, “Unte Malau”, “Satongkin do”, “Sitogol”, “Marombus-ombus”, “Situmorang Nabonggal”, “Mariam Tomong”, “Bulan Parinsan”, dan “Nasonang do Hita Nadua”.  
Nahum Situmorang
Nahum hampir berpaling sepenuhnya dari andung (ratapan), ragam lagu khas Batak yang menjadi mainstream, sebelumnya—kalau meminjam istilah penyair Pujangga Baru Amir Hamzah: andung ini seni bersedih-sedih—dan mencemplungkan diri sepenuhnya ke telaga pop modern yang bertepi sangat luas. Ciptaannya ada juga andung, yakni “Huandung ma Damang”. Bedanya, karya ini, lain dari yang bermunculan dalam jumlah berlimpah sejak 1980an, sangat puitik dan kendati tetap sendu tak sampai terjebak dalam kemelankolisan (anak muda sekarang bilang: kemeloan). Lagu “Huandung ma Damang” berikut menggunakan bahasa Batak Toba halus (maninggoring).  

HUANDUNG MA DAMANG
(Bait kedua dan ketiga):

Nga sungkot so na ginjang ahu, da ponjot so na boloni
Aut binaen ni ginjanghu ahu, da boi do paunduhonki
Aut binahen ni bolonhu ahu, da boi do pajorbingonki
Nunga pinaginjang ni na dangol ahu, pinabolon ni na hansit i
Ei, ei, ei, ei, ei... 

Naso barani pulut do ahu, maniop si rumantosi
Manang maniop siudoron, manimbung silumallan i
Asa adong i damang, di si mangarudok
Da dalan haroburanhi, tu toru ni situmandok i  
Ei, ei, ei, ei, ei... 


Lahir di Sipirok, 14 Februari 1908, selulus dari HIS Tarutung tahun 1924 Nahum melanjut ke sekolah guru (Kweekschool) di Jalan Gunung Sahari, Jakarta. Seperti disebut dalam buku Nahum’s Songs (1994), begitu Nahum usai kenaikan ke kelas tiga, sekolah mereka dipindah ke Lembang. Jadi lulus dari Kweekschool, Lembang, tahun 1928, dia. Tahun itu juga ia menjadi guru di sebuah HIS swasta di Sibolga. Tahun 1932  pindah ke Tarutung untuk menjadi guru di HIS partikelir yang didirikan abangnya, Guru Sopar. Di sana ia bekerja hingga kedatangan Jepang tahun 1942. Kota yang satu ke kota yang lain yang menjadi peranjakannya terekam dalam ciptaannya, dengan pelbagai sudut pandang.
Kaset Opera Serindo, grup opera yang didirikan oleh Tilhang Gultom
Di masa Nippon Nahum membuka restoran di samping menjadi pemusik untuk Jepang. Lantas pada 1945-1949 berdagang emas-permata. Pindah ke Medan tahun 1949 ia menjadi  broker mobil merangkap pencipta lagu-penyanyi. Penggal 1950-1960 merupakan masa produktifnya sebagai pencipta lagu. Pada 17 Agustus 1969 seniman yang tetap membujang ini menerima Anugerah Seni dari pemerintah. Dua bulan berselang ajalnya tiba sesudah tubuhnya digerogoti penyakit hampir tiga tahun.

Setelah Nahum, Sidik Sitompul  (S. Dis) bisa kita sebut pencipta lagu Batak Toba modern paling terkemuka. Ciptaan kakek penyanyi Christine Panjaitan ini banyak yang menjadi abadi. Sebut saja, misalnya,  “O, Tano Batak”, “Aek Sarulla”, “Luat Pahae”, “Eme ni Simbolon”, “O Doli”, “Borhatma Dainang”, “Anju Ahu”, “Dung Sirang pe Ho sian Ahu”, “Boasama ia Dung Botari” (pembukanya: Adong huida sada bunga), “Indada Piga”, “O Pio”,  atau  “Sigulempong”.  S. Dis seperti halnya Nahum berlatar belakang guru.

Seorang komponis berbakat muncul setelah Nahum dan S. Dis. Dia adalah Ismail Hutajulu, seorang trompetis. Karyanya dibawakan oleh pelbagai penyanyi termasuk Parisma ’71 dan Trio Golden Heart, dengan hamparan tema yang juga luas. Merupakan seorang pemotret realitas yang jeli, ia dengan lagu ciptaannya antara lain  “Mangoli Ahu”, “Hutongos Surathu tu Ho”, “Manginditi”, “Tarsunggul Ahu”, “Nang tu Ho Hudokdo Dinajolo”, “Baju Kurung”, ”Tarundduk Ahu”,  “Gabe Mekkel Nama Ahu”, “Marnipi Ahu Ito”, “Baringin Sabatolang”, “Boan Sai Boan”, “Sai Anjuma Ahu Ale Hasian”,  “Udan Haba-haba”, “Partiga Bawang”, “Tibu do ahu ro” (intronya: Unang be sai holan namarsak ho, unang be sai tarilu-ilu ho, marsogot haduan mulak do ahu....),  “Modomma Ho Uncok”, “Unang Sai Tangis Ho Butet”, “Marboru Sunda”, dan  “Silangmi”.

Ismail Hutajulu pernah beperkara sampai ke Mahkamah Agung karena merasa hak ciptanya dilanggar. Ceritanya, Lolypop Records mengeluarkan album lagu Batak Christine Panjaitan. Di album itu pencipta lagu “Alatipang” dan “Tillo-tillo” disebut NN (nomen nescio; orang Toba menyebut: naso niboto). Mengklaim kedua lagu itu ciptaannya tahun 1942, ia maju ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan untuk menuntut kompensasi.  Klaimnya dibenarkan, tapi kompensasi yang ia tuntut sebagian saja diluluskan. Lolypop banding ke  Pengadilan Tinggi   DKI Jakarta (1988). Hasilnya tetap sama. Lantas perusahaan rekaman ini mengajukan kasasi. Tak percuma: putusan pengadilan negeri dan pengadilan tinggi tadi dibatalkan (1996). Mahkamah Agung menyatakan klaim Ismail Hutajulu tak bisa dibuktikan. 
Firman Marpaung komponis berikutnya yang perlu disebut setelah Ismail Hutajulu. Beberapa karya abang penyanyi-pencipta lagu Tigor Gypsi Marpaung ini pernah menjadi hits, yaitu “Denggan ni Lagumi” (beda dengan ciptaan Nahum, pembuka lagu ini adalah Denggan ni lagumi do mambahen, tarpangan rohakki/Dohot ulini rupami, lambokni hatami), “Ikkon Porsanon”, “Lupa do ho”, “Boasama Gabusanmu”, dan “Putus Sikkola”. Dua yang terakhir ini dipopulerkan oleh Eddy Silitonga.

Era Nahum Situmorang hingga Firman Marpaung boleh kita sebut periode rintisan lagu-lagu Batak Toba modern populer. Dalam angkatan ini termasuk Esau  Simanungkalit (“Madekdek ma Gambiri”), Romulus Tobing, ayah Gordon Tobing (“Arga do Bona ni Pinasa”), Gordon Tobing (“Molo Margitar Ahu Ito”),  Muliater Simanungkalit (“Tao na Tio”), Edward Purba (“Di Tonga Borngin i”),  Yan Sinambela (“Dekke Jahir”), Harizon Siagian (“Ito Nabasa”), dan Godman Ambarita, abang Iran Ambarita dari Trio Amsisi (“Bunga Nabontar”, “Anakboru Nagasaon”, dan  “Uju Mangolu”).
Setelah mereka, sejak tahun 1970an muncul Dakka Hutagalung, Star  Pangaribuan (“Imbar ni Boru Jawa”), Bunthora Situmorang dan Jack Marpaung (keduanya, bersama Hilman Padang,  personil Trio Lasidos), Tigor Gypsi  Marpaung, Iran Ambarita, Togar Tampubolon (“Poda”, “Manduda Baion”, dan “Boru Panggoaran”), Soaloon Simatupang (“Anak Naburju” dan  “Pasondukbolon Naburju”) dan yang lain. Dari mereka Dakka Hutagalung-lah yang terdepan. Dilihat dari segi keragamanan tema, kekuatan lirik dan musikalitas, anggota  Trio Golden Heart (bersama Star Pangaribuan dan Ronald Tobing) ini dekat Nahum, S. Dis, dan Ismail Hutajulu. Karyanya antara lain “Didia Rongkaphi”, “Ndang Turpukta Hamoraon”, “Anakhonhu”, “Boasa”, “Tarduru”, “Tatapma”, “Sipata”, dan “Sapata”. Selain lagu Batak ia juga  menciptakan tembang berbahasa Indonesia.

Reno Surbakti

Khazanah lagu Batak begitu kaya akhirnya berkat komponis Djaga Depari, Reno Surbakti, Daulat Padang, Taralamsyah Saragih, Tilhang Gultom, Nahum Situmorang dan yang lain. Penyanyi macam Ramona Purba, Tio Fanta Pinem, Ros Siadari,  Hutauruk Sisters, Eddy Silitonga, Diana Nasution, Victor Hutabarat, Rita Butar-Butar, Denada Tambunan (ia setengah Batak), atau Joy Tobing termasuk yang pernah mengeksplorasinya. Juga biduan bukan Batak seperti Titik Sandora, Emilia Contessa, Nurafni Octavia, Ade Manuhutu, Koes Hendratmo, dan Broery Pesolima.
Tak syak lagi khazanah yang sangat kaya ini—dari “Piso Surit” hingga “Nasonang Do Hita Nadua”—telah mempertebal musikalitas orang Batak selama ini sehingga memuncul ucapan stereotip  “bukan Batak kalau tak bisa menyanyi”. Kelimpahan lagu dan keanekaan tema serta garapan musiknya menjadi bagian dari atmosfer yang mendukung lahirnya Batak the singing men. 

(Tulisan ini termuat pada majalah TATAP No 4, Desember 2007-Januari 2008. Jika ingin mendapatkan bundel majalah ini, hubungi Sapardi di 021 480 1514 atau 0878 201 05091, atau faks ke 021 480 0429)