Sunday, September 21, 2014

"Menjual" Pariwisata Sumut Melalui Festival Danau Toba

"Menjual" Pariwisata Sumut Melalui Festival Danau Toba

Minggu, 21 September 2014 |
Oleh: Erond L. Damanik

Danau Toba adalah salah satu dari dua objek wisata unggulan nasional dari Sumatera Utara. Sebagai suatu objek wisata nasional, maka wajar saja apabila Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif melakukan terobosan nyata guna mengangkat sektor pariwisata dari Sumatera Utara yang lebih dari satu dekade ini mengalami stagnasi. Terobosan dimaksud adalah berupa pagelaran yang memadukan keindahan alam, kekayaan budaya, pertunjukan, pameran maupun lomba yang dikemas dalam satu kegiatan yang disebut dengan Festival Danau Toba. Even tahunan ini diharapkan dapat mengangkat citra pariwisata Sumatera Utara, sekaligus menambah destinasi wisata nasional yang digemari selain Bali.

Sebelum tahun 2013 silam, beberapa pemerintah daerah bekerjasama dengan pemerintah provinsi Sumatera Utara telah berupaya untuk mengangkat pariwisata Danau Toba yang dikenal dengan Pesta Danau Toba (PDT). Pagelaran ini telah diselenggarakan sejak tahun 1980-an. Namun, citra pariwisata Danau Toba ini bukannya meningkat tetapi malah mengalami gradasi yang serius. Indikasi utamanya dapat dilihat dari kemerosotan wisatawan yang berkunjung ke berbagai objek wisata di sekitar Danau Toba seperti Samosir, Simalungun, Karo, Dairi, Toba Samosir dan Tapanuli Utara. Kemerosotan jumlah wisatawan tersebut berdampak pada objek wisata yang mati suri dan tidak tertata, akomodasi (hotel) yang sepi dan bahkan tutup, travel agency yang bangkrut maupun industri kreatif (cenderamata) yang melempem.

Sebagaimana diketahui bahwa, sejak tahun 1997 pariwisata nasional menurun drastis. Hal ini terkait dengan inflasi sekaligus situasi keamanan nasional yang kurang kondusif. Situasi nasional ini ternyata memberikan impak buruk bagi sektor pariwisata yaitu menurunnya jumlah kunjungan wisatawan termasuk ke Sumatera Utara. Lebih ironis lagi bahwa, sektor pariwisata yang merupakan salah satu sektor penghasilan devisa negara ini tidak lagi memberikan kontribusi positif bagi negara. Akibatnya, perhatian terhadap sektor inipun kurang mendapat kebijakan yang positif. Berbeda dengan pulau Bali yang pada tahun itu sempat mengalami kemerosotan wisatawan. Namun, pemerintah provinsi Bali berupaya mengembalikan citra pariwisata yang telah mendunia itu. Pada akhirnya, pulau Dewata tetap menjadi salah satu destinasi pariwisata dunia.

Pariwisata Sumatera Utara seperti Medan, Brastagi, Danau Toba dan Nias selatan telah digarap serius oleh Pemerintah Kolonial Belanda sejak tahun 1927, yakni 5 (lima) tahun setelah keberhasilan Belanda memperkenalkan Bali menjadi objek kunjungan internasional. Pada saat itu, KPM Line yang ditugasi untuk mengolah dan mengemas wisata Sumatera Utara mampu menjadikan Sumatera Utara sebagai destinasi wisata selain Bali. Keberhasilan KPM Line ini bertahan hingga tahun 1942, sebelum peralihan Belanda ke Jepang. Namun, entah mengapa pariwisata Sumatera Utara ini mengalami gradasi yang signifikan dan seolah-olah kurang mampu mengikuti jejak pariwisata pulau Dewata (baca Mencermati Pariwisata Sumatera Utara, Analisa Minggu 31 Agustus 2014).

Pariwisata dan Jumlah
Kunjungan ke Sumatera Utara
Bila merujuk pada Undang-undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan dikemukakan bahwa pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung oleh berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah. Sementara itu, menurut Koen Meyers (2009) ditegaskan bahwa pariwisata adalah aktivitas perjalanan yang dilakukan sementara waktu dari tempat tinggal semula ke daerah tujuan dengan alasan bukan untuk menetap atau mencari nafkah melainkan hanya untuk memenuhi  rasa ingin tahu, menghabiskan waktu senggang atau libur serta tujuan-tujuan lainnya. Oleh karena itu, pariwisata bukan dalam rangka bisnis, kunjungan dinas, sekolah atau penelitian, tetapi hanya untuk rekreasi atau menghabiskan waktu senggang.

Salah satu cara untuk mengukur keberhasilan sektor kepariwisataan adalah melalui peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, baik domestik dan terutama adalah mancanegara. Kunjungan wisata tersebut harus dipisahkan dari kunjungan dinas, bisnis, penelitian, kunjungan famili ataupun sekolah. Demikian pula bahwa kunjungan tersebut tidak dapat diukur dari sekedar jumlah penerbangan atau jumlah pengunjung yang mendarat di bandar udara atau pelabuhan.  Pariwisata harus diukur dari jumlah kunjungan yang benar-benar mengunjungi objek wisata yang dapat diperoleh dari kantor imigrasi ataupun pemantauan di setiap lokasi objek destinasi wisata.

Kemampuan untuk menata objek dan aktifitas destinasi wisata akan berkontribusi terhadap tingginya aktifitas-aktivitas yang mendukung kepariwisataan modern seperti wisata budaya (cultural tourism), wisata kota (city tour) yang menjadi bahagian dari postmodern tourism. Kemudian, langkah tersebut akan diikuti oleh kegiatan seperti meeting, incentive, conference dan exhibition (MICE). Indikasi yang mengarah kepada bentuk pariwisata modern disamping meningkatnya kunjungan wisata adalah banyaknya agenda-agenda pertemuan, pameran, konferensi serta insentif dalam skala nasional dan internasional. Tentu saja, untuk dapat mencapai bentuk kepariwisataan modern seperti ini harus didukung oleh objek atau destinasi wisata yang siginifikan, akomodasi yang memenuhi standar internasional, kondisi keamanan yang kondusif, sarana dan prasarana yang layak dan lain-lain.

Berdasarkan data dari Biro Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara diketahui bahwa, kunjungan wisatawan ke Sumatera Utara pada semester-I tahun 2014 mencapai 129.382 orang. Jumlah ini meningkat sebesar 5.31 persen dari total kunjungan pada semester-I tahun 2013 yang mencapai 122.858 orang. Dari jumlah tersebut, kunjungan mancanegara terbesar adalah dari Malaysia yang mencapai 55, 72 persen atau 101.515 kunjungan. Berikutnya adalah Belanda yaitu 8.643 kunjungan dan Singapura mencapai 5.686 kunjungan. Selebihnya adalah kunjungan dari negara lain maupun kunjungan domestik. Adapun objek destinasi yang paling sering dikunjungi di Sumatera Utara adalah seperti Istana Maimoon Medan (112.700 kunjungan), Bahorok (8.700 kunjungan) dan selebihnya (8.458 kunjungan) adalah Danau Toba.

Sementara itu, data dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Medan diketahui bahwa jumlah kunjungan ke Medan pada tahun 2011 mencapai 175.158 dan pada tahun 2013 mencapai 179.235 kunjungan. Dari data kunjungan ke Medan tersebut, diperoleh informasi bahwa sejumlah 107.800 kunjungan pada tahun 2011 adalah kunjungan ke istana Maimoon Medan dan selebihnya adalah seperti Taman Penakaran Buaya dan Tjong A Fie. Namun penting dicatat bahwa, data-data sebagaimana disajikan diatas tidak merinci secara tegas tentang maksud dan tujuan kunjungan yang sebenarnya, yaitu apakah sekedar untuk berwisata, atau ada tujuan lain seperti kunjungan dinas, penelitian, bisnis atau sekolah. Namun demikian, data tersebut menunjukkan bahwa Danau Toba belum menjadi objek atau destinasi kunjungan yang menarik bagi wisatawan. Ironisnya adalah, sejumlah wisawatan ke Sumatera Utara hanya menjadikan provinsi ini sebagai transit area sebelum mengunjungi Sumatera Barat.

Bila sejumlah destinasi wisata di Sumatera Utara ditata dengan apik dan  didukung oleh akomodasi dan sarana prasarana yang baik, maka level  wisata dunia dari Sumatera Utara akan dapat dicapai. Peluang untuk itu sangat terbuka lebar karena banyaknya objek wisata alam, budaya maupun sejarah di Sumatera Utara. Kearah itu telah dimulai dengan membaiknya transportasi udara (KNIA dan Silangit) maupun transportasi laut (Belawan dan Sibolga) maupun tersedianya transportasi darat (Kereta Api dan Bus). Akankah Pemkab Samosir misalnya yang telah mencanangkan ‘menjadi tujuan wisata andalan tahun 2015’ mampu meningkatkan wisatawan berkunjung ke pulau itu?. Lantas, bagaimana dengan festival Danau Toba?

Festival Danau Toba dan Ikonisasi Wisata
Salah satu terobosan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk memajukan pariwisata Danau Toba adalah melalui Festival Danau Toba (FDT). Even tahunan ini akan digelar pada bulan September setiap tahunnya, dan akan diselenggarakan secara bergantian oleh 7 (tujuh) pemerintah kabupaten yang mengelilingi danau terluas di Asia Tenggara tersebut. Pada tahun 2014 ini,  FDT merupakan perhelatan kedua setelah tahun 2013 silam dan akan diselenggarakan pada tanggal 17-21 September 2014. Pada kesempatan ini, Kabupaten Toba Samosir bertindak sebagai tuan rumah yang dipusatkan di Balige.
  
Berbeda dengan Pesta Danau Toba yang secara terminologi hanya mengarah pada even ‘pesta’ yaitu hiburan rakyat semata, maka ‘festival’ Danau Toba adalah hiburan rakyat ditambah dengan parade festival (perlombaan) yang harusnya ditata dengan profesional. Oleh karena itu, setiap kegiatan yang ada pada FDT ini harus mengacu kepada standar internasional sehingga digemari oleh calon pengunjung internasional. Pengelolaan secara profesional ini sangat penting terutama untuk menggaet wisatawan yang dapat diukur dengan tingginya jumlah kunjungan wisata ke Sumatera Utara. Selain itu, perlu pula dipertimbangkan kekhususan dari FDT yang potensial sebagai ikon pariwisata dunia.

Pertanyaanya adalah, apakah kehususan dari Festival Danau Toba ini?. Hal ini perlu dikemukakan karena ikonisasi wisata perlu ditata secara profesional, berkesinambungan dan mendunia. Bisa jadi FDT ini dirancang dengan mengikutsertakan beberapa festival lainnya seperti tari tradisional dan kontemporer, pameran budaya, lomba perahu, renang, paralayang dan lain-lain. Tetapi penting  dipertimbangkan salah satu cabang festival saja, tetapi digarap dengan serius sehingga mendunia.

Bila membandingkan dengan festival yang sangat mendunia saat ini, maka setidaknya terdapat lima ikon festival yang sangat memikat dunia dan mampu menyedot ratusan ribu pesertanya. Kelima festival tersebut adalah seperti Albuquerque Ballon Festival, yaitu festival balon udara panas, festival Bunga Sakura di Jepang dan Amerika Serikat, festival Holi yaitu semburat warna warni yang memenuhi setiap kota-kota di India,  festival Punkin Chunkin yaitu festival untuk melempar buah labu di California, dan festival Cheung Chau Bun, yaitu festival makanan untuk menghormati para leluhur di China. Uniknya, kelima festival tersebut tidak menggelar berbagai festival dalam satu even tetapi hanya terfokus pada satu kegiatan saja seperti balon, bunga, warna warni kota, melempar labu dan makanan. Namun, walaupun hanya fokus pada satu kegiatan saja, tetapi mampu menyedot peserta hingga ratusan ribu orang yang berasal dari mancanegara. Oleh karena itu, perlu dipertimbangkan bagaimana untuk menata satu kegiatan yang membahana ke seluruh dunia. Barangkali, even ini yang dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat ‘Tour Singkarak’ yaitu bersepeda untuk mengitari objek-objek wisata di provinsi itu.

Even tahunan lainnya yang melegenda dan mampu memikat perhatian dunia adalah seperti rally Dakkar yang sangat potensial untuk memperkenalkan wisata gurun pasir di dunia timur tengah. Even wisata lainnya adalah seperti Triathlon Ironman di Boston, New York maupun London, yang mampu memperkenalkan kawasan itu ke dunia. Padahal yang diperlombakan hanyalah berenang sejauh 3,8 Km, bersepeda sejauh 180 Km dan Berlari sejauh 42,2 Km. Tetapi even ini mampu menyedot peserta sebanyak 200.000 orang dari seluruh dunia. Dirk Hoyt seorang pensiunan militer dengan anaknya yang mengidap penyakit celebral palsy adalah salah satu peserta yang banyak menginspirasi dunia.  Saat ini, Philipina sedang giatnya mengembangkan even tahunan untuk tujuan pariwisata dunia yaitu Pahiyas Festival yakni pesta panen khas petani di negara itu.  Pemerintah Philipina juga mengembangkan wisata sejarah di Intramuros, serta membangun Cebu Island sebagai daerah wisata internasional.

Barangkali, even seperti Tour de Lake Toba atau Lake Toba Bike Festival yang bergerak dari Medan, Brastagi, Simalungun, Parapat, Samosir, Balige hingga Muara. Demikian pula kegiatan lain yang memiliki kekhususan dan mampu menjangkau wilayah-wilayah yang mengitari Danau Toba layak dipertimbangkan. Sebut saja seperti Lake Toba Traditional Dance Festival, Lake Toba Cullinair Festival, Lake Toba Kites Festival, Lake Toba Traditional Boat Festival dan lain-lain. Singkatnya, kegiatan festival tersebut dirancang untuk keperluan wisata dunia yaitu menggaet peserta dari seluruh dunia dan dihadiri oleh pengunjung dari seluruh dunia.     

Provinsi Sumatera Utara memiliki potensi besar dalam kepariwisataan seperti di Nias, Padang Lawas, Danau Toba, Brastagi, Medan maupun Bahorok. Namun, kondisi dari objek destinasi wisata dikawasan tersebut masih belum tertata dengan baik, tidak tersedia akomodasi (hotel) yang layak, kondisi jalan yang sangat buruk, maupun kuliner serta souvenir shop yang minim. Dengan begitu, dibutuhkan keseriusan dari pemerintah maupun masyarakat untuk membangun sektor pariwisata ini. Bila seluruh prasyarat pendukung kepariwisataan itu terpenuhi, maka promosi pemasaran pariwisata akan berfungsi efektif yang akan memberikan dampak luas bagi daerah, provinsi dan bahkan negara. Barangkali, inilah impian yang akan dikejar lewat penyelenggaraan even ini yang tidak sekedar menjadi utopia saja. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan profesionalisme dan memenuhi standard internasional dalam mengelolanya. Semoga!

Penulis adalah Pengajar tetap di Universitas Negeri Medan, Kandidat Doktor (S3) Universitas Airlangga Surabaya


Sumber:
http://analisadaily.com/news/read/menjual-pariwisata-sumut-melalui-festival-danau-toba/65795/2014/09/21

No comments:

Post a Comment