Friday, September 28, 2012

Makam Tua di Kecamatan Pulau Raja

Makam Tua di Kecamatan Pulau Raja

Bukti Sejarah Sultan Asahan Pertama yang Terlupakan

Jumat, 11 Juni 2010 | 09:38:32
Perjalanan Sultan Alaudin Riyah Syah Al Qatar, kakek dari Sultan Iskandar Muda ternyata banyak meninggalkan situs sejarah di Asahan yang terlupakan oleh Pemkab Asahan. Padahal jika saja situs sejarah asal usul Kerajaan Asahan dipertahankan, bukan tidak mungkin ini akan bisa meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi Kabupaten Asahan. Salahsatu situs sejarah yang sama sekali dilupakan Pemkab Asahan adalah makam tua di Kecamatan Pulau Raja yakni makam Sultan Asahan pertama yakni Sultan Abdul Jalil Rakhmad Syah.
KISARAN,sumutcyber-Sampai tahun 1946, Asahan merupakan salah satu Kesultanan Melayu yang struktur kerajaannya tidak jauh berbeda dari struktur negeri-negeri Melayu di Semenanjung Malaka pada masa itu. Namun pada tahun 1946, sistem kerajaan di Asahan telah digulingkan oleh sebuah pergerakan anti kaum bangsawan dalam sebuah revolusi berdarah yang dikenal sebagai Revolusi Sosial. Kesultanan-kesultanan yang ada di Sumatera Timur seperti Deli, Langkat, Serdang, Kualuh, Bilah, Panai dan Kota Pinang juga mengalami nasib serupa.

Kepada METRO grup sumutcyber  sejarawan Asahan Zasnis Sulung mengatakan, kondisi makam Sultan Asahan pertama ini sangat memprihatinkan. Di mana semak belukar tampak tumbuh subur di areal makam Raja pertama Kesultanan Asahan tersebut. Bukan hanya itu, saat ini makam yang telah berusia ratusan tahun itu kini terancam hilang akibat abrasi yang terjadi akibat tanah di lokasi makam telah terkikis aliran Sungai Asahan.

Zasnis menilai selama ini Pemkab Asahan tak peduli untuk menggali dan melestarikan budaya sebagai cikal bakal peradaban masyarakat Asahan tersebut. Padahal begitu banyak situs dan cagar budaya peninggalan peradaban masa lalu Asahan, yang terbengkalai dan pupus dimakan zaman, karena tak tersentuh pemeliharaan dari Pemkab Asahan.

Selain dapat meningkatkan PAD, jika situs sejarah ini dirawat dengan baik maka akan dapat meningkatkan ilmu pendidikan bagi para generasi muda di Asahan.

Adapun situs dan cagar budaya Asahan yang terbengkalai selama ini, misalnya lokasi kerajaan Tao dan Asia Muka di Pulau Maria, Teluk Dalam yang berdiri pada abad ke-1 Masehi. Lokasi kerajaan P’oli dan makam-makam tua di Sipule-pule Air Batu abad ke 6 Masehi. Lokasi kerajaan Simargolang dan makam-makam tua di Dolok Maraja, Marjanji Aceh dan Pulau Rakyat Tua, abad ke 14 Masehi. Lokasi koloni Jawa Hindu di Gua Kanili (Batu Kanihir), Aek Kopas, Bandar Pasir Mandoge, abad ke 14 Masehi. Lokasi kerajaan Kesultanan Asahan di Tangkahan Sitarak (Pulau Raja). Makam Puteri Ungu, Raja Aceh Sultan Alauddin Riyat Syah dan Sultan Asahan Pertama, Abdul Jalil Rakhmad Syah, yang juga sebagai orang pertama pembawa agama Islam masuk ke Asahan abad 15 Masehi yang berlokasi di masjid Pulau Raja Pekan.

Kehadiran Raja Aceh, Sultan Alauddin Riyat Syah Al Qahar (Sultan Alaidin Mahkota Akam Johan Berdaulat) yakni Sultan Aceh ke XIII (1537-1568 M) ke Sungai Asahan yang menjadi awal berdirinya Asahan. Jika diinterpretasikan, ada dua versi yang mengundang kedatangan raja Aceh itu pada tahun 1540 Masehi lalu. Menurut versi legenda, armada laut kerajaan Aceh itu mendarat di Asahan untuk mencari Puteri Hijau yang lepas dari tangkapan panglimanya di Kuala Deli (Belawan), sehingga menyisir pesirir pantai Sumatera Timur hingga sampai ke Sungai Asahan. Tapi mereka gagal menemukannya.

Versi kedua adalah fakta sejarah, yang meceritakan setelah Sultan Alauddin Riayat Syah Al Qahar berhasil menaklukkan kerajaan Melayu di Deli Tua, yang dikuasai Sultan Johor, tahun 1539 Masehi, maka sekitar tahun 1540 Masehi, Sultan Aceh telah membawa armada lautnya yang sangat besar untuk mengejar Sultan Johor yang melarikan diri dari Deli Tua. Tapi Sultan Johor gagal ditemukan, karena telah berlayar kembali ke negerinya Johor melalui pantai Kuala Tanjung.

Karena gagal menemukan musuhnya Sultan Johor, maka Raja Aceh dan rombongan angkatan perangnya telah memasuki Sungai Asahan yang tak berpenghuni sejauh tiga tanjung arah ke hulu. Mereka telah beristirahat di Dusun Persembahan, sekarang masuk wilayah Desa Sei Paham, Kecamatan Sei Kepayang. Dan di tempat inilah para serdadu kerajaan Aceh itu menemukan sejenis rumput berdaun lebar dan berbulu keras yang bisa dipergunakan untuk mengasah dan membersihkan karat-karat yang melekat pada keris, pedang, tombak, lembing, dan meriam yang berkarat akibat pengaruh air laut yang asin.

Peristiwa itu diprediksi terjadi tahun 1540 M, atau setelah raja Aceh menaklukkan kerajaan Melayu di Deli Tua. "Untuk mengetahui tanggal dan bulannya, sebaiknya dibentuk sebuah tim kebudayaan untuk melakukan penelitian ke Nangroe Aceh Darussalam (NAD), atau meminta bantuan para pakar sejarah Melayu dan Aceh, di saat kapan kira-kira raja Aceh Sultan Alauddin Riayat Syah melakukan penyerangan ke Johor setelah melakukan peperangan di Deli Tua," kata Zasnis Sulungs.

Akhirnya Raja Aceh menamakan rumput ini dengan nama rumput "asahan" dan bibit-bibit rumput itu telah mereka ambil sebanyak-banyaknya untuk ditanam di negeri Aceh.

Ketika agak bingung karena tak menemukan orang di hilir sungai yang berarus deras dan jernih ini, tiba-tiba Raja Aceh melihat beberapa tungkul jagung bakar dan kulit cempedak hanyut dari hulu ke hilir. Menurut raja Aceh, ini membuktikan keberadaan manusia di bagian hulu sungai jernih ini. Lalu ia memerintahkan para hulubalangnya untuk berangkat ke hulu dengan membawa sekoci, untuk mencari warga yang ada di daerah ini untuk mengetahui apakah negeri ini mempunyai seorang raja berdaulat.

Ketika para hulubalang kerajaan Aceh itu berlayar ke hulu, mereka menemukan kampung bernama Tualang di tepian sungai itu. Kemudian hulubalang Aceh tersebut bertemu dengan orang bernama Sibayak Lingga marga Karo-karo, yang bertugas sebagai hulubalang Raja Simargolang dari dinasti ke III, yang ketika itu bersemayam di Huta Bayu, sekarang Pancuran Raja, Desa Rahubing, Kecamatan Rahubing.

Dalam pertemuan tersebut, utusan raja Aceh telah meminta Sibayak Lingga supaya membawa rajanya Simargolang menemui raja Aceh yang sedang menunggu dihilir sungai itu. Karena itu Sibayak Lingga langsung berlayar ke hulu sungai itu untuk menemui Raja Simargolang.

Tapi celakanya Raja Simargolang merasa enggan dan takut menemui Raja Aceh yang perkasa itu, mengingat ia tidak bisa berhasa Melayu atau Aceh dan bahasa yang dikuasainya hanya bahasa Batak Toba. Demikian juga dengan para keluarga raja dan putera mahkota raja Simargolang, tak satupun yang sudi menemui raja Aceh, juga karena merasa takut.

Setelah melalui rapat kerajaan di sopo godang, maka diputuskanlah orang yang pantas mewakili raja Simargolang menemui raja Aceh terebut, hanyalah hulubalang Sibayak Lingga, terlebih karena ia bisa berbahasa Aceh, Melayu, Karo dan Batak. Maka ketika itu juga Sibayak Lingga dihiasi dengan pakaian adat kebesaran kerajaan Simargolang, sehingga penampilan sangat gagah berwibawa. Dengan diiringi beberapa pengawal, lalu mereka berangkat ke hilir menemui raja Aceh dengan mempergunakan kapal kerajaan yang dihiasi dengan megah.

Ketika sampai ke kapal kerajaan Aceh, maka Sibayak Lingga langsung dibawa para hulubalang menghadap Sultan Alauddin Riayat Syah. Dan Sultan Aceh itu telah menyambut Sibayak Lingga dengan sukacitanya, karena ketika itu Sibayak Lingga telah membawa barang-barang persembahan kiriman Raja Simargolang, berupa beberapa kain ulos, duplikat tungkat tunggul panaluan dan pedang pusaka.

Ketika itu raja Aceh bertanya kepada Sibayak Lingga, apa nama negeri tempatnya tinggal ini. Ketika itu Sibyak Lingga menjawab, bahwa nama negeri ini adalah "Pardembanan" (dialek Batak=Tempat makan sirih).

Tapi raja Aceh meminta Sibayak Ligga supaya menabalkan negeri ini dengan nama "Asahan", karena ditemukannya sejenis rumput yang bisa mengasah di tempat ini dan supaya raja Aceh itu bisa mengingat keberadaan negeri ini. Jadi saat raja Aceh menabalkan nama Asahan.

Saat itu raja Aceh bertanya, kenapa masyarakat tidak ada yang membangun perkampungan di hilir sungai yang subur dan indah ini. Lalu, Sibayak Lingga menjawab, karena raja Simargolang dan rakyatnya semua adalah orang gunung, yang hanya bisa bekerja sebagai petani di sawah atau ladang, berburu dan mencari damar dan rotan di hutan. Sedang untuk bekerja dibagian pantai atau menjadi nelayan mereka belum punya pengalaman.

Makanya raja Aceh meminta Sibayak Lingga supaya membangun kampung baru di hilir sungai yang juga telah ditabalkan Sultan Alauddin Riayat Syah dengan nama Asahan itu, supaya memeroleh kemakmuran dan apabila raja Aceh itu melawat ke negeri yang indah ini mudah menemuinya. Setelah memberikan separangkat pakaian kerajaan Aceh berikut sebuah meriam locok yang kecil, dan sebilah rencong berhulu gading, maka raja Aceh mengucapkan kata perpisahan. Dan setelah bersusun sembah Sibayak Lingga pun turun dari kapal kerajaan Aceh itu dan kembali ke istana Simargolang.

Sedangkan raja Aceh dengan armada lautnya yang besar itu telah meninggalkan Sungai Asahan menuju negeri Johor di semenanjung Malaya (sekarang Malaysia) dan telah melakukan peperangan hebat di sana. Tempat pertemuan raja Aceh dengan Sibayak Lingga tersebut, kemudian hari dinamakan kampung Persembahan, disebabkan Sibayak Lingga pernah menyampaikan persembahan kepada raja Aceh di tempat ini. Tak lama kemudian Sibayak Lingga pun memohon izin kepada Raja Simargolang untuk menunaikan perintah raja Aceh, membangun perkampungan baru di hilir Sungai Asahan itu, yang kemudian kampung itu dinamakan kampung Tualang, sekarang berada dalam areal perkebunan PT Padasa Teluk Dalam. Kenapa dinamakan kampong Tualang, karena di tempat ini ditemukan sebatang kayu Tualang (kayu raja) yang sangat besar, dan pada saat ini telah tumbang dan yang tertinggal sekarang ini hanya tunggulnya sepanjang sekitar 4 meter, yang menurut masyarakat di tempat itu terbilang angker. Karena beberapa orang pekerja perkebunan dimasa lalu sudah pernah hilang raib tak berkesan di tempat ini. (Syafruddin Yusuf, ) 



Sumber:
http://www.sumutcyber.com/?open=view&newsid=11755&cat=&pid=10

Simargolang

Simargolang
Diambil dari Depdagri.go.id dan MelayuOnline.com
Kerajaan Asahan

1. Sejarah
Sejarah Kerajaan Asahan bermula, ketika Sultan Aceh, Iskandar Muda melakukan perjalanan ke Johor dan Malaka pada tahun 1612 M. Dalam perjalanan menuju tujuan tersebut, rombongan raja ini beristirahat di sebuah kawasan, di hulu sebuah sungai yang kemudian dinamakan Asahan. Selesai beristirahat di hulu sungai ini, kemudian perjalanan dilanjutkan ke sebuah daerah yang berbentuk tanjung, yaitu daerah pertemuan antara Sungai Asahan dengan Sungai Silau. Di tanjung tersebut, Sultan Iskandar bertemu dengan Raja Simargolang. Sebagai tempat menghadap kepada raja, di daerah tersebut kemudian dibangun sebuah pelataran atau balai. Dalam perkembangannya, daerah ini kemudian menjadi perkampungan denga nama Tanjung Balai. Karena letaknya yang strategis di lintasan jalur perdagangan antara Aceh dan Malaka, maka Tanjung Balai kemudian berkembang pesat.

Dari pertemuan Sultan Iskandar Muda dengan Raja Simargolang di atas, hubungan mereka kemudian bertambah erat dengan perkawinan Sultan Iskandar Muda dengan salah seorang putri Raja Simargolang. Dari perkawinan tersebut, kemudian lahir seorang putra bernama Abdul Jalil. Kelak, Abdul Jalil inilah yang menjadi Sultan Asahan pertama pada tahun 1630 M. Dalam perjalanannya, karena adanya ikatan kekerabatan dengan Aceh, maka kerajaan ini menjadi daerah bawahan Aceh hingga awal abad ke-19 M. Pada 12 September 1865 M, Asahan ditaklukkan oleh kolonial Belanda. Ketika Indonesia merdeka, Asahan bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tahun 1946 M.

Selain dengan Aceh, hubungan Kesultanan Asahan dengan Kerajaan Batak juga terjalin dengan mesra. Bahkan, Sisingamangaraja XII pernah berinisiatif untuk meminang putri Sultan Asahan. Pinangan tersebut disetujui oleh Sultan Asahan, karena mereka yakin Sisingamangaraja telah memenuhi syarat untuk melakukan ijab kabul. Namun pernikahan tersebut batal akibat masuknya Belanda.

2. Silsilah
1. Sri Paduka Raja Abdul Jalil I bin Almarhum Sultan Iskandar Muda Johan Berdaulat (1630-16.. M)
2. Sri Paduka Raja Said Shah bin Almarhum Raja Abdul Jalil (16..-17..M)
3. Sri Paduka Raja Muhammad Mahrum Shah ibni al-Marhum Raja Said Shah (17..-1760 M)
4. Sri Paduka Raja `Abdu`l Jalil Shah II ibni al-Marhum Raja Muhammad Mahrum Shah (1760-1765 M)
5. Sri Paduka Raja Deva Shah ibni al-Marhum `Abdu`l Jalil [al-Marhum Mangkat di Pasir Putih) 1765-1805 M)
6. Sri Paduka Raja Said Musa Shah ibni al-Marhum Raja Deva Shah [al-Marhum Mangkat di-Rantau Panjang] (1805-1808 M)
7. Sri Paduka Raja Muhammad `Ali Shah ibni al-Marhum Raja Deva Shah 1808-1813 M
8. Sri Paduka Tuanku Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah I ibni al-Marhum Sultan Muhammad `Ali Shah [al-Marhum Kampung Masjid] 1813-1859 M)
9. Sri Paduka Tuanku Sultan Ahmad Shah ibni al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah 1859-1888 M)
10. Sri Paduka Tuanku Al-Haji Abdullah Nikmatullah Shah ibni al-Marhum Raja Muhammad Ishak, Raja Kualuh dan Leidong, juga Yang di-Pertuan Muda di Asahan. Ia ditujuk oleh Belanda setelah saudaranya, Sultan Ahmad Shah diturunkan secara paksa (1865-1867 M)
11. Sri Paduka Tuanku Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah II ibni al-Marhum Tengku Muhammad `Adil (1888-1915 M)
12. Sri Paduka Tuanku Sultan Sha`ibun `Abdu`l Jalil Rahmad Shah III ibnu al-Marhum Sultan Muhammad Husain (1915-1980 M)
3. Periode Pemerintahan
Sepanjang masa berdirinya, di Kerajaan Asahan telah berkuasa sebelas orang raja.
4. Wilayah Kekuasaan
Wilayah Kerajaan Asahan mencakup daerah yang sekarang menjadi Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, Indonesia.

5. Struktur Pemerintahan
Asahan adalah kerajaan kecil yang menjadi bawahan Aceh, maka secara otomatis, struktur kekuasaan tertinggi berada di tangan Sultan Aceh. Di daerah Asahan sendiri, terlepas dari relasinya dengan Aceh, kekuasaan tertinggi berada di tangan sultan, yang bergelar Yang Dipertuan Besar/Sri Paduka Raja. Jabatan yang lebih rendah adalah Yang Dipertuan Muda. Untuk daerah Batubara dan kawasan yang lebih kecil, pemerintahan dijalankan oleh para datuk.

Ketika Asahan ditaklukkan oleh Belanda pada 12 September 1865, terjadi perubahan struktur kekuasaan, dengan Belanda sebagai penguasa tertinggi. Wakil tertinggi Belanda yang berada di Asahan adalah Kontroler yang diperkuat dengan Gouverments Besluit tanggal 30 September 1867 nomor 2, tentang pembentukan Afdeling Asahan yang berkedudukan di Tanjung Balai. Berdasarkan keputusan itu juga, Asahan dibagi mejadi tiga wilayah pemerintahan, yaitu:
1. Onder Afdeling Batubara
2. Onder Afdeling Asahan
3. Onder Afdeling Labuhan Batu
Walaupun Belanda memegang kekuaasan tertinggi dan membagi Asahan menjadi tiga pemerintahan, namun, pemerintahan para Datuk di wilayah Batubara tetap diakui Belanda. Hanya saja, kekuasaannya telah jauh berkurang, tidak seperti sebelumnya.

Secara khusus Belanda juga membagi wilayah kekuasaan sultan dan para datuk. Untuk wilayah pemerintahan kesultanan, Belanda membaginya menjad distrik dan onder distrik, yaitu:
1. Distrik Tanjung Balai dan Onder Distrik Sungai Kepayang
2. Distrik Kisaran
3. Distrik Bandar Pulau dan Onder Distrik Bandar Pasir Mandoge

Sedangkan wilayah pemerintahan para datuk di Batubara dibagi menjadi wilayah Self Bestuur, yaitu:
1. Self Bestuur Indrapura
2. Self Bestuur Lima Puluh
3. Self Bestuur Pesisir
4. Self Bestuur Suku Dua (Bogak dan Lima Laras)

Ketika Belanda menyerah pada Jepang, maka Asahan otomatis berada di bawah kekuasaan Jepang. Saat itu, Jepang yang dipimpin oleh T. Jamada mengganti struktur pemerintahan di Asahan menjadi Bunsyu dan bawahannya Fuku Bunsyu. Daerah Fuku Bunsyu adalah Batubara, sementara yang lebih kecil diubah menjadi distrik. Distrik-dsitrik tersebut adalah: Tanjung Balai, Kisaran, Bandar Pulau, Pulau Rakyat dan Sei Kepayang.

Pemerintahan Fasisme Jepang berakhir pada tanggal 14 Agustus 1945 dan tanggal 17 Agustus 1945, kemerdekaan Republik Indonesia diproklamirkan. Sesuai dengan perkembangan Ketatanegaraan RI, maka berdasarkan UU Nomor 1 Tahun 1945, Komite Nasional Indonesia wilayah Asahan dibentuk pada bulan September 1945. Pada saat itu pemerintahan yang dipegang oleh Jepang sudah tidak ada lagi, tapi pemerintahan Kesultanan dan pemerintahan Fuku Bunsyu di Batubara masih tetap ada.

Pada tanggal 15 Maret 1946, berlaku struktur pemerintahan RI di Asahan dan wilayah Asahan dipimpin oleh Abdullah Eteng sebagai Kepala Wilayah dan Sori Harahap sebagai Wakil Kepala Wilayah, sedangkan Asahan dibagi atas 5 (lima) kewedanaan, yaitu:
1. Kewedanaan Tanjung Balai
2. Kewedanaan Kisaran
3. Kewedanaan Batubara Utara
4. Kewedanaan Batubara Selatan
5. Kewedanaan Bandar Pulau
Pada Konferensi Pamong Praja se-Keresidenan Sumatera Timur pada bulan Juni 1946 diadakan penyempurnaan struktur pemerintahan, yaitu:
1. Sebutan Wilayah Asahan diganti dengan Kabupaten Asahan
2. Sebutan Kepala Wilayah diganti dengan Bupati
3. Sebutan Wakil Kepala Wilayah diganti dengan Patih
4. Kabupaten Asahan dibagi menjadi 15 (lima belas) wilayah kecamatan, terdiri dari:
a) Kewedanaan Tanjung Balai dibagi atas:
• Kecamatan Tanjung Balai
• Kecamatan Air Joman
• Kecamatan Simpang Empat
• Kecamatan Sei Kepayang
b) Kewedanaan Kisaran dibagi atas:
• Kecamatan Kisaran
• Kecamatan Air Batu
• Kecamatan Buntu Pane
c) Kewedanaan Batubara Utara dibagi atas:
• Kecamatan Medang Deras
• Kecamatan Air Putih
d) Kewedanaan Batubara Selatan dibagi atas:
• Kecamatan Talawi
• Kecamatan Tanjung Tiram
• Kecamatan Lima Puluh
e) Kewedanaan Bandar Pulau dibagi atas:
• Kecamatan Bandar Pulau
• Kecamatan Pulau Rakyat
• Kecamatan Bandar Pasir Mandoge
Dengan mempertimbangkan posisi yang lebih strategis, maka pada tanggal 20 Mei 1968, melalui PP Nomor 19 Tahun 1980, ibukota Kabupaten Asahan dipindahkan dari Kota Tanjung Balai ke Kota Kisaran.

6. Kehidupan Sosial Budaya
Sebagai kesultanan yang berada dalam pengaruh kebuadayaan Islam, maka di Asahan juga berkembang kehidupan keagamaan yang cukup baik. Bahkan, ada seorang ulama terkenal yang lahir dari Asahan, yaitu Syeikh Abdul Hamid. Ia lahir tahun 1880 M (1298 H), dan wafat pada 18 Februari 1951 (10 Rabiul Awal 1370 H). Datuk, nenek dan ayahnya berasal dari Talu, Minangkabau. Syekh Abdul hamid belajar agama di Mekkah, karena itu, ia sangat disegani oleh para ulama zaman itu. Dalam perkembangannya, murid-murid Syekh Abdul Hamid inilah yang kelak mendirikan organisasi Jamiyyatul Washliyyah. Sebuah organisasi yang berbasis pada aliran sunni dan mashab Syafii. Dalam banyak hal, organisasi ini memiliki persamaan dengan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) yang didirikan oleh para ulama Minangkabau. Adanya banyak persamaan ini, karena memang para ulama tersebut saling bersahabat baik sejak mereka menuntut ilmu di Mekkah. Pandangan para tokoh agama ini sangat berbeda dengan paham reformis yang dibawa oleh para ulama muda Minangkabau, seperti Dr. Haji Abdul Karim Amrullah. Oleh sebab itu, sering terjadi polemik di antara para pengikut kedua paham yang berbeda ini.

Di paruh pertama abad ke-20, sekitar tahun 1916, di Asahan telah berdiri sebuah sekolah yang disebut Madrasah Ulumul Arabiyyah. Sebagai direktur pertama, ditunjuk Syekh Abdul Hamid. Dalam perjalanannya, madrasah Ulumul Arabiyah ini kemudian berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang penting di Asahan, bahkan termasuk di antara madrasah yang terkenal di Sumatera Utara, sebanding dengan Madrasah Islam Stabat, Langkat, Madrasah Islam Binjai dan Madrasah al-Hasaniyah Medan. Di antara ulama terkenal lulusan sekolah Asahan ini adalah Syeikh Muhammad Arsyad Thalib Lubis (1908-1972 M).

Peninggalan tertulis warisan Kerajaan Asahan hanya berkaitan dengan buku-buku di bidang keagamaan yang dikarang oleh para ulama untuk kepentingan pengajaran. Berikut ini beberapa buah buku yang dikarang oleh Syeikh Abdul Hamid di Asahan, yaitu:
1. Ad-Durusul Khulasiyah
2. Al-Mathalibul Jamaliyah
3. Al-Mamlakul `Arabiyah.
4. Nujumul Ittiba.
5. Tamyizut Taqlidi Minal Ittiba.
6. Al-Ittiba.
7. Al-Mufradat.
8. Mi`rajun Nabi.


Sumber:
 http://julfan.wordpress.com/simargolang/

RAJA SIMARGOLANG

RAJA SIMARGOLANG

Oleh : Nazaruddin Margolang, S.IP.,M.Si

        Daerah Asahan dan Daerah Labuhan Batu sebenarnya adalah sebagai daerah hilang bagi suku bangsa Batak Toba Tua serupa  dengan daerah-daerah Langkat. Deli dan Serdang, karena pola kebudayaan adat Dalihan Natolu sampai sebelum pengakuan kedaulatan sudah hilang lenyap disana, akibat dari salah mengerti atau akibat penerangan-penerangan yang keliru pada permulaan perkembangan agama Islam yang dibawa oleh penganjur-penganjur agama itu dari negeri lain. Karena dahulu apakala seorang sukubangsa Batak telah memeluk agama Islam dianggap telah menjadi “Malai” atau “Melayu” Pengertian yang keliru ini baru mulai berangsur diperbaiki setelah meletus revolusi social di Sumatera timur pada Tahun 1946.
 
Salah satu marga tertua dan terkenal di Asahan ialah marga “Simargolang” berasal dari Raja Simargolang salah seorang putera dari Ompu Sahang Mataniari.

        Tarombo marga Simargolang karena sudah sejak lama seluruhnya meninggalkan pusat negeri Toba, tidak begitu jelas lagi dalam buku-buku tarombo marga-marga sukubangsa Batak Toba tua. Menurut hikayat lama adapun Ompu Sahang Mataniari alias Ompu Sahang Matanibulan, adalah paman dari Si Nagaisori yang tercatat dalam buku tarombo sebagai putera dari Sipongki Nangolngolan (Tuanku Rao), yakni masuk ke dalam tarombo marga Rajagukguk (salah satu cabang dari marga Aritonang) Akan tetapi berdasarkan penelitian sejarah akhir-akhir ini sebenarnya adalah masuk marga sinambela cucu dari Tuan Singa Mangaraja ke VIII. (Sumber : Foto Copy buku yang ada di Keluarga Nahar Margolang, Judul Buku dan Penulis tidak ada) 
 
Dalam keluarga Nahar Margolang sebagaimana diceritakannya kepada anak-anaknya tentang Raja Simargolang adalah sebagai berikut :
Kerajaan Margolang dahulu kala berpusat di Pulau Raja dengan wilayah kekuasaan Asahan - Labuhan Batu, Raja terakhir yang mejadi raja adalah Raja Marlau. Pada saat itu Indonesia telah dijajah Belanda. Kepada Raja Marlau Belanda menawarkan untuk membangun Kelapa Sawit dan Pabrik di Tanah kekuasaannya. Hal ini ditolak oleh Raja dengan alasan : Kalau tanah di jadikan Kebun Kelapa Sawit oleh Belanda maka rakyatnya nanti akan menjadi Budak Belanda, hal ini tidak dikehendaki oleh Raja.

Pada saat itu lalulintas komunikasi keluar kerajaan dilakukan melalui pelabuhan di Tanjung Balai. Sebagai petugas penghubung   kerajaan menetapkan seorang yang dapat dipercaya untuk itu. Pada suatu ketika Penghubung tadi menghadap Raja dan memberitahukan bahwa pada saat ini banyak kesibukan yang memerlukan legalisasi kerajaan, sementara transportasi antara Pulau Raja dan Tanjung Balai cukup jauh ukuran saat itu. Untuk memudahkan administrasi beliau meminta agar Raja memberikan kepercayaan kepadanya untuk membawa Cap Kerajaan, sehingga dia tidak perlu pulang pergi ke Pulau Raja bila hanya menyangkut administrasi.   Dengan alasan kemudahan administrasi maka Raja memberikan Cap tersebut kepada Penghubung   tadi. Ternyata kepercayaan itu dimanfaatkan oleh Belanda untuk melegalisasi izin membangun kebun di Pulau Raja. Maka penghubung tadi di manfaatkan Belanda untuk menggunakan Cap Kerajaan dan melakukan perjanjian dengan Belanda atas nama Raja untuk membangun kebun Kelapa Sawit.
 
Maka dengan berbekal surat tersebut Belanda membangun kebun Kelapa Sawit. Raja tidak dapat melarang karena Belanda telah memiliki surat resmi dari kerajaan yang lengkap dengan Cap Kerajaan. Alkisah Raja tidak lagi memiliki legitimasi untuk mengatur kerajaannya.

          Satu-satunya peninggalan kerajaan yang dapat dilihat. Orang tua kami menunjukkan benteng untuk menangkis serangan Belanda. Berupa unggukan tanah membentang di salah satu Desa di Pulau Raja, dengan lebar lebih kurang 5 meter dan tinggi 3 meter.    Sayang benteng tersebut berada di tanah yang telah dimiliki secara perorangan. Namun pada saat itu meskipun telah ditumbuhi rumput dan pepohonan (saya masih SD sekitar Tahun 70 an) masih dapat terlihat jelas benteng tersebut. Hingga saat ini saya memang belum pernah  berkunjung ke Benteng tersebut, namun informasinya Benteng tersebut masih dapat dilihat.

SILSILAH KELUARGA KAMI DIMULAI DARI RAJA BATAK DAN SETERUSNYA  MENURUT NOMOR URUT ADALAH ANAK, CUCU,  CICIT, dst :
  1. Si Raja Batak
  2. Guru Tatea Bulan
  3. Saribu Raja I
  4. Raja Borbor
  5. T. Balasahunu
  6. R. Hatorusan
  7. O.T. Raja Doli Datu Taladibabana
  8. Sabung/Sahang   Mataniari
  9. Simargolang
  10. R. Margolang II (Bermakam di Huta Raja)
  11. R. Margolang III (Bermakam di Marjanji Aceh, Kec. Bandar Pulau)
  12. R. Pulu Raja IV (Bermakam di Pancuran Raja)
  13. R. Pulu Raja V (Bermakam di Kampung Raja)
  14. R. Pulu Raja VI (Bermakam di Pulu Raja)
  15. R. Pulu Raja VII (bermakam di Sei Berita, Pulu Raja)
  16. R. Marsiha
  17. R. Janggut  (Bermakam di Pulau Sarune, lalu di pindahkan oleh R. Nahar ke pangkal Titi Gantung Pulau Raja, Pemakaman Keluarga Nahar Margolang)
  18. R. Dohon (Bermakam di Pemakaman Keluarga Nahar Margolang, Pangkal Titi Gantung Pulau Raja)
  19. R. Pangaruhat : (Bermakam di Kedai Kawat, Pulau Raja)
Anaknya R. Pangaruhat :
1.       R. Wani (Bermakam di Pulau Tanjung, Kec. Simpang Empat)
2.       R. Nahdon (Bermakam di Pemakaman Keluarga Nahar Margolang, Pangkal Titi Gantung Pulau Raja)
3.       R. Nahar (Bermakam di Pemakaman Keluarga Nahar Margolang, Pangkal Titi Gantung Pulau Raja)

Cucu R. Pangaruhat  :
Dari R. Wani :
1.       R. Mahtom (Berdomisili di Pasir Putih, Air Batu, Asahan)
Dari R. Nahdon :
1.       R. Kamaliah (Berdomisili di Kec. Marpoyan Damai, Kota Pekanbaru)
2.       R. Neng Nurbaya (Berdomisili di Ke. Siak Hulu, Kampar)
3.       R. Asahan Dahlan (Berdomisili di Balam, Kabupaten Rokan Hilir)
Dari R. Nahar :
1.       Drs. Idris Margolang (Berdomisili di  Seidadap, Kisaran)
2.       Nazaruddin Margolang, S.IP.,M.Si (Berdomisili di Kec. Bukit Raya, Kota Pekanbaru)
3.       Mahlina Margolang (Berdomisili di Pulau Tanjung, Asahan)
4.       Enda Margolang, SE (Berdomisili di Kota Tanjung Balai)
5.       Siti Nurbiah Margolang (Berdomisili Piasa Ulu, Kab. Asahan)
6.       Azhar Margolang, S.Ag (Berdomisii di Kota Tanjung Balai)
7.   Agushar Margolahng, S.Kom (Berdomisili di Kec. Bukit Raya, Kota Pekanbaru)
8.   Ahmaddin Margolang, S.Pi (Berdomisili di Kec. Bukit Raya, Kota Pekanbaru)
 
 
 Sumber:
 http://kecamatanbandarpulau.blogspot.com/2010/07/raja-simargolang.html

Situs Hindu di Pahae akan diinventarisasi

Monday, 16 May 2011 16:11   
Situs Hindu di Pahae akan diinventarisasi
WASPADA ONLINE
PAHAE – Pemkab Tapanuli Utara (Taput) akan menginventarisasi dan memugar benda-benda peninggalan agama Hindu di kawasan Pahae, tepatnya di Dusun Hopong, Desa Dolok Sanggul, Kecamatan Simangumban.

Bupati Taput Torang Lumbantobing (Toluto) mengatakan, saat ini mereka sedang mengupayakan penginventarisasian benda-benda kuno bersejarah tersebut. Sebab, bendabenda kuno berupa patung dan beberapa situs batu seperti gua merupakan aset sejarah bangsa yang harus dijaga. ”Sejauh ini,kami belum dapat menembus langsung hingga ke kawasan Dusun Hopong. Namun, Dinas Pariwisata berencana menginventarisasi terlebih dahulu.

Jika memungkinkan untuk dipugar, maka akan kami pugar,” katanya di Simangumbang, kemarin. Toluto meminta masyarakat di kawasan Dusun Hopong untuk menjaga, merawat, dan melestarikan benda-benda bersejarah itu beserta kawasan di sekitarnya. Dusun Hopong merupakan situs sejarah yang menjadi bukti adanya kehidupan di kawasan tersebut sejak zaman Hindu kuno.

”Benda-benda dan situs bersejarah itu membuktikan bahwa sejak dulu di kawasan Tapanuli sudah ada tertata kehidupan yang sangat baik. Ini salah satu kekayaan kita. Karena itu, masyarakat harus turut menjaganya,”tuturnya. Camat Simangumban B Nainggolan mengatakan, berdasarkan hasil tinjauannya terakhir ke kawasan Dusun Hopong, masih tersisa beberapa peninggalan Hindu yang sangat berharga, berupa patung.

Namun,dia tidak bisa memastikan jumlah benda-benda bersejarah yang tersisa karena sudah banyak yang rusak dan sebagian juga hilang. ”Kalau yang kami lihat dari tinjauan terakhir, ada lebih dari sepuluh patung yang utuh. Ada juga yang disimpan atau disembunyikan warga. Kami sudah meminta kepada warga agar barang-barang bersejarah yang disimpan dicatat dan nantinya dikembalikan agar disatukan kembali,”paparnya.

Sementara itu, Budayawan Batak Toba Thompson HS mengatakan, situs di Dusun Hopong tersebut dimungkinkan peninggalan Hindu kuno. Sebab, pergeseran masyarakat Hindu dulunya juga terjadi dari kawasan Tapanuli Selatan (Tapsel) hingga ke arah Simalungun. Namun, untuk kepastiannya, harus dilakukan riset yang melibatkan antropolog dan para ahli purbatua.

Apalagi, keberadaan peninggalan benda bersejarah tersebut selama ini masih terkesan sebatas cerita yang tidak pernah diteliti hingga tuntas. ”Bahkan, sejak masih SMA dulu, saya sudah pernah mendengar tentang benda bersejarah tersebut dari guru antropolog saya dan disebutkan bahwa di sana juga ada gua.Namun, sampai saat ini belum dilakukan penelitian terhadap bendabenda dan gua,”katanya.

Editor: PRAWIRA SETIABUDI
(dat01/antara)
 
 
 http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=194026:-situs-hindu-di-pahae-akan-diinventarisasi-&catid=15:sumut&Itemid=28

Suku Kluwat dan Sejarahnya


Suku Kluwat dan Sejarahnya

Senin, 27 Agustus 2012.

Oleh : David 

Suku Kluwat dan Sejarahnya


Kabupaten Aceh Selatan dengan ibukotanya Tapaktuan merupakan salah satu kota yang kaya sejarah di provinsi Aceh. Banyak situs budaya yang layak dijadikan objek wisata islami di daerah itu. Sayangnya, semua terkesan ‘tenggelam’ atau hilang seiring waktu.
Tak hanya objek wisata, sejumlah suku, bahasa, termasuk wilayah pun terkesan dilupakan. Sebut saja di antaranya suku dan wilayah Kluwat. Diwilayah tersebut terdapat sebuah suku yakni Suku Kluwat yang merupakan satu di antara dua suku lainnya seperti Suku Aceh dan Suku Aneuk Jamee yang hidup di wilayah Aceh Selatan. Suku ini umumnya terdapat di wilayah Kluet Utara, Kluet Timur, Kluet Tengah, dan Kluet Selatan.

Sejarah Suku Kluwat
Menurut sejumlah literatur, kajian sejarah Kluet sangat erat kaitannya dengan Kerajaan Laut Bangko (Bukhari RA, dkk., 2008:11). Laut Bangko dulunya merupakan sebuah danau mini yang berlokasi di tengah hutan Taman Nasional Gunung Leuser, bagian barat, yang berbatasan dengan Kecamatan Bakongan dan Kecamatan Kluet Timur, saat ini.

Dikisahkan bahwa Kerajaan Laut Bangko ini pernah megah tempoe doeloe. Raja yang terakhir yang sempat memimpin kerajaan tersebut, menurut Bukhari, dkk (2008:12) bernama Malinda dengan permaisuri Rindi. Setelah rajanya meninggal, daerah ini tenggelam kala banjir besar melanda.
Penduduknya kemudian berusaha mencari daratan baru, sebagain ke Tanah Batak, sebagian ke Singkil, sebagian ada yang masih tetap pada lokasi semula dengan mencari dataran tinggi yang baru. Dari sini kemudian timbul pendapat terjadinya kemiripan bahasa antara bahasa Kluwat dengan bahasa Batak, bahasa Alas, bahasa Karo, dan bahasa Singkil.

Sumber sejarah lisan (folklor) lainnya menyebutkan bahwa saat berkecamuk perang dahsyat di Aceh, ada sebuah komunitas masyarakat kala itu yang terpecah-pecah akibat menyelamatkan diri. Ada yang lari ke wilayah Kerajaan Kecil Chik Kilat Fajar di selatan Aceh, ada yang melarikan diri ke pedalaman-pedalaman lainnya dalam wilayah yang sama. Yang berada di wilayah Chik Kilat Fajar kemudian membuka komunitas sendiri, yaitu di kaki gunung Kalambaloh. Sedangkan di wilayah lainnya, juga membuat komunitas sendiri pula sehingga masih terdapat kemiripan bahasa antara yang berada di wilayah selatan Aceh (Chik Kilat Fajar) dengan beberapa wilayah lainnya seperti Singkil, dan Tanoh Alas, termasuk Sumatera Utara.

Terlepas dari sejarah yang sulit ditemukan kekonkretannya itu, wilayah Kluet tetap diakui sebagai satu kesatuan dalam Kabupaten Aceh Selatan. Pengakuan ini sejak daerah tingkat II Aceh Selatan masih tersebar hingga ke Singkil, Subulussalam, dan Aceh Barat Daya. Hanya saja, mulanya Kluet masa itu dua wilayah saja, yakni Kluet Utara dan Kluet Selatan. Kluet Utara beribukotakan Kotafajar dan Kluet Selatan ibukotanya Kandang.

Seiring maraknya gejolak pemekaran di Aceh, tepatnya sejak Aceh memperoleh status Otonomi Khusus dan diperkuat oleh Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA), wilayah Kluet pun pecah menjadi lima: Kluet Utara (Kotafajar), Kluet Selatan (Kandang), Kluet Tengah (Menggamat), Kluet Timur (Paya Dapur), dan Kluet Barat (Pasieraja). Ironis, pemekaran wilayah ini menurut isu yang berkembang saat itu ternyata menimbulkan konflik baru di wilayah Kluet. Pasieraja misalnya, karena tidak ada masyarakat Pasieraja yang berbahasa ibu bahasa Kluwat, orang-orang di sini terkesan tidak mengakui wilayahnya sebagai wilayah Kluet. Bahkan, sempat tersebar isu, jika dipaksakan wilayah Pasieraja dengan nama Kluet Barat, masyarakat di sini akan minta wilayahnya dimasukkan ke Kecamatan Tapaktuan saja. Karena itu, plang nama kantor camat wilayah ini dengan jelas ditulis “Camat Kecamatan Pasieraja”, bukan “Camat Kecamatan Kluet Barat dengan Ibukota Pasieraja”. Singkatnya, saya juga tidak mengerti kenapa sampai begitu kejadiannya karena saya paling anti dengan adanya budaya budaya pemekaran yang terkesan memecah belah sistem kemasyarakatan.

Adat dan Budaya
Sebenarnya, Kluet memiliki adat dan budaya yang heterogen. Hal ini karena wilayah tersebut didiami tiga suku: Kluwat, Aceh, dan Aneuk Jamee. Tentu saja ini kekayaan tersendiri bagi masyarakat Kluet jika mereka mau bersatu-padu.

Namun yang saya dengar dari masyarakat ternyata keberagaman kebudayaan ini pula yang menyebabkan terjadi sedikit perpecahan di antara masyarakat Kluet. Mereka yang berbahasa ibu bahasa Aceh seakan tidak mau disebut sebagai orang kluwat. Sebaliknya, mereka yang berbahasa ibu bahasa kluwat ada yang enggan disebut sebagai bagian dari suku Aceh. Inilah yang terjadi saat ini. Tidak seperti zaman dahulu, semuanya bersatu dalam bingkai kerajaan kecil, Chik Kilat Fajar.

Terlepas dari perpecahan internal itu, Kluet memiliki sejumlah adat dan budaya yang masih lestari. Adat dan budaya itu bertunas dan tumbuh dalam kearifan masyarakatnya secara umum. Adat istiadat tersebut terus kontinyu turun temurun. Hal ini dapat dilihat pada prosesi perkawinan, sunat rasul, kematian, pengobatan, dan sebagainya. Bahkan, karena mata pencaharian masyarakat Kluet secara umum adalah bertani, adat turun ke sawah pun dimiliki masyarakat di sana ( suku kluwat ) yang mirip pula seperti adat meublang dalam kearifan Aceh secara luas.

Sastra Tutur
Selain itu, sejumlah sastra lisan pun masih hidup dan berkembang dalam komunitas ini. Sebut saja kebiasaan bersyair saat pesta perkawinan.

Dalam suku kluwat dikenal dua macam syair dalam kearifan masyarakat Kluwat: syair mebobo dan syair mekato. Syair mebobo biasanya digunakan oleh rombongan pengantar pengantin laki-laki (linto baro). Sedangkan syair mekato, merupakan pantun yang berbalas-balas antara rombongan mempelai laki dan rombongan mempelai perempuan.

Syair mebobo juga kerap digunakan saat melepas anak pergi ke rantau atau saat sunat rasul. Kebiasaan ini masih hidup dalam masyarakat Kluwat hingga sekarang. Hanya saja, setelah saya mencoba bertanya pada salah satu tetua kampung di desa Lawe Sawah kecamatan Kluet Timur yang mengatakan bahwa tidak semua orang dapat memainkan kedua syair tersebut karena butuh kemahiran tersendiri untuk melantunkannya. Pemain syair ini serupa trobadur.

Kecuali itu, sastra lisan yang juga masih berkembang dalam masyarakat Kluwat hingga saat ini adalah peribahasa. Peribahasa dalam bahasa Kluwat disampaikan dengan dialek masing-masing daerah. Saat ini ditemukan tiga dialek bahasa Kluwat, yakni dialek Menggamat, dialek Payadapur, dan dialek Krueng Kluet.

Dalam masyarakat ini berlaku juga mitos-mitos semisal merampot—disamun makhluk halus. Namun demikian, nilai-nilai keislaman juga masih kokoh di sana, di samping nilai gotong royong dan silaturrahmi. Karena itu, sangat disayangkan jika daerah ini kemudian terkesan abai dari perhatian pemerintah. Apalagi, di tengah kecamuk internal dalam masyarakat itu sendiri.


Penulis : David


Akses Diliputnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat m.diliputnews.com
http://diliputnews.com/suku-kluwat-dan-sejarahnya.html

BATAK ALAS-KLUET

BATAK ALAS-KLUET
Wilson Rajagukguk (*)

Berbicara tentang istilah ‘Batak’ maka pikiran kita tentu tertuju kepada diri kita sendiri ‘Halak Hita’ yang hidup atau berasal dari kawasan Sumatera Utara. Tetapi istilah itu tidak melulu menjadi milik kita. Ungkapan ‘Batak’ ditemukan di Bulgaria, Turki dan beberapa daerah Persia. Kurang jelas memang dari ungkapan itu apakah ada sekelompok orang yang menamakan diri sebagai orang Batak di sana.

Di Filipina, saat ini ada sebuah suku yang menamakan diri ‘Batak’. Kehidupan mereka masih setengah nomaden. Mereka dikuatirkan sedang menuju ke arah kepunahan. Memang sudah ada badan dunia dari PBB yang mencoba menolong untuk menyelamatkan mereka. Kita berharap usaha itu berhasil. Siapa tahu kelak ada antropolog Batak yang dapat menemukan hubungan kekerabatan kita dengan mereka. (mudah-mudahan dari segi genetika, Pak Sangkot Marzuki bisa menolong).

Selain halak hita, di Indonesia ada juga sebuah sub etnis Jawa (tinggal di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur). Jumlah mereka memang tidak begitu banyak sehingga kurang mendapat perhatian.

Orang Komering (tinggal di Sumatera Selatan) sering disebut-sebut juga sebagai hasil perkawinan antara orang Batak dan Orang Lampung. Ada yang menyebut bahwa orang Lampung sesungguhnya adalah keturunan Si Raja Batak. (Lampung ?= lapung).

Kita yang tinggal dan berasal dari ‘Tano Batak’ hingga saat ini masih belum jelas yakin dan mengetahui berapa banyak sebenarnya subgoup Batak itu. Ada yang menyatakan lima, enam bahkan tujuh (Toba, Simalungun, Paro, Pakpak, Mandailing, Pesisir(?) dan Nias(?)). Subgroup ini akan bertambah lagi setelah dikenalkan akan adanya satu sub-Batak di daerah Aceh. Mereka dinamai (oleh peneliti asing) sebagai Batak Alas-Kluet.

Dari beberapa literatur yang saya dapatkan mereka tinggal di daerah pegunungan Bukit Barisan. Saat ini ada satu kota kecil di pesisir Barat Aceh bernama Kluet, dan mungkin kota ini menjadi kota mereka. Orang Batak Alas-Kluet bertetangga dengan orang Gayo dan mempunyai persamaan gaya hidup dan budaya.

Batak Alas-Kluet ditaklukkan oleh Kesultanan Aceh dan memaksa mereka ke dalam perbudakan pada paro pertama tahun 1600-an. Mereka kini menganut agama Islam (Sunni 99,9 %). Selama jangka waktu tertentu keberadaan mereka tidak diketahui dan tidak tersentuh oleh pihak luar. Pada masa penjajahan, mereka dapat bertahan terhadap okupasi Belanda (tahun 1904 hingga 1942) dan banyak diantara mereka yang terbunuh.

Orang Batak Alas-Kluet menjalani hidup mereka dengan bertani dan dengan sisa-sisa latar belakang ‘Habatahon’. Perkawinan mereka exogamous (kawin dengan marga lain) seperti halnya kita ‘Halak Batak’ dan jarang yang berpoligami. Perkawinan biasanya diatur oleh kedua keluarga calon mempelai. Pertunangan (pra-perkawinan) biasanya memerlukan waktu kira-kira tiga tahun.

Kekuasaan di desa-desa dibagi menurut kelompok keluarga sesuai dengan mergo (mungkin berasal dari kata ‘marga’). Dan bagian pemerintahan yang lebih kecil lagi dinamai rodjo. Sekelompok orang ‘namarsabutuha’ diberi sebutan sara rodjo (sada ama) atau sara ino (sada ina).

Batak Alas-Kluet tidak mengenal karakter tulisan. Mungkin mereka belum sempat mengenal Surat Batak atau mungkin Surat Batak belum tercipta ketika mereka bermukim di sana. Semua bentuk nasihat dan hal-hal lain yang berhubungan dengan kehidupan sosial diturunkan secara turun temurun melalui tarombo-tarombo dan turi-turian.

(Bukankah ‘halak hita’ mempunyai identitas yang sama?).

Statistik:

Demografi: (1990) 80.900 orang

1. 87.400 orang

1. 94.100 orang.

Yang pasti, mereka sesungguhnya adalah orang Batak. Bagaimana dan siapakah kerabat mereka yang paling dekat dengan Halak Hita yang kita kenal sekarang ?. Kita belum tahu. Mereka adalah saudara kandung kita yang merupakan keturunan Si Raja Batak yang bertempat tinggal di sana.

Harapan penulis apabila suatu ketika kita mengadakan sebuah pertemuan (semacam seminar) tentang Batak, mari kita ikutkan dan pikirkan orang Batak Alas-Kluet. Adakah diantara kita yang tertarik membuat lembaga penelitian tentang mereka dan menolong sehingga mengetahui bahwa mereka tidak sendiri?. Mereka perlu mengetahui bahwa Halak Hita ada dan dapat dimintai pertolongan.

Horas

(*) Wilson Rajagukguk

Magister dalam bidang Demografi, tinggal di Depok.


Sumber:
http://kluetwarino.blogspot.com/2008/01/sejarah-kluet.html

BATAK SINGKIL

BATAK SINGKIL

Wilayah Singkil saat ini merupakan bagian dari wilayah Provinsi Aceh Darussalam (NAD). Penduduk dalam wilayah Kabupaten Aceh Singkil secara garis besar dapat dikelompokkan berdasarkan asal-usulnya, walaupun sekarang ini sudah samar (tidak kentara lagi).

Ada beberapa etnis awal atau asal dari penduduk yang menetap di wilayah Singkil, dan dengan penelusuran jejak asalnya secara global maka terdapat berbagai etnis didalamnya yaitu : Etnis Aceh, Etnis Batak, Etnis Minangkabau, Etnis Nias, dan Etnis-etnis lainnya dalam jumlah kecil.

Pada masa yang lalu daerah Singkil pernah berjaya dengan Kesultanan Singkel/Singkil yang berbudaya Batak Singkil. Budaya Batak Singkil ini hampir mirip dengan budaya Batak Pakpak yang memang berbatasan langsung dengan Wilayah Singkil. Salah satu Sub Suku Batak Pakpak yaitu Pakpak Boang sejak dahulu kala bermukim di Tanah yang kini masuk dalam wilayah administrative Singkil. Secara adat dan bahasa mereka memiliki kemiripan. bahkan mereka tetap mempertahankan budaya Batak. Etnis Batak biasanya memakai marga di ujung nama mereka. Walaupun begitu saat ini sudah banyak yang tidak memakai marga di ujung nama mereka, namun mereka berpegang pada silsilah.

Etnis Batak Merupkan Etnis Mayoritas di Subulussalam dan Aceh Singkil. Di wilayah Singkil, Etnis Batak ini sendiri terbagi menjadi dua bagian yaitu: Suku Pakpak dan Suku Boang.
Secara umum keduanya memiliki banyak persamaan dari segi bahasa dan akar budaya, akan tetapi ada perbedaan kedua bagian ini diantaranya sebagai berikut :

- Suku Boang adalah mereka yang pada awalinya yang Tinggal di Daerah Aliran Sungai (DAS). Walaupun saat ini mereka sudah menyebar ke daerah perkotaan. Ada juga yang mengatakan inilah penduduk asli Aceh Singkil, tapi berita ini masih simpang siur.

- Sedangkan Batak Pakpak adalah Mereka yang tinggal lebih dekat ke daerah perbatasan Sumut. Dalam keseharian mereka ini lebih sering dikenal dengan istilah Pakpak Boang, yakni orang Pakpak yang berasal dan berdialek Boang. Antara lain marga Sambo, Penarik, dan Saraan.

Adapun perbedaan yang jelas terlihat adalah dari segi bahasa yang di gunakan oleh mereka. Bahasa Pakpak pengucapan konsonan ‘R’ sedangkan dalam Bahasa Singkil diucapkan secara uvular sebagai ‘Kh’. Misalnya Orang Pakpak Mengucapkan ROH KE WEH. Dan orang Boang Mengucapkan KHO KENE KAUM. Atau arti sopannya dalam basasa Indonesia adalah Selamat Datang.

Walaupun ada perbedaan seperti itu kedua suku mayoritas yang ada di Aceh Singkil dan Subulussaam, namun mereka tetap hidup harmonis dan tidak pernah mempermasalahkan suku antara satu dengan yang lain.


Hubungan Kesultanan Singkil dengan Kerajaan Batak Dinasti Sisingamangaradja
Kerajaan Batak di bawah Dinasti Sisingamangaradja dalam sejarahnya mempunyai ikatan darah dan persaudaraan dengan Kesultanan Singkil. Bahkan tercatat Raja Sisingamangaradja XI pernah mengenyam pendidikan militer di Kesultanan Singkil sejak masa remajanya. Hubungan ini terus berlanjut hingga saat terjadinya perang antara Sisingamangaradja X-XII melawan Belanda, dimana Kesultanan Singkil secara penuh mendukung perjuangan kerabatnya dari Tanah Batak Toba ini.

Pada masa perang ini Gubernur militer Belanda dari Sumatra's Oostkust (Sumatera Timur) meminta bantuan kepada Gubernur mIliter Belanda di Atjeh untuk memotong kekuatan Sisingamangaradja yang bertahan di Tanah Dairi dari arah Utara. Bantuan dari Utara (Aceh) dmaksudkan untuk memotong jalur bantuan dari Kesultanan Batak Singkil sekutu setia Sisingamangaradja yang memiliki akses ke pesisir pantai Barat.

Juga dimaksudkan untuk memotong jalur masuknya bantuan paramiliter dari Kesultanan Aceh via pengiriman para penglima perang beretnis Batak Gayo dan Batak Alas yang telah berlangsung cukup lama.

Akibat dari perang ini penaklukan kerajaan Singkil dn bertekuk lutut kepada pasukan Belanda yang menyerang dari Utara.

Implikasi lanjutannya adalah :

Daerah Batak Singkil, Batak Gayo, Batak Kluet, dan Batak Alas atas permintaan komandan tentara Belanda di Kotapraja, dimasukkan ke dalam wiklayah Keresidenan Atjeh sebagai bagian kompensasi bantuan mereka sekaligus pelaksanaan Politik Devide et impera. Di sana mereka menjadi suku-suku Batak minoritas dalam lingkungan budaya mayoritas suku Aceh.

Dimana pada saat yang hampir bersamaan wilayah Batak lainnya dibagi pula ke dalam beberapa wilayah Keresidenan yang berbeda yakni :

1. Keresidenan Tapanuli. Direct Bestuur Gebied, sebuah daerah Pamong Praja dilepaskan dari daerah Keresidenan Sumatra's Westkust (Sumatera Barat) dengan wilayah administrativenya : Tapanoeli Utara, Tapanoeli Selatan, Tanah Dairi. Kemudian ditambahkan daerah kepulauan Nias yang secara etnis dan budaya sangat berbeda dari etnis Batak.

2. Sumatera Timur, Zelbestuurs Gebied, Swapraja yang menjadi suatu Keresidenan sendiri yaitu Sumatra's Oostrkust dengan wilayah Pesisir Pantai Timur Sumatera Utara yang umumnya berbudaya Melayu Pesisir Timur dengan tambahan wilayah Suku Batak Karo dan wilayah Suku Batak Simaloengen. Akibatnya kedua suku Batak ini menjadi minoritas dalam ruang wilayah khazanah budaya Melayu Pesisir Timur.

Pembagian ini masih berlangsung hingga saat ini karena tetap dilanjutkan oleh Pemerintah Republik Indonesia pasaca Proklamasi 17 Agustus 1945.


Sejarah Masa lalu Singkil
Pada masa abad ke-16M (1590-1604 M) Tanah Singkil pernah melahirkan tokoh Batak terkenal yang banyak meninggalkan karya seni berupa syair-syair yaitu Hamzah Fansur. Seorang tokoh inteletual Batak pesisir yang berasal dari kota Pansur di Sungkil.

Beliau menggambarkan keindahan kota Barus saat itu. Keramaian dan kesibukan kota pelabuhan dengan pasar-pasar dan pandai emasnya yang cekatan mengubah emas menjadi “ashrafi”, kapal-kapal dagang besar yang datang dan pergi dari dan ke negeri-negeri jauh, para penjual lemang tapai di pasar-pasar, proses pembuatan kamfer dari kayu barus dan keramaian pembelinya, lelaki-lelaki yang memakai sarung dan membawa obor yang telah dihiasi dalam kotak-kotak tempurung bila berjalan malam.

Gadis-gadis dengan baju kurung yang anggun dan di leher mereka bergantung kalung emas penuh untaian permata, yang bila usia nikah hampir tiba akan dipingit di rumah-rumah anjung yang pintu-pintunya dihiasi berbagai ukiran yang indah.

Pada bagian lain syair-syairnya juga memperlihatkan kekecewaanya terhadap perilaku politik Sultan Aceh, para bangsawan dan orang-orang kaya yang tamak dan zalim yang saat itu pernah menguasai bandar Barus hingga Singkil.

Sebagaimana para sarjana Batak, Hamzah Fansuri mendapat pengaruh besar di Aceh. Van Nieuwenhuijze (1945) dan Voerhoeve (1952) berpendapat bahwa Hamzah Fansuri memainkan peran penting di dalam kehidupan kerohanian di Aceh sampai akhir pemerintahan Sultan Ala’uddin Ri’ayat Syah Sayyid al-Mukammil (1590-1604).
Sekitar tahun 1630 M murid Hamzah Fansuri bernama Syamsuddin al-Sumatrani kemudian merantau ke Aceh dan menjadi penasihat politik dan agama di Pasai bagi Sultan Iskandar Muda. Dia wafat tahun 1630 M. Dia satu angkatan dengan Abdulrauf Fansuri, tokoh lain inteletual Batak.

Pada masa yang lalu daerah Singkil jauh dan sulit untuk dicapai atau didatangi oleh masyarakat / penduduk etnis Aceh dari daerah Utara. Hal ini disebabkan karena adanya kendala-kendala hubungan, keterikatan pada adat istiadat dan kendala lainnya yang menyebabkan perpindahan penduduk dari etnis Aceh ini menjadi sedikit. Kendala utama yang menjadi penghambat utama masuknya etnis Aceh ini adalah karena faktor keadaan alam Singkil pada masa lalu.

Sebaliknya dari etnis Batak kendalanya lebih kecil, dan didorong untuk mendapat kehidupan yang lebih baik karena keterbatasan tanah suku (adat) yang ada di daerah asalnya yang menyebabkan lebih mudahnya mereka datang ke wilayah Singkil.

Terjadinya perpindahan penduduk (migrasi) dari daerah wilayah Batak telah berlangsung sejak lama. Migrasi etnis Batak ini datang dengan cara berkelompok di suatu lokasi yang kemudian menjadi Huta atau Kota/Kampung. Tradisi etnis Batak, marga pertama yang membuka huta adalah yang menjadi penguasa daerah itu. Pendatang baru yang datang kemudian akan menempati daerah yang bertetangga dengan penduduk yang datang sebelumnya, sehingga tersusun suatu tatanan kemasyarakatan yang telah dihuni oleh masyarakat Batak di atas.

Daerah yang telah ditempati diatas diatur oleh raja setempat, seperti Raja Penyusunan Bulung merupakan raja yang menguasai pemerintahan Huta, Raja Torbin Balok yang berkuasa di daerah tetangga Raja Penyusunan Bulung. Kedua kerajaan saling mengakui kekuasaan masing-masing, sampai akhirnya kerajaan-kerajaan ini mengembangkan kekuasaan ke daerah lain dan membuat sistem pemerintahan yang lebih teratur di daerah masing-masing.

Pada tahun 1814, John Canning, seorang penyusup dan pegawai perusahaan Inggris berhasil memasuki Barus setelah sebelumnya perusahaan Inggris telah membuka kantor cabangnya di kota pelabuhan Natal. Canning diberi misi untuk memata-matai dan mengukur kekuatan pengusaha Aceh dan pengaruh Kesultanan Aceh di Barus. Menurut informasi orang-orang Eropa saat itu, pasukan Aceh telah ditempatkan secara temporer di Taruman, sebuah wilayah Barus perbatasan antara Kesultanan Barus dan Aceh. Wilayah Taruman itu mencakup Singkil sampai Meulaboh. Paska bercokolnya kembali Belanda, wilayah Taruman berhasil memproklamirkan diri menjadi Kesultanan Tarumon dengan sultan yang berasal dari Batak Singkil serta dengan pengakuan dari Aceh.


MARGA-MARGA BATAK SINGKIL
Secara psikologis penduduk etnis Batak (yang biasanya memakai marga di akhir namanya) dengan penduduk lainnya tidak memakai marga bergaul harmonis diantara sesama mereka. Karena marga itu sebuah nama, yang membedakan pemanggilan antara seseorang dengan lainnya. Banyak juga dari etnis Batak ini sudah tidak memakai marga, tetapi hanya menjadi pegangan dalam silsilah keturunan dan pergaulan sesama marganya.

Marga-Marga Asli Batak Singkil diantaranya :
- Kombih (Kumbi)
- Ramin
- Buluara
- Palis
- Melayu
- Goci,
- dll
Merga Batak Pakpak Boang :
- Sambo
- Penarik
- Seraan,
- dll
Disamping itu juga banyak marga Batak pendatang yang telah menjadi pengusung budaya Singkil, diantaranya :
- Sinambela
- Bakkara
- Manik
- Sigalingging
- Mukkur
- Sitorus
- Pasaribu
- Pardosi,
-dll.

sumber

sebagai tambahan marga Singkil yang mungkin berasal dari (batak) Pakpak al:
1.Manik
2.Bako
3.Lingga
4.Ujung
5.Munthe
6.Sulin
7.Kembang
8.Kesogihen


Sumber:
http://tarumon.blogspot.com/2010/01/batak-singkil.html