Kawasan Tele Akan Dijadikan Sebagai Daerah Agropolitan
Pangururan, Sumut, 10/12-2011 (ANTARA) – Pemerintah Kabupaten Samosir,
Sumatera Utara berencana menjadikan kawasan Tele sebagai daerah
agropolitan, karena topografi-nya yang datar dan subur dinilai mampu
memacu berkembangnya sistem usaha agribisnis pembangunan pertanian
wilayah sekitarnya.
“Pembangunan ekonomi berbasis pertanian di kawasan itu diharapkan dapat
mendorong serta menghela kegiatan agribisnis berdaya saing yang akan
digerakkan masyarakat dengan fasilitas pemerintah,” kata Kabag Humas
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Samosir, Gomgom Naibaho di Pangururan,
Sabtu.
Memang kata, dia, kawasan tersebut belum memiliki fasilitas agribisnis
perkotaan yang memadai, tapi pembangunan ekonomi berbasis pertanian akan
dirancang dan dilaksanakan dengan jalan mensinergikan berbagai potensi
untuk mendorong berkembangnya sistem usaha agribisnis berbasis
kerakyatan di wilayah itu.
Menurutnya, konsep pembangunan pengembangan kawasan agropolitan
merupakan salah satu upaya mempercepat pembangunan perdesaan dan
pertanian, sebagai pusat kawasan dengan ketersediaan sumberdaya membuka
kemudahan dalam melayani usaha agribisnis di desa-desa sekitarnya.
“Rencananya, pada kawasan berjarak sekitar 22 KM dari Pangururan itu
akan dibangun sarana prasarana pertanian seperti jalan usaha tani,
mengingat wilayah itu merupakan satu-satunya akses jalan darat ke pulau
Samosir berstatus jalan Provinsi,” ujarnya.
Sejak Tahun 2006, lanjutnya, badan jalan telah diperlebar menjadi
delapan meter, kerjasama Pemkab Samosir dengan Pemprov Sumut serta
sebagian besar telah diaspal Hotmix yaitu di bagian atas daerah Tele dan
bagian bawah Pangururan.
Ia menyebutkan, cuaca di kawasan Tele cukup dingin dengan hembusan angin
sangat kencang, sehingga diperlukan tanaman besar sebagai tanaman
penyangga, seperti alpukat, mangga dan durian karena komoditas tersebut
sesuai ditanami di wilayah yang merupakan aset berharga bagi Kabupaten
Samosir tersebut.
“Petani harus mampu menjadi pengusaha dengan melihat kesempatan pasar
dan memilih komoditas pertanian yang menjanjikan,” katanya.
Selain itu, kawasan Partukkot Naginjang dengan kesuburan tanahnya dan
hutan yang menyimpan puluhan ribu meter kubik kayu alam, dinilai dapat
mensejahterahkan rakyat Samosir.
Keterkaitan sistem dan usaha agribisnis antara kota dan desa, kata dia,
tentunya, akan mempercepat pembangunan ekonomi daerah dan mengurangi
kesenjangan pendapatan antar masyarakat di kawasan agropolitan.
Gomgom menambahkan, untuk dapat merealisasikan kawasan agropolitan
tersebut, diperlukan langkah terobosan berupa program pengembangan yang
melibatkan berbagai pihak melalui kerjasama seluruh pemangku kepentingan
secara terkoordinasi, terarah dan berkelanjutan. ***6***
(T.pso-219/b/o001)
(T.PSO-219/B/O001/O001)
Sumber:
http://www.antarasumut.com/berita-terkini/kawasan-tele-akan-dijadikan-sebagai-daerah-agropolitan/
Sunday, July 8, 2012
Tapteng Optimis Capai Ketahanan Pangan
Selasa, 27 Sep 2011 07:07 WIB
Tapteng Optimis Capai Ketahanan Pangan
MedanBisnis – Pandan. Dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) berupaya mewujudkan program ketahanan pangan daerah sebagai pelaksanaan perwujudan dari visi dan misi pemerintah daerah untuk lima tahun kedepan.
Untuk menyukseskannya, Dinas tersebut memprogramkan percepatan revitalisasi pembangunan dan perbaikan jaringan irigasi primer dan sekunder.
Sesuai data Distannak Pemkab Tapteng, sedikitnya ada sekitar 65% jaringan irigasi di daerah itu yang mengalami kerusakan. Atau dengan kata lain, dari total 17.000 Ha luas lahan pertanian yang ada, sedikitnya sekitar 8.000-9.000 Ha luas lahan persawahan petani terancam tak mendapat pengairan sehingga mengganggu jadwal pertanaman dan produksi.
Kepala Dinas (Kadis) Pertanian dan Peternakan (Tannak) Pemkab Tapteng, Happy Silitonga melalui Ir Dappor selaku Kabid Ketahanan Pangan dan SDM, Distannak Tapteng mengaku miris, akibat banyaknya jaringan dan saluran irigasi yang rusak di Tapteng seperti yang terdapat di Kecamatan Tapian Nauli, Barus Utara dan beberapa daerah lainnya, sehingga petani terpaksa harus mengandalkan air tadah hujan.
Kondisi itu telah mengakibatkan terjadinya perubahan dalam pola pertanaman dari dua kali pertanaman menjadi hanya sekali dalam setahun. Maka itu, melalui program revitalisasi melalui perbaikan dan pembangunan sarana dan prasarana pertanian, diharapkan target pembangunan pertanian dalam lima tahun kedepan tercapai.
“Namun dalam rangka pemberhasilan program pertanian dibawah pemerintahan Bupati Raja Bonaran Situmeang SH MHum dan Wakil Bupati H Syukran J Tanjung SE, kita sangat mengharapkan kerja sama dan koordinasi dari seluruh instansi terkait, baik itu Dinas Pekerjaan Umum (PU), kantor Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan (PMD), BKSDA Batangtoru dan Dinas Pengairan Propinsi Sumatera Utara (Sumut),” ujar Dappor, Sabtu (24/9) kemarin di Pandan.
Dappor mengakui, untuk penyelesaian seluruh kerusakan jaringan irigasi yang ada tersebut, tentunya tidak dapat dilakukan secara menyeluruh melainkan berkesinambungan atau bertahap serta adanya koordinasi yang baik dengan pihak-pihak terkait tersebut. Hal ini tak lain disebabkan keterbatasan anggaran Tapteng yang ada.
Meskipun demikian, ujar Dappor, pihaknya optimis, target peningkatan produksi padi sebesar 7-10% mulai tahun depan hingga lima tahun ke depan dapat tercapai. Indeks Pertanaman (IP) sebesar 2 kali pertanaman dalam satu tahun dipastikan dapat terwujud.
Pasalnya, selain mendapatkan bantuan moral dari staff ahli Menteri Bidang Kebijakan Pembangunan yang merupakan putra daerah Panjar Simatupang, Distannak Tapteng setiap tahun memeroleh bantuan dari pemerintah propinsi (Pempropsu) maupun pusat. Bahkan, bantuan yang diperoleh tersebut terus meningkat. Peningkatan bantuan itu dilakukan melalui lobi-lobi ke pemerintah pusat maupun propinsi.
“Sebagai bukti, pada Tahun Anggaran (TA) 2011 ini, Kementerian Pertanian menyalurkan bantuan sebesar Rp 3 miliar lebih untuk perbaikan dan pembangunan sarana dan prasarana jaringan irigasi mulai dari tingkat usaha tani dan desa sebesar Rp 2 miliar lebih serta untuk ketahanan pangan sebesar Rp 1,2 miliar. Pada tahun 2012 mendatang, Kementerian Pertanian kembali mengucurkan bantuan dengan nilai hampir Rp 4 miliar,” sebutnya.
Dappor juga mengungkapkan, bila seluruh rangkaian program sebagai upaya menciptakan ketahanan pangan di Tapteng ini berhasil, tingkat kesejahteraan masyarakat khususnya petani sudah barang tentu akan meningkat. “Contohnya, bila dalam setiap 1 Ha lahan pertanian petani itu mampu memproduksi 5-6 ton, maka hasil panen petani dalam dua kali panen dalam setahun sudah sekian puluh ribu ton,” tukasnya.
Untuk menyikapi program besar tersebut, sambung Dappor, selain melakukan perbaikan dan pembangunan sarana dan prasarana, pihaknya juga telah membangun tiga lumbung atau gudang padi besar di beberapa Kecamatan, serta akan melakukan penyempurnaan alat-alat pertanian seperti handtractor dan lainnya.
“Kemudian memberikan bantuan benih padi unggul dan penyaluran modal kepada gabungan kelompok tani (Gapoktan). Di samping itu, pada 2011 ini kita juga akan membangun 2 unit pengelolaan pupuk organik (UPO),” pungkasnya. (ck 16)
Sumber:
http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2011/09/27/57248/tapteng_optimis_capai_ketahanan_pangan/#.T_mMRYHiFSM
Tapteng Optimis Capai Ketahanan Pangan
MedanBisnis – Pandan. Dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) berupaya mewujudkan program ketahanan pangan daerah sebagai pelaksanaan perwujudan dari visi dan misi pemerintah daerah untuk lima tahun kedepan.
Untuk menyukseskannya, Dinas tersebut memprogramkan percepatan revitalisasi pembangunan dan perbaikan jaringan irigasi primer dan sekunder.
Sesuai data Distannak Pemkab Tapteng, sedikitnya ada sekitar 65% jaringan irigasi di daerah itu yang mengalami kerusakan. Atau dengan kata lain, dari total 17.000 Ha luas lahan pertanian yang ada, sedikitnya sekitar 8.000-9.000 Ha luas lahan persawahan petani terancam tak mendapat pengairan sehingga mengganggu jadwal pertanaman dan produksi.
Kepala Dinas (Kadis) Pertanian dan Peternakan (Tannak) Pemkab Tapteng, Happy Silitonga melalui Ir Dappor selaku Kabid Ketahanan Pangan dan SDM, Distannak Tapteng mengaku miris, akibat banyaknya jaringan dan saluran irigasi yang rusak di Tapteng seperti yang terdapat di Kecamatan Tapian Nauli, Barus Utara dan beberapa daerah lainnya, sehingga petani terpaksa harus mengandalkan air tadah hujan.
Kondisi itu telah mengakibatkan terjadinya perubahan dalam pola pertanaman dari dua kali pertanaman menjadi hanya sekali dalam setahun. Maka itu, melalui program revitalisasi melalui perbaikan dan pembangunan sarana dan prasarana pertanian, diharapkan target pembangunan pertanian dalam lima tahun kedepan tercapai.
“Namun dalam rangka pemberhasilan program pertanian dibawah pemerintahan Bupati Raja Bonaran Situmeang SH MHum dan Wakil Bupati H Syukran J Tanjung SE, kita sangat mengharapkan kerja sama dan koordinasi dari seluruh instansi terkait, baik itu Dinas Pekerjaan Umum (PU), kantor Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan (PMD), BKSDA Batangtoru dan Dinas Pengairan Propinsi Sumatera Utara (Sumut),” ujar Dappor, Sabtu (24/9) kemarin di Pandan.
Dappor mengakui, untuk penyelesaian seluruh kerusakan jaringan irigasi yang ada tersebut, tentunya tidak dapat dilakukan secara menyeluruh melainkan berkesinambungan atau bertahap serta adanya koordinasi yang baik dengan pihak-pihak terkait tersebut. Hal ini tak lain disebabkan keterbatasan anggaran Tapteng yang ada.
Meskipun demikian, ujar Dappor, pihaknya optimis, target peningkatan produksi padi sebesar 7-10% mulai tahun depan hingga lima tahun ke depan dapat tercapai. Indeks Pertanaman (IP) sebesar 2 kali pertanaman dalam satu tahun dipastikan dapat terwujud.
Pasalnya, selain mendapatkan bantuan moral dari staff ahli Menteri Bidang Kebijakan Pembangunan yang merupakan putra daerah Panjar Simatupang, Distannak Tapteng setiap tahun memeroleh bantuan dari pemerintah propinsi (Pempropsu) maupun pusat. Bahkan, bantuan yang diperoleh tersebut terus meningkat. Peningkatan bantuan itu dilakukan melalui lobi-lobi ke pemerintah pusat maupun propinsi.
“Sebagai bukti, pada Tahun Anggaran (TA) 2011 ini, Kementerian Pertanian menyalurkan bantuan sebesar Rp 3 miliar lebih untuk perbaikan dan pembangunan sarana dan prasarana jaringan irigasi mulai dari tingkat usaha tani dan desa sebesar Rp 2 miliar lebih serta untuk ketahanan pangan sebesar Rp 1,2 miliar. Pada tahun 2012 mendatang, Kementerian Pertanian kembali mengucurkan bantuan dengan nilai hampir Rp 4 miliar,” sebutnya.
Dappor juga mengungkapkan, bila seluruh rangkaian program sebagai upaya menciptakan ketahanan pangan di Tapteng ini berhasil, tingkat kesejahteraan masyarakat khususnya petani sudah barang tentu akan meningkat. “Contohnya, bila dalam setiap 1 Ha lahan pertanian petani itu mampu memproduksi 5-6 ton, maka hasil panen petani dalam dua kali panen dalam setahun sudah sekian puluh ribu ton,” tukasnya.
Untuk menyikapi program besar tersebut, sambung Dappor, selain melakukan perbaikan dan pembangunan sarana dan prasarana, pihaknya juga telah membangun tiga lumbung atau gudang padi besar di beberapa Kecamatan, serta akan melakukan penyempurnaan alat-alat pertanian seperti handtractor dan lainnya.
“Kemudian memberikan bantuan benih padi unggul dan penyaluran modal kepada gabungan kelompok tani (Gapoktan). Di samping itu, pada 2011 ini kita juga akan membangun 2 unit pengelolaan pupuk organik (UPO),” pungkasnya. (ck 16)
Sumber:
http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2011/09/27/57248/tapteng_optimis_capai_ketahanan_pangan/#.T_mMRYHiFSM
Kabupaten Tapanuli Tengah Sumatera Utara
Kabupaten Tapanuli Tengah Sumatera Utara
Peta Kabupaten Tapanuli Tengah
Gambaran Umum
Kabupaten Tapanuli Tengah terletak di pesisir Pantai Barat Pulau Sumatera dengan panjang garis pantai 200 km dan wilayahnya sebagian besar berada di daratan Pulau Sumatera dan sebagian lainnya di pulau-pulau kecil. Kabupaten Tapanuli Tengah merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Sumatera Utara dengan luas wilayah 6.194,98 km² meliputi darat dan laut dengan hamparan gunung, pantai dan laut (gupala).
Letak wilayah yang strategis, keanekaragaman potensi sumber daya alam yang besar dan harmonisnya multietnik masyarakat menyebabkan Tapanuli Tengah sebagai permata tersembunyi yang akan berkilau dan sangat berharga dengan sentuhan percepatan pembangunan dan peningkatan investasi.
Kabupaten Tapanuli Tengah terletak pada 1°11’00” - 2°22’0” LU dan 98°07’ - 98°12’ BT, Tapanuli Tengah memiliki luas wilayah 6.194,98 km² yang terdiri atas darat 2.194,98 km² dan laut 4.000 km². Wilayah Tapanuli Tengah berbatasan di sebelah Utara dengan Kabupaten Aceh Singkil (Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam), disebelah Timur dengan Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Humbang Hasundutan dan Kabupaten Pakpak Bharat, disebelah Selatan dengan Kabupaten Tapanuli Selatan, serta disebelah Barat dengan Kota Sibolga dan Samudera Indonesia.
Topografi
Topografi Kabupaten Tapanuli Tengah sebagian besar berbukit - bukit dengan ketinggian 0 – 1.266 meter di atas permukaan laut. Dari seluruh wilayah Tapanuli Tengah, 43,90% berbukit dan bergelombang.
Klimatologi
Sebagian besar wilayah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah berbatasan dengan lautan sehingga berpengaruh pada suhu udara yang tergolong beriklim tropis. Dalam periode bulan Januari – Desember 2006, suhu udara maksimum dapat mencapai 31,53ºC dan suhu minimum mencapai 21,72ºC. Rata-rata suhu udara di Kabupaten Tapanuli Tengah tahun 2005 adalah 26,09ºC. Musim kemarau biasanya terjadi bulan Juni sampai bulan September, musim penghujan biasanya terjadi bulan Nopember sampai Maret, diantara kedua musim tersebut diselingi oleh musim pancaroba.
Pada tahun 2006, curah hujan rata-rata 4.925,9 mm, hari hujan 226,0 hari, kecepatan angin rata-rata 6,7 knot dan penguapan rata-rata 4,6 mm. Kelembaban udara rata-rata 84,58%.
Hidrologi
Potensi hidrologi cukup penting untuk menunjang pembangunan, baik untuk kepentingan air minum, irigasi, transportasi, dan untuk kepentingan lainnya. Wilayah Tapanuli Tengah dipengaruhi oleh empat Daerah Aliran Sungai (DAS) yaitu DAS Batang Toru, DAS Tapus, DAS Aek Sibundong, dan DAS Sirahar. Daerah hulu sungai berasal dari pegunungan Bukit Barisan dan bermuara ke Pantai Barat Sumatera Utara. Secara umum sungai beraliran pendek, terjal dan sempit. Sebagian sungai telah dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik seperti aliran Sungai Sibuluan untuk PLTA Sipan Sihaporas dan untuk air minum maupun irigasi.
Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah terbentuk pada tanggal 24 Agustus 1945. Ibukota Kabupaten Tapanuli Tengah adalah PANDAN. Pada bulan Mei 2007, secara administratif Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah terdiri atas 19 kecamatan, 24 kelurahan dan 154 desa, yaitu meliputi Kecamatan Manduamas, Sirandorung, Andam Dewi, Barus, Barus Utara, Sosorgadong, Sorkam Barat, Sorkam, Pasaribu Tobing, Kolang, Tapian Nauli, Sitahuis, Pandan, Tukka, Badiri, Pinangsori, Lumut, Sibabangun, dan Suka Bangun.
Pada bulan Desember 2007 jumlah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah bertambah satu lagi yaitu Kecamatan Sarudik sehingga jumlah kecamatan seluruhnya 20 kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah.
Pemekaran kecamatan tersebut dimaksudkan untuk lebih mempercepat proses pembangunan daerah, meningkatkan kapasitas dan kualitas pemerintah kecamatan dalam menyelenggarakan pemerintahan, pembangunan, serta pelayanan umum dan pelayanan dasar kepada masyarakat. Adapun jumlah legislatif yaitu Dewan Perwakilan Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah saat ini berjumlah 29 orang.
Demografi
Penduduk Tapanuli Tengah tahun 2006 berjumlah 297.846 jiwa dengan kepadatan penduduk 136 jiwa per km². Laju pertumbuhan penduduk periode tahun 2000-2005 sebesar 1,86% per tahun. Komposisi penduduk di Tapanuli Tengah yaitu 50,20% laki-laki dan 49,80% perempuan.
Pada tahun 2005, lapangan usaha yang paling banyak mengalami peningkatan menyerap tenaga kerja di perusahaan swasta adalah sub sektor industri pengolahan.
Penduduk Tapanuli Tengah terdiri atas multi etnik yaitu suku Batak, Minang, Jawa - Madura, Bugis, Cina, Aceh, Melayu, Sunda, dan lain-lain, dengan mayoritas suku Batak. Kerukunan, keamanan, ketertiban dan toleransi dalam semangat gotong-royong yang terjalin dan terbina selama ini membuat Tapanuli Tengah semakin kondusif dan tangguh secara sosial kemasyarakatan dalam menyikapi globalisasi dengan berbagai perubahan yang begitu cepat. Persoalan mendasar masyarakat Tapanuli Tengah, seperti halnya daerah lain di Kawasan Barat Sumatera Utara secara ekonomi selama ini adalah : KEMISKINAN dan PENGANGGURAN
Adapun keterbatasan yang melingkupi persoalan tersebut adalah Topografi wilayah Tapanuli Tengah yang berbukit (Bukit Barisan), keterbatasan sumberdaya manusia, keterbatasan pengelolaan sumberdaya alam, keterbatasan infrastruktur, keterbatasan akses informasi dan keterbatasan arus modal.
Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah berupaya untuk mengatasi persoalan tersebut dengan percepatan pembangunan dan menaikkan pertumbuhan ekonomi daerah terutama melalui investasi baik investasi pemerintah maupun swasta untuk menaikkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat dengan konsep pembangunan TAPANULI GROWTH.
Pelaksanaan percepatan pembangunan yang diselenggarakan sejak tahun 2001 hingga saat ini telah mulai menunjukkan hasil nyata dengan peningkatan serapan tenaga kerja melalui investasi yang masuk dan pembangunan infrastruktur yang akan mendorong peningkatan tersebut.
Secara umum lapangan usaha yang dominan di Kabupaten Tapanuli Tengah adalah Pertanian, Jasa dan Industri Pengolahan.
Masyarakat petani terdiri atas nelayan, petani yang menanam padi, hortikultura dan ternak serta perkebunan rakyat. Lapangan usaha jasa yang dominan merupakan aktifitas perdagangan komoditi unggulan hasil pertanian dan produk kerajinan / industri rumah tangga, disamping jasa lainnya seperti pengangkutan, komunikasi dan perbankan / lembaga keuangan. Industri pengolahan meliputi industri yang berbasis hasil perikanan tangkap dan perkebunan.
Sejarah
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, pelaksanaan urusan Pemerintahan di daerah antara lain di Tapanuli Tengah tetap dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada tanggal 24 Agustus 1945 Residen Tapanuli, saat itu menghunjuk Z.A. Glr Sutan Komala Pontas Pemimpin Distrik Sibolga selanjutnya sebagai Demang dan menjadi penanggung jawab pelaksana roda pemerintahan di Tapanuli Tengah. Pada saat itu Dr. Ferdinand Lumbantobing eks Wakil Residen Tapanuli menjadi Residen Tapanuli berkedudukan di Tarutung. Pada tanggal 15 Oktober 1945 oleh Gubernur Sumatera Mr. T. Mohd. Hasan menyerahkan urusan pembentukan daerah Otonom setingkat di wilayahnya pada pemerintahan daerah kepada masing-masing Residen.
Gubernur Tapanuli Sumatera Timur dengan Keputusan Nomor 1 Tahun 1946 mengangkat dan mengukuhkan Z.A. Glr Sutan Komala Pontas sebagai Bupati/Kepala Luhak Tapanuli Tengah. Sesuai Keputusan Gubernur Sumatera Timur tanggal 17 Mei 1946 Kota Sibolga dijadikan sebagai Kota Administratif yang dipimpin oleh seorang Walikota dan pada saat itu dirangkap oleh Bupati Kabupaten Sibolga (Tapanuli Tengah) yaitu Z.A. Glr Sutan Komala Pontas. Luas wilayah Kota Administratif Sibolga ditetapkan dengan Ketetapan Residen Tapanuli Nomor 999 Tahun 1946.
Pada tahun 1946 di Tapanuli Tengah mulai dibentuk Kecamatan untuk menggantikan sistem Pemerintahan Onder Distrik Afdeling pada masa Pemerintahan Belanda. Kabupaten Tapanuli Tengah sebagai Daerah Otonom dipertegas oleh Pemerintah dengan Undang-undang Nomor 7 Drt 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Kabupaten-kabupaten dalam lingkungan Daerah Propinsi Sumatera Utara. Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah Nomor 19 Tahun 2007 maka ditetapkan Hari Jadi Kabupaten Tapanuli Tengah adalah tanggal 24 Agustus 1945.
Dalam perjalanan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah telah silih berganti Kepala Daerah mulai dari Z.A. Glr Sutan Komala Pontas (1945 – 1946), Prof. Mr. M. Hazairin (1946 – 1946), A. M. Djalaluddin (1946 – 1947), Mangaraja Sori Muda (1947 – 1952), Ibnu Sa’adan (1952 – 1954), Raja Djundjungan (1954 – 1958), Matseh Glr. Kasayangan (1958 – 1959), M. Samin Pakpahan (1959 – 1965), S.S. Paruhum Stn. Singengu (1965 – 1967), Ridwan Hutagalung (1967 – 1975), Bangun Siregar (1975 – 1980), Lundu panjaitan, SH (1980 – 1985), H. Abd. Wahab Dalimunthe, SH (1985 – 1990), Drs. Amrun Daulay (1990 – 1995), Drs. Panusunan Pasaribu (1995 – 2001), Drs. Tuani Lumbantobing (2001 – 2006), Drs. Rudolf Pardede, sebagai Penjabat (2006), Drs. Tuani Lumbantobing (2006 – Sekarang).
Lambang Kabupaten Tapanuli Tengah
Penjelasan Arti Lambang
1. Lambang berbentuk lingkaran, satu tangkai kapas dan satu tangkai padi, kapas 8 butir dan padi 45 butir menggambarkan bulan dan tahun bersejarah dari kemerdekaan Negara Republik Indonesia, juga menggambarkan tujuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur.
2. Bintang bersudut lima ditempatkan dibagian paling atas, menggambarkan rakyat Tapanuli Tengah percaya dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan ajaran agama menjadi pedoman dalam semua perikehidupan rakyatnya.
3. Tiga batang bambu runcing bermakna ganda yaitu melambangkan Daerah Tapanuli Tengah basis perjuangan merebut kemerdekaan Negara Republik Indonesia, juga melambangkan situasi tekad untuk mewujudkan cita-cita luhur bangsa dengan dasar musyawarah dan tatanan hidup “DALIHAN NATOLU” sebagai tatanan hidup masyarakat yang hidup rukun dan dinamis.
4. Motto Daerah “Sahata Saoloan” yang diabadikan pada bagian depan rumah adat mengandung makna bahwa rakyat Tapanuli Tengah untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur dan sejahtera berdasarkan Pancasila telah lebih dahulu menyatukan pendapat, sikap, gerak langkah, seiya-sekata, satu dalam perkataan dan satu pula dalam perbuatan.
5. Payung adat melambangkan bahwa masyarakat pendatang, dihargai, diayomi serta dilindungi dalam arti kehadiran dan eksistensinya dapat diterima dengan baik, tumbuh bersama-sama dengan budaya Tapanuli.
6. Gunung, Pantai dan Laut (Gupala) menggambarkan kekayaan potensi Daerah Tapanuli Tengah, Gunung, Pantai yang landai penuh keindahan menyimpan banyak objek wisata yang menarik dan menakjubkan, pantai penuh pohon nyiur melambai menambah pesona dan keelokannya serta laut yang kaya akan potensi ikan yang terkenal enak dan kwalitasnya terkenal.
7. Sorel (pita) tempat tulisan Tapanuli Tengah berwarna kuning melambangkan kesetiaan pada perjuangan bangsa dan kesatuan tekad untuk memakmurkan penduduk berdasarkan usaha bersama dan terpadu atas dasar kegotong-royongan.
8. Warna dasar Lambang berwarna putih melambangkan kesucian dan kemurnian.
Visi dan Misi
Visi : Menjadi pusat pertumbuhan dan lalulintas perdagangan serta kepariwisataan di Kawasan Pantai Barat Sumatera Utara, Aceh Singkil dan Simeulue. .
Misi :Kabupaten Tapanuli dalam rangka mewujudkan Pusat Pertumbuhan dan Lalu lintas Perdagangan serta Wisata Bahari berdasarkan nilai-nilai Budaya Tapanuli Tengah adalah :
1. Mewujudkan kepemerintahan yang baik (Good Governance)
2. Pemberdayaan potensi sumber daya manusia dan sumber daya alam sebagai kekuatan sosial ekonomi yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.
3. Mendorong percepatan pembangunan untuk mendukung pertumbuhan dan lalu lintas perdagangan serta wisata bahari.
4. Meningkatkan mutu pendidikan dan derajat kesehatan masyarakat
Potensi Kelautan dan Perikanan
Kabupaten Tapanuli Tengah dengan panjang garis pantai 200 km dan berada pada Kawasan Pantai Barat Sumatera Utara yang langsung menghadap Samudera Indonesia, kaya akan potensi kelautan dan perikanan.
Sebagian besar penduduk di Kabupaten Tapanuli Tengah memiliki mata pencarian sebagi nelayan. Berdasarkan data tahun 2006, jumlah rumah tangga nelayan yang menggunakan kapal motor tangkap ikan adalah 410 dan jumlah rumah tangga nelayan yang melakukan usaha di bidang budidaya perikanan yakni 406. Jumlah nelayan di Kabupaten Tapanuli Tengah 9.920 orang.
Produksi perikanan Kabupaten Tapanuli Tengah tahun 2006 adalah 21.303,60 ton. Kapal Motor Tangkap Ikan yang digunakan oleh nelayan di Kabupaten Tapanuli Tengah bervariasi mulai kurang dari 5 GT hingga lebih besar dari 30 GT.
Pada tahun 2006, hasil produksi perikanan dari penangkapan di laut adalah 20.331,40 ton sedangkan dari perairan umum di darat adalah 434,10 ton.
Dengan besarnya potensi perikanan tangkap di Kawasan Barat Pulau Sumatera terutama ikan kualitas ekspor maka semakin terbuka peluang investasi di sektor kelautan dan perikanan di Kabupaten Tapanuli Tengah.
Budi daya perikanan di Kabupaten Tapanuli Tengah memiliki potensi yang besar. Budi daya perikanan tersebut meliputi Tambak Ikan di darat dengan produksi 434,10 ton dan Kerambah Jaring Apung di laut dengan produksi 35,10 ton pada tahun 2006.
Udang
2 Komoditi udang merupakan kegiatan agribisnis dan agroindustri yang banyak menyerap tenaga kerja dan menghasilkan berbagai jenis produk makanan lainnya yang memiliki nilai tambah. Negara tujuan ekspor udang masih terkonsentrasi pada pasar Jepang, Amerika Serikat dan Uni Eropa. Produk udang yang diekspor sebagian besar bentuk Frozen.
Usaha Tambak Udang memiliki peluang investasi yang menjanjikan di Kabupaten Tapanuli Tengah. Dengan memanfaatkan 2.200 Ha potensi lahan tambak untuk udang jenis Black Tiger saja dapat memberikan hasil hingga ±88.000 ton per tahun.
Ikan Tuna
Potensi Ikan Tuna di Kawasan Barat Sumatera sangat besar dan berdasarkan hasil kajian yang dilakukan oleh Badan Kelautan dan Perikanan (BLKP) pada tahun 2003, pemanfaatan sumber daya Ikan Tuna di perairan Indonesia baru mencapai 54%.
Hasil tangkap Ikan Tuna oleh Kapal Motor Nelayan di Tapanuli Tengah terutama untuk jenis Tuna Mata Besar (Big Eye Tuna), Madidihang (Yellowfin Tuna), Albacora (Longfin Tuna), dan Cakalang (Skipjack Tuna).
Investasi Kapal Motor Tangkap Ikan Tuna memiliki peluang yang besar di Kabupaten Tapanuli Tengah. Keunggulan yang ditawarkan adalah tersedianya fasilitas Tempat Sandar Kapal, Cold Storage, Terminal Kargo dan Bandar Udara untuk mengangkut Fresh Tuna ke negara – negara tujuan seperti Singapura. Negara tujuan ekspor Ikan Tuna yang besar selain Singapura meliputi Jepang dan Amerika Serikat.
Coremap
Di Kabupaten Tapanuli Tengah dilaksanakan Program Rehabilitasi dan pengelolaan Terumbu Karang / Coral Reef Rehabilitation and management Program (COREMAP) yang merupakan program jangka panjang (15 tahun). Tujuan program ini adalah melindungi, merehabilitasi dan memanfaatkan secara lestari terumbu karang Indonesia termasuk di Tapanuli Tengah, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Lokasi kegiatan COREMAP di Tapanuli Tengah yaitu Desa Sitardas dan Jago-jago Kecamatan Badiri, Desa Kinali dan Desa Kedai Gedang di Kecamatan Barus serta Tapian Naulu I dan Mursala di Kecamatan Tapian Nauli. Kegiatan COREMAP tersebut meliputi 2 aspek yaitu penguatan kelembagaan pengelolaan terumbu karang berbasis masyarakat.
Rumput Laut
Agar-agar merupakan salah satu produk olahan Rumput Laut. Budi daya Rumput Laut merupakan salah satu alternatif investasi di bidang kelautan yang dapat dilakukan di Kabupaten Tapanuli Tengah. Ketersediaan lahan yang besar dan semakin besarnya peran ekonomi dari industri Agar-agar di Indonesia.
Budi Daya Ikan
Budi daya Ikan di Kabupaten Tapanuli Tengah memiliki peluang usaha yang menjanjikan. Keberadaan Balai Benih Ikan (BBI) yang dikelola oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Tapanuli Tengah turut mendukung peningkatan produktifitas Budidaya Ikan.
Rumah Tangga Nelayan
Di Kabupaten Tapanuli Tengah, partisipasi kerja wanita dalam sektor perikanan cukup tinggi. Usaha di bidang Perikanan meliputi Perdagangan, Penjemuran Ikan, Pengeringan Ikan dan Perebusan Ikan.
Hasil tangkap Ikan Tuna oleh Kapal Motor Nelayan di Tapanuli Tengah terutama untuk jenis Tuna Mata Besar (Big Eye Tuna), Madidihang (Yellowfin Tuna), Albacora (Longfin Tuna), dan Cakalang (Skipjack Tuna).
Investasi Kapal Motor Tangkap Ikan Tuna memiliki peluang yang besar di Kabupaten Tapanuli Tengah. Keunggulan yang ditawarkan adalah tersedianya fasilitas Tempat Sandar Kapal, Cold Storage, Terminal Kargo dan Bandar Udara untuk mengangkut Fresh Tuna ke negara – negara tujuan seperti Singapura. Negara tujuan ekspor Ikan Tuna yang besar selain Singapura meliputi Jepang dan Amerika Serikat.
Sebagian besar penduduk di Kabupaten Tapanuli Tengah memiliki mata pencarian sebagi nelayan. Berdasarkan data tahun 2006, jumlah rumah tangga nelayan yang menggunakan kapal motor tangkap ikan adalah 410 dan jumlah rumah tangga nelayan yang melakukan usaha di bidang budidaya perikanan yakni 406. Jumlah nelayan di Kabupaten Tapanuli Tengah 9.920 orang.
Produksi perikanan Kabupaten Tapanuli Tengah tahun 2006 adalah 21.303,60 ton. Kapal Motor Tangkap Ikan yang digunakan oleh nelayan di Kabupaten Tapanuli Tengah bervariasi mulai kurang dari 5 GT hingga lebih besar dari 30 GT. Pada tahun 2006, hasil produksi perikanan dari penangkapan di laut adalah 20.331,40 ton sedangkan dari perairan umum di darat adalah 434,10 ton. Dengan besarnya potensi perikanan tangkap di Kawasan Barat Pulau Sumatera terutama ikan kualitas ekspor maka semakin terbuka peluang investasi di sektor kelautan dan perikanan di Kabupaten Tapanuli Tengah.
Potensi Kehutanan dan Perkebunan
Hutan
Hutan yang terdapat di Kabupaten Tapanuli Tengah terdiri atas Hutan Lindung (HL), Hutan Suaka (HS), hutan Produksi (HP), Hutan Produksi Terbatas (HPT), Hutan Konservasi (HK), dan Areal Penggunaan Lain (APL)
Pemkab Tapanuli Tengah selaras dengan program Pemerintah Pusat juga giat melaksanakan reboisasi hutan yaitu dengan melaksanakan Penanaman Pohon.
Komoditas unggulan perkebunan Kabupaten Tapanuli Tengah adalah Karet, Kelapa Sawit, kakao dan Kelapa
Karet
Karet merupakan salah satu komoditas unggulan Kabupaten Tapanuli Tengah. Luas tanaman Karet Rakyat di Tapanuli Tengah pada tahun 2006 adalah 30.580 Ha dengan produksi 16.703,17 ton. Karet (Hevea brasiliensis) merupakan salah satu sub sektor perkebunan yang dikonsumsi sebagai bahan baku industri. Karet memegang peranan sangat penting dalam pembangunan pertanian terutama sebagai penghasil devisa dan penyerap tenaga kerja. Negara tujuan ekspor karet Indonesia adalah RRC, Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa.
Peluang investasi agribisnis Karet Alam di Kabupaten Tapanuli Tengah untuk masa yang akan datang mempunyai prospek yang sangat cerah. Hal ini disebabkan industri polimer pengguna Karet semakin meningkat dan mulai diperkenalkannya ban jenis baru yaitu green tyres yang komposisi penggunaan karet alamnya hampir 2 kali lipat dari ban biasa. Semakin mahalnya harga minyak bumi dan langkanya sumber – sumber minyak bumi sebagai bahan pembuatan Karet Sintetis juga akan mendorong pemakainan Karet alam secara optimal.
Dalam meningkatkan produksi perkebunan Karet, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah melaksanakan upaya penggunaan bibit unggul Karet pada petani, percepatan peremajaan Karet tua, peningkatan efisiensi usaha tani, diversifikasi usaha tani Karet dengan tanaman pangan sebagai tanaman sela, peningkatan efisiensi pemasaran untuk meningkatkan margin harga petani termasuk upaya untuk mendatangkan investor industri pengolahan karet, pengembangan infrastruktur dan kebijakan lainnya yang dapat mendorong penguatan permodalan petani karet di Tapanuli Tengah.
Kelapa Sawit
Kelapa Sawit (Elaesis guineensis Jacq) dan produk turunannya adalah komoditi perkebunan yang mempunyai peranan sangat strategis dalam perekonomian nasional, termasuk di Tapanuli Tengah. Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit merupakan salah satu sumber penghasil Pendapatan Asli Daerah yang besar. Kelapa Sawit merupakan salah satu komoditas unggulan di Tapanuli Tengah. Luas tanaman Kelapa Sawit Tanaman Perkebunan Rakyat di Tapanuli Tengah pada tahun 2006 adalah 2.259 Ha dengan produksi 24.140,98 ton. Untuk tahun mendatang produksi Kelapa Sawit akan mengalami pertumbuhan yang besar karena saat ini masih banyak tanaman Kelapa Sawit yang belum menghasilkan disamping berbagai investasi yang masuk dari Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit.
Investasi di bidang Perkebunan khususnya Perkebunan Kelapa Sawit di Kabupaten Tapanuli Tengah mulai menunjukkan hasil yang menggembirakan. Pemerintah kabupaten Tapanuli Tengah dengan serius terus mengupayakan peningkatan produksi Kelapa Sawit di daerah ini.
Negara tujuan ekspor Minyak Kelapa Sawit (CPO) Indonesia umumnya adalah India, Belanda, China, Malaysia, Singapura dan negara- negara lainnya.
Keberadaan Pabrik Minyak Kelapa Sawit (PMKS) di Kabupaten Tapanuli Tengah akan menyerap banyak tenaga kerja di daerah dan menaikkan nilai jual buah sawit rakyat sehingga dapat meningkatkan taraf hidup para petani. Beberapa perusahaan perkebunan di Kabupaten Tapanuli Tengah seperti PT. Sinar Gunung Sawit Raya (PMDN), PT. Fajarindah Anindya (PMDN), PT. Cahaya Pelita Andhika (PMDN) dan PT. Nauli Sawit.
Kelapa
Kelapa merupakan salah satu komoditi unggulan Kabupaten Tapanuli Tengah. Pada tahun 2006, luas lahan yang ditanami Kelapa di Tapanuli Tengah adalah 5.361 Ha dan produksinya 4.729,61 ton.
Kakao
Coklat atau Kakao merupakan salah satu komoditas unggulan di Kabupaten Tapanuli Tengah. Pada tahun 2006, luas areal Perkebunan Kakao di Tapanuli Tengah adalah 2.483 Ha dengan produksi 1.445,47 ton, dan masih diusahakan oleh Perkebunan Rakyat.
Peranan Kakao memegang peranan penting bagi perekonomian daerah khususnya dan nasional umumnya. Hal ini dapat dilihat dari informasi yang dikeluarkan oleh ICCQ yaitu ekspor Kakao Indonesia termasuk 3 besar setelah Amerika, Asia dan Oseania. Adapun importir Kakao di dunia meliputi Amerika Serikat, Jepang, Eropa dan lainnya,
Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah terus berupaya dalam meningkatkan produksi Kakao melalui penyaluran bibit Kakao kepada Kelompok Tani, Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Untuk meningkatkan taraf hidup Petani Kakao di Tapanuli Tengah, kedepan diupayakan untuk meningkatkan penjualan Kakao yang telah difermentasi untuk tujuan ekspor.
Kopi
Kopi merupakan salah satu komoditi yang masih terbatas produksinya di Kabupaten Tapanuli Tengah. Pada tahun 2006, luas tanaman Kopi di Tapanuli Tengah adalah 190,00 Ha dengan produksi 88,01 ton. Penghasil komoditi terbesar Kopi di Kawasan Barat Sumatera Utara adalah Kabupaten Dairi, Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Humbang Hasundutan, disusul oleh Kabupaten Tapanuli Selatan, dan Kabupaten mandailing Natal.
Posisi strategis Kabupaten Tapanuli Tengah dapat menjadi pusat koleksi komoditas unggulan Kopi Kawasan Barat Sumatera Utara untuk selanjutnya diproses nantinya di Area Industri Labuan Angin dan untuk diekspor melalui Pelabuhan Kargo Laut Oswald Siahaan yang pada tahun 2008 dimulai pembangunannya.
Produksi Perkebunan Kabupaten Tapanuli Tengah lainnya adalah Kemiri 115,59 ton, Aren 58,18 ton, Tebu 25,62 ton, Kapuk 32,62 ton, Nilam 13,66 ton, Pinang 10,05, Tebu 4,80 ton, Kulit Manis 4,03 ton, Gambir 3,48 ton dan Kemenyan 1,39 ton.
Potensi Pertanian dan Peternakan
Potensi investasi bidang Pertanian di Kabupaten Tapanuli Tengah meliputi tanaman Padi, Palawija, Sayur-sayuran dan Buah-buahan. Adapun potensi Peternakan di Kabupaten Tapanuli Tengah meliputi Kerbau, Kambing, Ayam, Itik, Babi, dan Sapi.
Padi
Pada tahun 2006, luas panen tanaman Padi di Kabupaten Tapanuli Tengah adalah 32.685 Ha yang terdiri atas Padi Sawah 30.540 Ha dan Padi Ladang 2.145 Ha. Produksi tanaman Padi adalah 143.121 ton yang terdiri atas Padi Sawah 136.686 ton dan Padi Ladang 6.435 ton.
Untuk mewujudkan Pertanian dan Peternakan yang modern, efisien, efektif dan berwawasan Agribisnis maka Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah melalui Dinas Pertanian dan Peternakan berupaya untuk meningkatkan taraf hidup para Petani, meningkatkan ketahanan pangan Nasional, meningkatkan kemandirian Petani, memperluas lapangan kerja, dan meningkatkan produksi pertanian yang berdaya saing.
Buah-buahan
Luas panen dan produksi komoditi unggulan Buah-buahan di Kabupaten Tapanuli Tengah pada tahun 2006 adalah :
1. Durian : luas area 1.321,50 Ha dan produksi 32.141,50 ton.
2. Jeruk : luas area 539,28 Ha dan produksi 5.835,70 ton.
3. Mangga : luas area 261,61 Ha dan produksi 2.805,88 ton.
4. Manggis : luas area 192,32 Ha dan produksi 1.562,30 ton.
5. Pisang : luas area 96,96 Ha dan produksi 1.954,59 ton.
6. Duku / Langsat : luas area 110,54 Ha dan produksi 816,20 ton.
7. Rambutan : luas area 248,31 Ha dan produksi 2.689,80 ton.
8. Sawo : luas area 66,69 Ha dan produksi 283,30 ton.
9. Pepaya : luas area 30,55 Ha dan produksi 1.355,30 ton.
10.Alpokat : luas area 1,86 Ha dan produksi 28,20 ton.
11.Jambu Air : luas area 20,51 Ha dan produksi 150,60 ton.
Berbagai bantuan diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah kepada para Petani, Kelompok Tani dan Koperasi , Usaha Mikro Kecil dan Menengah dalam memberdayaan ekonomi masyarakat dan mendorong peningkatan produksi Pertanian di Tapanuli Tengah.
Dalam meningkatkan produksi pertanian dan peternakan di Kabupaten Tapanuli Tengah maka dikembangkan bibit – bibit unggul, menggiatkan pelatihan dan penyuluhan kepada petani, membangun Balai Pertanian, melengkapi peralatan pertanian serta penyediaan pasokan pupuk di Tapanuli Tengah.
Potensi Pertambangan dan Sumber Daya Mineral
Potensi investasi pertambangan di Kabupaten Tapanuli Tengah meliputi Granit, Pasir dan Sirtu (Pasir dan Batu), Kuarsa, Lempung, Tras, Batu Gamping, Batu Apung, Andesit – Basal. Tapanuli Tengah memiliki potensi yang besar untuk bahan galiab golongan “C” sehingga memudahkan dalam pelaksanaan konstruksi bangunan yang memerlukan bahan galian tersebut.
Tapanuli Tengah juga memiliki potensi bahan galian golongan “A” seperti Batubara, Uranium dan Timah Putih yang membutuhkan eksplorasi lebih lanjut untuk dapat menentukan deposit yang sebenarnya dari potensi bahan tambang tersebut.
1. Granit : > 455.726.250 ton tersebar di Kec. Pandan, Kec. Sitahuis.
2. Lempung : ± 31.500.000 ton tersebar di Kec. Pandan, Kec. Sitahuis, Kec. Tapian Nauli, Kec. Kolang, Kec. Sorkam, Kec. Pinangsori
3. Tras : ± 18.900.000 ton tersebar di Kec. Tapian Nauli dan Kec. Kolang
4. Pasir Kuarsa dan Batu Pasir : ± 766.090.000 tersebar di Kec. Pandan, Kec. Tapian Nauli, Kec. Sorkam, Kec. Sitahuis, Kec. Pinangsori
5. Sirtu (Pasir dan Batu) : > 7.938.750 tersebar di Kec. Pandan, Sitahuis, Kec. Tapian Nauli, Kec. Kolang, Kec. Pinangsori, dan lain-lain
Adapun potensi tambang golongan “B” yang teridentifikasi di Kabupaten Tapanuli Tengah meliputi Timbal (Pb), Seng (Zn), Wolfram (W), Niobium (Ni), dan Zat Radioaktif.
Obyek Wisata Kabupaten Tapanuli Tengah
Bukit Anugerah
Kawasan obyek wisata Bukit Anugerah dibangun di Bonan Dolok, Sitahuis. Panorama yang indah dapat disaksikan dari lokasi ini dengan ketinggian 1.500 m diatas permukaan laut. Hamparan pulau – pulau, Kota Pandan dan Kota Sibolga hingga sejauh mata memandang perpaduan Perbukitan, Pantai dan Lautan.
Patung Anugerah dengan tinggi ± 60 m diatas Pedestal Hotel berbentuk Kapal yang memiliki 200 kamar, Ballroom, dengan arsitektur yang unik dirancang oleh Tim Nyoman Nuarte akan menjadi landmark baru di Tapanuli Tengah dalam menumbuhkembangkan kepariwisataan yang sinergi dengan simpul pariwisata di Kawasan Barat Sumatera Utara hingga Bali
Nuansa religius Hotel ini dengan 6 tempat ibadah dari 6 agama di Indonesia akan menjadi daya tarik tersendiri, sebagai simbol harmonisnya masyarakat dan terbinanya kerukunan umat beragama di Kawasan Barat Sumatera Utara
Saat ini Patung Anugerah sedang dikerjakan di workshop PT. Siluet Nyoman Nuarte, Bandung. Untuk tahap awal Patung Anugerah akan diletakkan di Bukit Anugerah Expo dan ditempatkan di atas Pedestal Hotel berbentuk Kapal setelah Hotel tersebut selesai dibangun
Pulau Mursala
Pulau Mursala terletak pada 1,7º LU dan 98,5º BT dan termasuk wilayah Kecamatan Tapian Nauli Kabupaten Tapanuli Tengah. Luas Pulau Mursala ± 8.000 Ha, merupakan daerah perbukitan yang indah. Terdapat beberapa aliran sungai berbatu dengan aliran cukup deras yang mengalir membelah Pulau Mursala. Perairan Pulau Mursala dijadikan konservasi terumbu karang sedangkan Pulau Mursala berpeluang untuk dijadikan tempat wisata berburu dan resort. Jarak tempuh ke Pulau mursala dari Kota Pandan maupun Kota Sibolga dengan Speed Boat sekitar 60 menit
Beberapa gugus pulau – pulau kecil disekitar Pulau Mursala seperti Pulau Silabu-labu Nagodang, Pulau Kalimantung Namenek, Pulau Jambe, dan Pulau Puti memiliki kekhasan tersendiri yang menambah keindahan wisata bahari Pulau Mursala
Pantai Indah Pandan
Panorama Pantai Indah Pandan terdapat di Kecamatan Pandan dengan Hotel dan Restoran
Pantai Indah Kalangan
Hamparan Pohon Pinus dan Cottage sekitar Pantai Indah Kalangan di Pandan. Berbagai even olah raga dilaksanakan di Pantai Indah Kalangan seperti Lomba Renang dan Motorcross serta berbagai acara hiburan rakyat
Panorama Pantai Nan Indah
Obyek wisata bahari Tapanuli Tengah yang dapat dinikmati di sepanjang pesisir Barat Kabupaten Tapanuli Tengah seperti Pantai Indah Binasi di Kecamatan Sorkam Barat, Pantai Indah Muara Kolang di Kecamatan Kolang, Pantai Indah Kedai Gedang di Kecamatan Barus, Pantai Indah Sitiris-tiris di Kecamatan Andam Dewi dan Pantai Indah Pasar Batu Gerigis di Kecamatan Barus serta hamparan pulau – pulau kecil yang indah seperti Pulau Karang dengan Pantai Pasir Putih di Kecamatan Andam Dewi
Obyek Wisata Sejarah
Obyek wisata bersejarah dapat dijumpai di Kecamatan Barus seperti Makam Mahligai dan Makam Papan Tinggi. Barus adalah tempat pertama kali masuknya agama Islam dan Kristen di Indonesia
Kebudayaan
Penduduk Kabupaten Tapanuli Tengah adalah multi etnik, dengan berbagai budaya etnis yang berbaur dalam harmoni kerukunan dan toleransi. Budaya Pesisir, Batak, Jawa, dan dari berbagai suku lainnya dapat terbina di daerah sehingga menambah kaya budaya lokal dan dapat mendukung terciptanya iklim investasi yang kondusif.
Sumber : http://www.tapteng.go.id
http://wisatadanbudaya.blogspot.com/2010/11/kabupaten-tapanuli-tengah-sumatera.html
Peta : http://2.bp.blogspot.com
Peta Kabupaten Tapanuli Tengah
Gambaran Umum
Kabupaten Tapanuli Tengah terletak di pesisir Pantai Barat Pulau Sumatera dengan panjang garis pantai 200 km dan wilayahnya sebagian besar berada di daratan Pulau Sumatera dan sebagian lainnya di pulau-pulau kecil. Kabupaten Tapanuli Tengah merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Sumatera Utara dengan luas wilayah 6.194,98 km² meliputi darat dan laut dengan hamparan gunung, pantai dan laut (gupala).
Letak wilayah yang strategis, keanekaragaman potensi sumber daya alam yang besar dan harmonisnya multietnik masyarakat menyebabkan Tapanuli Tengah sebagai permata tersembunyi yang akan berkilau dan sangat berharga dengan sentuhan percepatan pembangunan dan peningkatan investasi.
Kabupaten Tapanuli Tengah terletak pada 1°11’00” - 2°22’0” LU dan 98°07’ - 98°12’ BT, Tapanuli Tengah memiliki luas wilayah 6.194,98 km² yang terdiri atas darat 2.194,98 km² dan laut 4.000 km². Wilayah Tapanuli Tengah berbatasan di sebelah Utara dengan Kabupaten Aceh Singkil (Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam), disebelah Timur dengan Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Humbang Hasundutan dan Kabupaten Pakpak Bharat, disebelah Selatan dengan Kabupaten Tapanuli Selatan, serta disebelah Barat dengan Kota Sibolga dan Samudera Indonesia.
Topografi
Topografi Kabupaten Tapanuli Tengah sebagian besar berbukit - bukit dengan ketinggian 0 – 1.266 meter di atas permukaan laut. Dari seluruh wilayah Tapanuli Tengah, 43,90% berbukit dan bergelombang.
Klimatologi
Sebagian besar wilayah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah berbatasan dengan lautan sehingga berpengaruh pada suhu udara yang tergolong beriklim tropis. Dalam periode bulan Januari – Desember 2006, suhu udara maksimum dapat mencapai 31,53ºC dan suhu minimum mencapai 21,72ºC. Rata-rata suhu udara di Kabupaten Tapanuli Tengah tahun 2005 adalah 26,09ºC. Musim kemarau biasanya terjadi bulan Juni sampai bulan September, musim penghujan biasanya terjadi bulan Nopember sampai Maret, diantara kedua musim tersebut diselingi oleh musim pancaroba.
Pada tahun 2006, curah hujan rata-rata 4.925,9 mm, hari hujan 226,0 hari, kecepatan angin rata-rata 6,7 knot dan penguapan rata-rata 4,6 mm. Kelembaban udara rata-rata 84,58%.
Hidrologi
Potensi hidrologi cukup penting untuk menunjang pembangunan, baik untuk kepentingan air minum, irigasi, transportasi, dan untuk kepentingan lainnya. Wilayah Tapanuli Tengah dipengaruhi oleh empat Daerah Aliran Sungai (DAS) yaitu DAS Batang Toru, DAS Tapus, DAS Aek Sibundong, dan DAS Sirahar. Daerah hulu sungai berasal dari pegunungan Bukit Barisan dan bermuara ke Pantai Barat Sumatera Utara. Secara umum sungai beraliran pendek, terjal dan sempit. Sebagian sungai telah dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik seperti aliran Sungai Sibuluan untuk PLTA Sipan Sihaporas dan untuk air minum maupun irigasi.
Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah terbentuk pada tanggal 24 Agustus 1945. Ibukota Kabupaten Tapanuli Tengah adalah PANDAN. Pada bulan Mei 2007, secara administratif Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah terdiri atas 19 kecamatan, 24 kelurahan dan 154 desa, yaitu meliputi Kecamatan Manduamas, Sirandorung, Andam Dewi, Barus, Barus Utara, Sosorgadong, Sorkam Barat, Sorkam, Pasaribu Tobing, Kolang, Tapian Nauli, Sitahuis, Pandan, Tukka, Badiri, Pinangsori, Lumut, Sibabangun, dan Suka Bangun.
Pada bulan Desember 2007 jumlah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah bertambah satu lagi yaitu Kecamatan Sarudik sehingga jumlah kecamatan seluruhnya 20 kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah.
Pemekaran kecamatan tersebut dimaksudkan untuk lebih mempercepat proses pembangunan daerah, meningkatkan kapasitas dan kualitas pemerintah kecamatan dalam menyelenggarakan pemerintahan, pembangunan, serta pelayanan umum dan pelayanan dasar kepada masyarakat. Adapun jumlah legislatif yaitu Dewan Perwakilan Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah saat ini berjumlah 29 orang.
Demografi
Penduduk Tapanuli Tengah tahun 2006 berjumlah 297.846 jiwa dengan kepadatan penduduk 136 jiwa per km². Laju pertumbuhan penduduk periode tahun 2000-2005 sebesar 1,86% per tahun. Komposisi penduduk di Tapanuli Tengah yaitu 50,20% laki-laki dan 49,80% perempuan.
Pada tahun 2005, lapangan usaha yang paling banyak mengalami peningkatan menyerap tenaga kerja di perusahaan swasta adalah sub sektor industri pengolahan.
Penduduk Tapanuli Tengah terdiri atas multi etnik yaitu suku Batak, Minang, Jawa - Madura, Bugis, Cina, Aceh, Melayu, Sunda, dan lain-lain, dengan mayoritas suku Batak. Kerukunan, keamanan, ketertiban dan toleransi dalam semangat gotong-royong yang terjalin dan terbina selama ini membuat Tapanuli Tengah semakin kondusif dan tangguh secara sosial kemasyarakatan dalam menyikapi globalisasi dengan berbagai perubahan yang begitu cepat. Persoalan mendasar masyarakat Tapanuli Tengah, seperti halnya daerah lain di Kawasan Barat Sumatera Utara secara ekonomi selama ini adalah : KEMISKINAN dan PENGANGGURAN
Adapun keterbatasan yang melingkupi persoalan tersebut adalah Topografi wilayah Tapanuli Tengah yang berbukit (Bukit Barisan), keterbatasan sumberdaya manusia, keterbatasan pengelolaan sumberdaya alam, keterbatasan infrastruktur, keterbatasan akses informasi dan keterbatasan arus modal.
Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah berupaya untuk mengatasi persoalan tersebut dengan percepatan pembangunan dan menaikkan pertumbuhan ekonomi daerah terutama melalui investasi baik investasi pemerintah maupun swasta untuk menaikkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat dengan konsep pembangunan TAPANULI GROWTH.
Pelaksanaan percepatan pembangunan yang diselenggarakan sejak tahun 2001 hingga saat ini telah mulai menunjukkan hasil nyata dengan peningkatan serapan tenaga kerja melalui investasi yang masuk dan pembangunan infrastruktur yang akan mendorong peningkatan tersebut.
Secara umum lapangan usaha yang dominan di Kabupaten Tapanuli Tengah adalah Pertanian, Jasa dan Industri Pengolahan.
Masyarakat petani terdiri atas nelayan, petani yang menanam padi, hortikultura dan ternak serta perkebunan rakyat. Lapangan usaha jasa yang dominan merupakan aktifitas perdagangan komoditi unggulan hasil pertanian dan produk kerajinan / industri rumah tangga, disamping jasa lainnya seperti pengangkutan, komunikasi dan perbankan / lembaga keuangan. Industri pengolahan meliputi industri yang berbasis hasil perikanan tangkap dan perkebunan.
Sejarah
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, pelaksanaan urusan Pemerintahan di daerah antara lain di Tapanuli Tengah tetap dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada tanggal 24 Agustus 1945 Residen Tapanuli, saat itu menghunjuk Z.A. Glr Sutan Komala Pontas Pemimpin Distrik Sibolga selanjutnya sebagai Demang dan menjadi penanggung jawab pelaksana roda pemerintahan di Tapanuli Tengah. Pada saat itu Dr. Ferdinand Lumbantobing eks Wakil Residen Tapanuli menjadi Residen Tapanuli berkedudukan di Tarutung. Pada tanggal 15 Oktober 1945 oleh Gubernur Sumatera Mr. T. Mohd. Hasan menyerahkan urusan pembentukan daerah Otonom setingkat di wilayahnya pada pemerintahan daerah kepada masing-masing Residen.
Gubernur Tapanuli Sumatera Timur dengan Keputusan Nomor 1 Tahun 1946 mengangkat dan mengukuhkan Z.A. Glr Sutan Komala Pontas sebagai Bupati/Kepala Luhak Tapanuli Tengah. Sesuai Keputusan Gubernur Sumatera Timur tanggal 17 Mei 1946 Kota Sibolga dijadikan sebagai Kota Administratif yang dipimpin oleh seorang Walikota dan pada saat itu dirangkap oleh Bupati Kabupaten Sibolga (Tapanuli Tengah) yaitu Z.A. Glr Sutan Komala Pontas. Luas wilayah Kota Administratif Sibolga ditetapkan dengan Ketetapan Residen Tapanuli Nomor 999 Tahun 1946.
Pada tahun 1946 di Tapanuli Tengah mulai dibentuk Kecamatan untuk menggantikan sistem Pemerintahan Onder Distrik Afdeling pada masa Pemerintahan Belanda. Kabupaten Tapanuli Tengah sebagai Daerah Otonom dipertegas oleh Pemerintah dengan Undang-undang Nomor 7 Drt 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Kabupaten-kabupaten dalam lingkungan Daerah Propinsi Sumatera Utara. Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah Nomor 19 Tahun 2007 maka ditetapkan Hari Jadi Kabupaten Tapanuli Tengah adalah tanggal 24 Agustus 1945.
Dalam perjalanan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah telah silih berganti Kepala Daerah mulai dari Z.A. Glr Sutan Komala Pontas (1945 – 1946), Prof. Mr. M. Hazairin (1946 – 1946), A. M. Djalaluddin (1946 – 1947), Mangaraja Sori Muda (1947 – 1952), Ibnu Sa’adan (1952 – 1954), Raja Djundjungan (1954 – 1958), Matseh Glr. Kasayangan (1958 – 1959), M. Samin Pakpahan (1959 – 1965), S.S. Paruhum Stn. Singengu (1965 – 1967), Ridwan Hutagalung (1967 – 1975), Bangun Siregar (1975 – 1980), Lundu panjaitan, SH (1980 – 1985), H. Abd. Wahab Dalimunthe, SH (1985 – 1990), Drs. Amrun Daulay (1990 – 1995), Drs. Panusunan Pasaribu (1995 – 2001), Drs. Tuani Lumbantobing (2001 – 2006), Drs. Rudolf Pardede, sebagai Penjabat (2006), Drs. Tuani Lumbantobing (2006 – Sekarang).
Lambang Kabupaten Tapanuli Tengah
Penjelasan Arti Lambang
1. Lambang berbentuk lingkaran, satu tangkai kapas dan satu tangkai padi, kapas 8 butir dan padi 45 butir menggambarkan bulan dan tahun bersejarah dari kemerdekaan Negara Republik Indonesia, juga menggambarkan tujuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur.
2. Bintang bersudut lima ditempatkan dibagian paling atas, menggambarkan rakyat Tapanuli Tengah percaya dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan ajaran agama menjadi pedoman dalam semua perikehidupan rakyatnya.
3. Tiga batang bambu runcing bermakna ganda yaitu melambangkan Daerah Tapanuli Tengah basis perjuangan merebut kemerdekaan Negara Republik Indonesia, juga melambangkan situasi tekad untuk mewujudkan cita-cita luhur bangsa dengan dasar musyawarah dan tatanan hidup “DALIHAN NATOLU” sebagai tatanan hidup masyarakat yang hidup rukun dan dinamis.
4. Motto Daerah “Sahata Saoloan” yang diabadikan pada bagian depan rumah adat mengandung makna bahwa rakyat Tapanuli Tengah untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur dan sejahtera berdasarkan Pancasila telah lebih dahulu menyatukan pendapat, sikap, gerak langkah, seiya-sekata, satu dalam perkataan dan satu pula dalam perbuatan.
5. Payung adat melambangkan bahwa masyarakat pendatang, dihargai, diayomi serta dilindungi dalam arti kehadiran dan eksistensinya dapat diterima dengan baik, tumbuh bersama-sama dengan budaya Tapanuli.
6. Gunung, Pantai dan Laut (Gupala) menggambarkan kekayaan potensi Daerah Tapanuli Tengah, Gunung, Pantai yang landai penuh keindahan menyimpan banyak objek wisata yang menarik dan menakjubkan, pantai penuh pohon nyiur melambai menambah pesona dan keelokannya serta laut yang kaya akan potensi ikan yang terkenal enak dan kwalitasnya terkenal.
7. Sorel (pita) tempat tulisan Tapanuli Tengah berwarna kuning melambangkan kesetiaan pada perjuangan bangsa dan kesatuan tekad untuk memakmurkan penduduk berdasarkan usaha bersama dan terpadu atas dasar kegotong-royongan.
8. Warna dasar Lambang berwarna putih melambangkan kesucian dan kemurnian.
Visi dan Misi
Visi : Menjadi pusat pertumbuhan dan lalulintas perdagangan serta kepariwisataan di Kawasan Pantai Barat Sumatera Utara, Aceh Singkil dan Simeulue. .
Misi :Kabupaten Tapanuli dalam rangka mewujudkan Pusat Pertumbuhan dan Lalu lintas Perdagangan serta Wisata Bahari berdasarkan nilai-nilai Budaya Tapanuli Tengah adalah :
1. Mewujudkan kepemerintahan yang baik (Good Governance)
2. Pemberdayaan potensi sumber daya manusia dan sumber daya alam sebagai kekuatan sosial ekonomi yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.
3. Mendorong percepatan pembangunan untuk mendukung pertumbuhan dan lalu lintas perdagangan serta wisata bahari.
4. Meningkatkan mutu pendidikan dan derajat kesehatan masyarakat
Potensi Kelautan dan Perikanan
Kabupaten Tapanuli Tengah dengan panjang garis pantai 200 km dan berada pada Kawasan Pantai Barat Sumatera Utara yang langsung menghadap Samudera Indonesia, kaya akan potensi kelautan dan perikanan.
Sebagian besar penduduk di Kabupaten Tapanuli Tengah memiliki mata pencarian sebagi nelayan. Berdasarkan data tahun 2006, jumlah rumah tangga nelayan yang menggunakan kapal motor tangkap ikan adalah 410 dan jumlah rumah tangga nelayan yang melakukan usaha di bidang budidaya perikanan yakni 406. Jumlah nelayan di Kabupaten Tapanuli Tengah 9.920 orang.
Produksi perikanan Kabupaten Tapanuli Tengah tahun 2006 adalah 21.303,60 ton. Kapal Motor Tangkap Ikan yang digunakan oleh nelayan di Kabupaten Tapanuli Tengah bervariasi mulai kurang dari 5 GT hingga lebih besar dari 30 GT.
Pada tahun 2006, hasil produksi perikanan dari penangkapan di laut adalah 20.331,40 ton sedangkan dari perairan umum di darat adalah 434,10 ton.
Dengan besarnya potensi perikanan tangkap di Kawasan Barat Pulau Sumatera terutama ikan kualitas ekspor maka semakin terbuka peluang investasi di sektor kelautan dan perikanan di Kabupaten Tapanuli Tengah.
Budi daya perikanan di Kabupaten Tapanuli Tengah memiliki potensi yang besar. Budi daya perikanan tersebut meliputi Tambak Ikan di darat dengan produksi 434,10 ton dan Kerambah Jaring Apung di laut dengan produksi 35,10 ton pada tahun 2006.
Udang
2 Komoditi udang merupakan kegiatan agribisnis dan agroindustri yang banyak menyerap tenaga kerja dan menghasilkan berbagai jenis produk makanan lainnya yang memiliki nilai tambah. Negara tujuan ekspor udang masih terkonsentrasi pada pasar Jepang, Amerika Serikat dan Uni Eropa. Produk udang yang diekspor sebagian besar bentuk Frozen.
Usaha Tambak Udang memiliki peluang investasi yang menjanjikan di Kabupaten Tapanuli Tengah. Dengan memanfaatkan 2.200 Ha potensi lahan tambak untuk udang jenis Black Tiger saja dapat memberikan hasil hingga ±88.000 ton per tahun.
Ikan Tuna
Potensi Ikan Tuna di Kawasan Barat Sumatera sangat besar dan berdasarkan hasil kajian yang dilakukan oleh Badan Kelautan dan Perikanan (BLKP) pada tahun 2003, pemanfaatan sumber daya Ikan Tuna di perairan Indonesia baru mencapai 54%.
Hasil tangkap Ikan Tuna oleh Kapal Motor Nelayan di Tapanuli Tengah terutama untuk jenis Tuna Mata Besar (Big Eye Tuna), Madidihang (Yellowfin Tuna), Albacora (Longfin Tuna), dan Cakalang (Skipjack Tuna).
Investasi Kapal Motor Tangkap Ikan Tuna memiliki peluang yang besar di Kabupaten Tapanuli Tengah. Keunggulan yang ditawarkan adalah tersedianya fasilitas Tempat Sandar Kapal, Cold Storage, Terminal Kargo dan Bandar Udara untuk mengangkut Fresh Tuna ke negara – negara tujuan seperti Singapura. Negara tujuan ekspor Ikan Tuna yang besar selain Singapura meliputi Jepang dan Amerika Serikat.
Coremap
Di Kabupaten Tapanuli Tengah dilaksanakan Program Rehabilitasi dan pengelolaan Terumbu Karang / Coral Reef Rehabilitation and management Program (COREMAP) yang merupakan program jangka panjang (15 tahun). Tujuan program ini adalah melindungi, merehabilitasi dan memanfaatkan secara lestari terumbu karang Indonesia termasuk di Tapanuli Tengah, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Lokasi kegiatan COREMAP di Tapanuli Tengah yaitu Desa Sitardas dan Jago-jago Kecamatan Badiri, Desa Kinali dan Desa Kedai Gedang di Kecamatan Barus serta Tapian Naulu I dan Mursala di Kecamatan Tapian Nauli. Kegiatan COREMAP tersebut meliputi 2 aspek yaitu penguatan kelembagaan pengelolaan terumbu karang berbasis masyarakat.
Rumput Laut
Agar-agar merupakan salah satu produk olahan Rumput Laut. Budi daya Rumput Laut merupakan salah satu alternatif investasi di bidang kelautan yang dapat dilakukan di Kabupaten Tapanuli Tengah. Ketersediaan lahan yang besar dan semakin besarnya peran ekonomi dari industri Agar-agar di Indonesia.
Budi Daya Ikan
Budi daya Ikan di Kabupaten Tapanuli Tengah memiliki peluang usaha yang menjanjikan. Keberadaan Balai Benih Ikan (BBI) yang dikelola oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Tapanuli Tengah turut mendukung peningkatan produktifitas Budidaya Ikan.
Rumah Tangga Nelayan
Di Kabupaten Tapanuli Tengah, partisipasi kerja wanita dalam sektor perikanan cukup tinggi. Usaha di bidang Perikanan meliputi Perdagangan, Penjemuran Ikan, Pengeringan Ikan dan Perebusan Ikan.
Hasil tangkap Ikan Tuna oleh Kapal Motor Nelayan di Tapanuli Tengah terutama untuk jenis Tuna Mata Besar (Big Eye Tuna), Madidihang (Yellowfin Tuna), Albacora (Longfin Tuna), dan Cakalang (Skipjack Tuna).
Investasi Kapal Motor Tangkap Ikan Tuna memiliki peluang yang besar di Kabupaten Tapanuli Tengah. Keunggulan yang ditawarkan adalah tersedianya fasilitas Tempat Sandar Kapal, Cold Storage, Terminal Kargo dan Bandar Udara untuk mengangkut Fresh Tuna ke negara – negara tujuan seperti Singapura. Negara tujuan ekspor Ikan Tuna yang besar selain Singapura meliputi Jepang dan Amerika Serikat.
Sebagian besar penduduk di Kabupaten Tapanuli Tengah memiliki mata pencarian sebagi nelayan. Berdasarkan data tahun 2006, jumlah rumah tangga nelayan yang menggunakan kapal motor tangkap ikan adalah 410 dan jumlah rumah tangga nelayan yang melakukan usaha di bidang budidaya perikanan yakni 406. Jumlah nelayan di Kabupaten Tapanuli Tengah 9.920 orang.
Produksi perikanan Kabupaten Tapanuli Tengah tahun 2006 adalah 21.303,60 ton. Kapal Motor Tangkap Ikan yang digunakan oleh nelayan di Kabupaten Tapanuli Tengah bervariasi mulai kurang dari 5 GT hingga lebih besar dari 30 GT. Pada tahun 2006, hasil produksi perikanan dari penangkapan di laut adalah 20.331,40 ton sedangkan dari perairan umum di darat adalah 434,10 ton. Dengan besarnya potensi perikanan tangkap di Kawasan Barat Pulau Sumatera terutama ikan kualitas ekspor maka semakin terbuka peluang investasi di sektor kelautan dan perikanan di Kabupaten Tapanuli Tengah.
Potensi Kehutanan dan Perkebunan
Hutan
Hutan yang terdapat di Kabupaten Tapanuli Tengah terdiri atas Hutan Lindung (HL), Hutan Suaka (HS), hutan Produksi (HP), Hutan Produksi Terbatas (HPT), Hutan Konservasi (HK), dan Areal Penggunaan Lain (APL)
Pemkab Tapanuli Tengah selaras dengan program Pemerintah Pusat juga giat melaksanakan reboisasi hutan yaitu dengan melaksanakan Penanaman Pohon.
Komoditas unggulan perkebunan Kabupaten Tapanuli Tengah adalah Karet, Kelapa Sawit, kakao dan Kelapa
Karet
Karet merupakan salah satu komoditas unggulan Kabupaten Tapanuli Tengah. Luas tanaman Karet Rakyat di Tapanuli Tengah pada tahun 2006 adalah 30.580 Ha dengan produksi 16.703,17 ton. Karet (Hevea brasiliensis) merupakan salah satu sub sektor perkebunan yang dikonsumsi sebagai bahan baku industri. Karet memegang peranan sangat penting dalam pembangunan pertanian terutama sebagai penghasil devisa dan penyerap tenaga kerja. Negara tujuan ekspor karet Indonesia adalah RRC, Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa.
Peluang investasi agribisnis Karet Alam di Kabupaten Tapanuli Tengah untuk masa yang akan datang mempunyai prospek yang sangat cerah. Hal ini disebabkan industri polimer pengguna Karet semakin meningkat dan mulai diperkenalkannya ban jenis baru yaitu green tyres yang komposisi penggunaan karet alamnya hampir 2 kali lipat dari ban biasa. Semakin mahalnya harga minyak bumi dan langkanya sumber – sumber minyak bumi sebagai bahan pembuatan Karet Sintetis juga akan mendorong pemakainan Karet alam secara optimal.
Dalam meningkatkan produksi perkebunan Karet, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah melaksanakan upaya penggunaan bibit unggul Karet pada petani, percepatan peremajaan Karet tua, peningkatan efisiensi usaha tani, diversifikasi usaha tani Karet dengan tanaman pangan sebagai tanaman sela, peningkatan efisiensi pemasaran untuk meningkatkan margin harga petani termasuk upaya untuk mendatangkan investor industri pengolahan karet, pengembangan infrastruktur dan kebijakan lainnya yang dapat mendorong penguatan permodalan petani karet di Tapanuli Tengah.
Kelapa Sawit
Kelapa Sawit (Elaesis guineensis Jacq) dan produk turunannya adalah komoditi perkebunan yang mempunyai peranan sangat strategis dalam perekonomian nasional, termasuk di Tapanuli Tengah. Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit merupakan salah satu sumber penghasil Pendapatan Asli Daerah yang besar. Kelapa Sawit merupakan salah satu komoditas unggulan di Tapanuli Tengah. Luas tanaman Kelapa Sawit Tanaman Perkebunan Rakyat di Tapanuli Tengah pada tahun 2006 adalah 2.259 Ha dengan produksi 24.140,98 ton. Untuk tahun mendatang produksi Kelapa Sawit akan mengalami pertumbuhan yang besar karena saat ini masih banyak tanaman Kelapa Sawit yang belum menghasilkan disamping berbagai investasi yang masuk dari Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit.
Investasi di bidang Perkebunan khususnya Perkebunan Kelapa Sawit di Kabupaten Tapanuli Tengah mulai menunjukkan hasil yang menggembirakan. Pemerintah kabupaten Tapanuli Tengah dengan serius terus mengupayakan peningkatan produksi Kelapa Sawit di daerah ini.
Negara tujuan ekspor Minyak Kelapa Sawit (CPO) Indonesia umumnya adalah India, Belanda, China, Malaysia, Singapura dan negara- negara lainnya.
Keberadaan Pabrik Minyak Kelapa Sawit (PMKS) di Kabupaten Tapanuli Tengah akan menyerap banyak tenaga kerja di daerah dan menaikkan nilai jual buah sawit rakyat sehingga dapat meningkatkan taraf hidup para petani. Beberapa perusahaan perkebunan di Kabupaten Tapanuli Tengah seperti PT. Sinar Gunung Sawit Raya (PMDN), PT. Fajarindah Anindya (PMDN), PT. Cahaya Pelita Andhika (PMDN) dan PT. Nauli Sawit.
Kelapa
Kelapa merupakan salah satu komoditi unggulan Kabupaten Tapanuli Tengah. Pada tahun 2006, luas lahan yang ditanami Kelapa di Tapanuli Tengah adalah 5.361 Ha dan produksinya 4.729,61 ton.
Kakao
Coklat atau Kakao merupakan salah satu komoditas unggulan di Kabupaten Tapanuli Tengah. Pada tahun 2006, luas areal Perkebunan Kakao di Tapanuli Tengah adalah 2.483 Ha dengan produksi 1.445,47 ton, dan masih diusahakan oleh Perkebunan Rakyat.
Peranan Kakao memegang peranan penting bagi perekonomian daerah khususnya dan nasional umumnya. Hal ini dapat dilihat dari informasi yang dikeluarkan oleh ICCQ yaitu ekspor Kakao Indonesia termasuk 3 besar setelah Amerika, Asia dan Oseania. Adapun importir Kakao di dunia meliputi Amerika Serikat, Jepang, Eropa dan lainnya,
Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah terus berupaya dalam meningkatkan produksi Kakao melalui penyaluran bibit Kakao kepada Kelompok Tani, Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Untuk meningkatkan taraf hidup Petani Kakao di Tapanuli Tengah, kedepan diupayakan untuk meningkatkan penjualan Kakao yang telah difermentasi untuk tujuan ekspor.
Kopi
Kopi merupakan salah satu komoditi yang masih terbatas produksinya di Kabupaten Tapanuli Tengah. Pada tahun 2006, luas tanaman Kopi di Tapanuli Tengah adalah 190,00 Ha dengan produksi 88,01 ton. Penghasil komoditi terbesar Kopi di Kawasan Barat Sumatera Utara adalah Kabupaten Dairi, Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Humbang Hasundutan, disusul oleh Kabupaten Tapanuli Selatan, dan Kabupaten mandailing Natal.
Posisi strategis Kabupaten Tapanuli Tengah dapat menjadi pusat koleksi komoditas unggulan Kopi Kawasan Barat Sumatera Utara untuk selanjutnya diproses nantinya di Area Industri Labuan Angin dan untuk diekspor melalui Pelabuhan Kargo Laut Oswald Siahaan yang pada tahun 2008 dimulai pembangunannya.
Produksi Perkebunan Kabupaten Tapanuli Tengah lainnya adalah Kemiri 115,59 ton, Aren 58,18 ton, Tebu 25,62 ton, Kapuk 32,62 ton, Nilam 13,66 ton, Pinang 10,05, Tebu 4,80 ton, Kulit Manis 4,03 ton, Gambir 3,48 ton dan Kemenyan 1,39 ton.
Potensi Pertanian dan Peternakan
Potensi investasi bidang Pertanian di Kabupaten Tapanuli Tengah meliputi tanaman Padi, Palawija, Sayur-sayuran dan Buah-buahan. Adapun potensi Peternakan di Kabupaten Tapanuli Tengah meliputi Kerbau, Kambing, Ayam, Itik, Babi, dan Sapi.
Padi
Pada tahun 2006, luas panen tanaman Padi di Kabupaten Tapanuli Tengah adalah 32.685 Ha yang terdiri atas Padi Sawah 30.540 Ha dan Padi Ladang 2.145 Ha. Produksi tanaman Padi adalah 143.121 ton yang terdiri atas Padi Sawah 136.686 ton dan Padi Ladang 6.435 ton.
Untuk mewujudkan Pertanian dan Peternakan yang modern, efisien, efektif dan berwawasan Agribisnis maka Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah melalui Dinas Pertanian dan Peternakan berupaya untuk meningkatkan taraf hidup para Petani, meningkatkan ketahanan pangan Nasional, meningkatkan kemandirian Petani, memperluas lapangan kerja, dan meningkatkan produksi pertanian yang berdaya saing.
Buah-buahan
Luas panen dan produksi komoditi unggulan Buah-buahan di Kabupaten Tapanuli Tengah pada tahun 2006 adalah :
1. Durian : luas area 1.321,50 Ha dan produksi 32.141,50 ton.
2. Jeruk : luas area 539,28 Ha dan produksi 5.835,70 ton.
3. Mangga : luas area 261,61 Ha dan produksi 2.805,88 ton.
4. Manggis : luas area 192,32 Ha dan produksi 1.562,30 ton.
5. Pisang : luas area 96,96 Ha dan produksi 1.954,59 ton.
6. Duku / Langsat : luas area 110,54 Ha dan produksi 816,20 ton.
7. Rambutan : luas area 248,31 Ha dan produksi 2.689,80 ton.
8. Sawo : luas area 66,69 Ha dan produksi 283,30 ton.
9. Pepaya : luas area 30,55 Ha dan produksi 1.355,30 ton.
10.Alpokat : luas area 1,86 Ha dan produksi 28,20 ton.
11.Jambu Air : luas area 20,51 Ha dan produksi 150,60 ton.
Berbagai bantuan diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah kepada para Petani, Kelompok Tani dan Koperasi , Usaha Mikro Kecil dan Menengah dalam memberdayaan ekonomi masyarakat dan mendorong peningkatan produksi Pertanian di Tapanuli Tengah.
Dalam meningkatkan produksi pertanian dan peternakan di Kabupaten Tapanuli Tengah maka dikembangkan bibit – bibit unggul, menggiatkan pelatihan dan penyuluhan kepada petani, membangun Balai Pertanian, melengkapi peralatan pertanian serta penyediaan pasokan pupuk di Tapanuli Tengah.
Potensi Pertambangan dan Sumber Daya Mineral
Potensi investasi pertambangan di Kabupaten Tapanuli Tengah meliputi Granit, Pasir dan Sirtu (Pasir dan Batu), Kuarsa, Lempung, Tras, Batu Gamping, Batu Apung, Andesit – Basal. Tapanuli Tengah memiliki potensi yang besar untuk bahan galiab golongan “C” sehingga memudahkan dalam pelaksanaan konstruksi bangunan yang memerlukan bahan galian tersebut.
Tapanuli Tengah juga memiliki potensi bahan galian golongan “A” seperti Batubara, Uranium dan Timah Putih yang membutuhkan eksplorasi lebih lanjut untuk dapat menentukan deposit yang sebenarnya dari potensi bahan tambang tersebut.
1. Granit : > 455.726.250 ton tersebar di Kec. Pandan, Kec. Sitahuis.
2. Lempung : ± 31.500.000 ton tersebar di Kec. Pandan, Kec. Sitahuis, Kec. Tapian Nauli, Kec. Kolang, Kec. Sorkam, Kec. Pinangsori
3. Tras : ± 18.900.000 ton tersebar di Kec. Tapian Nauli dan Kec. Kolang
4. Pasir Kuarsa dan Batu Pasir : ± 766.090.000 tersebar di Kec. Pandan, Kec. Tapian Nauli, Kec. Sorkam, Kec. Sitahuis, Kec. Pinangsori
5. Sirtu (Pasir dan Batu) : > 7.938.750 tersebar di Kec. Pandan, Sitahuis, Kec. Tapian Nauli, Kec. Kolang, Kec. Pinangsori, dan lain-lain
Adapun potensi tambang golongan “B” yang teridentifikasi di Kabupaten Tapanuli Tengah meliputi Timbal (Pb), Seng (Zn), Wolfram (W), Niobium (Ni), dan Zat Radioaktif.
Obyek Wisata Kabupaten Tapanuli Tengah
Bukit Anugerah
Kawasan obyek wisata Bukit Anugerah dibangun di Bonan Dolok, Sitahuis. Panorama yang indah dapat disaksikan dari lokasi ini dengan ketinggian 1.500 m diatas permukaan laut. Hamparan pulau – pulau, Kota Pandan dan Kota Sibolga hingga sejauh mata memandang perpaduan Perbukitan, Pantai dan Lautan.
Patung Anugerah dengan tinggi ± 60 m diatas Pedestal Hotel berbentuk Kapal yang memiliki 200 kamar, Ballroom, dengan arsitektur yang unik dirancang oleh Tim Nyoman Nuarte akan menjadi landmark baru di Tapanuli Tengah dalam menumbuhkembangkan kepariwisataan yang sinergi dengan simpul pariwisata di Kawasan Barat Sumatera Utara hingga Bali
Nuansa religius Hotel ini dengan 6 tempat ibadah dari 6 agama di Indonesia akan menjadi daya tarik tersendiri, sebagai simbol harmonisnya masyarakat dan terbinanya kerukunan umat beragama di Kawasan Barat Sumatera Utara
Saat ini Patung Anugerah sedang dikerjakan di workshop PT. Siluet Nyoman Nuarte, Bandung. Untuk tahap awal Patung Anugerah akan diletakkan di Bukit Anugerah Expo dan ditempatkan di atas Pedestal Hotel berbentuk Kapal setelah Hotel tersebut selesai dibangun
Pulau Mursala
Pulau Mursala terletak pada 1,7º LU dan 98,5º BT dan termasuk wilayah Kecamatan Tapian Nauli Kabupaten Tapanuli Tengah. Luas Pulau Mursala ± 8.000 Ha, merupakan daerah perbukitan yang indah. Terdapat beberapa aliran sungai berbatu dengan aliran cukup deras yang mengalir membelah Pulau Mursala. Perairan Pulau Mursala dijadikan konservasi terumbu karang sedangkan Pulau Mursala berpeluang untuk dijadikan tempat wisata berburu dan resort. Jarak tempuh ke Pulau mursala dari Kota Pandan maupun Kota Sibolga dengan Speed Boat sekitar 60 menit
Beberapa gugus pulau – pulau kecil disekitar Pulau Mursala seperti Pulau Silabu-labu Nagodang, Pulau Kalimantung Namenek, Pulau Jambe, dan Pulau Puti memiliki kekhasan tersendiri yang menambah keindahan wisata bahari Pulau Mursala
Pantai Indah Pandan
Panorama Pantai Indah Pandan terdapat di Kecamatan Pandan dengan Hotel dan Restoran
Pantai Indah Kalangan
Hamparan Pohon Pinus dan Cottage sekitar Pantai Indah Kalangan di Pandan. Berbagai even olah raga dilaksanakan di Pantai Indah Kalangan seperti Lomba Renang dan Motorcross serta berbagai acara hiburan rakyat
Panorama Pantai Nan Indah
Obyek wisata bahari Tapanuli Tengah yang dapat dinikmati di sepanjang pesisir Barat Kabupaten Tapanuli Tengah seperti Pantai Indah Binasi di Kecamatan Sorkam Barat, Pantai Indah Muara Kolang di Kecamatan Kolang, Pantai Indah Kedai Gedang di Kecamatan Barus, Pantai Indah Sitiris-tiris di Kecamatan Andam Dewi dan Pantai Indah Pasar Batu Gerigis di Kecamatan Barus serta hamparan pulau – pulau kecil yang indah seperti Pulau Karang dengan Pantai Pasir Putih di Kecamatan Andam Dewi
Obyek Wisata Sejarah
Obyek wisata bersejarah dapat dijumpai di Kecamatan Barus seperti Makam Mahligai dan Makam Papan Tinggi. Barus adalah tempat pertama kali masuknya agama Islam dan Kristen di Indonesia
Kebudayaan
Penduduk Kabupaten Tapanuli Tengah adalah multi etnik, dengan berbagai budaya etnis yang berbaur dalam harmoni kerukunan dan toleransi. Budaya Pesisir, Batak, Jawa, dan dari berbagai suku lainnya dapat terbina di daerah sehingga menambah kaya budaya lokal dan dapat mendukung terciptanya iklim investasi yang kondusif.
Sumber : http://www.tapteng.go.id
http://wisatadanbudaya.blogspot.com/2010/11/kabupaten-tapanuli-tengah-sumatera.html
Peta : http://2.bp.blogspot.com
Potensi agribisnis & agroindustri Tapteng sangat besar
Wednesday, 14 April 2010 21:23
Potensi agribisnis & agroindustri Tapteng sangat besar
RIDIN
WASPADA ONLINE
MEDAN - Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) ternyata menyimpan potensi hasil pertanian yang baik bagi masyarakatnya. Tekstur tanah yang dikategaorikan bahan organik (gambut seluas) 33.873 Ha, pasir 14.700 Ha, tanah sedang 86.188 Ha yang merupakan tekstur tanah terluas sebesar 39,25% dan tekstur halus 84.737 Ha.
Bupati Pemkab Tapteng,Tuani Lumbantobing, di arena PRSU, malam ini, mengatakan peluang agribisnis dan agroindustri di kabupaten Tapteng sangat besar.
Sektor pertanian merupakan salah satu andalan dan memiliki potensi sumber daya alam yang mendukung kontribusi PDRB sebesar 55,54% yang mencakup 80% penduduk Tapteng.
Berdasarkan data ATAP tahun 2009, realisasi untuk komoditi padi sawah lahan seluas 28.321 Ha dengan produksi 116.833 ton, padi gogo lahan seluas 2.542 Ha dengan hasil sebesar 6.050 ton, jagung lahan seluas 1.406 dengan hasil sebesar 4.459 ton.
Kemudian, kedelai dengan luas lahan 224 Ha hasil produksi 225 ton, kacang tanah 513 Ha hasil produksi 803 ton, kacang hijau 313 Ha hasil 317 ton, ubi kayu luas lahan 1.112 Ha hasil produksi 14.326 ton dan ubi jalar 349 Ha dengan hasil produksi sebesar 3.327 ton.
Potensi produksi pertanian unggulan buah-buahan seperti durian sebesar 31.883 ton, jeruk sebesar 4.388 ton, mangga sebesar 3.898 ton, manggis sebesar 3.235 ton, pisang sebesar 6.226 ton dan rambutan sebesar 6.197 ton.
Dikatakan, sektor hasil perkebunan untuk komodititas manggis Tapteng yang memiliki potensi hasil 3-4 ton per hektar permasaran ke pasar domestik seperti Medan, Pekanbaru, Batam, Jakarta dan diekspor ke Belanda.
Diungkapkan, dalam rangka mendukung program dua juta ton beras akan dibangun irigasi teknis di rawa Kolang kecamatan Kolang, Sitardas kecamatan Badiri, Manduamas dan pulo Pakkat seluas 37.000 Ha.
Sehingga akan meningkatkan intensitas pertanaman padi dan palawija dilahan sawah menjadi 3 kali tanam per tahun sehingga mampu meningkatkan swasembada pangan dan peningkatan pendapatan petani secara signifikan.
”Kita akan mengembangkan padi varietas yang belum dikenal oleh petani di sana. Pemkab Tapteng akan mengembangkan secara luas sebab varietas ini memiliki keunggulan yang tidak kalah dengan varietas lainnya. saat ini sedang dilakukan uji coba permurnian varietas. Sehingga terciptanya pertanian modern, efesien, efektif dan berwawasan agribisnis dikemudian hari,” jelasnya.
Editor: SATRIADI TANJUNG
(dat04/wol-mdn)
Sumber:
http://waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=105430:potensi-agribisnis-a-agroindustri-tapteng-sangat-besar&catid=15:sumut&Itemid=28
Potensi agribisnis & agroindustri Tapteng sangat besar
RIDIN
WASPADA ONLINE
MEDAN - Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) ternyata menyimpan potensi hasil pertanian yang baik bagi masyarakatnya. Tekstur tanah yang dikategaorikan bahan organik (gambut seluas) 33.873 Ha, pasir 14.700 Ha, tanah sedang 86.188 Ha yang merupakan tekstur tanah terluas sebesar 39,25% dan tekstur halus 84.737 Ha.
Bupati Pemkab Tapteng,Tuani Lumbantobing, di arena PRSU, malam ini, mengatakan peluang agribisnis dan agroindustri di kabupaten Tapteng sangat besar.
Sektor pertanian merupakan salah satu andalan dan memiliki potensi sumber daya alam yang mendukung kontribusi PDRB sebesar 55,54% yang mencakup 80% penduduk Tapteng.
Berdasarkan data ATAP tahun 2009, realisasi untuk komoditi padi sawah lahan seluas 28.321 Ha dengan produksi 116.833 ton, padi gogo lahan seluas 2.542 Ha dengan hasil sebesar 6.050 ton, jagung lahan seluas 1.406 dengan hasil sebesar 4.459 ton.
Kemudian, kedelai dengan luas lahan 224 Ha hasil produksi 225 ton, kacang tanah 513 Ha hasil produksi 803 ton, kacang hijau 313 Ha hasil 317 ton, ubi kayu luas lahan 1.112 Ha hasil produksi 14.326 ton dan ubi jalar 349 Ha dengan hasil produksi sebesar 3.327 ton.
Potensi produksi pertanian unggulan buah-buahan seperti durian sebesar 31.883 ton, jeruk sebesar 4.388 ton, mangga sebesar 3.898 ton, manggis sebesar 3.235 ton, pisang sebesar 6.226 ton dan rambutan sebesar 6.197 ton.
Dikatakan, sektor hasil perkebunan untuk komodititas manggis Tapteng yang memiliki potensi hasil 3-4 ton per hektar permasaran ke pasar domestik seperti Medan, Pekanbaru, Batam, Jakarta dan diekspor ke Belanda.
Diungkapkan, dalam rangka mendukung program dua juta ton beras akan dibangun irigasi teknis di rawa Kolang kecamatan Kolang, Sitardas kecamatan Badiri, Manduamas dan pulo Pakkat seluas 37.000 Ha.
Sehingga akan meningkatkan intensitas pertanaman padi dan palawija dilahan sawah menjadi 3 kali tanam per tahun sehingga mampu meningkatkan swasembada pangan dan peningkatan pendapatan petani secara signifikan.
”Kita akan mengembangkan padi varietas yang belum dikenal oleh petani di sana. Pemkab Tapteng akan mengembangkan secara luas sebab varietas ini memiliki keunggulan yang tidak kalah dengan varietas lainnya. saat ini sedang dilakukan uji coba permurnian varietas. Sehingga terciptanya pertanian modern, efesien, efektif dan berwawasan agribisnis dikemudian hari,” jelasnya.
Editor: SATRIADI TANJUNG
(dat04/wol-mdn)
Sumber:
http://waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=105430:potensi-agribisnis-a-agroindustri-tapteng-sangat-besar&catid=15:sumut&Itemid=28
Pemkab Tapteng Ciptakan Petani Modern Berwawasan Agribisnis
Selasa, 12 Apr 2011 07:51 WIB
Pemkab Tapteng Ciptakan Petani Modern Berwawasan Agribisnis
MedanBisnis – Medan. Sektor pertanian di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) salah satu ladang pekerjaan yang memiliki potensi sumberdaya alam untuk meningkatkan taraf hidup petani. Karena itu, pemberdayaan masyarakat petani akan bisa menjamin ketahanan pangan di daerah tersebut.
Staf Pemkab Tapteng, Putra, mengungkapkan hal tersebut kepada MedanBisnis, Kamis (7/4), di sela-sela kegiatan Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU).
Menurut Putra, 80% penduduk Tapteng merupakan petani. "Karena itu, Pemkab Tapteng memiliki visi untuk menciptakan petani modern, efisien, efektif, dan berwawasan agribisnis. Dengan begitu, pemberdayaan masyarakat petani akan bisa terwujud. Produksi pertanian yang dihasilkan petani pun akan memiliki daya saing," katanya.
Dikatakannya, pemberdayaan masyarakat ini juga didukung dengan berbagai strategi pertanian seperti peningkatan mutu intensifikasi, perluasan areal tanam, pewilayahan komoditi, peningkatan SDM petani dan petugas penyuluh. Selain itu, penumbuhan, pengembangan dan pemantapan sentra produksi juga faktor pendukung yang sangat signifikan. "Juga harus fokus dalam pemanfaatan agensi hayati, pertanian organik dan peningkatan pola kerja sama," kata Putra.
Ia menambahkan, dengan pola pertanian seperti ini, petani akan bisa menjamin ketersediaan pangan melalui peningkatan produksi. "Kemandirian pangan pun akan meningkat yang otomatis akan turut menggerek pendapatan masyarakat. Bahkan, kemampuan petani untuk mengelola usaha pertaniannya pun turut berkembang sehingga bisa mengatasi jika ada hama yang menyerang tanaman mereka," jelasnya.
Sektor pertanian di Tapteng kata Putra, didominasi padi sawah yang bisa menghasilkan produksi sebanyak 116.833 ton dengan luas tanam 28.321 hektare, padi gogo dengan produksi sebanyak 6.050 ton dengan luas tanam 2.542 hektare, jagung 4.459 ton dengan luas tanam 1.406 hektare, kedelai 225 ton dengan luas tanam 224 hektare.
Kemudian kacang tanah sebanyak 803 ton dengan luas tanam 513 hektare, kacang hijau 317 ton dengan luas tanam 313 hektare, ubi kayu 14.326 ton dengan luas tanam 1.112 hektare, dan ubi jalar sebanyak 3.327 dengan luas tanam 349 hektare.
Komoditi buah-buahan Tapteng juga termasuk produk unggulan seperti durian dengan total produksi mencapai 31.883 ton per tahun, jeruk 4.388 ton per tahun, mangga 3.898 ton per tahun, manggis 3.235 ton per tahun, pisang 6.226 ton per tahun dan rambutan 6.197 ton per tahun.
Putra mengungkapkan, dalam rangka mendukung program dua juta ton beras, Pemkab Tapteng akan membangun Irigasi Teknis di Rawa Kolang, Sitardas, Manduamas dan Pulo Pakkat seluas 37.000 hektare. "Irigasi ini untuk meningkatkan intensitas pertanaman padi dan palawija di lahan sawah menjadi tiga kali tanam per tahun, sehingga mampu mencapai swasembada pangan dan meningkatkan pendapatan petani secara signifikan," ungkapnya. (elvidaris simamora)
Sumber:
http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2011/04/12/28568/pemkab_tapteng_ciptakan_petani_modern_berwawasan_agribisnis/
Saturday, July 7, 2012
PT. DPM Agar Respon Aspirasi Masyarakat (7)
PT. DPM Agar Respon Aspirasi Masyarakat (7)
JARKOMSU - JARKOMSU
7. Motivasi tindakan penyerobotan atas tanah yang terjadi akhir-akhir ini dilakukan oleh Sdr Saidup Cibro dkk (yang bukan pelaku sejarah) dengan mengatasnamakan “sulang silima” Pakpak, adalah upaya untuk mendapatkan lahan untuk kebun sawit, serta harapan untuk mendapat perlakuan khusus dan kompensasi dari PT Dairi Prima Mineral (DPM) yang saat ini melakukan eksplorasi di wilayah Bongkaras dan sekitarnya, termasuk kemungkinan ganti rugi tanah dari perusahaan. Pengambilan secara sepihak atas hak-hak warga masayarakat, merupakan tindakan yang meresahkan masyarakat, dan mengingkari hukum adat Pakpak. Pemerintah Kabupaten Dairi dan Polisi Resort Dairi dimohon dapat merespon kasus ini dan mengambil tindakan tegas terhadap pelakunya.
Gejala yang terkesan kecil ini kalau dibiarkan bisa berpotensi merebak menjadi konflik horinzontal yang meluas menjadi konflik SARA. Belajar dari kajian konflik SARA di berbagai daerah, baik di Ambon, Poso, dan Sampit, bahwa masalah kecil seperti ini menjadi pemicu konflik besar dengan korban jiwa dan harta benda yang sangat besar;
8. Gejala ini merupakan salah satu dampak sosial budaya dari rencana PT Dairi Prima Mineral (DPM) yang mungkin tidak diantisipasi dengan baik dalam dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Diharapkan konsistensi pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan sesuai (AMDAL) PT Dairi Prima Mineral terutama kajian aspek sosial ekonomi dan budaya. Oleh karena itu, manajemen PT Dairi Prima Mineral perlu bertindak hati-hati dalam memberikan fasilitasi, kompensasi dan ganti rugi tanah kepada masyarakat, perlu rekrutmen tenaga kerja yang berkeadilan, dan distribusi corporate social responsibility (CSR) yang tepat. Orientasi pemberdayaan masyarakat melalui skema CSR, tidak semata-mata project oriented berrupa community
development semata, akan tetapi lebih pada capacity building atau social empowering sehingga memiliki kompetensi untuk pengembangan usaha secara mandiri dan berinisiatif, baik secara individu atau kelompok, seperti pelatihan pertanian/peternakan/perikanan dan pemberian modal usaha produktif;
9. PT. Dairi Prima Mineral agar merespon aspirasi masyarakat terutama yang berada pada lini terdepan (kelompok masyarakat langsung), seperti masyarakat Desa Bongkaras, Tungtung Batu, Bonian, Sopokomil, Sopogadong, dll. Untuk sosialisasi dan menampung aspirasi, perlu metode Focus Group Discussion (FGD) melibatkan tokoh masyarakat secara berkala;
10. Kami mendukung kebijakan dan program pembangunan di Kabupaten Dairi, termasuk kegiatan pertambangan oleh PT Dairi Prima Mineral, namun demikian agar dampak lingkungan (aspek alam/fisik, sosial, ekonomi dan budaya) dikelola dengan baik dan benar.
Kita mengetahui wilayah eksplorasi PT Dairi Prima Mineral adalah berada pada zona lempengan/patahan bumi zona Hindia, sehingga bila dilakukan pengerukan material (under ground) dalam kapasitas besar dapat menimbulkan kerontokan permukaan yang
berdampak pada kehidupan di atasnya (bencana tektonik). Selain itu, kegiatan ini berlangsung di hutan lindung dan ekositem Leuser sebagai para-paru dunia, dan potensi pencemaran limbah berbahaya dan beracun (B3), seperti timah hitam;
11. PT Dairi Prima Mineral dalam rekrutmen tenaga kerja, sebaiknya memprioritaskan penduduk lokal terutama desa-desa berada atau berbatasan langsung dengan lokasi atau wilayah PT Dairi Prima Mineral. Tentu saja penduduk belum berpengalaman, maka kewajiban perusahaanlah untuk mendidik atau melatihnya agar sesuai standar kompetensi yang dibutuhkan perusahaan;
12. Kepada seluruh pihak, terutama Pemerintah Kabupaten Dairi dan Kepolisian Resort Dairi, dimohon agar rekomendasi ini dapat direspon dengan baik untuk mencegah konflik yang lebih besar dan luas yang dapat merebak menjadi konflik SARA. Kami menghormati Saudara-saudara kami Cibro, yakni Sdr. Saidup Cibro dkk dari Desa Tungtung Batu dan Bongkaras, dan menginginkan kehidupan masyarakat yang harmonis dan silaturahmi. Sehubungan dengan itu, kami mengusulkan/ merekomendasikan hal-hal penting sebagai berikut: 1) Saudara-saudara kami yakni Sdr Saidup Cibro dkk dengan arif menghentikan seluruh bentuk tindakan penyerobotan tanah warga dan menghormati proses adat Pakpak yang telah dibangun oleh leluhur kita; 2) Agar tindakan penyerobotan tanah dihentikan dan hak tanah warga dikembalikan; 3) Menindak tegas secara hukum pelaku atau otak yang meresahkan masyarakat; 4) Fasilitasi upaya rekonsiliasi secara persuasif dan kekeluargaan; 5) Membina terus hubungan kekeluargaan antara masyarakat Bongkaras dan Tungtung Batu, serta 6) Sosialisasi pemahaman hukum kepada masyarakat.
Demikian disampaikan sebagai bahan pertimbangan atau data pendukung untuk menyelesaikan kasus ini. Pernyataan ini dibuat sebagai bentuk kontribusi terhadap pembangunan di Kabupaten Dairi dan keinginan untuk senantiasa menjaga hubungan baik dengan masyarakat Desa Tungtung Batu, khususnya dengan warga yang bermarga Cibro. (habis)
JARKOMSU -
http://suarakomunitas.net/baca/17351/pt-dpm-agar-respon-aspirasi-masyarakat-7.html
JARKOMSU - JARKOMSU
7. Motivasi tindakan penyerobotan atas tanah yang terjadi akhir-akhir ini dilakukan oleh Sdr Saidup Cibro dkk (yang bukan pelaku sejarah) dengan mengatasnamakan “sulang silima” Pakpak, adalah upaya untuk mendapatkan lahan untuk kebun sawit, serta harapan untuk mendapat perlakuan khusus dan kompensasi dari PT Dairi Prima Mineral (DPM) yang saat ini melakukan eksplorasi di wilayah Bongkaras dan sekitarnya, termasuk kemungkinan ganti rugi tanah dari perusahaan. Pengambilan secara sepihak atas hak-hak warga masayarakat, merupakan tindakan yang meresahkan masyarakat, dan mengingkari hukum adat Pakpak. Pemerintah Kabupaten Dairi dan Polisi Resort Dairi dimohon dapat merespon kasus ini dan mengambil tindakan tegas terhadap pelakunya.
Gejala yang terkesan kecil ini kalau dibiarkan bisa berpotensi merebak menjadi konflik horinzontal yang meluas menjadi konflik SARA. Belajar dari kajian konflik SARA di berbagai daerah, baik di Ambon, Poso, dan Sampit, bahwa masalah kecil seperti ini menjadi pemicu konflik besar dengan korban jiwa dan harta benda yang sangat besar;
8. Gejala ini merupakan salah satu dampak sosial budaya dari rencana PT Dairi Prima Mineral (DPM) yang mungkin tidak diantisipasi dengan baik dalam dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Diharapkan konsistensi pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan sesuai (AMDAL) PT Dairi Prima Mineral terutama kajian aspek sosial ekonomi dan budaya. Oleh karena itu, manajemen PT Dairi Prima Mineral perlu bertindak hati-hati dalam memberikan fasilitasi, kompensasi dan ganti rugi tanah kepada masyarakat, perlu rekrutmen tenaga kerja yang berkeadilan, dan distribusi corporate social responsibility (CSR) yang tepat. Orientasi pemberdayaan masyarakat melalui skema CSR, tidak semata-mata project oriented berrupa community
development semata, akan tetapi lebih pada capacity building atau social empowering sehingga memiliki kompetensi untuk pengembangan usaha secara mandiri dan berinisiatif, baik secara individu atau kelompok, seperti pelatihan pertanian/peternakan/perikanan dan pemberian modal usaha produktif;
9. PT. Dairi Prima Mineral agar merespon aspirasi masyarakat terutama yang berada pada lini terdepan (kelompok masyarakat langsung), seperti masyarakat Desa Bongkaras, Tungtung Batu, Bonian, Sopokomil, Sopogadong, dll. Untuk sosialisasi dan menampung aspirasi, perlu metode Focus Group Discussion (FGD) melibatkan tokoh masyarakat secara berkala;
10. Kami mendukung kebijakan dan program pembangunan di Kabupaten Dairi, termasuk kegiatan pertambangan oleh PT Dairi Prima Mineral, namun demikian agar dampak lingkungan (aspek alam/fisik, sosial, ekonomi dan budaya) dikelola dengan baik dan benar.
Kita mengetahui wilayah eksplorasi PT Dairi Prima Mineral adalah berada pada zona lempengan/patahan bumi zona Hindia, sehingga bila dilakukan pengerukan material (under ground) dalam kapasitas besar dapat menimbulkan kerontokan permukaan yang
berdampak pada kehidupan di atasnya (bencana tektonik). Selain itu, kegiatan ini berlangsung di hutan lindung dan ekositem Leuser sebagai para-paru dunia, dan potensi pencemaran limbah berbahaya dan beracun (B3), seperti timah hitam;
11. PT Dairi Prima Mineral dalam rekrutmen tenaga kerja, sebaiknya memprioritaskan penduduk lokal terutama desa-desa berada atau berbatasan langsung dengan lokasi atau wilayah PT Dairi Prima Mineral. Tentu saja penduduk belum berpengalaman, maka kewajiban perusahaanlah untuk mendidik atau melatihnya agar sesuai standar kompetensi yang dibutuhkan perusahaan;
12. Kepada seluruh pihak, terutama Pemerintah Kabupaten Dairi dan Kepolisian Resort Dairi, dimohon agar rekomendasi ini dapat direspon dengan baik untuk mencegah konflik yang lebih besar dan luas yang dapat merebak menjadi konflik SARA. Kami menghormati Saudara-saudara kami Cibro, yakni Sdr. Saidup Cibro dkk dari Desa Tungtung Batu dan Bongkaras, dan menginginkan kehidupan masyarakat yang harmonis dan silaturahmi. Sehubungan dengan itu, kami mengusulkan/ merekomendasikan hal-hal penting sebagai berikut: 1) Saudara-saudara kami yakni Sdr Saidup Cibro dkk dengan arif menghentikan seluruh bentuk tindakan penyerobotan tanah warga dan menghormati proses adat Pakpak yang telah dibangun oleh leluhur kita; 2) Agar tindakan penyerobotan tanah dihentikan dan hak tanah warga dikembalikan; 3) Menindak tegas secara hukum pelaku atau otak yang meresahkan masyarakat; 4) Fasilitasi upaya rekonsiliasi secara persuasif dan kekeluargaan; 5) Membina terus hubungan kekeluargaan antara masyarakat Bongkaras dan Tungtung Batu, serta 6) Sosialisasi pemahaman hukum kepada masyarakat.
Demikian disampaikan sebagai bahan pertimbangan atau data pendukung untuk menyelesaikan kasus ini. Pernyataan ini dibuat sebagai bentuk kontribusi terhadap pembangunan di Kabupaten Dairi dan keinginan untuk senantiasa menjaga hubungan baik dengan masyarakat Desa Tungtung Batu, khususnya dengan warga yang bermarga Cibro. (habis)
JARKOMSU -
http://suarakomunitas.net/baca/17351/pt-dpm-agar-respon-aspirasi-masyarakat-7.html
Ulah Spekulan Tanah Untuk Dapat Kompensasi dari PT.DPM (6)
Ulah Spekulan Tanah Untuk Dapat Kompensasi dari PT.DPM (6)
JARKOMSU
Isu ini mengemuka akibat ulah/permainan segelintir spekulan tanah yang mengatasnamakan masyarakat adat Pakpak atau sulang Silima Cibro yang ingin mendapatkan konpensasi dari PT DPM dan atau untuk investasi bidang usaha kebun sawit. Otak pelaku penyerobotan tanah yang menebar bibit pertikaian dan keresahan ini, harus ditindak tegas. Masyarakat mengharapkan peran Pemerintah Kabupaten Dairi dan Kepolisian Republik Indonesia, terutama Kepolisian Resort Dairi untuk menyelesaikan kasus ini dan menindak tegas pelakunya dan memproses secara hukum.
REKOMENDASI DAN PERNYATAAN SIKAP Menyikapi kasus penyerobotan tanah dan perambahan hutan hak milik warga Desa Bongkaras seluas +30 ha yang dilakukan Sdr Saidup Cibro dkk, kami seluruh anggota paguyuban perantau dari Bongkaras di Jawa dan Bali yang bernaung dalam Punguan Hasusuran Bongkaras se-Jawa Bali menyampaikan 12 seruan dan pernyataan sikap sebagai berikut: 1. Selama satu abad usia Desa Bongkaras, hubungan masyarakat Desa Bongkaras, Desa Tungtung Batu dan Desa Bonian, dari generasi ke generasi berlangsung harmonis, rukun, toleran dan kekeluargaan. Tidak pernah ada konflik maupun klaim tanah. Kondisi kondusif ini perlu dijaga, dikawal dan dibina terus, untuk hal ini kami sangat mengapresiasi jika ada upaya yang dilakukan Kepala Desa Tungtung Batu, Kepala Desa Bongkaras, dan Muspika Kecamatan Silima Punggapungga (Camat dan Kapolsek) yang dapat berperan pada lini terdepan; 2. Bibit pertikaian/friksi berkembang sejalan dengan wacana hak tanah adat/ulayat yang mengatasnamakan kelompok “sulang silima” Cibro dari Desa Tungtung Batu. Sesuai kajian akademis, Sulang silima bukanlah masyarakat hukum adat namun ada di dalam struktur masyarakat Pakpak. Sulang silima bukan organisasi kemasyarakatan, bukan lembaga swadaya masyarakat, akan tetapi sulang silima bagi masyarakat Pakpak adalah hubungan kekerabatan (kinship) dalam satu keluarga luas akibat perkawinaan dan kelahiran/pertalian darah, sama dengan “dalihan na tolu” pada masyarakat Toba, atau “lima saodoran” pada masyarakat Simalungun. Karena itu, “kekerabatan sulang silima” tidak dapat dipakai sebagai dasar klaim penyerobotan tanah milik orang lain dan perambahan hutan; 3. Sesuai fakta historis, bahwa seluruh leluhur yang ada di Bongkaras adalah pendatang (migran) termasuk Cibro yang lebih awal datang yang berasal dari Purba Sigulang Batu (dari Lumban Sipagabu, Dolok Sanggul) yang menyebar ke Simsim (Pakpak Bharat) dan Aceh Selatan (Cibereou) kemudian ke Tungtung Batu (Raja Parultop). Karena pertama hadir di daerah ini, sehingga warga bermarga Cibro meng-klaim sebagai marga tanoh yang “menguasai” tanah termasuk hutan primer di Desa Bongkaras, Tungtung Batu dan Bonian. 4. Kalaupun klaim itu dibenarkan oleh pihak tertentu, sesuai dengan adat Pakpak, pendatang berikutnya (leluhur bermarga Manik, Purba, Sinaga, Girsang, Simarmata dll) telah melaksanakan upacara “radding berru” kepada marga tanoh (Cibro). Keputusan melalui “radding berru” adalah syah secara adat Pakpak dan berlaku tetap. Tindakan penyerobotan tanah yang sudah diserahkan melalui upacara “radding berru” yang dilaksanakan sekelompok Cibro keturunan pelaku “radding berru” pada generasi 3 dan 4 sekarang, menurut berbagai nara sumber adat Pakpak (Drs. Lister Berrutu, MA/USU), adalah penghiatanan keputusan sulang silima leluhurnya, atau penghianatan terhadap adat Pakpak sendiri; 5. Sepanjang pengamatan kami yang lahir dan besar di Desa Bongkaras, bahwa pada masyarakat Desa Tungtung Batu, atau kelompok marga Cibro di Desa Tungtung Batu, tidak mengenal hak-hak komunal atau tanah ulayat atau hutan adat, juga sulang silima. Sama seperti masyarakat Desa Bongkaras, hanya mengenal hak-hak milik (individu) atas tanah (sebagian sudah sertifikasi). Masyarakat Bongkaras dan Tungtung Batu juga tidak mengenal kepengurusan adat dan sidang-sidang adat. Karena itu, tidak ada kemungkinan untuk dikukuhkan atau ditetapkan sebagai masyarakat hukum adat. Upaya menghidupkan atau merekayasa menjadi masyarakat hukum adat yang tidak ada, atau pernah ada tapi sudah degradasi, adalah bertentangan dengan peraturan perundangan; 6. Tanah dan sumber daya alam di Desa Bongkaras merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang dikelola oleh Negara untuk memakmuran rakyat. Tidak satu kelompok atau pihak yang bisa mengkalaim sumber daya ciptaan Tuhan yang berasal dari hutan primer di Desa Bongkaras awal abad 20-an, dikuasai oleh seseorang atau kelompok tertentu. Kami menghormati saudara-saudara kami dari Desa Tungtung Batu, namun sebaliknya tidak saling melukai perasaan atau menebar bibit konflik. Musyawarah dan kehidupan kekeluargaan yang saling menghormati harus dikedepankan (bersambung ke-7) ...
JARKOMSU
JARKOMSU
Isu ini mengemuka akibat ulah/permainan segelintir spekulan tanah yang mengatasnamakan masyarakat adat Pakpak atau sulang Silima Cibro yang ingin mendapatkan konpensasi dari PT DPM dan atau untuk investasi bidang usaha kebun sawit. Otak pelaku penyerobotan tanah yang menebar bibit pertikaian dan keresahan ini, harus ditindak tegas. Masyarakat mengharapkan peran Pemerintah Kabupaten Dairi dan Kepolisian Republik Indonesia, terutama Kepolisian Resort Dairi untuk menyelesaikan kasus ini dan menindak tegas pelakunya dan memproses secara hukum.
REKOMENDASI DAN PERNYATAAN SIKAP Menyikapi kasus penyerobotan tanah dan perambahan hutan hak milik warga Desa Bongkaras seluas +30 ha yang dilakukan Sdr Saidup Cibro dkk, kami seluruh anggota paguyuban perantau dari Bongkaras di Jawa dan Bali yang bernaung dalam Punguan Hasusuran Bongkaras se-Jawa Bali menyampaikan 12 seruan dan pernyataan sikap sebagai berikut: 1. Selama satu abad usia Desa Bongkaras, hubungan masyarakat Desa Bongkaras, Desa Tungtung Batu dan Desa Bonian, dari generasi ke generasi berlangsung harmonis, rukun, toleran dan kekeluargaan. Tidak pernah ada konflik maupun klaim tanah. Kondisi kondusif ini perlu dijaga, dikawal dan dibina terus, untuk hal ini kami sangat mengapresiasi jika ada upaya yang dilakukan Kepala Desa Tungtung Batu, Kepala Desa Bongkaras, dan Muspika Kecamatan Silima Punggapungga (Camat dan Kapolsek) yang dapat berperan pada lini terdepan; 2. Bibit pertikaian/friksi berkembang sejalan dengan wacana hak tanah adat/ulayat yang mengatasnamakan kelompok “sulang silima” Cibro dari Desa Tungtung Batu. Sesuai kajian akademis, Sulang silima bukanlah masyarakat hukum adat namun ada di dalam struktur masyarakat Pakpak. Sulang silima bukan organisasi kemasyarakatan, bukan lembaga swadaya masyarakat, akan tetapi sulang silima bagi masyarakat Pakpak adalah hubungan kekerabatan (kinship) dalam satu keluarga luas akibat perkawinaan dan kelahiran/pertalian darah, sama dengan “dalihan na tolu” pada masyarakat Toba, atau “lima saodoran” pada masyarakat Simalungun. Karena itu, “kekerabatan sulang silima” tidak dapat dipakai sebagai dasar klaim penyerobotan tanah milik orang lain dan perambahan hutan; 3. Sesuai fakta historis, bahwa seluruh leluhur yang ada di Bongkaras adalah pendatang (migran) termasuk Cibro yang lebih awal datang yang berasal dari Purba Sigulang Batu (dari Lumban Sipagabu, Dolok Sanggul) yang menyebar ke Simsim (Pakpak Bharat) dan Aceh Selatan (Cibereou) kemudian ke Tungtung Batu (Raja Parultop). Karena pertama hadir di daerah ini, sehingga warga bermarga Cibro meng-klaim sebagai marga tanoh yang “menguasai” tanah termasuk hutan primer di Desa Bongkaras, Tungtung Batu dan Bonian. 4. Kalaupun klaim itu dibenarkan oleh pihak tertentu, sesuai dengan adat Pakpak, pendatang berikutnya (leluhur bermarga Manik, Purba, Sinaga, Girsang, Simarmata dll) telah melaksanakan upacara “radding berru” kepada marga tanoh (Cibro). Keputusan melalui “radding berru” adalah syah secara adat Pakpak dan berlaku tetap. Tindakan penyerobotan tanah yang sudah diserahkan melalui upacara “radding berru” yang dilaksanakan sekelompok Cibro keturunan pelaku “radding berru” pada generasi 3 dan 4 sekarang, menurut berbagai nara sumber adat Pakpak (Drs. Lister Berrutu, MA/USU), adalah penghiatanan keputusan sulang silima leluhurnya, atau penghianatan terhadap adat Pakpak sendiri; 5. Sepanjang pengamatan kami yang lahir dan besar di Desa Bongkaras, bahwa pada masyarakat Desa Tungtung Batu, atau kelompok marga Cibro di Desa Tungtung Batu, tidak mengenal hak-hak komunal atau tanah ulayat atau hutan adat, juga sulang silima. Sama seperti masyarakat Desa Bongkaras, hanya mengenal hak-hak milik (individu) atas tanah (sebagian sudah sertifikasi). Masyarakat Bongkaras dan Tungtung Batu juga tidak mengenal kepengurusan adat dan sidang-sidang adat. Karena itu, tidak ada kemungkinan untuk dikukuhkan atau ditetapkan sebagai masyarakat hukum adat. Upaya menghidupkan atau merekayasa menjadi masyarakat hukum adat yang tidak ada, atau pernah ada tapi sudah degradasi, adalah bertentangan dengan peraturan perundangan; 6. Tanah dan sumber daya alam di Desa Bongkaras merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang dikelola oleh Negara untuk memakmuran rakyat. Tidak satu kelompok atau pihak yang bisa mengkalaim sumber daya ciptaan Tuhan yang berasal dari hutan primer di Desa Bongkaras awal abad 20-an, dikuasai oleh seseorang atau kelompok tertentu. Kami menghormati saudara-saudara kami dari Desa Tungtung Batu, namun sebaliknya tidak saling melukai perasaan atau menebar bibit konflik. Musyawarah dan kehidupan kekeluargaan yang saling menghormati harus dikedepankan (bersambung ke-7) ...
JARKOMSU
Subscribe to:
Posts (Atom)