SI RAJA
BATAK DENGAN TAROMBO
Edward
Simanungkalit Menjawab Uli Kozok
Oleh:
Edward Simanungkalit
Tentulah
sudah banyak mengenal Prof. Uli Kozok, PhD., yang dosen di Universitas Hawaii
dan dosen terbang di Indonesia. Dia banyak menulis buku serta menjadi
narasumber di berbagai seminar walau sudah pensiun. Pokoknya luar biasa dan
kerenlah! Sementara Edward Simanungkalit tidak terkenal dan juga tidak ahli
(?).
"Karo dan Nias Bukan Keturunan Si
Raja Batak; Ini Buktinya!" (Edward Simanungkalit, 2016) dari judul ini
jelas fokusnya adalah Si Raja Batak.
Terus apa masalahnya kalau dikatakan Karo dan Nias bukan keturunan Si Raja
Batak? Kalau orang Karo dan Nias tentu banyak yang sudah saling kawin-temawin
dengan “Batak” Toba, tetapi di atas pada waktu leluhurnya baru datang,
bagaimana? Khusus sebelum kolonial datang, Nias nyaris tidak bercampur sama sekali.
Dalam data Y-DNA yang dipublikasikan
Lembaga Eijkman (BRIN) adalah sebagai berikut: Y-DNA Toba Haplogroups: K-M526*
(13,51%), O-M95* (13.51%), O-P201* (56,76), O-M110 (10,81%),
O-P203 (2,7%), dan R-M124 (2,7%) (Tatiana Karafet, 2010; dilihat
2015). Kalau Y-DNA Karo
Haplogroups: C-RPS4Y* = 19,05%, O-M95* = 19,05%, O-M119
= 42,85%, dan R-M173 =19,05%.
Sedang, Y-DNA Nias Haplogroups:
O-P203 (86,67) dan O-M110 (13,33) (Mannis van Owen, 2003). Dikatakan dekat atau mirip bukan berarti itu sama.
Secara keseluruhan pun tidak sama, sehingga tidak perlu disama-samakan.
Walaupun Edward
Simanungkalit bukan ahli genetika, tapi masih mampu melihat keduanya dan
membedakannya. Para pembaca pun akan mampu membedakannya kalau mereka melihat
datanya secara lengkap. Sedang Uli Kozok lupa kalau dia bukan ahli genetika. Dia
sengaja tidak menampilkan secara lengkap Y-DNA Haplogroups ketiga suku di atas.
Malah mengangkat sesuatu yang tidak ada sebelumnya, yaitu mengangkat K-M526. Ini
dilakukannya untuk menggiring pembaca ke arah yang sesuai dengan keinginannya. Arahnya,
Edward Simanungkalit salah menarik kesimpulan. Jelas sekali menyesatkan!
Pertama, dia tidak
menampilkan seluruh Y-DNA Haplogroups dari Toba, Karo, dan Nias, sehingga tidak
dapat diperbandingkan. Publik yang membaca tulisan itu akan mengerti ke mana
arah pembicaraan. Tidak mesti ahli genetika baru dapat melihatnya berbeda.
Kedua, dia bicara soal Si
Raja Batak tanpa membahas figur tersebut, tetapi menekankan ketidakahlian
Edward Simanungkalit untuk meruntuhkan orangnya. Ekskavasi arkeologi yang
dilakukan Balai Arkeologi Sumut mengungkapkan usia kampung Si Raja Batak itu
600 tahun tidak disinggung sedikit pun. Lembaga Eijkman (2019) yang
dipublikasikan secara luas di media menyatakan tidak ada leluhur tunggal di
Indonesia. Dengan gen campuran yang
umumnya datang bermigrasi 4 gelombang, maka leluhurnya leluhur campuran. Dengan
demikian, leluhur tunggal Si Raja Batak tertolak! Karena Uli Kozok bukan ahli
genetika, maka dia pun tidak tahu data ini. Maklumlah!
Ketiga, di dalam
wawancaranya dengan Lae Kirman di Youtube, dia menyebutkan bahwa sebelumnya Si Raja
Batak adalah ”Ompu Jolma”, tapi kemudian diganti menjadi Si Raja Batak. Ini
mendorong kami mencari siapa yang terlibat dalam penggantian ini. Ternyata PALE
van Dick, Kontrolir di Balige, yang mengubahnya pada tahun 1893. PALE van Dick
menulis dalam sebuah artikel tahun 1894 tentang Tarombo Si Raja Batak. Dia masukkan hanya marga-marga Toba sebagai
keturunannya.
“Ompu Jolma” adalah
keturunan Dewa-Dewi dari langit tujuh lapis, sehingga dia itu keturunan dewa. Si
Raja Batak sudah tertolak secara ilmiah, maka jelaslah bahwa Toba dengan Karo
berbeda. Sedang “Batak” itu sendiri merupakan hasil Konstruksi Identitas Batak
seiring dengan kedatangan Kolonial dan Misionaris RMG ke Negeri Toba (Tano
Toba). Sedang “Batak” itu sendiri merupakan hasil “Konstruksi Identitas Batak”
seiring dengan kedatangan Kolonial dan Misionaris RMG ke Negeri Toba (Tano
Toba). Dalam rangka konstruksi itu Si Raja Batak diciptakan Kolonial dan
memasukkan sebagian besar marga-marga Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola,
dan Mandailing menjadi keturunan SRB dalam buku W.M. Hutagalung (1926) dan WKH
Ypes (1932).
Akhirnya, Si Raja Batak
tertolak keberadaannya sebagai leluhur tunggal. Awal pertama, PALE van Dijk
(1894) menulis Tarombo Si Raja Batak dengan memasukkan hanya marga-marga Toba sebagai
keturunannya. Kedua, W.M. Hutagalung (1926) membuat Tarombo Si Raja Batak
dengan memasukkan marga-marga Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, dan
Mandailing. Ketiga, WKH Ypes (1932) dengan memasukkan hampir seluruhnya
marga-marga Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, dan Mandailing. Ketiga
tokoh di ataslah yang membuat tarombo Si Raja Batak berubah-ubah. Seakan-akan figur
yang bernama Si Raja Batak itu sudah ada sejak dahulu kala. ###
Jakarta,
7 Januari 2026
No comments:
Post a Comment