Wednesday, January 7, 2026

SI RAJA BATAK DENGAN TAROMBO: Edward Simanungkalit Menjawab Uli Kozok

 

SI RAJA BATAK DENGAN TAROMBO

Edward Simanungkalit Menjawab Uli Kozok 

Oleh: Edward Simanungkalit

 

Tentulah sudah banyak mengenal Prof. Uli Kozok, PhD., yang dosen di Universitas Hawaii dan dosen terbang di Indonesia. Dia banyak menulis buku serta menjadi narasumber di berbagai seminar walau sudah pensiun. Pokoknya luar biasa dan kerenlah! Sementara Edward Simanungkalit tidak terkenal dan juga tidak ahli (?).

"Karo dan Nias Bukan Keturunan Si Raja Batak; Ini Buktinya!" (Edward Simanungkalit, 2016) dari judul ini jelas fokusnya adalah Si Raja Batak. Terus apa masalahnya kalau dikatakan Karo dan Nias bukan keturunan Si Raja Batak? Kalau orang Karo dan Nias tentu banyak yang sudah saling kawin-temawin dengan “Batak” Toba, tetapi di atas pada waktu leluhurnya baru datang, bagaimana? Khusus sebelum kolonial datang, Nias nyaris tidak bercampur sama sekali.

Dalam data Y-DNA yang dipublikasikan Lembaga Eijkman (BRIN) adalah sebagai berikut: Y-DNA Toba Haplogroups: K-M526* (13,51%), O-M95* (13.51%), O-P201* (56,76), O-M110 (10,81%), O-P203  (2,7%), dan R-M124 (2,7%) (Tatiana Karafet, 2010; dilihat 2015). Kalau Y-DNA Karo Haplogroups: C-RPS4Y* = 19,05%, O-M95* = 19,05%, O-M119 = 42,85%, dan R-M173 =19,05%. Sedang, Y-DNA Nias Haplogroups: O-P203 (86,67) dan O-M110 (13,33) (Mannis van Owen, 2003). Dikatakan  dekat atau mirip bukan berarti itu sama. Secara keseluruhan pun tidak sama, sehingga tidak perlu disama-samakan.

Walaupun Edward Simanungkalit bukan ahli genetika, tapi masih mampu melihat keduanya dan membedakannya. Para pembaca pun akan mampu membedakannya kalau mereka melihat datanya secara lengkap. Sedang Uli Kozok lupa kalau dia bukan ahli genetika. Dia sengaja tidak menampilkan secara lengkap Y-DNA Haplogroups ketiga suku di atas. Malah mengangkat sesuatu yang tidak ada sebelumnya, yaitu mengangkat K-M526. Ini dilakukannya untuk menggiring pembaca ke arah yang sesuai dengan keinginannya. Arahnya, Edward Simanungkalit salah menarik kesimpulan. Jelas sekali menyesatkan!

Pertama, dia tidak menampilkan seluruh Y-DNA Haplogroups dari Toba, Karo, dan Nias, sehingga tidak dapat diperbandingkan. Publik yang membaca tulisan itu akan mengerti ke mana arah pembicaraan. Tidak mesti ahli genetika baru dapat melihatnya berbeda.

Kedua, dia bicara soal Si Raja Batak tanpa membahas figur tersebut, tetapi menekankan ketidakahlian Edward Simanungkalit untuk meruntuhkan orangnya. Ekskavasi arkeologi yang dilakukan Balai Arkeologi Sumut mengungkapkan usia kampung Si Raja Batak itu 600 tahun tidak disinggung sedikit pun. Lembaga Eijkman (2019) yang dipublikasikan secara luas di media menyatakan tidak ada leluhur tunggal di Indonesia.  Dengan gen campuran yang umumnya datang bermigrasi 4 gelombang, maka leluhurnya leluhur campuran. Dengan demikian, leluhur tunggal Si Raja Batak tertolak! Karena Uli Kozok bukan ahli genetika, maka dia pun tidak tahu data ini. Maklumlah!

Ketiga, di dalam wawancaranya dengan Lae Kirman di Youtube, dia menyebutkan bahwa sebelumnya Si Raja Batak adalah ”Ompu Jolma”, tapi kemudian diganti menjadi Si Raja Batak. Ini mendorong kami mencari siapa yang terlibat dalam penggantian ini. Ternyata PALE van Dick, Kontrolir di Balige, yang mengubahnya pada tahun 1893. PALE van Dick menulis dalam sebuah artikel tahun 1894 tentang Tarombo Si Raja Batak. Dia  masukkan hanya marga-marga Toba sebagai keturunannya.

“Ompu Jolma” adalah keturunan Dewa-Dewi dari langit tujuh lapis, sehingga dia itu keturunan dewa. Si Raja Batak sudah tertolak secara ilmiah, maka jelaslah bahwa Toba dengan Karo berbeda. Sedang “Batak” itu sendiri merupakan hasil Konstruksi Identitas Batak seiring dengan kedatangan Kolonial dan Misionaris RMG ke Negeri Toba (Tano Toba). Sedang “Batak” itu sendiri merupakan hasil “Konstruksi Identitas Batak” seiring dengan kedatangan Kolonial dan Misionaris RMG ke Negeri Toba (Tano Toba). Dalam rangka konstruksi itu Si Raja Batak diciptakan Kolonial dan memasukkan sebagian besar marga-marga Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, dan Mandailing menjadi keturunan SRB dalam buku W.M. Hutagalung (1926) dan WKH Ypes (1932).

Akhirnya, Si Raja Batak tertolak keberadaannya sebagai leluhur tunggal. Awal pertama, PALE van Dijk (1894) menulis Tarombo Si Raja Batak dengan memasukkan hanya marga-marga Toba sebagai keturunannya. Kedua, W.M. Hutagalung (1926) membuat Tarombo Si Raja Batak dengan memasukkan marga-marga Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, dan Mandailing. Ketiga, WKH Ypes (1932) dengan memasukkan hampir seluruhnya marga-marga Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, dan Mandailing. Ketiga tokoh di ataslah yang membuat tarombo Si Raja Batak berubah-ubah. Seakan-akan figur yang bernama Si Raja Batak itu sudah ada sejak dahulu kala. ###

 

Jakarta, 7 Januari 2026

No comments:

Post a Comment