Thursday, April 10, 2014

BATAK 27 GAYO DI ACEH

BATAK 27 GAYO DI ACEH
Oleh: Edward Simanungkalit


Tanah Gayo adalah suatu daerah di Provinsi Nangro Aceh Darussalam. Tanah Gayo ini berada di tengah-tengah pulau Sumatera dan tidak berada di pesisir. Letaknya di tengah-tengah pegunungan daerah Aceh dari utara ke bagian tenggara sepanjang Bukit Barisan. Suku bangsa Gayo mendiami kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah dan Tekengon merupakan ibukota Kabupaten Aceh Tengah.

Pada masa lampau penduduk Gayo terbagi dua, yaitu penduduk daerah Kebayakan dan Bebesan. Daerah Kebayakan berada di sebelah barat laut danau Laut Tawar, sedangkan daerah Bebesan berada di sebelah barat Kebayakan dan kedua daerah ini hanya berjarak sekitar 1 km. Penduduk yang mendiami daerah Kebayakan dan Bebesan merupakan kampung “inti” di Gayo Laut, tapi mereka beranggapan bahwa asal-usul mereka berbeda. Penduduk daerah Kebayakan mengatakan bahwa mereka adalah penduduk asli di Gayo, sedangkan penduduk daerah Bebesan menyadari bahwa mereka itu Batak, yang lebih dikenal dengan Batak 27.
http://sopopanisioan.blogspot.com
1.    Munculnya Batak 27
Pada masa pemerintahan Raja Sengeda,  Gayo sudah berhubungan dengan pihak luar ditandai dengan datangnya orang-orang Batak. Kedatangannya biasanya sebagai pengembara dan bertamasya. Diceritakan bahwa di masa pemerintahan Sultan Alauddin Riayat Syah Al Kahar pada abad ke-16 M pernah 7 orang pemuda Batak melewati tanah Gayo menuju Aceh (H. AR. Latief, 1995 : 81). Sementara menurut Dr.  C. Snouck Hougronje, kedatangan Batak 27 adalah pada masa kejuruan (raja) Bukit telah memeluk Islam. Kejuruan Bukit adalah bagian dari raja-raja yang terdapat di tanah Gayo yang memiliki hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan (kejuruan) lain.
Kemudian setelah pemuda Batak yang 7 orang itu sampai di Aceh, maka menyusul sebanyak 20 orang Batak, yang salah satunya bernama Lebe Kader, melewati Alas dan Tanah Gayo, dalam perjalanan menuju Aceh dengan tujuan untuk masuk Islam dan belajar mengaji. Selain untuk ongkos dan belanja sendiri, mereka juga membawa titipan ongkos untuk pulang bagi 7 orang teman mereka yang sudah berangkat lebih dulu. Melihat pundi-pundi mereka penuh dengan uang, timbul niat untuk memilikinya dalam hati salah seorang raja Gayo, yaitu Reje Bukit, yang memerintah di bagian barat Danau Laut Tawar, sehingga mengajaknya bermain judi.
http://sopopanisioan.blogspot.com
Dalam permainan judi itu ternyata Reje Bukit kalah, sehingga sebagian kekayaannya berpindah ke dalam pundi-pundi orang Batak tadi. Reje Bukit marah besar dan nekad memancung salah seorang di antara mereka dan kemudian menggantungkan kepalanya di atas sebatang pohon bambu di dekat Bebesan. Peristiwa itu menjadikan nama tempat itu disebut Pegantungan hingga sekarang. Kesembilan belas orang Batak lainnya pun melarikan diri menuju Aceh untuk menemui kawan-kawannya sekaligus mengadukan kezaliman reje Gayo tersebut kepada Sultan Aceh. Mendengar itu Sultan pun merestui mereka untuk memerangi reje Gayo, tetapi mereka tidak diperbolehkan membunuh Reje Bukit.

Dalam usaha menuntut balas atas kematian temannya disertai hartanya yang dirampas, maka ke-26 orang Batak di bawah pimpinan Lebe Kader  ini memerangi dan berhasil mengalahkan pasukan Reje Bukit. Reje Bukit sendiri melarikan diri dan tersesat di dalam rawa-paya dekat daerah Kebayakan, sehingga tempat itu disebut Paya Reje sampai sekarang. Setelah itu diadakanlah perdamaian dan dibuatlah perjanjian berisi tuntutan untuk perdamaian.
Pihak Batak 27 mendapat sebagian wilayah kekuasaan Reje Bukit sebagai diyat untuk mengganti kerugian akibat matinya orang Batak yang terbunuh dalam peperangan. Ganti rugi tersebut dilakukan dengan membelah danau Laut Tawar menjadi dua bagian sampai Kala Bintang di sebelah utara termasuk daratan, mulai dari kampung Kebayakan, Rebe Gedung, Simpang Tiga, Delung Tue win Ilang hingga Ramung Kengkang perbatasan Aceh Timur  yang sekarang menjadi Kabupaten Bener Meriah dan ke arah selatan sampai perbatasan Lingga.

Setelah batas wilayah ditentukan oleh kedua belah pihak yang berdamai, Reje Bukit Panglima Perang Dagang mengajukan sebuah tuntutan daerah bukit berikut bangunannya yang telah diduduki oleh pihak Batak 27. Lebe Kader berkata dengan tegas: “Bebaskan!”, dalam bahasa Karo artinya dibebaskan dari tuntutan, lambat laun kata bebaskan ini berubah menjadi kata Bebesan sampai sekarang (AR. Latief, 1995). Kemudian Reje Bukit Panglima Perang Dagang bersumpah tidak berkeberatan daerah bukit, yang belakangan disebut daerah Bebesan, berikut bangunannya dijadikan hak milik pihak Batak 27.

Kemudian penduduk daerah bukit itu sendiri membangun pemukiman baru yang terletak di pinggir Danau Laut Tawar yang sekarang disebut dengan daerah Kebayakan. Pada awalnya kampung itu disebut  Kebanyakan karena penduduknya yang terbanyak, tapi setelah penjajah Belanda datang dan tidak dapat menyebutkan nama kampung tersebut dengan tepat, maka berubahlah namanya menjadi Kebayakan.
http://sopopanisioan.blogspot.com
2.  Setelah Perjanjian Perdamaian
Di kampung Bebesan itulah orang Batak tadi berkembang dan keturunannya disebut sebagai Batak Bebesen atau Batak 27 dan sejak awal mereka semua masuk Islam. Lebe Kader, yang kemudian menjadi raja di sana merupakan pemimpin mereka, adalah seorang yang taat dalam mengajarkan agama Islam yang terbukti dari gelar Lebe yang diberikan kepadanya (M.J. Melala Toa, 1981:38). Lebe Kader sendiri menikahi seorang putri reje Bukit yang bernama Sri Bulan Si Merah Mata. Lebe Keder  merupakan cucu dari Adi Genali, anak dari Johansyah atau Sibayak Lingga (AR. Latief 1995 : 68). Kedatangan Batak 27 pimpinan Lebe Kader ini diperkirakan sekitar abad ke-16 atau 600 tahun setelah Kerajaan Linge berdiri  pada abad ke-10 (dari berbagai sumber).

Di kalangan Batak 27 ini tetap dipertahankan tradisi marga-marga hingga saat ini. Marga-marga tersebut adalah Munte, Cebero, Melala, Linge, Tebe, dll., yang di kalangan Batak, yaitu: Munte, Cibro, Meliala, Lingga, dan Toba. Kata “marga” dalam bahasa Batak disebut “belah” dalam bahasa Gayo.

Batak 27 ini terdiri dari orang Karo, Pakpak, dan Toba dengan jumlahnya lebih banyak dari Karo, tetapi ketiganya sekaligus disebut Batak. Selain itu sebutan Batak ada dua kali disebut dalam “Hikajat Atjeh” sebagaimana dikemukakan Denys Lombard dalam bukunya “Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda” (Lombard, 2008:97-98).  Sebutan Batak di sini jelas menunjukkan bukan berasal dari misionaris Jerman dan Belanda.  ***


Telah dimuat di:
Harian BATAK POS
Edisi Sabtu, 15 Desember 2012
http://sopopanisioan.blogspot.com

PENINGGALAN SISA KEJAYAAN BARUS

PENINGGALAN SISA KEJAYAAN BARUS
Oleh: Edward Simanungkalit  


BARUS, kota kecil di pantai barat Sumatera Utara, memiliki catatan perjalanan sejarah yang sudah demikian panjang dan pernah termashyur ke berbagai belahan dunia sebagai bandar niaga internasional. Kota pelabuhan ini ramai dikunjungi pedagang-pedagang berbagai bangsa dan banyak juga yang menetap di sana. Sisa-sisa peninggalan dari sejarah masa lalu itu masih dapat dilihat, sehingga dapat menjadikan Barus menjadi tempat wisata sejarah, wisata rohani dan wisata alam.

Peninggalan-peninggalan sejarah yang terdapat di Barus dapat menjadikannya sebagai tempat wisata sejarah. Sedang peninggalan-peninggalan yang berhubungan dengan agama dapat menjadikan Barus sebagai tempat wisata rohani. Demikian juga dengan pantai yang dulu dijadikan sebagai pelabuhan memiliki keindahan yang sekarang sudah dijadikan menjadi objek wisata alam.

1.       Makam Kuno
Makam kuno yang berasal dari makam para tokoh Islam di masa lalu banyak ditemukan di Barus. Makam kuno yang dapat ditemukan di sana seperti:

Makam Papan Tinggi, yang terdapat di puncak bukit papan tinggi di mana tangganya memiliki  700 anak tangga lebih dengan  tingkat kemiringan 45 derajat. Di kompleks Makam Papan Tinggi terdapat makam istimewa yang memiliki panjang 9 meter, dengan nisan putih setinggi 1,5 meter berukir aksara Persia dan Arab kuno. Makam ini dikelilingi beberapa makam sederhana dengan nisan makam berupa batu yang ditegakkan tanpa adanya tanda sama sekali. Kompleks makam dikelilingi pagar dan dinaungi pohon besar. Menurut Djamaluddin Batubara, bahwa makam istimewa tersebut adalah makam dari Syekh Mahmud, penyebar agama Islam pertama yang berasal dari Hadramaut, Yaman.





 Makam Mahligai, merupakan makam yang berada di atas tanah seluas sekitar 3 hektar di Desa Dakka dan tidak berapa jauh dari Makam Papan Tinggi. Makam yang paling utama di Makam Mahligai ialah makam dari Syech Rukhunuddin yang dianggap merupakan murid dari Syech Mahmud yang dimakamkan di Makam Papan Tinggi.
Penulis di Makam Mahligai (19-03-2008)

Syech Mahmud merupakan penyebar Islam pertama, sedangkan 43 Aulia lagi merupakan para pengikut atau muridnya yakni Syech Rukhunuddin, Tuanku Batu Badan, komplek Bukit Hasang, Tuanku Ambar, Tuan Kepala Ujung, Tuan Sirampak, Tuan Tembang, Tuanku Kayu Manang, Tuanku Makhdum, Syech Zainal Abidin Ilyas, Syech Ahmad Khatib Siddiq, Imam Mua’azhamsyah, Imam Chatib Miktibai, Tuanku Pinago, Tuanku Sultan Ibrahim bin Tuanku Sultan Muhammadsyah Chaniago, dan Tuan Digaung yang kesemua makam-makam itu berada di sekitar kota tua Barus.

Selain makam-makam kuno para tokoh Islam tadi, ada juga makam-makam Tionghoa kuno ditemukan di Barus. Hal ini melengkapi hasil penggalian arkeologi yang pernah dilakukan di sana pada tahun 1995 di mana banyak ditemukan keramik-keramik dari Guangdong abad ke-9. Semuanya ini membuktikan bahwa orang-orang  Tionghoa sudah pernah tinggal di Barus.

2.       Tempat Indah dan Bersejarah
Salah satu hal yang tidak diragukan lagi ialah tentang sudah pernah berdirinya gereja di Barus di masa lalu dan Kristen sudah hadir di sana pada abad ke-7. Gereja yang pernah berdiri tersebut ialah Gereja Katolik Bunda Perawan Murni  Maria (Wikipedia). Gereja tersebut diperkirakan tadinya berdiri di Aek Busuk, Lobutua, Barus, tapi sekarang telah hilang sama sekali bekasnya.

Sumur Andam Dewi di Lobutua merupakan bekas tempat pemandian putri Andam Dewi. Andam Dewi adalah seorang putri cantik dari Raja Muda di sana. Oleh karena kecantikannya, sehingga konon dia menjadi rebutan termasuk raja Kerajaan Marina dari Madagaskar. Tempat ini menjadi salah satu peninggalan masa lalu yang masih tersisa.

Pantai Sitiris-tiris dan Pantai Kahona  merupakan pantai indah di Lobutua, Barus yang banyak dikunjungi orang dari berbagai daerah. Tempat ini merupakan salah satu objek wisata andalan Tapanuli Tengah yang menonjol dengan keindahan pasir pantainya. Di sinilah pelabuhan internasional di Lobutua, Barus pada zaman dahulu kala yang ramai dilayari kapal dari berbagai penjuru bumi.
http://sopopanisioan.blogspot.com
Sumur Nommensen di Barus Utara merupakan sumur yang dulu dipergunakan oleh L.I. Nommensen ketika masih di Barus sebelum melanjutkan perjalanan ke pedalaman. Dari Barus, Nommensen memasuki pedalaman melalui Tukka di dekat Pakkat dan sempat mendirikan gereja di sana. Nommensen ialah misionaris RMG dari Jerman yang kemudian hari mendirikan gereja Batak.

Sopo Godang Raja Uti  ada juga didirikan di Lobutua, Barus. Sopo Godang ini tidak terlalu jauh dan hanya sekitar 50 meter dari tempat penggalian dalam penelitian arkeologi yang dilakukan oleh Tim Indonesia – Perancis. Tidak jauh dari Sopo Godang  Raja Uti itu ada Ruma Parsaktian Agama Suku Batak.
Penulis di Sopo Godang Raja Uti (Barus, 05/07-2008)

Benteng Portugis ada juga di Barus dan benteng tersebut persis berada di tepi pantai. Benteng ini merupakan bagunan tua peninggalan bangsa Portugis yang pernah singgah di Tapanuli Tengah. Luasnya lebih kurang setengah dari lapangan sepak bola tampak tidak dirawat, sedang dulunya ada rumah tua di dalam benteng yang kini hanya tinggal pondasi saja. Bangunan benteng yang berasal dari abad ke-16 ini  terbuat dari cor semen dan batu kerikil yang sebagian sudah terkikis (dari berbagai sumber).
http://sopopanisioan.blogspot.com
Semuanya peninggalan kuno dan tempat yang dikemukakan di atas merupakan sisa-sisa peninggalan dari masa kejayaan Barus dahulu kala. Masih ada benda-benda kuno dan prasasti dari Barus di museum-museum ditambah dengan dua buah kronik sejarah dua dinasti yang pernah berkuasa di Barus di masa lalu yang kini tersimpan di perpustakaan nasional.  Semua uraian di atas memberikan gambaran  tentang kejayaan Barus di masa lalu sebagai bandar niaga internasional sekaligus menunjukkan Barus sebagai kota tertua di Indonesia. ***



Telah dimuat di:
Harian BATAK POS
Edisi Sabtu, 8 Desember 2012 
http://sopopanisioan.blogspot.com




Monday, April 7, 2014

MENGENAL PERAYAAN TAHUN BARU CHINA ‘IMLEK’ DALAM KOMUNITAS THIONGHOA



MENGENAL PERAYAAN TAHUN BARU CHINA ‘IMLEK’
 DALAM KOMUNITAS THIONGHOA
Oleh: Nini Adelina Tanamal, S.Th., M.Th.
Email : stephanie_moz020609@yahoo.com

ABSTRAK

Tahun Baru China merupakan hari raya yang paling penting dalam masyarakat China, Perayaan Tahun Baru China juga dikenal sebagai Chunjie (Festival Musim Semi/ Spring Festival), Nongli Xinnian (Tahun Baru), atau Guonian atau sin tjia. Diluar daratan China, Tahun Baru China lebih dikenal sebagi Tahun Baru Imlek. Kata Imlek( Im= Bulan, Lek= penanggalan) berasal dari dialek Hokkian atau mandarin-nya yin li yang berarti kalender bulan. Perayaan Tahun Baru Imlek dirayakan pada tanggal 1 hingga tanggal 15 pada bulan ke-1 penanggalan kalender China yang menggabungkan perhitungan matahari dan bulan, 2 energi yin-yang, konstelasi bintang atau astrologi shio, 24 musim, dan 5 unsur (festival Musim semi).

Chinese’s New Year is the most important celebration day for Chinese people. The celebration of Chinese’s New Year is also known as Chunjie (Spring Festival), Nongli Xinnian (New Year), or Guonian or Sin Tjia. Outside the Chinese land, thisChinese’s New Year is well-known as ‘Imlek’ New Year. The word ‘Imlek’ (Im= month, Lek= calendar system) is derived from Hokkian language or Yin Li in Mandarin, which means month calendar. Imlek new year celebration is celebrated on the 1st until 15th of the first month in the Chinese calendar system which gather the calculation of the sun and month as well as two energier, yin-yang, that is the constellation of star or shio astrology, 24 seasons, and five element, (spring festival).

Kata Kunci: Tahun Baru China disebut Imlek.


 

PENDAHULUAN

Tahun Baru Imlek merupakan perayaan terpenting orang Tionghoa. Perayaan tahun baru Imlek dimulai di hari pertama bulan pertama (bahasa Tionghoa: pinyin: zheng yue) di penanggalan Thionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh di tanggal ke lima belas ( pada saat bulan purnama). Malam tahun baru imlek dikenal sebagai Chuxi yang berarti “malam pergantian tahun.”  Karena 1/5 penghuni bumi in adalah orang China, maka tahun baru China hampir dirayakan oleh seluruh pelosok dunia dimana terdapat orang China, keturunan China atau pecinan.
Banyak bangsa yang bertetangga dengan China turut merayakan Tahun Baru China seperti Taiwan, Korea, Mongolia, Vietnam, Nepal, Bhutan dan Jepang. Khusus di daratan China, Hongkong, Macau, Taiwan, Singapura, Indopnesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan Negara-negara yang memiliki penduduk beretnis China, Tahun Baru China dirayakan dan sebagian telah berakultrasi dengan budaya setempat. Dirayakan di daerah dengan populasi suku Thionghoa, Tahun Baru Imlek dianggap sebagai hari libur besar untuk orang Thionghoa dan memiliki pengaruh pada perayaan tahun baru di tetangga geografis Tiongkok, serta budaya yang dengannya orang Tionghoa berinteraksi meluas. Ini termasuk Korea, Mongolia, Nepal, Bhutan, Vietnam, dan Jepang (sebelum 1873). Didaratan Tiongkok, Hongkong, Macau, Taiwan, Singapura, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Negara-negara lain atau daerah dengan populasi suku Han yang signifikan, Tahun Baru Imlek juga dirayakan, dan pada berbagai derajat, telah menjadi bagian dari budaya tradisional dari Negara-negara tersebut.


PEMBAHASAN

A.    SEJARAH IMLEK

Sebelum Dinasti Qin, tanggal perayaan pewrmulaan sesuatu tahun masih belum jelas. Ada kemungkinan bahwa awal tahun bermula pada bulan 1 semasa Dinasti Xia, bulan 12 semasa Dinasti Shang, dan bulan 11 semasa Dinasti Zhou di China. Bulan kabisat yang dipakai untuk memastikan kalender Tionghoa sejalan dengan edaran mengelilingi matahari, selalu ditambah setelah bulan 12 sejak Dinasti Shang (menurut catatan tukang ramalan) dan Zhou (menurut Sima Qian). Kaisar pertama China Qin Shi Huang menukar dan menetapkan bahwa tahun Tionghoa berawal di bulan 10 pada 221 SM. Pada 104 SM, Kaisar Wu yang memerintah sewaktu Dinasti Han menetapkan bulan 1 sebagai awal tahun sampai sekarang.



B.     MITOLOGI TAHUN BARU IMLEK

Berdasarkan cerita rakyat dan legenda kuno, Tahun Baru China dirayakan ketika orang China berhasil melawan hewan mtos yang disebut sebagai Nian yang berarti tahun dalam bahasa China. Mahluk Nian selalu muncul pada hari pertama Tahun Baru dan kedatangan Nian adalah memangsa hewan ternak, memakan hasil pertanian dan bahkan penduduk, terutama anak-anak.
Untuk selamat dari petaka Nian, masyarakat (desa) China akan menaruh sejumlah makanan di depan pintu mereka pada hari pertama tahun baru. Masyarakat percaya bahwa, jika Nian telah mengambil/ memakan makanan yang telah disediakan oleh masyarakat, maka Nian tidak akan lagi menyerang orang/warga. Suatu ketika, seorang penduduk menyaksikan (satu/seekor/ semahluk) Nian ketakutran dan lari menghindar dari seorang anak yang berkostum merah. Dari kejadian itu, maka penduduk desa akhirnya tahu kekurangan Nian yakni takut pada warna merah.
Semenjak itu, setiap menjelang dan selama Tahun Baru, penduduk akan menggantung lentera merah  serta memasang tirai/gordin merah pada pintu dan jendela. Selain itu, masyarakat juga menggunakan mercun untuk menakuti Nian. Sejak itulah, Nian tidak pernah lagi muncul di desa mereka. Dan pada akhirnya, Nian berhasil ditangkap oleh Hongjun Lao Tze, seorang pendeta Tao. Nian kemudian menjadi hewan tunggangan Hongjun Lao Tze.
Adat adat pengusiran Nian ini kemudian berkembang menjadi perayaan Tahun Baru. Guo Nian (Hanzi tradisional: bahasa Tionghoa) yang berarti “menyambut tahun baru”, secara harafiah berarti “mengusir Nian.”


C.    TRADISI DALAM IMLEK

Aslinya Imlek atau Sin Tjia adalah sebuah perayaan yang dilakukan oleh para petani di China yang biasanya jatuh pada tanggal satu bulan pertama di awal tahun baru. Perayaan ini juga berkaitan dengan pesta para petani untuk menyambut musim semi. Perayaan ini dimulai pada tanggal 30 bulan ke -12 dan berakhir pada tanggal 15 bulan pertama. Acaranya meliputi sembahyang Imlek, sembahyang kepada Sang Pencipta, dan perayaan Cap Go Meh, tujuan dari persembahyangan  ini adalah sebagai wujud syukur dan doa harapan agar di tahun depat mendapat rezeki lebih banyak, untuk menjamu leluhur, dan sebagai saranan silahturami dengan kerabat dan tetangga.
Karena perayaan Imlek berasal dari kebudayaan petani, maka segala bentuk persembahannya adalah berupa berbagai jenis makanan. Idealnya, pada setiap acara sembahyang Imlek disajikan minimal 12 macam masakan dan 12 macam kue yang mewakili lambing-lambang shio yang berjumlah 12.  Di China , hidangan yang wajib adalah mie panjang umur ( siu mie) dan arak. Di Indonesia, hidangan yang dipilih biasanya hidangan yang mempunyai arti “kemakmuran”, “panjang umur’, “keselamatan”, atau “kebahagian”, dan merupakan hidangan kesukaan para leluhur.
Kue-kue yang dihidangkan biasanya lebih manis daripada biasanya. Diharapkan, kehidupan di tahun mendatang menjadi lebih manis. Disamping itu dihidangkan pula kue lapis sebagai perlambang rezeki yang berlapis-lapis. Kue mangkok dan kue keranjang juga merupakan makanan yang wajib dihidangkan pada waktu persembahyangan menyambut datangnya tahun baru Imlek. Biasanya kue keranjang disusun ke atas dengan kue mangkok berwarna merah dibagian atasnya. Ini adalah sebagai symbol kehidupan manis yang kian menanjak dan mekar seperti kue mangkok.
Ada juga makanan yang dihindari dan tidak dihidangkan, misalnya bubur. Bubur tidak dihidangkan karena makanan ini melambangkan kemiskinan. Kedua belas hidangan itu lalu disusun di meja sembahyang yang bagian depannya digantungi dengan kain khusus yang biasanya bergambar naga berwarna merah. Pemilik rumah lalu berdoa memanggil para leluhurnya untuk menyantap hidangan yang disuguhkan.
Di malam tahun baru orang-orang biasanya bersantap di rumah atau di restoran. Setelah selesai makan malam mereka begadang semalam suntuk dengan pintu rumah dibuka lebar-lebar agar rezeki bias masulk ke rumah dengan leluasa. Pada waktu ini disediakan camilan khas Imlek berupa kuaci, kacang, dan permen.
Pada waktu Imlek, makanan yang tidak boleh dilupakan adalah lapis legit, kue nastar, kue semprit, kue mawar, serta manisan kolang-kaling. Agar pikiran menjadi jernih, disediakan pudding yang dicetak seperti bintang sebagai symbol kehidupan yang terang.
Tujuh hari sesudah Imlek dilakukan persembahyangan kepada Sang Pencipta. Tujuannya adalah sujud kepadaNya dan memohon kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru dimasuki. Lima belas hari sesudah Imlek dilakukan sebuah perayaan yang disebut dengan Cap Go Meh. Masyarakat keturunan China di Semarang merayakannya dengan menyuguhkan lontong Cap Go Meh yang terdiri dari lontong, opor ayam, lodeh terung, telur pindang, sate abing, dan sambil docang. Sementara di Jakarta menunya adalah lontong, sayur godog, telur pindang, dan bubuk kedelai. Pada waktu perayaan Imlek juga dirayakan berbagai macam keramaian yang menyuguhkan atraksi barongsai dan kembang api.



PENUTUP

Tahun Baru China merupakan hari raya yang paling penting dalam masyarakat China. Perayaan Tahun Baru Imlek dirayakan pada tanggal 1 hingga tanggal 15 pada bulan ke-1 penanggalan kalender China yang menggabungkan perhitungan matahari dan bulan.  Di Tiongkok, adat dan tradisi wilayah yang berkaitan dengan perayaan Tahun Baru Imlek sangat beragam. Namun, kesemuanya banyak berbagi tema umum seperti perjamuan makan malam pada Tahun Baru, serta penyulutan kembang api. Meskipun penanggalan Imlek secara tradisional tidak menggunakan nomor tahun malar.
Inilah keberagaman dalam beragama, karena semua keberagaman kepercayaan memiliki makna dan tujuan yang terbaik, tetapi keberagaman itu perlu dihormati, dihargai dan selalu hidup bertoleransi antar semua manusia di dunia ini. Karena hidup  itu memiliki tujuan dalam kepercayaan yang mengarahkan suatu pribadi kepada Sang Pencipta. 


DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Zakaria Gozali, 2000, Sejarah Asia Tenggara, Asia Selatan dan
                            Asia Timur 1800-1963, Kuala Lumpur: Fajar Bakti


Bonavia, David, 1990, Cina dan Masyarakatnya, terj.Dede Oetomo, Jakarta:
                            Erlangga

Carey, Peter, 1986, Orang Jawa dan Masyarakat Cina 1755-1825, Jakarta:
    Pustaka Aset,
   
Cassier, Ernest, Manusia dan Kebudayaan: sebuah Essai tentang Manusia,
                            PT. Gramedia Pustaka, Jakarta: 1987


Hamzah, Alvian, 1998, Kapak Jadi Nonpri: Warga Thionghoa Mencari
                            Keadilan Zaman, Bandung: wacana mulia,

Sukisman, W.D., 1993, Sejarah Cina Kontemporer: Dari Revolusi Nasional
                            Melalui Revolusi Kebudayaan Sampai Modernisasi
                            Sosialis, Jakarta: Pradnya Paramita