Sunday, January 17, 2016

Warga Heboh Batu Mirip Wajah Manusia


Warga Heboh Batu Mirip Wajah Manusia

Sabtu, 28 Februari 2015 | 
(Analisa/hairul iman hasibuan) BATU: Batu mirip wajah manusia dipinggiran Sungai Batu Nabontar 400 meter dari Desa Purba Tua Kecamatan Tantom Angkola Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel).
Tapsel, (Analisa). Warga Desa Purba Tua Kecamatan Tantom Angkola Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) heboh atas penemuan batu mirip wajah manusia di pinggiran Sungai Batu Nabontar, 400 meter dari desa setempat, Jumat (27/2). Diduga, batu berukiran wajah manusia itu hasil peninggalan zaman dahulu kala.
Pantauan Analisa, puluhan masyarakat berbondong-bondong melihat wujud batu berbentuk wajah manusia tersebut. Masyarakat yang datang bukan hanya dari sekitaran desa namun juga luar desa bahkan kecamatan.
Batu yang diketahui jenis batu kapur tersebut berada persis di pinggir aliran anak sungai dengan posisi tertanam dan digenangi air. Untuk menjaganya, warga sekitar sengaja membuat patok kayu dan menutupnya menggunakan jaring kawat.
Menurut Kepala Desa Purba Tua Benson Simanjuntak (37), penemuan batu tersebut berawal dari warga sekitar yang datang ke tempat itu untuk mengambil bambu, rupanya bambu yang sudah dipotong jatuh persis di atas batu yang ditemukan.
"Mulanya ada anak-anak warga kita yang datang ke tempat ini dan mengambil bambu, rupanya bambu yang dipotong jatuh persis di atas batu ini, tapi sebelumnya batu ini masih tampak ditutupi tanah," ungkapnya.
Dikatakan, ketika mereka membersihkan batang bambu itu, tanpa sengaja parang yang mereka gunakan mengenai bagian batu yang masih tertutup tanah, merasa ada yang aneh mereka pun berusaha mengoreknya.
Baru dikorek sedikit, jelas Kades, rupanya mereka melihat bagian atas batu yang mirip dengan ukiran wajah manusia. "Atas penemuan itu,warga lalu mengorek tanah tersebut dan tampaklah ukiran wajah mirip manusia pada batu itu," ujarnya.
Lebih lanjut, Benson mengatakan, sudah menyampaikan penemuan itu kepada pemerintah setempat melalui pihak Kecamatan Tantom Angkola Tapsel. "Setelah adanya penemuan itu dan dilaporkan kepada saya, baru kembali saya beritahukan kepada pihak Kecamatan setempat," ucapnya.
Camat Tantom Angkola, Saftar Harahap, pihaknya menduga batu itu adalah hasil seni dari masyarakat terdahulu yang pernah ada.
Pasalnya menurut sejarah yang ada, lokasi tempat ditemukannya batu itu diketahui pernah menjadi tempat permukiman umat Hindu. Hal itu juga dibuktikan dengan adanya penemuan piring kuno (antik-red) bergambar naga sekitar beberapa tahun lalu oleh warga sekitar. Namun sayangnya, piring yang dimaksud, diakui warga sudah dijual oleh kolektor benda antik yang datang ke tempat mereka.
"Kita menduga batu dengan ukiran wajah yang mirip manusia ini adalah hasil seni kuno peninggalan zaman dahulu, dan hal ini juga akan kami sampaikan kepada Pemkab Tapsel dan Dinas terkait untuk menindak lanjutinya," sebutnya.
Camat mengimbau, agar masyarakat ikut menjaga penemuan tersebut agar tidak rusak. "Saya minta kepada warga untuk tidak merusak dan menjaganya dengan baik, sebab penemuan batu ini akan ditindak lanjuti untuk membuktikan apa benar mengandung sejarah dan nilai seni. Jadi jangan sampai ada yang merusaknya," pintanya. (hih)

Sumber:
http://analisadaily.com/sumut/news/warga-heboh-batu-mirip-wajah-manusia/112238/2015/02/28

Heboh! Batu Mirip Wajah Manusia di Dekat Pohon Angker



Sabtu, 28 Februari 2015 , 00:09:00

Sejumlah warga melihat batu yang berukir wajah manusia yang diduga hasil peninggalan zaman dulu tersebut, Kamis (26/2). Foto: Oryza Pasaribu/Metro Tabagsel/JPNN
Sejumlah warga melihat batu yang berukir wajah manusia yang diduga hasil peninggalan zaman dulu tersebut, Kamis (26/2). Foto: Oryza Pasaribu/Metro Tabagsel/JPNN
TAPSEL – Penemuan sebuah batu ukiran membentuk mirip wajah manusia menghebohkan warga Desa Purba Tua, Kecamatan Tantom Angkola, Kabupaten Tapsel, Sumut.

Batu aneh itu ditemukan di sebuah hutan di pinggiran aliran anak sungai Batu Nabontar, yang berjarak sekitar 400 meter dari pemukiman masyarakat setempat, Sabtu (21/2). Namun hingga kemarin, warga masih berdatangan karena penasarn.

Kepala Desa setempat, Benson Simanjuntak (37) menceritakan, penemuan batu tersebut berawal dari adanya warga sekitar yang datang ketempat itu untuk mengambil bambu. Rupanya bambu yang sudah dipotong jatuh persis di atas batu yang ditemukan.

Ketika mereka membersihkan batang bambu itu, tanpa sengaja parang yang mereka gunakan mengenai bagian batu yang masih tertutup tanah. Merasa ada yang aneh, mereka pun berusaha mengoreknya.
Baru dikorek sedikit, jelas Kades, rupanya mereka melihat bagian atas batu yang mirip dengan ukiran wajah manusia, lalu melaporkannya kepada warga yang lainnya.
Setelah itu, ia pun memberitahukannya kepada pihak Kecamatan Tantom Angkola Tapsel. “Setelah adanya penemuan itu dan dilaporkan kepada saya, baru kembali saya beritahukan kepada pihak kecamatan setempat,” ucapnya.

Camat Tantom Angkola, Saftar Harahap, yang ikut turun ke tempat penemuan batu tersebut mengatakan, pihaknya menduga batu dengan ukiran mirip dengan wajah manusia itu adalah hasil seni dari masyarakat terdahulu.

Pasalnya menurut sejarah yang ada, lokasi tempat di temukannya batu itu diketahui pernah menjadi tempat permukiman umat Hindu, dan hal itu juga dibuktikan dengan adanya penemuan piring kuno (antik,red) bergambar naga beberapa tahun yang lalu oleh warga sekitar. Namun sayangnya, piring yang dimaksud, diakui warga sudah dijual oleh kolektor benda antik yang datang ke tempat mereka.

“Kita menduga batu dengan ukiran wajah yang mirip manusia ini adalah hasil seni kuno peninggalan zaman dahulu,” sebutnya.
Amatan Metro Tabagsel (Grup JPNN), batu yang diketahui jenis batu kapur tersebut berada persis di pinggir aliran anak sungai dengan posisi tertanam dan digenangi air. Untuk menjaganya, warga sekitar sengaja membuat patok kayu dan menutupnya menggunakan jaring kawat.

Oleh warga sekitar, lokasi penemuan batu itu dianggap sebagai daerah yang angker. Di sekitar penemuan batu tersebut ada sebuah pohon besar yang menyeramkan dan konon katanya tidak bisa ditebang. (yza)

Sumber: http://www.jpnn.com/read/2015/02/28/289652/Heboh!-Batu-Mirip-Wajah-Manusia-di-Dekat-Pohon-Angker-






Mandailing Natal Dapat Dukungan Tympanum Penetapan Cagar Budaya

Mandailing Natal Dapat Dukungan Tympanum Penetapan Cagar Budaya

Madina Dapat Dukungan Tympanum Penetapan Cagar Budaya
Panyabungan Sumut 7/4 – Situs Candi Simangambat di Kec. Siabu merupakan salah satu dari Situs Bagas Godang dan Padang Mardia yag akan mendapatkan dukungan penetapan cagar budaya di Kabupaten Mandailing Natal.

Pemkab. Madina melalui Dinas Pemuda Olah Raga Budaya Pariwisata (Disporabudpar) melalui Kemendikbud agar cagar Budaya diusulkan Tim Tympanum turun ke titik lokasi Candi Simangambat yang berada di Kel. Simangambat Kec. Siabu melakukan pengukuran, identifikasi, pencatatan serta rekam objek yang langsung dikoordinir Askolani didampingi Rizki Rafsanjani.
Dia menegaskan Candi Simangambat dibangun dengan struktur batu merah pada bagian dalam candi dan batu pasir pada bagian luar bahkan ditemukan juga Struktur batu berhias serta patung kepala kala.
“Candi Simangambat mirip dengan Candi Sewu di Jawa Tengah diyakini Candi ini sudah ada sejak abad ke 9 sampai Abad ke 10 Masehi pada masa Hindu Budha klasik,” katanya.
“Bahkan Candi Simangambat lebih tua dari Candi yang berada di Sumut seperti Candi Bahal yang berada di Padang Lawas Utara.”
Dia menambahkan, “Candi Simangambat menguatkan deskripsi tentang kawasan Mandailing sebelum adanya migrasi suku Batak dari bagian utara Sumatera dari abad Ke-15 Masehi dimana usianya jauh lebih tua dari klaim tarombo (Legenda Silsilah) etnis Batak.”
Adapun hasil penelitian dari Badan Aerkeologi Medan pada tahun 2009 menyatakan pada awalnya Candi Simangambat dipublikasikan oleh peneliti Belanda Bosch dan Schintger pada tahun 1920 dan akhirnya pada tahun 2008 penelitian kembali dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Sumatera Utara.
Begitu juga dengan Situs Bagas Godang di Huta Godang dan Situs Padang Mardia di Huta Siantar masing–masing ada sejarah tentang keberadaannya.
Harapannya agar ketiga objek kawasan itu dapat mengundang kunjungan wisata manca negara juga akan mengkokohkan penetapan Cagar Budaya di Mandailing Natal sebagai kawasan yang bermartabat. Sebagaimana yang disebut dalam buku Kertagam yang menyatakan bahwa Mandailing satu etnis yang utuh kata Askolani Nst dari Tympanum Novel.
Sumber: http://madina.go.id/mandailing-natal-dapat-dukungan-tympanum-penetapan-cagar-budaya/


Satu Situs Candi Ditemukan di Mandailing Natal

Satu Situs Candi Ditemukan di Mandailing Natal



Askolani dan tim Tympanum Novem
saat memeriksa bongkahan material situs di hutan Simaninggir

SIABU (Mandailing Online) – Satu lokasi yang diduga satu situs candi ditemukan di hutan Simaninggir, Kecamatan Siabu, Kabupaten Mandailing Natal.

Bongkahan jenis batu bata itu ditemukan Budayawan Mandailing dari Tympanum Multi Media, Askolani Nasution dan kawan-kawan, Jum’at (25/12).
Lokasi temuan berada pada titik koordinat 1.021337, 99.502128. Titik situs ini awalnya ditemukan para pekerja jalan ketika ada aktivitas pembukaan jalan hutan di kawasan itu. Oleh pekerja dan penduduk setempat melaporkannya kepada Askolani Nasution.

“Bongkahan ini diyakini bersumber dari kedalaman tiga meter. Bongkahan terdiri dari dua jenis bata dan batu andesit. Ukuran bata sama dengan ukuran pada jenis candi Budha klasik,” ungkap Askolani dalam satu statusnya di akun facebook.

Dikataknnya, dengan bantuan penduduk setempat, dia dan kawan-kawan akhirnya menemukan beberapa bongkahan batu candi tersebut. Sebelumnya, setahun lalu, para pemburu kambing hutan juga telah melaporkan kepada Askolani tentang adanya gundukan batu tersusun di kawasan hutan Simaninggir.

Laporan pemburu kambing hutan itu diyakini mengandung kebenaran, sebab berdasar hipotesa arkeolog Amerika Serikat Uli Kozok soal adanya kemungkinan situs candi di kawasan hutan antara Siabu dengan Padang Lawas mengikuti arah garis Candi Siwa di Simangambat, siabu dengan Candi Bahal serta candi lain di kawasan Padang Lawas.

“Saya meyakini, dengan jarak 1 kilo meter sebelah Utara dari Candi Siabu dan 3 kilom meter dari Candi Siwa Simangambat, kawasan ini patut diduga menjadi satu kawasan Cagar Budaya yang memerlukan penelitian tindak lanjut,” katanya.

“Asumsi awal saya, situs ini makin menguatkan bahwa di kawasan ini pernah hidup satu kebudayaan Hindu-Budha masa abad 9-10 masehi. Beberapa bongkahan kami ambil sebagai sampel untuk uji materi nanti. Dokumentasi yang layak belum dapat kami lakukan. Tapi ini membuat saya kaget karena lokasi berada di atas bukit, ujarnya.

Editor  : Dahlan Batubara

Sumber:
http://www.mandailingonline.com/satu-situs-candi-ditemukan-di-mandailing-natal/

Situs Menhir di Runding Indikasi Peradaban Mandailing Sudah Ada Sejak Zaman Batu


Situs Menhir di Runding Indikasi Peradaban Mandailing Sudah Ada Sejak Zaman Batu

PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Tympanum Novem Film sejak pekan lalu memulai penggarapan video situs-situs peninggalan Mandailing masa lampau.
Tiga situs yang direkam video pada Kamis (15/5/2014) meliputi situs reruntuhan candi di Saba Biara, Pidoli; situs yang diduga reruntuhan candi di Padang Mardia, Hutasiantar dan Menhir di Runding satu peninggalan dari zaman batu.
Situs-situs tersebut sangat bernilai tinggi dalam menggali sejarah peradaban Mandailing dari zaman batu hingga era Hindu dan Islam.
Askolani Nasution dari Tympanum Novem Film mengatakan Jum’at (16/5) situs Menhir di Runding merupakan peninggalan dari zaman batu, jauh sebelum manusia mengenal peralatan dari perunggu. Di lokasi ini masih ditemukan “kursi batu” dengan pahatan amat sederhana, dangkal estetika, hanya berorientasi kepada fungsi, bukan keindahan.
“Saya meyakini, kawasan ini menjadi pemukiman tertua di Mandailing,” sebut Askolani yang juga sutradara ini.
Sementara reruntuhan candi di Saba Biara, Desa Pidoli, Kecamatan Panyabungan merupakan candi yang di bangun pada zaman Hindu.
Termasuk juga situs yang digarap di lokasi Padang Mardia, Kelurahan Huta Siantar, Kecamatan Panyabungan juga menunjukkan sebuah reruntuahn candi zaman Hindu. Di lokasi ini ditemukan juga situs lainnya berjenis batu yang memiliki tulisan arab bertarikh 264 H, tetapi fungsi-fungsi situs ini belum diketahui.
Sementara itu, Adip Nasution, keterununan raja-raja Hutasiantar menjawab Mandailing Online, Jum’at menyatakan bahwa berdasar pernyataan seorang ahli arkeolog yang mengunjungi Hutasiantar pada tahun 2008 lalu menyebutkan bahwa di kawasan Hutasiantar pernah berdiri sebuah candi seumur dengan Candi Portibi. Ukuran candi itu juga lebih besar dari ukuran Candi Portibi.
Selain, menggarap rekaman video terhadap ketiga situs-situs penting tersebut, pihak Tympanum juga telah menggarap rekaman video pada reruntuhan Candi Siwa di Simangambat, Kecamatan Siabu, serta lokasi wisata alam dan wisata sejarah di Kabupaten Mandailing Natal.
Peliput/editor : Dahlan Batubara

Sumber:
www.mandailingonline.com

Sunday, January 10, 2016

HUTA SIALLAGAN (AMBARITA)

HUTA SIALLAGAN (AMBARITA)
Oleh: Uli Kozok

23 September 2014:
Kepada mereka yang tempohari ikut nimbrung di FB Saut Situmorang soal Huta Siallagan – perkampungan yang dikelilingi batu besar termasuk di antara Batu Persidangan yang konon dipakai sebagai tempat eksekusi hukuman mati. Berbagai cerita yang sedap-sedap ngeri disajikan kepada para wisatawan yang berkunjung kepada situs tersebut. Antara lain diceritakan bahwa situs megalit tersebut berusia 300 tahun, dan bahwa para tahanan dieksekusi di situ dengan cara yang paling kejam.

Ini keterangan yang saya peroleh dari Bapak Jean-Pierre Barbier-Mueller yang di antara tahun 1974 dan 1978 beberapa kali singgah di Huta Siallagan untuk mewawancarai penduduk: Awalnya, di sekitar tahun 1920an, hanya ada satu batu di Huta Siallagan yang selalu kalah dengan batu Raja Sidabutar di Tomok. Kesal karena para wisatawan hanya berkunjung ke Tomok maka Raja Hendrik Siallagan mulai membangun berbagai jenis pahatan batu termasuk patung, kursi, dan meja. Pembangunan berlangsung selama beberapa tahun dan selesai dibangun pada sekitar tahun 1937. Karena batu-batu pahatan Raja Hendrik maka Ambarita akhirnya menjadi atraksi wisata yang tidak kalah lagi dengan Tomok.
Ketika berkunjung ke sana tahun 1974 kata Pak Jean-Pierre yang kini berusia 83 tahun, tidak ada cerita bahwa batu-batu itu dipakai sebagai batu persidangan. Soalnya orang tahu semua bahwa Raja Hendriklah yang membangunnya untuk mendatangkan wisatawan. Jadi kisah yang berdarah yang selama ini diceritakan kepada wisatawan baru muncul setelah tahun 1970an. Cerita tsb. memang hanya isapan jempol belaka (tetapi sangat laris buat sibontar mata yg berkunjung ke sana) karena pada waktu batu persidangan didirikan Samosir sudah lama berada di bawah kekuasaan Belanda.



Sumber:
https://www.facebook.com/uli.kozok/posts/10152401523869849





Wednesday, January 6, 2016

SEJARAH HARUS DITULIS ULANG: Si Raja Batak di Antara Para Leluhur di Sumatera Utara


SEJARAH HARUS DITULIS ULANG
Si Raja Batak di Antara Para Leluhur di Sumatera Utara
Oleh: Edward Simanungkalit *


          Sumatera Utara merupakan sebuah wilayah yang didiami oleh berbagai etnis yang populasi etnis tersebut cukup banyak. Di sebelahnya Provinsi Aceh, Provinsi Riau, dan Provinsi Sumatera Barat. Di Sumatera Utara sendiri terdiri dari 8 etnis, yaitu: Melayu, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing, “Batak” Toba, dan Nias. Pakpak, Karo, Simalungun, Toba, Angkola, dan Mandailing disebut oleh para antropolog sebagai “Batak”, bahkan ada penulis sejarah “Batak” berusaha menjadikan Nias sebagai bagian dari “Batak”. Akan tetapi, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing, dan Nias tersebut keberatan disebut “Batak”. Secara khusus,  Pakpak sangat keberatan disebut “Batak” melampaui etnis lainnya, karena arti kata “Batak” itu sendiri dalam bahasa Pakpak adalah “babi”, sehingga mereka sangat keras menolak disebut “Batak”. Meskipun demikian, para leluhur dari semua etnis setempat di Sumatera Utara tadi satu-persatu akan ditelusuri asal-usulnya, sehingga menjadi terang-benderang berbagai etnis tersebut.

Raja-Raja Karo
           Arkeolog prasejarah, Prof. DR. Harry Truman Simanjuntak, umaterayang sudah malang-melintang selama 38 tahun melakukan pelelitian arkeologi prasejarah di Indonesia ini sudah menulis lebih dari 150 karya tulis yang telah dipublikasikan. Doktor prasejarah lulusan dari Perancis ini, selain sebagai Professor Riset di Puslit Arkenas (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional), dia juga   Peneliti dan Direktur dari Center for Prehistoric and Austronesian Studies (2006 - sekarang). Harry Truman Simanjuntak mengatakan, bahwa ras Australomelanesoid  telah lebih dulu datang ke Sumatera setelah Sundaland tenggelam. Kemudian disusul oleh penutur Austroasiatik pada sekitar 4.300 – 4.100 tahun lalu dari Kamboja, Vietnam, dan Khmer, sedang penutur Austronesia dari Taiwan menyusul pada sekitar 4.000 tahun lalu. Penutur Austroasiatik dan penutur Austronesia ini, keduanya berasal dari Yunan, Cina Selatan. Leluhur prasejarah ini  dikemukakan oleh Harry Truman Simanjuntak. Sedang pada masa sejarah, orang-orang India Selatan datang lagi ke Sumatera pada sekitar abad ke-2 dan 3 Masehi.
         Penelitian arkeologi dengan melakukan ekskavasi telah dilakukan oleh P.V. van Stein Callenfels di Deli Serdang dekat Medan (1925), H.M.E. Schurman di Langkat dekat Binjai (1927), Kupper di Langsa (1930), Edward MacKinnon di DAS Wampu (1973, 1976, 1978), Harry Truman Simanjuntak & Budisampurno di Sukajadi, Langkat (1983), di Lhok Seumawe dan oleh Tim Balai Arkeologi Medan di Aceh Tengah (2011) dan di Bener Meriah, Aceh (2012). Temuan fosil di Loyang Mandale, Aceh Tengah diperkirakan berusia 8.430 tahun Penelitian arkeologi dengan melakukan ekskavasi ini telah menemukan kapak Sumatera (Sumatralith) yang terkenal itu dan menemukan bahwa ras australomelanesoid telah datang melalui pesisir Timur Sumatera bagian Utara ini pada masa Mesolitik sekitar 10.000 – 6.000 tahun lalu.
          Berdasarkan fosil yang ditemukan di Loyang Mandale, Aceh Tengah (Gayo) yang berusia 7.400 tahun pada waktu itu (sedang temuan terbaru 8.430 tahun), maka dilakukan tes DNA terhadap fosil yang ditemukan dan sampel darah 300 lebih siswa/i Orang Gayo di Takengon. DR. Safarina G. Malik dari Eijkman Institute menyatakan, bahwa mereka itu adalah keturunan dari fosil tadi dan kekerabatan genetik antara populasi Gayo dengan Karo sangat dekat. Hal ini dikarenakan Orang Karo yang berada di dekat penelitian arkeologi tadi merupakan keturunan dari ras Australomelanesoid, yang penulis sebutkan di sini sebagai Raja-Raja Karo, yang datang pada masa Mesolitik sekitar 10.000 – 6.000 tahun lalu. Mereka ini juga yang datang ke Humbang menjadi Raja-raja Toba dan sampai ke selatan Sumatera. Itu sebabnya hasil tes DNA Orang Minangkabau, Orang Riau, dan Orang Melayu juga menunjukkan bahwa mereka adalah keturunan mereka ini. Semuanya ini cocok dengan apa yang dikemukakan oleh Prof. DR. Harry Truman sebelumnya.

Raja-Raja Simalungun
     Arkeolog prasejarah, Prof. DR. Harry Truman Simanjuntak telah mengemukakan di atas bahwa ras australomelanesoid telah lebih dulu bermigrasi ke Sumatera. Kemudian disusul oleh penutur Austroasiatik pada sekitar 4.300 – 4.100 tahun lalu dari Kamboja, Vietnam, dan Khmer, sedang  penutur Austronesia dari Taiwan menyusul pada sekitar 4.000 tahun lalu. Penutur Austroasiatik dan penutur Austronesia ini, keduanya berasal dari Yunan, Cina Selatan. Leluhur prasejarah ini  dikemukakan oleh Harry Truman Simanjuntak. Ras australomelanesoid tadi datang pada masa Mesolitik di sekitar 10.000 – 6.000 tahun lalu melalui pesisir Timur Sumatera bagian Utara dan menyebar ke daerah-daerah Sumatera hingga ke Sumatera Selatan. Dari mereka inilah, penulis sebutkan di sini sebagai Raja-Raja Simalungun, yang menurunkan Orang Simalungun. Disusul penutur Austroasiatik pada sekitar 4.300 – 4.100 tahun lalu dan penutur Austronesia pada sekitar 4.000 tahun lalu atau kedua-duanya datang pada masa Neolitik di sekitar 6.000 – 2.000 tahun lalu.
         Kemudian datang lagi orang-orang India Selatan pada tahun Masehi dan mereka mendirikan Kerajaan Nagur di tanah Simalungun. Kerajaan Nagur bangkit dan berdiri sejak abad ke-6 dan mengalami kemunduran pada abad ke-15 serta tercatat di Cina pada zaman Disnasti Sui abad ke-6 (Agustono & Tim, 2012:24, 31). Dalam buku “SEJARAH ETNIS SIMALUNGUN” dikemukakan bahwa “… di daerah Tigadolok masih terdapat nama kampung bernama Nagur yang letaknya jauh di pedalaman dan sulit ditempuh. Berdekatan dengan kampung Nagur ini terdapat tempat keramat bernama Batu Gajah sisa candi peninggalan agama Hindu yang sudah pernah diteliti tim arkeologi dari Medan yang menurut perkiraan didirikan sejak abad ke-5 Masehi.” (Agustono & Tim, 2012:38). Demikianlah kedatangan orang-orang India Selatan yang kemudian mendirikan kerajaan Nagur di Simalungun pada awal millenium pertama Masehi.

Raja-Raja Mandailing
     Arkeolog prasejarah, Prof. DR. Harry Truman Simanjuntak telah mengemukakan di atas bahwa ras australomelanesoid telah lebih dulu bermigrasi ke Sumatera. Kemudian disusul oleh penutur Austroasiatik pada sekitar 4.300 – 4.100 tahun lalu dari Kamboja, Vietnam, dan Khmer, sedang  penutur Austronesia dari Taiwan menyusul pada sekitar 4.000 tahun lalu. Penutur Austroasiatik dan penutur Austronesia ini, keduanya berasal dari Yunan, Cina Selatan. Leluhur prasejarah ini  dikemukakan oleh Harry Truman Simanjuntak. Ras australomelanesoid tadi datang pada masa Mesolitik di sekitar 10.000 – 6.000 tahun lalu melalui pesisir Timur Sumatera bagian Utara dan menyebar ke daerah-daerah Sumatera hingga ke Sumatera Selatan. Dari mereka inilah, penulis sebutkan di sini sebagai Raja-Raja Mandailing, yang menurunkan Orang Mandailing. Disusul penutur Austroasiatik pada sekitar 4.300 – 4.100 tahun lalu dan penutur Austronesia pada sekitar 4.000 tahun lalu, atau kedua-duanya datang pada masa Neolitik, di sekitar tahun 6.000 – 2.000 tahun lalu.
   Mandailing sudah disebutkan Gajah Mada dalam Sumpah Palapanya dalam Kitab Negarakertagama sekitar tahun 1365. Candi Simangambat merupakan temuan arkeologis di Simangambat yang berasal dari abad ke-9 Masehi Situs-situs lain terdapat di Desa Pidoli Lombang (Saba Biaro), Desa Huta Siantar (Padang Mardia), Desa Sibanggor Julu  dan lain-lain. Keberadaan candi ini membuktikan sudah ada masyarakat dengan populasi besar dan teratur di sana. Sedang Candi Portibi di Padang Lawas berasal dari abad ke-11. Pada tahun 1025, Rajendra Chola dari  India Selatan memindahkan pusat pemerintahannya di Mandailing ke daerah Hang Chola (Angkola). Kerajaan India tersebut diperkirakan telah membentuk koloni mereka, yang terbentang dari Portibi hingga Pidoli. Peristiwa yang dikenal sebagai Riwajat Tanah Wakaf Bangsa Mandailing di Soengai Mati, Medan pada tahun 1925 berlanjut ke pengadilan. Akhirnya, berdasarkan hasil keputusan Pengadilan Pemerintahan Hindia Belanda di Batavia,Mandahiling diakui sebagai etnis terpisah dari Batak (wikipedia).

Raja-Raja Pakpak
      Arkeolog prasejarah, Prof. DR. Harry Truman Simanjuntak telah mengemukakan di atas bahwa ras australomelanesoid telah lebih dulu bermigrasi ke Sumatera. Kemudian disusul oleh penutur Austroasiatik pada sekitar 4.300 – 4.100 tahun lalu dari Kamboja, Vietnam, dan Khmer, sedang  penutur Austronesia dari Taiwan menyusul pada sekitar 4.000 tahun lalu. Penutur Austroasiatik dan penutur Austronesia ini, keduanya berasal dari Yunan, Cina Selatan. Leluhur prasejarah ini  dikemukakan oleh Harry Truman Simanjuntak. Ras australomelanesoid tadi datang pada masa Mesolitik di sekitar 10.000 – 6.000 tahun lalu melalui pesisir Timur Sumatera bagian Utara dan menyebar ke daerah-daerah Sumatera hingga ke Sumatera Selatan. Dari mereka inilah, penulis sebutkan di sini sebagai Raja-Raja Pakpak, yang menurunkan Orang Pakpak.Disusul penutur Austroasiatik pada sekitar 4.300 – 4.100 tahun lalu dan penutur Austronesia pada sekitar 4.000 tahun lalu, atau kedua-duanya datang pada masa Neolitik, di sekitar tahun 6.000 – 2.000 tahun lalu.
        Selain itu, ada juga jejak Tamil dari India Selatan di dalam masyarakat Pakpak, karena orang-orang dari India Selatan banyak datang ke Sumatera Utara sejak sekitar abad ke-3 Masehi. Kemiripan hasil-hasil budaya Pakpak (dengan India) merupakan buah dari kontak dagang Pakpak dengan India (Tamil). Khususnya Barus merupakan bandar internasional, menjadi gerbang bagi transfer budaya dari India terhadap budaya Pakpak yang terjadi setidaknya sejak akhir abad ke-10 M atau awal abad ke-11 M. Sejumlah unsur budaya India itu telah memperkaya kebudayaan Pakpak sebagaimana dapat dilihat jejak-jejaknya hingga kini (Soedewo, 2008, dalam https://balarmedan.wordpress.com). Parultop Padang Batanghari memiliki putri Pinggan Matio, yang dikawini  Raja Silahisabungan. Pdt. Abednego Padang Batanghari menyebutkan bahwa Parultop merupakan generasi kesembilan dari marga Padang Batanghari (Tabloid TANO BATAK, Edisi Oktober 2010).

Raja-Raja Nias
        Penelitian Arkeologi telah dilakukan di Pulau Nias sejak tahun 1999 yangmenemukan bahwa sudah ada manusia di Pulau Nias sejak 12.000 tahun silam Mereka inibermigrasi dari daratan Asia ke Pulau Nias pada masa paleolitik, bahkan ada indikasi sejak 30.000 tahun lampau, kata Prof. Harry Truman Simanjuntak dari Puslitbang Arkeologi Nasional dan LIPI Jakarta. Pada masa itu hanya budaya Hoabinh, Vietnam yang sama dengan budaya yang ada di Pulau Nias, sehingga diduga kalau asal usul Suku Nias berasal dari daratan Asia di sebuah daerah yang kini menjadi negara yang disebut Vietnam (Wikipedia).
       Penelitian genetika terbaru menemukan, bahwa masyarakat Nias berasal dari rumpun bangsa Austronesia. Nenek moyang orang Nias diperkirakan datang dari Taiwan melalui jalur Filipina 4.000-5.000 tahun laluMannis van Oven, mahasiswa doktoral dari Department of Forensic Molecular Biology, Erasmus MC-University Medical Center Rotterdam, memaparkan hasil temuannya di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Jakarta, Senin (15/4/2013). Dalam penelitian yang telah berlangsung sekitar 10 tahun ini, Oven dan anggota timnya meneliti 440 contoh darah warga di 11 desa di Pulau Nias (Wikipedia). Dalam genetika orang Nias tidak ditemukan dari masyarakat Nias kuno yang hidup 12.000 tahun lalu (Kompas, 16/04-2013). DNA Nias ini sudah diperbandingkan dengan DNA Karo dan “Batak” (Toba). ”Untuk membandingkannya, Van Oven mengintip darah Karo dan Batak serta menemukan marka DNA yang lebih variatif. Anehnya lagi, kedua etnis yang bertetangga wilayahnya dengan Pulau Nias ini tak memiliki dua marka genetik Nias.” (Tempo, 17/04-2013). Jelas, bahwa DNA Nias berbeda dengan DNA Toba maupun Karo.

Raja-Raja Melayu
       Sebagaimana telah dikemukakan Prof. DR. Harry Truman bahwa Ras Australomelanesoid yang seperti Papua (Negrito) datang ke Sumatera diikuti penutur Austroasiatik sekitar 4.300 tahun lalu dan penutur Austronesia sekitar 4.000 tahun lalu. Mereka datang pada masa prasejarah yang diikuti kemudian orang-orang India Selatan pada millenium pertama sekitar abad kedua atau ketiga. Orang Melayu berada di sekitar dilakukannya ekskavasi arkeologi di daerah Deli Serdang dan Langkat yang membuktikan kedatangan orang-orang Negrito, pendukung budaya Hoabinh pada masa Mesolitik sekitar 10.000-6.000 tahun lalu. Hasil tes DNA Melayu ini terdapat unsur Negrito, Austroasiatik, Austronesia, dan India ditambah lain-lainnya, sehingga mereka sudah berada di Sumatera Utara pada masa prasejarah. 

Raja-Raja Aceh & Raja-Raja Jau
       Temuan fosil manusia di Loyang Mandale, Aceh Tengah yang berusia 7.400 tahun (temuan terbaru 8.430 tahun), maka telah dilakukan tes DNA terhadap fosil yang ditemukan tersebut dan sampel darah 300 lebih siswa/i di Takengon. Dr. Safarina G. Malik dari Eijkman Institute menyampaikan bahwa orang Aceh Gayo adalah keturunan fosil tersebut yang merupakan ras Australomelanesoid atau Orang Negrito, pendukung budaya Hoabinh. Secara genetic, Aceh Gayo ini berkerabat sangat dekat dengan Karo (Kaber Gayo, 10/12-2011; Lintas Gayo, 08/03-2012).
       Raja Jau yang dimaksudkan oleh W.M. Hutagalung dalam bukunya dapat juga ditafsirkan sebagai Raja Jawa. Kerajaan Kalingga di Jawa Tengah sudah eksis pada abad ke-6 yang ada kaitannya dengan orang-orang dari India Selatan, sedang Candi Borobudur dibangun pada abad ke-8. Sebelumnya di masa prasejarah sebagaimana telah dikemukakan oleh Prof. DR. Harry Truman Simanjuntak bahwa Ras Australomelanesoid (Orang Negrito) telah datang ke pulau Jawa. Kemudian disusul penutur Austroasiatik di sekitar 4.300 – 4.100 tahun lalu dan penutur Austronesia di sekitar 4.000 tahun lalu. Inilah yang datang ke pulau Jawa pada masa prasejarah sebelum kemudian datang lagi orang-orang India Selatan.

Raja-Raja Toba
        Di Humbang, mulai dari Silaban Rura hingga Siborong-borong, yang sekarang berada di Kabupaten Tapanuli 
Utara dan Kabupaten Humbang Hasundutan, telah ditemukan adanya aktivitas banyak manusia sekitar 6.500 tahun lalu. Dalam bukunya “Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia”, Peter Bellwood (2000:339) menulis: “Sebagai contoh, sebuah inti polen dari rawa Pea Simsim dekat Danau Toba di Sumatera bagian Utara (1.450 m dpl) menunjukkan bahwa pembukaan hutan kecil-kecilan mungkin sudah dimulai pada 4.500 Sebelum Masehi.”. Bellwood merujuk kepada hasil penelitian paleontologi oleh Bernard Kevin Maloney (1979) dari Universitas Hull, Inggris, di daerah Humbang, sebelah barat Danau Toba.
      Penelitian paleontologi atas pembukaan hutan ini dilakukan pada 4 (empat) tempat, yaitu: di Pea Simsim, sebelah barat Nagasaribu, di Pea Bullock, dekat Silangit – Siborongborong, di Pea Sijajap, daerah Simamora Nabolak, dan di Tao Sipinggan, Silaban (www.anu.edu.au; www.manoa.hawaii.edu;  www.lib.washington.edu). Penelitian ini membuktikan bahwa telah ada aktivitas manusia sekitar 6.500 tahun lalu di Humbang. Mereka itu datang dari pesisir timur Sumatera bagian Utara yang telah dilakukan beberapa kali penelitian arkeologi prasejarah di beberapa tempat mulai dari Serdang dekat Medan sampai Lhok Seumawe. Mereka itu adalah orang-orang Negrito dari ras Australomelanesoid yang datang pada masa Mesolitik sekitar 10.000 – 6.000 tahun lalu seperti telah dikemukakan oleh Prof. DR. Harrya Truman Simanjuntak juga sebelumnya (ORANG TOBA: Asal-usul, Jatidiri, dan Mitos Sianjur Mulamula, 2015:21-24). Mereka ini banyak dan penulis namakan mereka dengan nama  Raja-Raja Toba, karena hanya menurunkan Orang Toba. Jadi, Raja-Raja Toba bukan satu orang figur, tetapi lebih dari satu orang atau banyak orang dan mereka itu yang menurunkan Orang Toba terbukti dari DNA-nya (2015:31-35).

Si Raja Batak
       Selama ini Si Raja Batak disebut-sebut sebagai nenek-moyang Suku Batak. Si Raja Batak disebutkan nama kampungnya di Sianjur Mulamula di kaki Pusuk Buhit, yang sekarang berada di daerah Kabupaten Samosir. Berdasarkan mitologi seperti yang ditulis oleh W.M. Hutagalung,  dalam bukunya: “PUSTAHA BATAK: Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak” (1926), bahwa Si Raja Batak merupakan keturunan dari Raja Ihatmanisia yang merupakan anak dari Si Borudeak Parujar dalam perkawinannya dengan Raja Odapodap dari Langit Ketujuh. Berbagai tulisan maupun buku-buku sejarah “Batak” lainnya menyebutkan bahwa Si Raja Batak berasal dari Hindia Belakang dan membuka kampung di Sianjur Mulamula. Walaupun ada versi-versi asal-usul lain, tetapi pada dasarnya Si Raja Batak sampai di Sianjur Mulamula yang disebut  merupakan kampung awal Bangso Batak atau Suku Batak (2015:1-11).
     Para penulis “Sejarah Batak” tadi menyebutkan bahwa keturunan Si Raja Batak pergi menyebar dan membentuk Batak Toba, Batak Pakpak, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Angkola, dan Batak Mandailing. Secara khusus, W.M. Hutagalung (1926) menulis tarombo di mana marga-marga Pakpak, Karo, Simalungun, dan Mandailing merupakan keturunan Si Raja Batak dari marga-marga Toba. Dengan demikian, selain keturunan Si Raja Batak, maka seluruh marga-marga Pakpak, Karo, Simalungun, dan Mandailing itu adalah keturunan Batak Toba juga yang kesemuanya disebut Bangso Batak/Suku Batak, sehingga Batak Toba merupakan induk dari marga-marga Pakpak, Karo, Simalungun, dan Mandailing. Memang masih ada buku-buku yang menguraikan tentang marga-marga bahkan ada yang memasukkan Nias sebagai sub-etnik Batak yang merupakan keturunan Raja Asi-asi.
Kemudian Raja Aceh yang pergi ke Gayo dan Raja Jau ke tanah Jawa berasal dari Sianjur Mulamula. Akan tetapi, buku W.M. Hutagalung (1926) yang paling menarik, karena paling laris manis, sehingga paling banyak dibaca oleh masyarakat dan tentulah  dapat diperkirakan pengaruhnya demikian luas. Setelah Bibel, Buku Ende, dan Almanak Gereja, sepertinya buku inilah yang paling banyak dibeli masyarakat terutama masyarakat Toba.
   Pada tebing bukit di Sianjur Mulamula, Samosir ada dibuat tulisan: “PUSUK BUHIT – SIANJUR MULAMULA – MULA NI HALAK BATAK – 5 SUKU: BATAK TOBA, BATAK MANDAILING, BATAK KARO, BATAK PAPPAK, BATAK SIMALUNGUN”. Selanjutnya, Monumen Pintu Gerbang Tomok memuat tulisan: BATAK TOBA, BATAK SIMALUNGUN, BATAK MANDAILING, BATAK ANGKOLA, BATAK PAKPAK, BATAK KARO. Sementara dalam website Pemkab Samosir, tentang Si Raja Batak ini ditulis sebagai berikut: “Si Raja Batak, yang tinggal di Kaki Gunung Pusuk Buhit mempunyai dua putra, yaitu Guru Tateabulan dan Raja Isumbaon. Kemudian nama dua putra ini menjadi nama dari dua kelompok besar marga Bangso Batak/Suku Batak, yaitu Lontung dan Sumba. Dari kedua kelompok marga ini lahirlah marga-marga orang Batak, yang saat ini sudah hampir 500 marga. Sampai saat ini orang Batak mempercayai bahwa asal mula Bangso Batak/Suku Batak ada di Pusuk Buhit Sianjur Mulamula.” (www.samosirkab.go.id).
          Kemudian mengenai masa hidup Si Raja Batak ini, maka dikemukakan beberapa pihak sebagai berikut:
Richard Sinaga, dalam bukunya "LELUHUR MARGA MARGA BATAK, DALAM SEJARAH SILSILAH DAN LEGENDA" (1997) mengemukakan bahwa masa hidup Si Raja Batak
kira-kira pada tahun 1200 Masehi atau awal abad ke-13 Masehi.
Batara Sangti Simanjuntak, dalam bukunya berjudul “Sejarah Batak”, mengatakan bahwa Si Raja Batak di Tanah Batak baru ada pada tahun 1305 Masehi atau awal abad ke-14 Masehi.
Kondar Situmorang, dalam Harian Sinar Indonesia Baru terbitan tanggal 26 September 1987 dan tanggal 03 Oktober 1987 serta tanggal 24 Oktober 1987, dengan judul “Menapak Sejarah Batak”, mengatakan bahwa Si Raja Batak baru ada pada tahun 1475 Masehi.
Sarman P. Sagala, dalam website Pemkab Samosir mengatakan, bahwa Si Raja Batak hidup pada tahun 1200 atau awal abad ke-13 (http://dishubkominfo.samosirkab.go.id/).
Ketut Wiradnyana, arkeolog Balai Arkeologi Medan yang telah melakukan penelitian arkeologi di Samosir, dalam seminar “Telaah Mitos dan Sejarah dalam Asal Usul Orang Batak” di Unimed (Jumat, 09/01-2015), mengatakan bahwa  orang Batak pertama di Sianjurmulamula dan mereka telah bermukim di sana sejak 600-1000 tahun yang lalu (http://humas.unimed.ac.id).
Prof. Dr. Uli Kozok, dalam seminar “Telaah Mitos dan Sejarah dalam Asal Usul Orang Batak” di Unimed (Jumat, 09/01-2015), mengemukakan bahwa Si  Raja Batak lahir sekitar 600-800 tahun yang lalu (
http://humas.unimed.ac.id).
    Demikianlah telah diuraikan di atas tentang masa hidup Si Raja Batak sebagaimana dikemukakan tadi keseluruhannya berkisar antara 500-1000 tahun lalu atau tidak lebih dari 1000 tahun.

Sejarah Harus Ditulis Ulang
     Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa Si Raja Batak itu disebutkan menurunkan Batak Toba, Batak Pakpak, Batak Karo, Batak Simalungun, dan Batak Mandailing. Oleh karena namanya Si Raja Batak, makanya keturunannya menyandang kata “Batak” juga seperti halnya marga. Seperti itulah pemahaman di Toba, yang diyakini bahwa semua yang disebutkan tadi menyebar dari Sianjur Mulamula, sehingga bila ada pihak yang mengatakan bahwa mereka bukan Batak, maka itu dipahami sebagai durhaka, karena menyangkal leluhurnya. Demikianlah pemahaman di Toba, sehingga membuat mereka sulit menerima pihak-pihak lain yang mengatakan “bukan Batak”, karena menganggap Si Raja Batak mempunyai hubungan genealogis dengan Batak Toba, Batak Pakpak, Batak Karo, Batak Simalungun, dan Batak Mandailing.
    Telah diuraikan di atas bahwa jumlah marga-marga dari Bangso Batak/Suku Batak yang merupakan keturunan Si Raja Batak sekitar hampir 500 marga dari Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, dan Mandailing (termasuk Angkola). Jadi, berdasarkan uraian tadi, maka Tanah  Toba, Tanah Pakpak, Tanah Karo, Tanah Simalungun, dan Tanah Mandailing sebelumnya kosong. Baru setelah Si Raja Batak datang ke Sianjur Mulamula dan keturunannya mulai berkembang barulah mereka menyebar ke daerah-daerah tersebut, maka terbentuklah BANGSO BATAK seperti yang disebutkan tadi. Pertanyaannya, benarkah masing-masing daerah ini adalah tanah kosong yang belum didiami oleh manusia sebelum keturunan Si Raja Batak datang mendiami tanah kosong tersebut? Tentu tidak demikian, karena sudah banyak manusia datang ke seluruh daerah di Sumatera Utara sebelum Si Raja Batak tiba di Sianjur Mulamula, kaki Pusuk Buhit, Samosir.
     Raja-Raja Karo, Raja-Raja Simalungun, Raja-Raja Mandailing, Raja-Raja Pakpak, dan Raja-Raja Toba lebih dulu berdiam di Sumatera Utara yang datang pada masa Mesolitik, sekitar 10.000 – 6.000 tahun lalu (2015:41-42), sedang masa hidup Si Raja Batak dari Sianjur Mulamula itu paling lama 1.000 tahun lalu. Dengan demikian, Si Raja Batak adalah pendatang baru di Sianjur Mulamula yang kedatangannya memiliki selisih waktu setidaknya 5.000 tahun lebih dulu Raja-Raja Karo, Raja-Raja Simalungun, Raja-Raja Mandailing, Raja-Raja Pakpak, dan Raja-Raja Toba. Itu sebabnya dapat dipastikan bahwa Orang Karo, Orang Simalungun, Orang Mandailing, dan Orang Pakpak bukan berasal dari Sianjur Mulamula, sehingga sama sekali bukanlah keturunan Si Raja Batak. Kalaupun terjadi migrasi marga-marga tertentu dari Toba ke daerah Karo, daerah Simalungun, daerah Mandailing, dan daerah Pakpak, maka hal itu bukan berarti menjadikan etnis Karo, etnis Simalungun, etnis Mandailing, dan etnia Pakpak berasal dari Toba. Kalaupun W.M. Hutagalung dan penulis-penulis Sejarah Batak lain menyebutkan dan mengklaim bahwa semua marga Karo, marga Simalungun, marga Mandailing, dan marga Pakpak berasal dari Toba sebagai keturunan Si Raja Batak, maka hal itu jelas tidak sesuai dengan fakta.
     Etnis Karo sudah ada berdiam di Tanah Karo sebelum Si Raja Batak tiba di Sianjur Mulamula. Mereka berbahasa Karo yang termasuk rumpun bahasa Austronesia. Kemudian terjadi migrasi dari tetangga-tetangganya ke Tanah Karo, sehingga terjadi percampuran lagi dan mereka yang datang ini hidup mengikuti budaya Karo. Demikian juga dari Karo pun ada terjadi migrasi ke luar yaitu ke tetangga-tetangganya. Sebagai sebuah etnis, Etnis Karo memiliki tanah ulayat, masyarakat, bahasa, budaya, kepercayaan tradisional (agama suku), dan mitologi sendiri. Inilah etnis Karo yang sekarang dan pada dasarnya etnis Karo itu terbentuk sendiri, sehingga bukan diturunkan Si Raja Batak dari Sianjur Mulamula seperti dikemukakan oleh W.M. Hutagalung yang secara prinsip diikuti oleh penulis-penulis sejarah Batak lainnya.
Etnis Simalungun sudah berdiam di Tanah Simalungun sebelum Si Raja Batak tiba di Sianjur Mulamula. Mereka berbahasa Simalungun yang termasuk rumpun bahasa Austronesia. Kemudian terjadi migrasi dari tetangga-tetangganya ke Tanah Simalungun, sehingga terjadi percampuran lagi dan mereka yang datang ini hidup mengikuti budaya Simalungun/Ahap Simalungun. Demikian juga dari Simalungun pun ada terjadi migrasi ke luar yaitu ke tetangga-tetangganya. Sebagai sebuah etnis, Etnis Simalungun memiliki tanah ulayat, masyarakat, bahasa, budaya, kepercayaan tradisional (agama suku), dan mitologi sendiri. Inilah etnis Simalungun yang sekarang dan pada dasarnya etnis  Simalungun itu terbentuk sendiri, sehingga bukan diturunkan Si Raja Batak dari Sianjur Mulamula seperti dikemukakan oleh W.M. Hutagalung yang secara prinsip diikuti oleh penulis-penulis sejarah Batak lainnya.
Etnis Mandailing sudah berdiam di Tanah Mandailing sebelum Si Raja Batak tiba di Sianjur Mulamula. Mereka berbahasa Mandailing yang termasuk rumpun bahasa Austronesia. Kemudian terjadi migrasi dari tetangga-tetangganya, sehingga terjadi lagi percampuran dan mereka yang datang ini hidup mengikuti budaya Mandailing. Demikian juga dari Mandailing pun ada terjadi migrasi ke luar yaitu ke tetangga-tetangganya. Sebagai sebuah etnis, Etnis Mandailing memiliki tanah ulayat, masyarakat, bahasa, budaya, kepercayaan tradisional (agama suku), dan mitologi sendiri. Inilah etnis Mandailing yang sekarang dan pada dasarnya etnis Mandailing terbentuk sendiri, sehingga bukan keturunan Si Raja Batak dari Sianjur Mulamula seperti dikemukakan oleh W.M. Hutagalung yang secara prinsip diikuti oleh penulis-penulis sejarah Batak lainnya.     
Etnis Pakpak sudah berdiam di Tanah Pakpak sebelum Si Raja Batak tiba di Sianjur Mulamula. Mereka berbahasa Pakpak yang termasuk rumpun bahasa Austronesia. Kemudian terjadi migrasi dari tetangga-tetangganya, sehingga terjadi lagi percampuran dan mereka yang datang ini hidup mengikuti budaya Pakpak. Demikian juga dari Pakpak pun ada terjadi migrasi ke luar yaitu ke tetangga-tetangganya. Sebagai sebuah etnis, Etnis Pakpak memiliki tanah ulayat, masyarakat, bahasa, budaya, kepercayaan tradisional (agama suku), dan mitologi sendiri. Inilah etnis Pakpak yang sekarang dan pada dasarnya etnis Pakpak terbentuk sendiri, sehingga bukan keturunan Si Raja Batak dari Sianjur Mulamula seperti dikemukakan oleh W.M. Hutagalung yang secara prinsip diikuti oleh penulis-penulis sejarah Batak lainnya.
Etnis Nias sudah berdiam di pulau Nias sebelum Si Raja Batak tiba di Sianjur Mulamula. Mereka berbahasa Nias yang termasuk rumpun bahasa Austronesia. Mereka nyaris tidak mengalami percampuran di masa lalu, karena jauh dari daratan Sumatera dan setelah terjadi migrasi baru terjadi percampuran sedikit sehubungan dengan transportasi yang semakin baik. Sebagai sebuah etnis, Etnis Nias memiliki tanah ulayat, masyarakat, bahasa, budaya, kepercayaan tradisional (agama suku), dan mitologi sendiri. Inilah etnis Nias yang sekarang dan pada dasarnya etnis Nias terbentuk sendiri, sehingga bukan keturunan Si Raja Batak dari Sianjur Mulamula seperti yang dikemukakan oleh W.M. Hutagalung yang secara prinsip diikuti oleh penulis-penulis sejarah Batak lainnya.
Etnis Melayu sudah berdiam di Sumatera Utara sebelum Si Raja Batak tiba di Sianjur Mulamula. Mereka telah mulai terbentuk sejak masa prasejarah dan masih terus bercampur seiring dengan datangnya para migran dari Asia Daratan. Dengan demikian, jelaslah gambaran masyarakat di Sumatera Utara di masa lalu yang membentuk berbagai etnis secara sendiri-sendiri.
Etnis Aceh (Gayo) dan Etnis Jau (Jawa) dapat dipastikan bukan berasal dari Sianjur Mulamula, sehingga bukan keturunan Si Raja Batak sama sekali. Kedua etnis ini sudah terlalu tua jika hendak dibandingkan dengan Si Raja Batak dari Sianjur Mulamula, karena kedua etnis ini sudah ada pada masa prasejarah sementara Si Raja Batak datang pada millennium kedua di Sianjur Mulamula. Dengan demikian, etnis Aceh (Gayo) dan etnis Jau (Jawa) bukanlah berasal dari Sianjur Mulamula seperti yang dikemukakan oleh W.M. Hutagalung.
Turiturian dan tarombo yang ditulis oleh W.M. Hutagalung di dalam bukunya “PUSTAHA BATAK: Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak” (1926) yang berpangkal kepada figur Si Raja Batak dari Sianjur Mulamula di Samosir terbukti telah gugur. Buku-buku Sejarah Batak yang pada dasarnya merujuk kepada buku W.M. Hutagalung
(1926) tadi harus ditulis ulang kembali, karena ternyata Orang Toba merupakan keturunan Raja-Raja Toba dari Humbang yang diperkirakan hidup sekitar 6.500 tahun lalu. Etnis Karo juga adalah keturunan Raja-Raja Karo, Etnis Simalungun adalah keturunan Raja-Raja Simalungun, Etnis  Mandailing adalah keturunan Raja-Raja Mandailing, etnis Pakpak adalah keturunan Raja-Raja Pakpak, dan etnis Nias adalah keturunan Raja-Raja Nias, yang diperkirakan sama masa hidupnya dengan Raja-Raja Toba, yang setidak-tidaknya 4.000 - 5.000 tahun lebih dulu dari Si Raja Batak, sehingga mereka bukan berasal dari Sianjur Mulamula dan bukan keturunan Si Raja Batak sama sekali. Seluruh leluhur etnis di Sumatera Utara yang datang pada masa prasejarah lebih tua daripada Si Raja Batak yang datang ke Sumatera Utara pada millennium kedua tahun Masehi. Si Raja Batak hanyalah pendatang baru di Sumatera Utara, sehingga tidak mungkin menurunkan semua etnis di Sumatera Utara yang disebutkan tadi.  Dengan demikian, Belanda melalui W.M. Hutagalung selama ini hanya berusaha mendirikan menara di atas pasir dengan menciptakan tokoh sentral SI RAJA BATAK yang disebutnya sebagai nenek-moyang BANGSO BATAK atau SUKU BATAK dan menara itu telah rubuh seiring dengan pengungkapan fakta-fakta di atas. Oleh karena itu, sejarah peradaban yang dipengaruhi oleh Belanda melalui W.M. Hutagalung ini dan penulis-penulis lainnya harus ditulis ulang kembali. ***
Catatan kaki:
Tulisan ini terkait dengan tulisan-tulisan berikut: ORANG TOBA: DNA, Negeri, Budaya, dan Asal-usulnya; ORANG TOBA: Austronesia, Austroasiatik, dan Negrito; ORANG TOBA: Bukan  Keturunan Si Borudeak Parujar; PUSUK BUHIT BUKAN GUNUNG LELUHUR ORANG TOBA; uMULAMULA; SI RAJA BATAK ATAU SI RAJA TOBA?; ORANG SIMALUNGUN KETURUNAN SI RAJA BATAK DARI SIANJUR MULAMULA – PUSUK BUHIT; FAKTA ATAU MITOS?; 
ORANG PAKPAK: Hubungannya dengan Si Raja Batak; Fakta atau Mitos?
 ORANG KARO: Hubungannya dengan Si Raja Batak; Fakta atau Mitos?; ORANG SIMALUNGUN: Hubungannya dengan Si Raja Batak; Fakta atau Mitos?; ORANG MANDAILING: Hubungannya dengan Si Raja Batak; Fakta atau Mitos?; MEMBAYANGKAN PAKPAK SEBAGAI ETNIS TERSENDIRI: Sebuah Renungan; HALAK TOBA – ORANG TOBA, yang semuanya ditulis oleh Edward Simanungkalit (Lihat di blog ini). Dan, tulisan-tulisan di www.kompasiana.com/edwardsimanungkalit


(*) Pemerhati Sejarah Alternatif Peradaban