Tuesday, April 1, 2025

KETIKA DEWA-DEWI DARI LANGIT TUJUH LAPIS TURUN KE BUMI

 

Seri  HITA TOBA 4

KETIKA DEWA-DEWI DARI LANGIT TUJUH LAPIS TURUN KE BUMI

Oleh: Edward Simanungkalit *

 

Membaca buku yang ditulis WM. Hutagalung berjudul: “PUSTAHA BATAK: Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak” (1926) ada hal yang menggelitik. Itu berkaitan dengan nama-nama dan hal lainnya yang ada di dalam buku tersebut, Nama-nama yang dimaksud dibatasi pada bagian yang biasa disebut-sebut Mitologi Batak (baca: Dongeng), yaitu mulai dari Mulajadi Nabolon hingga Si Raja Batak dari halaman 1 s/d 33. Yaitu mulai dari langit  7 lapis dan turun ke bumi melalui puncak Pusuk Buhit terus turun ke kaki bukit hingga di Sianjur Mulamula, Kamudian kawinlah dewa-dewi di Sianjur Mula-mula, yaitu Si Boru Deak Parujar dengan Raja Odapodap yang melahirkan Raja Ihatmanisia dan Siboru Itammnisia. Dari keturunan mereka inilah lahir Ompu Jolma yang kemudian diganti namanya menjadi Si Raja Batak sebagaimana dikemukakan oleh Uli Kozok dalam Bincang Lae Kirman berjudul “Dinamika Sejarah Batak”, 31 Mei 2022 (dikutip 26 Maret 2025; Video: 25 detik. Dikutip dari:  https://www.youtube.com/watch?v=HewtyBgdCqA).

 

Nama-nama yang disebut  di dalam cerita tadi sebagai berikut:

1.Debata Mulajadi Nabolon, 2. Debata Batara Guru, 3. Raja Odapodap, 4. Debata Sori, 5. Tuan Dihurmajati, 6. Batu Holing, 7. Debata Balabulan, 8. Raja Padoha, 9. Debata Asiasi, 10. Tuan Sorimahummat, 11. Boru Saniangnaga, 12. Sitapi Gaga 13. Boru Malim, 14. Boru Sorbajati, 15. Leangnagurasta, 16. Boru Deak Parujar, 17. Tuan Sorimatinggi, 18. Raja Indainda, 19. Raja Indapati, 20. Jumadi Siganding, 21. Debata Jujungan, 22. Boru Nan Bauraja, 23. Boru Surungan, 24, Narudang Ulubegu, 25. Tuan Nahodaraja, 26. Nan Bauraja, 27. Tuan Dipapantinggi, 28. Raja Ihatmanisia, 29. Boru Itammanisia, 30. Boru Naraja Inggotpaung, 31. Raja Inggotpaung, 32. Raja Miokmiok, 33. Patundal nibegu, 34. Aji Lampaslampas, 35. Engbanua, 36. Raja Aceh, 37. Raja Bonang-bonang, 38. Raja Jau, 39. Raja Tantan Debata, dan 40. Raja Batak.

 

Di atas telah dipaparkan nama-nama figur dalam cerita “Langit Tujuh Lapis”. Nama-nama di atas nyaris semuanya berasal dari bahasa Sanskerta atau setidaknya akar katanya berasal dari bahasa Sanskerta. Hal ini tentu ada kaitannya dengan persinggungan budaya dengan orang-orang India dan kepercayaannya.. Harry Parkin dalam bukunya: “Batak Fruit of Hindu Thought” (1978) menyimpulkan telah terjadinya silang budaya antara Toba dengan Hindu terutama ajaran Sivaisme, yang merupakan kepercayaan Tamil. Keberadaan Tamil di Barus relatif dekat dengan kaki Pusuk Buhit, sehingga memungkinkan kontak dengan mereka. Cerita tentang penciptaan dunia, menurut J. Tideman (Agustono & Tim, 2012:195),   merupakan pengaruh Hindu yang diadopsi dari mitos Wedda dan nama-nama dewa diambil dari Hindu Dharma.

 

Lebih jauh lagi, bahwa sudah pernah terjadi kerjasama antara orang-orang India dengan orang Toba di Negeri Toba dalam bidang pertanian di masa lalu. Hal ini diungkapkan oleh Robin Hanbury dan Tenison, dalam tulisannya: "A Pattern Of Peoples; A Journey Among The Tribes Of Indonesian’s Outer Islands, New York, Charles Scribner’s Sons" (1975:28). Kerjasama dengan orang India yang diungkapkan tadi dikuatkan oleh adanya DNA penutur Dravida/India (R-M124) di dalam diri Orang Toba sebesar 2,7%, yang bercampur sekitar 600 tahun lalu.

Balai Arkaeologi Sumatera Utara telah melakukan penelitian khusus di Sianjur Mula-mula. “Penelitian di Sianjur Mula-mula ini dilaksanakan sejak tanggal 9 April—1 Mei 2018. Penelitian ini dipusatkan di bekas permukiman Siraja Batak yang berada di Huta Urat, Desa Sianjur Mula-mula. Hasil penelitian di Sianjur Mula-mula ini telah memberikan bukti adanya permukiman di lokasi tersebut. Temuan ekskavasi yang dominan ditemukan adalah fragmen gerabah/tembikar. Selain itu, ditemukan juga pada manik-manik kaca dan fragmen logam. Pada ekskavasi ini juga ditemukan adanya umpak batu yang merupakan fondasi bangunan rumah panggung. Selain itu, ditemukan juga adanya bekas lubang tiang bangunan.” (Taufiqurrahman S., 18/07-2018, https://balarsumut.kemdikbud.go.id/).

Dr. Ketut Wiradnyana, MSi., Kepala Balai Arkeologi Sumatera Utara, mengemukakan, bahwa berdasarkan data, temuan di Sianjur Mula-mula itu usianya sekitar 600 tahun lalu. Ketut melanjutkan, bahwa di Sianjur Mula-mula sendiri saat dilakukan ekskavasi yang ditemukan hanya artefak seperti peralatan dapur, dan setelah digali lagi hanya menemukan tanah bekas sawah yang usianya kurang lebih 600 tahun yang lalu, dan tidak ditemukan kerangka manusia di dalamnya (SBNPro.com, 24/01-2019).

Leluhur Toba datang bermigrasi ke Negeri Toba sebanyak 4 gelombang, yaitu: 1. Ras Australomelanesoid, 2. Penutur Austroasiatik (Ras Mongoloid berkulit hitam), 3. Penutur Austronesia (Ras Mongoloid berkulit putih), dan 4. Penutur Dravida (orang India dari Banua Holing). Gelombang ke-1-3 bermigrasi sekitar 4.000 tahun – 8.500 tahun lalu, sementara gelombang ke-4 datang sekitar 600 tahun lalu (Edward Simanungkalit, LELUHUR TOBA LELUHUR CAMPURAN – Seri HITA TOBA 1, Sopo Panisioan, 16/2-2025). Demikianlah dikemukakan Sains khususnya Arkeologi (Prof. Dr. Harry Truman Simanjuntak) dan Genetika (Lembaga Eijkman). Jelas, bahwa leluhur Toba, adalah leluhur campuran, sudah datang pada masa prasejarah, 4.000 – 8.500 tahun lalu, bukan 600 tahun lalu yang berkampung di Sianjur Mula-mula. Kemungkinan sekali kampung itu merupakan jejak orang-orang India yang kemudian membuat cerita Mitologi tersebut, karena nama-nama figur Mitologi  didominasi bahasa Sanskerta. Ketika tulang-belulang manusia tidak ditemukan di sana, maka Sianjur Mula-mula itu bukanlah perkampungan hunian berpenduduk. Berat dugaan bahwa Sianjur Mula-mula adalah tempat ritual. Oleh karena leluhur Toba adalah leluhur campuran, maka kampung leluhur Toba itu ada di 4 (empat) tempat, yaitu:  Toba Holbung, Toba Humbang, Toba Silindung, dan Toba Samosir.

Leluhur Toba yang datang pada masa prasejarah terdiri dari Ras Australomelanesoid dan Ras Mongoloid yang didominasi Ras Mongoloid dan rumpun bahasa Austronesia, yaitu: Bahasa Toba.. Mereka mendiami wilayah “sebelum penjajahan Belanda, bernama Negeri Toba, yang merdeka dan berdaulat meliputi daerah pegunungan Bukit Barisan yang beribukota di Bangkara.” (Batara Sangti, 1978:27). Penjelasan Batara Sangti ini mirip seperti yang tertulis dalam stempel Raja Singamangarja XII: Maharaja di Negeri Toba dari Bangkara. Begitu juga manuskrip Dinasti Di dalam Negarakertagama Pupuh 13 Tahun 1365 M: Disebutkan Mandailing, Toba, Haru, dan Barus di kawasan Sumatera Utara sekarang. Tidak ada kata lain apalagi kata “Batak”. ”. Di dalam buku: “Sejarah Raja-raja Barus: Dua Naskah dari Barus” (Drakard, 1988) pada naskah berupa manuskrip kuno: “Sarakatah Surat Catera Asal Keturunan Raja Dalam Negeri Barus” ditulis dengan kata-kata sebagai berikut: “Bermula dihikayatkan suatu raja dalam negeri Toba sila-silahi (Silalahi) lua’ Baligi (Luat Balige). Kampung Parsoluhan, suku Pohan.” Terjemahan manuskrip kuno ini meriwayatkan tentang Alang Pardosi, yang mendirikan Dinasti Pardosi di Barus, yang datang dari Negeri Toba. Demikian juga, Sitor Situmorang di dalam bukunya: Toba Na Sae (2009) menjelaskan soal kata: Toba Na Sae itu dengan memaksudkan: Negeri Toba yang meliputi: Toba Humbang, Toba Samosir, Toba Holbung, dan Toba Silindung (Sitor Situmorang, TOBA NA SAE, Komunitas Bambu, Jakarta: 2009). Di masa lalu sebelum datangnya penjajahan Belanda, tidak ada sebutan Negeri Batak atau Negeri Batak Toba, tapi yang ada sebutan Negeri Toba.

 

Pada tahun 2016, penulis sudah menyampaikan bahwa Si Raja Batak tidak ada dalam tulisan berjudul: “MEMBONGKAR MITOS SI RAJA BATAK: Sebuah Strategi Belanda Dalam Pembatakan Non-Melayu” (2016), dan, “MEMBONGKAR DISAIN KOLONIAL LEWAT MITOS SI RAJA BATAK: Sains vs Dongeng”: (2020). Baru-baru ini juga, penulis telah membuat tulisan berjudul: “LELUHUR TOBA CAMPURAN BUKAN TUNGGAL – Seri TOBA 2” (2025). Namanya “Si Raja Batak” berbau bahasa Sanskerta yang memakai kata “raja” berasal dari “raj”. Oleh karena itu, jelas bahwa Si Raja Batak ini bukan dari lingkungan leluhur Toba yang datang pada masa prasejarah dengan berbahasa Austronesia. Bagaimana mungkin leluhur campuran yang datang 8.500-4.000 lalu memiliki seorang nenek-moyang tunggal dari kampung berusia 600 tahun lalu?

Sopo Panisioan, 1 April 2025

(*) Pemerhati Sejarah Alternatif Peradaban