Sunday, December 2, 2012

BATAK DARI LAPORAN PENDATANG PORTUGIS

BATAK DARI LAPORAN PENDATANG PORTUGIS
Oleh: Edward Simanungkalit


Pada awal abad ke-16 bangsa Portugis sudah pernah datang ke Sumatera dan telah memberi laporan tentang Batak. Orang Portugis itu adalah Tome Pires, yang datang pada tahun 1512-1515, menulis di dalam laporannya Suma Oriental.  Ratusan tahun catatan itu terselip di perpustakaan Prancis, kemudian ditemukan Armando Cortesao tahun 1937. Pada tahun 1944 catatan perjalanan dari Tomé Pires yang disunting Armando Cortesao diterbitkan dengan judul, The Suma Oriental of Tomé Pires : An Accounts of the East, from the Red Sea to Japan, written in Malacca and India in 1512-1515.

Tome Pires adalah seorang apoteker yang pernah berkarya pada Pangeran Alfonso, putra Manuel, Raja Portugis. Kemudian menjadi kepala gudang rempah-rempah Portugis di Malaka. Lalu menjadi Duta Besar Portugis di Cina. Ia sampai ke Malaka pada tahun 1512, untuk suatu tugas mengurusi pembelian obat-obatan di kota tersebut. Sejak di Malaka, Pires mengumpulkan segala informasi yang tersedia di bandar paling ramai di Asia Tenggara itu. Di Malaka pula ia menyusun buku Suma Oriental dan diselesaikan di India saat hendak kembali ke Portugal tahun 1515. Oleh karena Pires seorang yang terdidik baik, pengamat yang teliti dan keingintahuannya besar, maka informasi yang disusunnya sangat berharga.
Laporan Tome Pires dimulai dari Borneo (Kalimantan), Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Banda, Seram, Ambon, Maluku dan pulau-pulau Karimun. Kemudian pulau Sumatera (Camotora) diceritakannya luas dan makmur. Dimulai dari cerita Pulau Weh yang disebutnya pulau-pulau Gomez (Gamispola). Dari pulau Weh (Gamispola) di ujung Aceh itu, terus dia menelusuri Selat Malaka, mengelilingi Sumatera menuju Barat ke Fansur (Pamchur) di Barus, dan kembali lagi ke Pulau Weh (Gamispola). Tomé Pires mencatat ada 19 Kerajaan dan 11 Negeri  di Pulau Sumatera ketika itu di antaranya ada Kerajaan Pasai,  Kerajaan Bata, Kerajaan Aru, Negeri Panchur, Negeri Barus, Negeri Singkel (Chingile), dan lain-lain.

Tome Pires menceritakan banyak emas di Sumatera, ada dua jenis getah kayu yang dapat dimakan, namanya Camphor (kamper), ada juga lada, sutera, kemenyan, damar, madu, minyak tanah (pitch), belerang, kapas, rotan. Diceritakan juga banyak padi, daging, ikan (peda). Selain itu, ada juga bermacam-macam minyak, tuak (wine) termasuk tampoy yang mirip anggur di Eropa. Bermacam-macam buah, seperti durian, yang enak sekali. Semuanya ini menggambarkan betapa makmurnya Sumatera itu.

Aceh adalah kerajaan pertama yang diamati Tome Pires di sekitar Selat Malaka bagian Sumatera, kemudian kerajaan Pedir dan beberapa kerajaan lain. Sesudah Pedir itulah kerajaan Pasai. Pasai ketika itu sedang naik daun, segera setelah Portugis menguasai Malaka. Di sebelah Utara kerajaan Pasai itu ada kerajaan Pirada dan ke arah Selatan itulah kerajaan Bata (Batak).

Wilayah Kerajaan Pasai  masih terus sampai ke tepi laut ke arah Barat yang merupakan pantai  Lautan Hindia. Para pedagang dari segala penjuru angin, selain pedangang dari Timur, pada berdatangan ke Pasai, seperti pedangang Rume, Turki, Arab, Parsi, Gujarat, Keling, Benggali, Melayu, Jawa dan Siam. Sedang kalau pedagang dari Timur, perginya ke Malaka, karena saudagar dari Timur adalah pedagang-pedagang besar. Malaka lebih dari sepuluh kali kerajaan Pasai.

Kebanyakan penduduk kerajaan Pasai adalah campuran turunan Benggali, Keling dan orang Pasai asli. Ibukota Pasai itulah yang disebut Sumatera, yang penduduknya sekitar 20.000 orang, sehingga sudah terbilang besar. Raja Pasai sudah memeluk Islam 60 tahun sebelum tahun 1513. Raja yang digantikannya masih pemuja berhala, sedikit demi sedikit dipengaruhi saudagar-saudagar beragama Islam.

Di sebelah Selatan dari kerajaan Samudara Pasai itulah letak Kerajaan Bata (Batak), sedang di sebelah Selatan dari Kerajaan Batak itu letak Kerajaan Aru. Pusat Kerajaan Samudera Pasai berada di dekat Lhokseumawe, sedang pusat Kerajaan Aru diduga berada di sekitar muara Sungai Wampu atau Kota Rantang. Di antara kedua kerajaan inilah Kerajaan Batak tersebut. Raja Batak itu bernama Raja Tomyam (Tamiang), yang mungkin berkaitan dengan nama sungai di daerah itu, yaitu Sungai Tamiang, di Aceh Tamiang. Raja Tomyam ini sudah menganut agama Islam. Castanhenda mengatakan bahwa Raja Tomyam itu adalah menantu dari Raja Aru. Sedang Mendes Pinto (1539) mengatakan bahwa Raja Batak itu bernama Raja Timur Raya.

Negeri Batak itu mengekspor beras, buah, tuak, madu, lilin, kapur barus, terutama minyak tanah  dan rotan. Oleh karena itu dapat diduga bahwa Raja Timur Raya, Raja Batak itu tentulah kaya raya. Raja ini pemberani, yang terlihat dari keberaniannya melawan kerajaan Pasai yang besar dan berani juga melawan mertuanya sendiri, kerajaan Aru (Simbolon, 1997:2-4).

Membaca laporan dari Tome Pires dan lainnya di atas tentulah menimbulkan keingintahuan lebih jauh, tetapi data-data lain tidak ditemukan lagi, sehingga sejarah dan keberadaan bekas kerajaan Batak ini masih gelap hingga kini. Meskipun demikian, bahwa kita perlu mengetahui tentang apa yang sudah dilaporkan oleh Tome Pires ini walaupun akibatnya menggelitik di dalam diri kita untuk mengetahuinya lebih jauh. Apakah tadinya memang orang Batak itu berasal dari Aceh Tamiang? Hal ini masih memerlukan penelitian yang lebih jauh dan biarlah ilmu pengetahuan yang menjawabnya, sehingga kita tidak perlu memaksakan diri untuk berspekulasi dalam rangka mencari jawabannya. ***



Telah dimuat di:
Harian BATAK POS
Edisi Sabtu, 17 Oktober 2012








No comments:

Post a Comment