• Warisan Budaya Batak Toba Sitor

     
    Penulis : Dwi As Setianingsih, Majalah TEMPO, 2 November 2009

    LUAR biasa! Itulah komentar saya setelah membaca dengan terengah-engah 516 halaman naskah pokok buku karya Sitor Situmorang ini. Mulai lembar pertama sampai akhir bab 20 di halaman 156, saya ”terus merepeti Sitor”. Baru mulai bab 21 saya menikmati tulisan ini.

    Sitor rupanya sedang berusaha mewariskan kerja-budaya Batak yang berat bagi saya, yang 16 tahun lebih muda dari beliau. Dia seolah meninggalkan suatu soal yang semakin luas dan rumit untuk digali dan ditulis.

    Buku yang dipersembahkan Sitor kepada dunia akademis dan orang Batak ini sepintas lalu hanya akan memberitahukan wilayah Toba yang rata, hornop, dan makmur secara geografis. Ternyata Sitor mempersoalkan seluruh kehidupan orang Batak Toba, seperti kehidupan sosial, adat-istiadat, permulaan kemanusiaan, permulaan dan kelanjutan kepercayaan, kekuasaan politik dan pemerintahan, demokrasi dan penegakan demokrasi Batak yang asli, bahkan perlawanan terhadap kekuasaan dan politik asing (Belanda).

    Sistematika penulisan Sitor berserak-serak, tidak tematis kronologis. Sebagai contoh soal bius yang dia singgung di banyak tempat, seperti pada halaman 19, 35-39, 45-48, 55-59, 61-64, 81-83, 94-95, 139-146, 171, dan 175-181 serta halaman 249-255 tentang Bius Bakkara dan sejarah Bius Lintong pada halaman 260 dan seterusnya.

    Sitor berani mengemukakan pikiran yang sering sulit diikuti akal kita. Dia, misalnya, mengaitkan mitologi rakyat Batak dengan persiapan negara dan pemerintahan Batak mula-mula. Memang agak kurang masuk akal, logika hubungan faktor pribadi Si Deak Parujar sebagai putri Dewa Batara Guru, kemudian terjadi semacam reinkarnasi lembaga kepemimpinan di dalam diri Sisingamangaraja sebagai intervensi kedua dari dunia atas, setelah intervensi pertama dari Si Deak Parujar sebagai putri dari kahyangan. Melalui putri ini kekuasaan dunia Batak hendak dikukuhkan di dalam pemerintahan simbolik yang diwakilkan kepada dunia Sianjurmulamula sebagai model. Sitor sepertinya hendak memaksakan logika simbolik ini dalam kaitannya dengan sistem pemerintahan kenegaraan baik mini (150 bius) maupun ”global dini”. Saya nilai konsep-konsep semacam ini sebagai hipotesis Sitor yang pantas diuji kebenarannya secara ilmiah agar dapat diterima dan dipertahankan atau ditolak sama sekali.

    Sitor juga membahas soal negara Batak. Dia menyitir keheranan Lance Castle, yang melihat potensi ekonomi tanah Batak yang sangat baik tapi pada wilayah yang diduganya tidak berorganisasi kenegaraan. Sitor menolak dugaan itu, dan saya setuju dengannya, karena tendensi tak bernegara itu tidak benar sebab Castle tidak melihat bius, yang jumlahnya 150 buah. Jadi, ada 150 negara desa yang mandiri dan otonom di sana. Jadi, negara Batak telah ada sejak awal, setelah terbentuknya bius yang dibangun oleh marga-marga serumpun.

    Sitor mengetengahkan juga lembaga parbaringan, yang berperan penting dalam negara bius. Kelompok parbaringan adalah para pemimpin upacara keagamaan, termasuk upacara mangase taon (tahun baru) untuk memulai kerja pertanian dan mengatur irigasi. Kamerad parbaringan dalam pemerintahan bius dinamakan juga raja na ualu, yakni pemimpin sekuler yang dinamakan raja marapat. Penjelasan Sitor dalam hal ini seperti dipaksakan. Ini sebenarnya ciri-ciri kemitosan dalam agama Hindu yang tidak dapat dibantah, tapi diterima sebagai kebenaran.

    Pembahasan mengenai hubungan parbaringan dengan lembaga Sisingamangaraja (halaman 119-123) menunjukkan keraguan yang menerpa Sitor. Saya setuju pendirian Sitor bahwa lembaga parbaringan sudah ada sebelum lembaga Sisingamangaraja ada. Sitor jelas melihat bahwa parbaringan menyimpan kunci untuk menggambarkan agama asli orang Batak, yang tampaknya banyak berhubungan dengan agama Hindu, yang bukti-bukti keberadaannya ditandai dengan candi Hindu di wilayah Portibi, yakni candi Bahal 1 dan 2.

    Secara khusus saya menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Sitor, yang berani membuka ketidakharmonisan para petinggi Batak yang berstatus pendeta-raja dalam perjuangan melawan Belanda, yakni Ompu Palti Raja dan Jonggi Manaor. Barangkali sejarah Batak akan lain bila Raja Sisingamangaraja XII-Ompu Palti Raja-Jonggi Manaor bersama Raja Sijorat-Baligeraja bersatu padu melawan penjajahan Belanda.

    Bungaran Antonius Simanjuntak,
    guru besar sosiologi/antropologi Universitas Negeri Medan

    Sumber: