Wednesday, December 17, 2014

Gubernur Perlu Selamatkan Warisan Sejarah Dunia

Gubernur Perlu Selamatkan Warisan Sejarah Dunia


Situs kota kuno Barus di Pantai Barat Sumut merupakan peninggalan berkelas warisan dunia bila gubernur bersedia memperhatikan dan mengelolanya dengan baik
Warisan sejarah berkelas dunia bertebaran di Sumatera Utara. Provinsi ini memiliki  jejak  heritage nyaris lengkap dalam seluruh sejarah peradaban manusia yang tidak dimiliki kawasan manapun.

Tapi hampir semua jejak peradaban dunia itu sekarang terancam musnah baik karena sebab-sebab alamiah, pembiaran, disebabkan oleh ulah manusia serta disebabkan oleh kebijakan pemerintah sendiri, baik pemerintah pusat maupun daerah. Selama dua tahun pemerintahannya, Gubernur Sumatera Utara belum banyak melakukan terobosan-terobosan untuk menyelamatkan warisan dunia yang luar biasa ini.

Sumatera Utara punya jejak kehidupan pra sejarah di situs Bukit Kerang di Kabupaten Langkat (Pantai Timur Sumatera) yang diterlantarkan sampai kini walau bukti-bukti temuannya sudah disimpan di Museum Negeri Sumut lebih 30 tahun yang lalu. Situs kehidupan prasejarah juga baru-baru ini ditemukan di Utara Pulau Nias dan di Deli Serdang.

Situs-situs pra sejarah dimanapun dianggap sebagai warisan dunia kerena situs seperti itu potensial menjawab pertanyaan bagaimana awal mula kehidupan dan peradaban manusia berlangsung serta kenapa kehidupan manusia itu pernah hilang di suatu kawasan.

Tidak ada upaya pemerintah pusat maupun daerah selama lebih dari 30 tahun ini untuk mengamankan, meneliti dan mengembangkan kawasan Situs Bukit Kerang itu.Saat ini kawasan itu sebagian telah tertutup permukiman penduduk. Gubernur masih bisa menetapkan satu kebijakan agar kawasan itu dibebaskan untuk kemudian diteliti.

Situs kota kuno Barus di Pantai Barat Sumatera Utara merupakan peninggalan yang berkelas warisan dunia bila gubernur bersedia memperhatikan dan mengelolanya dengan baik. Selama lebih 10 tahun kawasan ini menjadi perhatian arkeolog dunia khususnya arkeolog dari Prancis.

Dia melaporkan hasil penelitian yang mengundang decak kagum, suatu kota internasional yang sangat sibuk 1000 tahun lalu, kota penting dunia tempat bertemunya berbagai kepentingan dalam perdagangan internasional, kontak kebudayaan dan peradaban ada di Sumatera Utara.

Bahkan sejak zaman Firaun di Mesir sebelum masehi, tradisi awal Kristen awal abad pertama bahkan zaman Islam dalam Alquran disebut produk unggulan kampfer (kapur) dan kemenyan yang berasal dari Barus ini. Tidak ada kawasan kota kuno lain di dunia yang bisa menjadi magnit selama lebih kurang 2000 tahun selain Barus di Sumut. Tapi warisan dunia ini juga terlantar, situsnya banyak yang rusak, tertimbun, tidak dirawat dan tidak dikelola untuk mencari simpati dunia. Perhatian pemerintah pusat sangat minim terhadap situs ini sementara perhatian pemerintah provinsi dalam dua tahun ini belum nampak kehadirannya.

Situs Kota China di Utara kota Medan dan situs Kota Rentang di Hamparan Perak Deli Serdang merupakan kawasan perdagangan internasional lain di Pantai Timur Sumut. Situs Kota China di Utara Medan muncul setelah Barus yang oleh sebab-sebab yang belum diketahui dalam sejarah mengalami kemunduran dan hilang dalam peta perdagangan dunia.

Ratusan ribu bahkan jutaan fragmen keramik, gerabah, tembikar, pecahan candi, arca, nisan dari peradaban China, Timur Tengah, India, Siam, Aceh sampai Jawa ditemukan di kawasan yang luarbiasa ini. Diasumsikan sejarahwan, Situs Kota China dan Situs Kota Rentang inilah pusat kerajaan Aru yang disebut-sebut Gajah Mada dalam sumpah palapanya, yang berkali-kali gagal dihancurkan walau digempur Majapahit dan Kesultanan Aceh. Situs Kota China kini nyaris habis dimukimi penduduk, Situs Kota Rentang menjadi perladangan dan kebun kelapa sawit.

Pemerintah Kota Medan mulai tahun 2010 ini mulai memperhatikan Situs Kota China sementara pemerintah Kabupaten Deli Serdang belum nampak upaya apapun untuk menyelamatkan Situs Kota Rentang. Dalam dua tahun pemerintahan Gubsu, belum satupun pejabat Pemprovsu yang pernah mengunjungi dua situs yang penting dan sering diliput media ini. Ke depan gubernur  bisa melakukan kebijakan untuk menyelamatkan situs penting Sumatera Utara abad 11 sampai 14 ini.

Benteng pertahanan kerajaan Aru yang dikenal dalam sejarah dengan nama Benteng Puteri Hijau terletak di Deli Tua, pinggiran kota Medan. Benteng sepanjang lebih kurang 1,8 kilometer di atas areal sekitar 5 hektar ini juga berkelas warisan dunia yang dapat direstorasi kembali dan potensial mendapat perlindungan UNESCO.

Benteng ini memadukan topografi alam dan kejeniusan pertahanan militer yang sulit ditembus musuh, hasil local genius kerajaan penting yang menguasai perdagangan di Selat Malaka pada abad 12-14.

Tapi Benteng Puteri Hijau yang aslinya setinggi 30 kaki dan selama puluhan tahun tidak berhasil ditembus kerajaan besar itu hanya dalam hitungan hari sebagian sudah dibuldoser rata dengan tanah oleh developer dan di atasnya kini sudah dibangun puluhan perumahan.

Masih ada dua pertiga bagian benteng yang belum dibuldoser, yang sementara ini tertahan karena protes terus menerus yang kami lakukan. Mulai ada sedikit perhatian dari pemerintah Deli Serdang atas benteng dalam setahun ini sementara dalam dua tahun ini kepala dinas Budpar Pemprovsu belum pernah turun ke situs ini.

Ada situs candi Portibi dan situs-situs lain di sekitar kawasan Tapanuli Bagian Selatan yang memperlihatkan jejak peninggalan Hindu Budha yang situsnya juga terlantar dan menyemak. Ada pusat-pusat kebudayaan berbagai etnik di Sumatera Utara, warisan tradisi yang bisa dikembangkan lagi mulai dari seni pertunjukkan, arsitektur rumah, tenun sampai kuliner.

Tapi rumah tradisional dengan arsitektur yang mengagumkan, yang memperlihatkan kecerdasan berbagai etnik yang ada, kini dalam kondisi memprihatinkan, banyak rumah-rumah tradisional bahkan sudah roboh. Peran pemerintah provinsi dalam 2 tahun ini belum kelihatan dalam merumuskan program penyelamatan rumah-rumah tradisonal ini.

Sumut juga kaya dengan heritage kolonial, kota-kota di Sumut banyak menyisakan bangunan-bangunan bergaya Eropa abad 18-19, juga ada kawasan perkebunan dengan infrastrukturnya, terutama peninggalan perkebunan tembakau Deli yang pada zamannya pernah menjadi ikon yang menggegerkan dunia.

Kawasan ini juga kaya dengan jejak multikulturalismenya dimana ada pertemuan berbagai etnik, ras, bangsa, agama sebagai implikasi berkembangnya perkebunan sejak akhir abad ke 19.

Di Medan juga ada peradaban Eropa yang replikanya dibangun pada akhir abad 19 di sekitar lapangan Merdeka sekarang. Replika itu terdiri dari Lapangan Merdeka(Esplanade), Balai Kota, Bank Indonesia, Hotel de Boor (Dharma Deli Hotel), Kantor Pos, Statison Kereta Api serta kawasan perkantoran dan pertokaan di kesawan dan sekitarnya.

Lapangan merdeka dikelilingi pohon-pohon trembesi yang didatangkan Belanda dari Amerika Latin dan kini usianya mencapai lebih 100 tahun. Replika Eropa yang luar biasa ini, yang tidak sembarang kota-kota Asia Tenggara lain memilikinya ini terancam musnah.

Bangunan-bangunan bersejarah di Medan dan di kota-kota besar lainnya di Sumatera Utara dibiarkan membusuk, sudah dirobohkan, digadaikan ke swasta dan dilola dengan kepentingan bisnis jangka pendek dengan tidak memperdulikan jejak historis sebagai ikon penting pertumbuhan kota-kota di Sumatera Utara.

Ketika 2 tahun yang lalu gubernur usai dilantik menyatakan akan berkantor di kantor gubernur lama yang merupakan bangunan tua peninggalan Belanda kalangan sejarahwan menyambut gembira dan sayapun memberikan komentar dan apresiasi yang tinggi di harian Kompas (17 Juni 2008).

Dengan gubernur berkantor di gedung lama ini kami anggap pertanda bagus bahwa bangunan bersejarah akan diselamatkan karena para pejabat penting berkantor di situ seperti halnya banyak pejabat di negara maju berkantor di bangunan tua bersejarah. Tapi dalam dua tahun pemerintahan gubernur, tidak kita dengar bahwa gubernur berkantor dan menerima tamu di kantor gubernur lama itu. Padahal niat awal itu bisa dijadikan sebagai simbol penyelamatan bangunan bersejarah di Sumut.

Dalam tahun-tahun ke depan diharap gubernur dapat melakukan kebijakan penting berkaitan dengan penyelamatan bangunan bersejarah yang sebenarnya dilindungi oleh undang-undang cagar budaya.

Di Pangkalan Berandan ada satu warisan dunia yang dilupakan yakni kilang minyak tertua kedua di dunia. Kilang minyak pertama di dunia ada di Amerika, setelah itu yang di pangkalan Berandan yang dibangun pada akhir abad ke 19.

Jauh sebelum minyak menjadi motor penggerak perekonomian dunia, kilang minyak sudah ada di Sumatera Utara. Sumur-sumur tua pengilangan minyak yang berumur lebih 100 tahun, peralatan-peralatan eksplorasi awal dalam sejarah perminyakan dunia sampai hari ini dibiarkan terlantar di Pangkalan Berandan.

Padahal warisan itu bisa menjadi ikon sejarah dunia perminyakan. Sewaktu diadakan acara bedah buku Ibnu Sutowo di Universitas Negeri Medan, pernah saya sampaikan kepada gubernur agar kawasan ini dijadikan museum situs minyak Pangkalan Berandan.

Waktu itu gubernur menyambutnya positif. Tapi ketika gagasan ini saya minta ditindaklanjuti pihak yang berwenang dijajaran Pemprovsu, ide itu menguap. Dikhawatirkan besi-besi tua warisan sejarah dunia itu akan hilang dijual para pemulung jika dalam tahun-tahun ke dapan tidak diselamatkan.

Pada masa pendudukan Jepang, pendudukan tentara sekutu saat berakhirnya perang dunia II serta perang kemerdekaan yang panjang telah menyisakan berbagai situs, benteng pertahanan, gua-gua persembunyian dan monumen penting yang jumlahnya sangat banyak di Sumut.

Situs-situs ini merupakan memori penting bagi bangsa Jepang, bangsa yang ada dalam pasukan aliansi (sekutu), bangsa China dan India serta bangsa Indonesia yang pasti akan menarik perhatian sebagai heritage berdimensi internasional pasca perang dunia II.

Tapi dapat dikatakan hampir semua situs penting berkaitan dengan perang dunia ke II dan perang kemerdekaan Indonesia di Sumut, termasuk situs penting perang Medan Area saat ini sudah hancur, terancam musnah, sudah diduduki swasta serta dibiarkan tidak terawat. Ke depan diperlukan perhatian gubernur terhadap tempat-tempat berkaitan dengan memori nasional ini, memori tentang kesadaran berbangsa dan tempat yang subur untuk memupuk jiwa nasionalisme pemuda.

Industri Parawisata berbasis heritage (warisan sejarah dan budaya) Sumut dapat dikatakan belum dikelola sama sekali. Selama ini industri pariwisata hanya dikaitkan dengan potensi keindahan alam, keunikan flora fauna dengan keanekaragaman budaya sekedar sebagai pelengkap. Semua itupun tidak dilola kalangan industri dan pemerintah dengan baik, yang memperlihatkan industri kita masih dikuasai pola pikir tradisional.

Padahal cukup banyak bukti bahwa wisatawan tertarik ke satu kawasan bukan karena semata potensi keindahan atau keunikan alamnya, tapi kebanyakan ingin melihat warisan sejarah dan budaya yang ada di situ.

Kota-kota dan kawasan kuno di banyak tempat di Eropa dikunjungi banyak wisatawan hanya karena ingin melihat warisan sejarah yang ada di situ. Banyak negara di Eropa berhasil mendatangkan devisa jutaan euro pertahun hanya dari wisata gedung-gedung tua atau kawasan bersejarah.

Saat ini ada 25 juta wisatawan per tahun di Malaysia yang merupakan pasar potensial untuk ditarik ke Sumut. Sebagian besar wisatawan itu datang ke Malaysia untuk melihat warisan sejarah dan budaya yang dikemas dalam industri parawisata berbasis heritage.

Penang dan Malaka merupakan contoh bagaimana heritage berupa bangunan tua, kawasan kampung tua, peninggalan sejarah yang dilola dengan baik mampu mendatangkan devisa yang luar biasa. Padahal warisan sejarah dan budaya Malaysia jauh di bawah warisan yang ada di Sumut.

Tantangan bagi gubernur Sumatera Utara untuk melakukan terobosan menyelamatkan dan mengembangkan potensi luar biasa dari warisan yang ada di Sumatera Utara. Saya mengharap bapak Gubsu dapat menyelamatkan dan mengelola warisan berkelas dunia yang ada di Sumut ini dengan membentuk sebuah tim yang kuat.***** 

(Dr phil.Ichwan Azhari : Penulis adalah Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial/PUSSIS serta Ketua Program Studi Antropologi Sosial Sekolah Pasca Sarjana Universitas Negeri Medan )


Sumber:
http://waspadamedan.com/index.php?

No comments:

Post a Comment